Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tempat tinggal
Mendengar tawa resepsionis yang tidak berhenti, Clara bersuara.
"Sudah cukup!" ucap Clara dengan suara keras. Suaranya menggema di ruangan yang tadinya ramai. Beberapa orang menoleh.
Sepi sejenak.
Resepsionis yang mendengarnya, terdiam.
Tawanya berhenti. Wajahnya berubah dari riang menjadi sedikit terkejut, lalu menjadi datar.
"Maaf," katanya pelan.
"Aku tidak bermaksud menyinggung,"
Clara tidak menjawab. Ia hanya menatap resepsionis dengan mata yang masih menyimpan dendam.
Will menepuk bahu Clara pelan.
Clara menghela napas. Ia menurunkan pandangannya.
"Ada yang ingin kita bicara di ruang belakang," kata Will pada resepsionis.
Resepsionis itu mengangguk.
Ia berbalik dan berjalan lebih dulu. Will, Clara, dan Reno mengikuti.
Suasana di dalam Guild perlahan kembali normal. Orang-orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Di ruang belakang.
Resepsionis menutup pintu. Ruangan itu sederhana meja kayu, beberapa kursi, lampu minyak di sudut.
"Duduklah," kata Resepsionis.
Mereka bertiga duduk. Resepsionis duduk di seberang mereka.
"Aku minta maaf," ucapnya pada Clara.
"Aku tidak bermaksud..."
"Aku tidak mau bicara soal itu," potong Clara.
"Aku mau bicara soal tanggung jawabmu,"
Resepsionis menghela napas.
"Baik. Aku dengar,"
Will meletakkan tangannya di atas meja.
"Apa kau tahu soal ibuku?" tanya Will.
"Emang ibumu siapa?" tanya Resepsionis.
Will memberitahu namanya, Resepsionis mendengarnya dengan seksama.
"Aku tidak tahu nama itu," kata Resepsionis.
"Kau yakin?" tanya Will, matanya tidak berkedip.
"Iya. Semua nama yang bergabung dengan pemberontak, aku masih mengingatnya," jawab resepsionis dengan serius. Tidak ada keraguan di matanya.
Mendengar itu, Reno berbicara.
"Kau tidak takut kalau kami memberitahu soal ini ke pihak keamanan?" tanya Clara.
Mendengar itu, Resepsionis tertawa.
"Coba saja, kalau tidak terjadi apa-apa," Ia menatap mereka bergantian.
"Kalian mau apa?" Suaranya terdengar menantang.
Mereka bertiga terdiam.
"Percuma saja melapor. Kalian tidak punya bukti apapun," Resepsionis menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kata siapa kita tidak punya bukti?" kata Clara dengan serius.
"Aku tahu lokasi persembunyian kalian,"
Resepsionis terdiam sejenak. Lalu, ia tersenyum, senyum yang tidak percaya pada perkataan seseorang.
"Oh, di mana?"
Ia mengeluarkan peta dari laci meja dan membentangkannya di atas meja.
"Ini peta wilayah Ironov. Silakan tunjuk, di mana lokasinya?"
Peta itu terbentang luas. Sebuah negara bernama Ironov, dengan kota-kota, sungai, pegunungan, dan hutan yang digambar rapi.
Clara menatap peta itu. Ia tidak tahu lokasi sebenarnya. Tapi ia ingat rencana Reno.
Ia sempat berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Reno. Reno mengangguk kecil, isyarat untuk teruskan.
Clara kembali fokus melihat peta.
Resepsionis yang melihat itu, merasa curiga. Matanya menyipit.
Setelah beberapa saat, Clara mulai bicara.
"Di sini,"
Jarinya menunjuk ke salah satu tempat yang ada di peta, sebuah area di pinggiran hutan, dekat dengan sungai kecil.
"Lebih tepatnya, bersembunyi di bawah tanah,"
Resepsionis sedikit terkejut. Wajahnya berubah. Bukan panik. Tapi seperti tidak menduga jawaban itu dari Clara.
Will tahu, Clara sebenarnya asal bicara. Ini semua rencana Reno. Clara memang disuruh asal bicara soal tempat persembunyian pemberontak. Untuk menguji reaksi resepsionis.
Dan reaksi itu, cukup untuk memberi tahu mereka.
Dia menggigit umpannya.
Tiba-tiba, tangan resepsionis memukul meja dengan suara keras. Membuat mereka bertiga sedikit terkejut.
