NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 29 Dinner Ulang dan Nyaris Sesuatu

Malam itu—

untuk alasan yang sangat mencurigakan—

Rania Azarina gugup.

Dan itu menyebalkan.

Karena ini cuma dinner ulang.

Ulang.

Bukan first date.

Bukan anniversary.

Bukan juga sesuatu yang seharusnya membuatnya berdiri terlalu lama di depan cermin sambil mempertanyakan kenapa ada yang terasa salah malam ini.

Ratna dan Ambar menyerbu apartemen membawa empat kantong belanja.

“Waktunya persiapan dinner ulang romantis!”

Ratna mengangkat satu kantong belanja.

“Sudah Mama siapkan.”

Firasat buruk.

Sangat buruk.

Dan benar saja.

Dress.

Lagi.

Mama Ambar mengangguk puas dari sofa.

“Kali ini jangan terlalu formal.”

“Romantis tapi effortless.”

Rania memandang kosong.

“…Kenapa rasanya saya sedang ikut reality show pernikahan?”

“Karena kalian lambat,” jawab Ratna cepat.

Di sisi lain ruang tengah—

Gavin baru masuk.

Masih memakai kemeja kantor.

Lengan tergulung.

Raut wajah seseorang yang baru selesai bertarung dengan rapat tiga jam.

Lalu—

ia melihat kantong belanja.

Diam dua detik.

“…Saya takut nanya.”

“Kamu mandi,” jawab Ratna cepat.

“Terus ganti.”

“Saya sudah pakai baju.”

“Itu aura CEO stres.”

Gavin memejam mata.

“Saya salah apa di hidup sebelumnya?”

“Kamu ninggalin istri pas dinner,” jawab Ratna otomatis.

Oh iya.

Masih kena hukuman.

Empat puluh menit kemudian—

Rania keluar kamar lebih dulu.

Dress sederhana.

Warna soft beige.

Tidak terlalu formal.

Tidak terlalu santai.

Rambut dibiarkan tergerai.

Dan jujur—

ia merasa terlalu niat.

Harusnya ini cuma dinner biasa.

Harusnya.

Lalu—

langkahnya berhenti.

Karena Gavin baru keluar dari kamar juga.

Kemeja hitam.

Lebih santai dari biasanya.

Lengan tergulung sampai siku.

Jam tangan hitam.

Rambut sedikit berantakan.

Dan—

menyebalkan sekali—

terlihat terlalu bagus.

Tatapan Gavin otomatis terangkat.

Berhenti tepat di wajah Rania.

Diam.

Dua detik.

Tiga detik.

Seolah—

lupa harus berkata apa.

Lalu pelan.

“…Kamu cantik.”

Boom.

Apa?

Pendek.

Natural.

Tanpa gaya.

Justru itu masalahnya.

Karena terdengar—

tulus.

Dan itu langsung membuat otak Rania mendadak logout.

“Ohhhh!”

Mama Ratna langsung menepuk tangan.

“PROGRES!”

“Mereka flirting,” bisik Mama Ambar terlalu keras.

Rania refleks memalingkan wajah.

“…Ayo pergi aja.”

Karena kalau tidak—

dia mungkin akan benar-benar malu sampai pindah kota.

Di mobil.

Hening.

Tapi—

beda.

Tidak secanggung kemarin.

Lebih…

tenang.

Nyaman.

Aneh.

Radio menyala pelan.

Lampu kota bergerak di luar kaca.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—

rasanya seperti kembali normal.

Sedikit.

“Kamu capek?”

Rania menoleh.

“…Lumayan.”

Gavin mengangguk kecil.

“Tadi meeting lama?”

“Hm.”

“Kamu makan siang?”

Pertanyaan otomatis lagi.

Refleks.

Seperti biasa.

Dan anehnya—

kali ini terasa nyaman.

“Udah.”

“Beneran?”

Rania melirik.

“…Kenapa?”

“Kemarin kamu bilang udah.”

Jeda.

“Padahal cuma kopi.”

Ketahuan.

Kurang ajar.

Rania mendecak kecil.

“Kamu terlalu perhatian.”

Keluar begitu saja.

Refleks.

Dan—

untuk alasan yang sangat mengganggu—

Gavin tidak langsung bercanda balik.

Tatapannya tetap ke jalan.

Lalu—

pelan.

“…Emang.”

Boom.

Oh.

Bagus.

Jantungnya langsung tidak profesional lagi.

Restaurant malam ini lebih hangat.

Tidak terlalu formal.

Lampunya redup.

Suasananya nyaman.

Dan yang paling penting—

tidak terlalu intim seperti rooftop kemarin.

Begitu duduk—

Rania langsung menyipit melihat Gavin.

Pria itu dengan santai.

Mematikan ponselnya.

Lalu meletakkannya terbalik di meja.

“Hukuman keluarga.”

Jeda kecil.

“Sama…”

Tatapannya sebentar ke Rania.

“…saya nggak mau mengulang yang kemarin.”

Boom.

Sunyi kecil.

Karena—

nada suaranya serius.

Tidak bercanda.

Tidak menggoda.

Tulus.

Dan—

untuk alasan yang menyebalkan—

itu membuat rasa kesal Rania kemarin sedikit mencair.

Sedikit.

Mereka mulai makan.

