NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab tiga puluh tiga

Alya di bawa ke sebuah ruangan yang besar. Di sana terdapat sebuah meja panjang dengan banyak kursi di sisi kanan dan kirinya.

Ada beberapa kursi yang sudah terisi. Ada beberapa pria berjas duduk dengan wajah yang serius, sementara di sisi lain terdapat tiga orang gadis dengan garis wajah dan warna kulit yang berbeda.

Mereka tampak merias diri dengan sangat cantik, serta memakai pakaian yang rapi dan elegan. Benar-benar berbeda dengannya.

Alya tampak sadar menegakkan tubuhnya, berusaha untuk tetap tenang di tengah ruangan yang terasa asing tersebut.

Maxime duduk di kursi kepala. Di sisi kanannya, ada seorang pria muda yang tampak tidak asing bagi Alya. Rasanya ia pernah melihatnya di mansion.

"Alya." panggil Maxime pelan. "Duduklah di samping para gadis itu." ucapnya memberi perintah.

Alya mengangguk dan duduk di kursi paling ujung.

Pria di samping Maxime yang tak lain adalah Jordi, assisten Maxime, mulai berdiri dan membuka map di hadapannya. "Baik, kita mulai rapat hari ini. Pembahasan utama mengenai talent baru untuk campaign brand terbaru.

Jordi mantap satu per satu yang hadir di sana, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Kita sudah melakukan seleksi awal, dan ada empat kandidat yang berhasil di pilih.

Alya tampak tenang mendengarkan setiap perkataan yang terlontar.

Jordi lalu menunjuk ke arah layar di depan ruangan, menampilkan beberapa profil singkat.

"Yang pertama, Lora Cintya, pernah menjadi model freelance di luar negeri."

Wanita berkulit sawo matang itu, berdiri dari kursinya. Menunduk singkat pada Maxime dan yang lainnya. Lalu ia kembali duduk di kursinya.

"Yang kedua, Sera, seorang beauty vlogger yang punya puluhan ribu pengikut."

Gadis itu juga berdiri dan tersenyum tipis pada semua orang. Kulitnya yang kuning langsat, membuat wajahnya tampak cantik alami.

"Yang ketiga, Nadine Kartika, ia seorang ibu rumah tangga dan memiliki channel Youtube-nya sendiri. Pengikutnya cukup banyak di media sosial."

Gadis ketiga tampak jauh lebih ramah. Ia tersenyum lebar dan terlihat ramah.

Lalu, pria itu berhenti sejenak, menatap Alya. Entah kenapa, ia jadi terlihat sedikit canggung.

Sikapnya yang canggung tak lepas dari perhatian Maxime. Pria itu melontarkan tatapan tajam ke arahnya.

"Dan yang terakhir, nona Alya, ia belum memiliki pengalaman apa-apa di industri ini." lanjut pria itu datar. "Nona Alya dipilih langsung oleh Pak Maxime sebagai wajah baru untuk konsep natural look campaign."

Rapat berlangsung lancar dan tidak bertele-tele. Semua kandidat yang terpilih akan menjalani sesi pemotretan beberapa hari lagi dan ikut langsung dalam acara launching brand terbaru.

Yang lainnya tampak antusias, namun tidak dengan Alya. Jantungnya berdegup kencang karena gugup.

Setelah rapat selesai, keempat gadis itu diberikan surat kontrak kerja untuk ditandatangani.

Mereka membacanya dengan teliti, lalu menandatanganinya.

Ketiganya diperolehkan pulang, kecuali Alya.

"Jordi." panggil Maxime kepada asistennya.

"Iya, Pak." sahutnya tenang dengan sikap profesionalisme yang kaku.

"Bawa Alya ke ruang rias. Suruh Raya untuk merias wajahnya."

"Baik, Pak."

Jordi mengangguk singkat, lalu kembali menoleh ke arah Alya. Sikapnya kembali gugup. "Silahkan ikut saya."

Alya sempat melirik ke arah Maxime, seolah mencari kepastian. Maxime mengangguk kecil, seolah meyakinkan dirinya.

Alya menarik napas pelan, lalu mengangguk. "Baik."

Ia mengikuti langkah Jordi keluar dari ruangan itu. Ia melewati koridor yang terasa asing baginya, perasaannya semakin gelisah dan diliputi ketegangan yang luar biasa.

Beberapa menit kemudian, langkah mereka berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca besar.

"Silahkan masuk, Nona." ucap Jordi, membukakan pintu untuknya.

Entah kenapa pria itu selalu terlihat gugup ketika bicara dengannya. Apa ada yang salah dengan dengannya, atau dengan dirinya sendiri.

Alya melangkah dengan ragu.

Di dalam ruangan, suasana jauh terasa berbeda. Lampu-lampu terang mengelilingi cermin besar, meja-meja penuh dengan alat rias yang tersusun rapi. Aroma kosmetik yang lembut memenuhi udara.

Seorang wanita tampak berdiri di depan cermin, sedang merapikan alat-alatnya.

"Bu Raya." panggil Jordi.

Wanita itu menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada Alya, seolah sedang menilainya, melihat dari atas ke bawah dengan tatapannya yang tajam.

"Talent baru?" tanyanya singkat.