"Apa mau kalian sebenarnya?" tanya resepsionis langsung ke inti masalah. Matanya tajam. Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi basa-basi.
Ia tahu, kalau mereka punya tujuan lain.
"Sudah jelaskan, soal tanggung jawabmu," kata Clara.
Resepsionis menghela napas panjang. Kesal. Tapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat.
"Baik-baik, aku paham,"
Ia mengulurkan tangannya ke atas meja. Dalam sekejap, sebuah kantong uang muncul di telapak tangannya, seolah-olah terbentuk dari udara.
Imaginary, bisa digunakan untuk memanggil apa saja, baik itu senjata, item, dan sebagainya.
Caranya, dengan memikirkan apa yang ingin dipanggil. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memanggil sesuatu.
Ada yang cukup dengan membayangkan benda itu di telapak tangan, ada yang perlu gerakan tangan tertentu, ada yang harus menyebut nama bendanya. Kadang ada yang sama cara memanggilnya.
"Kalian butuh berapa?"
"Satu koin berlian," jawab Reno dengan santai.
Mendengar itu, sifat resepsionis terlihat kesal. Matanya menyipit.
"Kau memerasku?" tanyanya, suara sedikit meninggi.
"Tidak-tidak, ini bukan pemerasan," Clara tersenyum manis.
"Setelah ini, aku tidak akan minta tanggung jawab darimu,"
"Terserah,"
Ia membuka kantongnya, mengeluarkan satu koin berlian yang berkilat, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini. Setelah itu, pergilah,"
Clara mengambil koin itu. Rasanya berat di tangannya. Berkilau di bawah cahaya lampu.
"Terima kasih,"
Mereka bertiga berbalik dan meninggalkan ruangan.
Di luar Guild.
Udara sore terasa hangat. Langit mulai berubah jingga.
Clara masih menggenggam koin berlian di tangannya.
"Aku tidak percaya, dia benar-benar memberikannya," bisiknya.
"Dia tidak punya pilihan," kata Reno.
"Lebih baik membayar daripada berurusan dengan kita,"
Will tersenyum kecil.
"Sekarang kita punya modal," katanya.
"Untuk apa?" tanya Clara.
"Mencari ibuku," jawab Will.
Reno menghela nafas.
"Dengar, Will. Kita butuh tempat tinggal. Kita juga butuh persiapan, tidak bisa asal pergi mencari begitu saja,"
Reno menatap Will dengan serius.
"Apalagi, kita tidak tahu keberadaan ibumu,"
Will terdiam.
Ia mengerti perkataan Reno. Selama ini ia memang bergerak tanpa rencana matang dari Guild ke hutan, dari hutan ke Eldoria, dari Eldoria kembali lagi. Semua dilakukan dengan tergesa-gesa.
"Omong-omong, kalian tidak punya rumah, kan?" tanya Reno sambil menebak.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Clara, sedikit terkejut.
"Mudah. Dari penampilan dan bau kalian, bisa dipastikan tinggal di penginapan. Hanya dua orang yang berhasil menipuku dengan penampilan mereka,"
Clara mengangguk. Tidak bisa membantah.
"Lalu, rencanamu?" tanya Will.
"Sebelum itu, kita harus pergi dari sini dulu,"
Reno menatap ke arah Guild di belakang mereka.
"Kita tidak tahu, apakah resepsionis itu akan balas dendam atau tidak. Lebih baik kita mencari tempat yang aman dulu, baru bicara rencana selanjutnya,"
Mereka bertiga berjalan menjauh dari Guild, meninggalkan bangunan itu di belakang mereka.
Di jalan.
Reno berjalan di tengah, Will di kiri, Clara di kanan.
"Kalian punya kenalan di kota ini?" tanya Reno.
"Tidak," jawab Will.
"Hanya punya kenalan penginapan," kata Clara.
Reno mengangguk.
"Baiklah. Kita cari penginapan yang lebih murah. Kita perlu menghemat uang,"
Will menatap Reno.
"Kau yang paling tahu soal ini,"
Reno tersenyum.
"Tentu. Aku tahu cara bertahan hidup,"
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Clara.
"Kita akan mencari tempat tinggal, sebuah tempat yang bisa dipindahkan, kalau ada peperangan atau bencana,"
Clara terlihat sedikit berpikir. Matanya menerawang ke kejauhan, seperti sedang menggali ingatan lama.
"Aku tahu sesuatu," katanya akhirnya.
Bersambung...