Dan tanpa sadar—

semuanya terasa jauh lebih mudah.

Lebih ringan.

Lebih seperti…

mereka.

Saling sindir.

Ngobrol kantor.

Ngetawain Theo.

Mengkritik Kevin yang terlalu drama.

Mama Ratna yang secara legal mungkin sudah melanggar HAM.

“Tes pasangan tadi pagi keterlaluan,” gumam Rania.

“Kamu nggak kelihatan terlalu tersiksa.”

“Oh ya?”

Tatapan Rania menyipit.

“Kamu jawab semua soal kayak lagi ujian nasional.”

Sunyi sebentar.

Lalu Gavin bicara.

Nada rendah.

Santai.

“Saya emang merhatiin.”

deg.

Apa?

“Lagian,” lanjutnya sambil minum.

“Kamu gampang dibaca.”

“Tidak.”

“Kamu gugup sekarang.”

Rania langsung duduk tegak.

“Mana ada.”

Tatapan Gavin turun.

Pelan.

Ke tangannya.

Yang—

tanpa sadar—

lagi mainin ujung tas.

Oh.

Kurang ajar.

“Kamu nyebelin.”

“Ya.”

Nada Gavin terlalu santai.

“Makanya kita masih bisa hidup serumah.”

Apa?

Apa tadi?

Jantung Rania mendadak tidak profesional.

Satu jam kemudian—

mereka keluar restoran.

Udara malam terasa dingin.

Tidak terburu-buru.

Tidak canggung.

Lampu kota menyala pelan.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan program cucu—

semuanya terasa…

tenang.

Tidak dipaksa.

Tidak awkward.

Tidak penuh perang dingin.

Hanya—

mereka.

Dan itu justru berbahaya.

Karena semakin nyaman—

semakin sulit mengingat:

semua ini sementara.

Dan entah sejak kapan—

jarak di antara mereka terasa lebih dekat.

Tidak terasa mereka sudah sampai di apartemen.

Lampu parkiran terasa terlalu redup sekarang.

Tatapan Gavin berhenti terlalu lama di wajahnya.

Lebih lama dari biasanya.

“Rania.”

Nada rendah.

Pelan.

“Saya serius soal kemarin.”

Boom.

Jantungnya langsung kacau.

“Saya nggak suka kalau kamu jauhin saya.”

Lagi.

Kalimat itu lagi.

Dan sialnya—

sekarang terasa lebih berbahaya.

Karena malam ini terlalu baik.

Terlalu nyaman.

Terlalu—

mirip pasangan sungguhan.

“Aku cuma—”

Suara Rania mengecil.

“…takut salah paham.”

Tatapan Gavin berubah sedikit.

Lebih lembut.

“Salah paham soal apa?”

Bahaya.

Bahaya besar.

Karena jawaban jujurnya adalah:

takut kebawa perasaan.

Dan itu terlalu memalukan.

Jadi akhirnya—

“Lupa kalau ini…”

Kalimatnya menggantung.

Kontrak.

Namun—

Gavin melangkah sedikit lebih dekat.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup membuat napas Rania terasa salah.

“Saya tahu ini kontrak.”

Pelan.

“Tapi bukan berarti saya nggak peduli.”

Boom.

Oh.

Sial.

Kenapa harus ngomong kayak gitu?

Sunyi.

Panjang.

Terlalu panjang.

Rania tidak langsung menjawab.

Karena bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah—

untuk pertama kalinya—

ia mulai percaya.

Bahwa Gavin mungkin benar-benar serius.

Dan untuk alasan yang mengganggu—

tidak ada yang terasa dipaksa.

Tidak seperti program Mama Ratna.

Tidak seperti kontrak.

Cuma… natural.

Tatapan mereka tidak pindah.

Terlalu dekat sekarang.

Dan—

untuk pertama kalinya—

tidak ada yang mundur.

Napas Rania sedikit tertahan.

Tatapan Gavin turun.

Ke matanya.

Lalu—

ke bibirnya.

Pelan.

Sangat pelan.

Dan—

sialnya—

Rania tidak bergerak.

Tidak menjauh.

Tidak protes.

Malah—

diam.

Menunggu.

Gavin tidak mundur.

Tidak juga bercanda.

Cuma diam.

Seolah—

sedang mempertimbangkan sesuatu.

Tatapan Rania turun sebentar.

Ke bibir pria itu.

Oh Tuhan.

Bahaya.

Sangat bahaya.

Dan—

tepat ketika suasana berubah terlalu—

KREEK.

Pintu apartemen terbuka.

Mama Ratna muncul.

Pakai masker wajah.

Tatapan curiga nasional.

“NAH!”

Membeku.

Tatapan Ratna pindah.

Ke Gavin.

Ke Rania.

Lalu—

teriak:

“AMBAR CEPAT!”

“MEREKA MAU KISS!”

“TUNGGU— KACAMATA SAYA!”

“MAMA—” pekik Rania.

Gavin memejam mata.

Pelan.

“Saya mendadak mau pindah rumah.”

“Mau pindah?” Ratna tersenyum.

“Program cucu diperpanjang.”

Oke.

Tidak jadi.

Dan untuk alasan yang sangat menyebalkan—

Rania nyaris ketawa.

Nyaris.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!