Jordi mengangguk. "Perintah langsung dari Pak Maxime."

Raya mendekat perlahan, memperhatikan wajah Alya lebih detail. Jemarinya terangkat, menyentuh dagu Alya dengan lembut, namun tegas, mengarahkan wajahnya ke arah cahaya.

Hening sejenak.

"Kau punya 'sesuatu', Nona." gumamnya pelan.

Alya mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti.

"Duduk." perintah Raya singkat.

Tanpa banyak penolakan, Alya menurutinya. Ia duduk di depan cermin besar itu, menatap bayangan wajahnya yang terlihat sangat sederhana di tengah ruangan yang mewah itu.

Sementara Jordi pergi meninggalkan ruangan itu setelah Raya menyuruhkan keluar.

Raya mulai bekerja.

Sentuhan kuas di wajahnya terasa begitu asing. Selama ini ia hanya memoles wajahnya dengan bedak tabur dan pelembab bibir. Hanya itu.

Kini berbagai alat rias yang tidak ia kenal, menyentuh wajahnya. Raya tampak cekatan dan terlatih, gerakannya begitu pasti, seolah sudah hafal betul dengan apa yang ia lakukan tanpa perlu berpikir.

Alya tampak pasrah. Ia tak berani melirik ke arah cermin.

"Kau punya mata yang bagus." gumamnya.

Belum pernah ada mengatakan hal itu padanya.

Setelah hampir satu jam, akhirnya riasan wajahnya selesai. Raya mundur sejenak, memperhatikan hasil kerjanya dengan penuh ketelitian. Wanita itu mengangguk pelan, penuh keyakinan.

"Oke. Sekarang kita coba gaunnya."

Alya bahkan tak berani melihat seperti apa dirinya kini. Ia hanya pasrah menuruti setiap perkataannya.

*

*

Sementara itu, di ruang kerjanya, Maxime tampak sibuk dengan pekerjaannya. Jordi tampak mondar-mandir menyerahkan laporan demi laporan dengan ritme yang cepat dan teratur.

"Ini laporan keuangan kuartal terakhir, Pak." ucap Jordi, meletakkan map tebal di atas meja.

Maxime membukanya tanpa banyak bicara. Tatapannya fokus, jemarinya membalik halaman dengan cekatan.

"Dan ini revisi konsep campaign dari tim kreatif." Jordi menyerah map lain padanya.

Ruangan itu dipenuhi kertas dan ketukan pelan pena di atas meja. Suasana terlihat serius, nyaris tanpa jeda.

"Bagaimana dengan Alya? Apa dia sudah selesai di rias?" tanya Maxime tiba-tiba tanpa mengangkat kepala.

"Sebentar lagi nona Raya selesai, Pak."

"Bagus. Pastikan tidak ada kesalahan." ucapnya datar.

"Baik, Pak."

Jordi kembali melangkah, ia berjalan cepat menuju pintu keluar.

Namun, langkahnya membeku seketika di ambang pintu, seolah aliran darahnya berhenti.

Ia tampak terpaku menatap dua wanita yang berjalan ke arahnya. Tepatnya pada seorang gadis cantik dengan gaun sederhana yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuat siapapun menoleh.

"Permisi Jordi. Jangan berdiri seperti patung di depan pintu. Kami ingin masuk."

Ucapan Raya seketika mengejutkan dirinya, membuatnya kembali pada kesadarannya.

"Oh... maaf. " ucapnya gugup.

Ia menggeser tubuhnya, lalu membuka pintu itu.

"Tuan... Nona Alya sudah di sini." ucap Jordi.

Maxime mengangkat wajahnya sejenak. Tatapannya seketika membeku.

🌺🌺🌺

1
Kamsia
pelayan yg lama rese tuch sm" krj ky bos aj
-Thiea-: iya. emang rese banget mereka.
total 1 replies
Miu.Nuha
gabut pak ✌
Miu.Nuha
ish jonathan, mau mencari kesempatan dalam kesempitan ya 😑😑😑
Miu.Nuha
syukurlah Alya punya sahabat yang begitu baik. semoga kekal ya dn gk ad yg main belakang 😣
Mega Siregar
cie... pake privilege Otoritas nih ye🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh ada ko Bu penggantinya, cuma anak ibunya aja yg rese kan bikin bete si Al.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
haaaa tuh kan, apa kata gw 🤣😏 yg jadi ibumu author coba tanyakan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemm kayaknya ada maksud terselubung si max.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
gw heran ya kenapa org cantik suka muji org cantik
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya iyalah udh besar, ya kali masuk lagi 🤣
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
memang faktanya
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih ih
Teteh Lia
Perbedaan status, terkadang jadi tembok tinggi, ya
Three Flowers
fyuhh syukurlah, kukira ada apa...
Xlyzy
instruksi langsung dari bos besar nih jadi jangan ada yang macam macam ya
Three Flowers
kalo gitu kasih dia pekerjaan lain yang lebih baik buat tambahan penghasilan
Xlyzy
Max ini mata nya elang sekali
Three Flowers
tapi ini kan di luar jam kerja di rumah nya
Miu.Nuha
semoga Alya bisa jaga diri 😭
Miu.Nuha
aduh... semoga gk diapa2in
kalo iya semoga lekas ditolong maxime 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!