NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Dingin melawan dingin

"Kalian ingin aku diam dan tidak mengganggu?" Mikayla bergumam sambil menatap foto keluarga di sudut apartemen, lalu membalikkannya hingga bingkainya retak.

"Baik. Aku akan diam sesunyi kuburan. Tapi jangan kaget kalau tiba-tiba semua kartu kredit kalian tidak bisa digesek di Bali, dan rumah yang kalian banggakan itu berubah status kepemilikannya menjadi milikku.”

Mikayla berdiri, berjalan menuju cermin dan merapikan setelan hitamnya. Respon dingin ibunya adalah paku terakhir di peti mati rasa baktinya. Sekarang, ia tidak memiliki beban moral lagi. Ia akan menghancurkan mereka semua tanpa keraguan sedikit pun, dimulai dari membiarkan mereka "terlantar" di Bali saat tagihan hotel mewah itu mulai membengkak dan kartu Elang terblokir karena kasus penggelapan.

"Nikmatilah belanja kalian, Bu," desis Mikayla. "Karena itu akan menjadi baju terakhir yang mampu Ibu beli.”

Jemari Mikayla menari di atas layar, tidak ada keraguan, tidak ada getaran. Setiap ketukan adalah pemutusan satu per satu urat nadi finansial keluarga yang telah mengkhianatinya. Ia melihat daftar transaksi terakhir ibunya, belanja tas, makan malam mewah di Jimbaran, hingga perawatan spa di resort. Semuanya menggunakan uang hasil keringat Mikayla yang selama ini dianggap "jatah wajib".

"Satu... dua... tiga... selesai," gumam Mikayla setelah menekan tombol confirm untuk perubahan akses utama seluruh rekeningnya.

Mikayla tidak berhenti hanya pada perubahan kata sandi. Ia melangkah lebih jauh lebih dalam, lebih terencana, dan jauh lebih kejam dari yang pernah dibayangkan keluarganya.

Langkah pertamanya sederhana, namun berdampak langsung. Ia melaporkan seluruh kartu debit yang dibawa ibunya sebagai hilang melalui layanan priority banking. Prosesnya cepat, hampir tanpa hambatan. Dalam hitungan menit, kartu-kartu yang tersimpan rapi di dompet sang ibu yang saat itu berada di Bali berubah menjadi benda mati tanpa nilai.

Tidak berhenti di sana, Mikayla menutup semua akses digital. Ia menghapus perangkat ponsel ibunya dari daftar perangkat terpercaya. Seketika, akses ke mobile banking lenyap, tidak ada lagi saldo yang bisa dilihat, tidak ada lagi transaksi yang bisa dilakukan. Semua jalur keuangan itu kini terkunci rapat dan hanya Mikayla yang memegang kuncinya.

Namun, yang paling ia nantikan adalah bagian terakhir. Dengan tenang, ia menurunkan limit kartu kredit tambahan yang digunakan ayahnya hingga nol rupiah. Tidak ada peringatan, tidak ada pemberitahuan. Ia sengaja membiarkan momen itu terjadi begitu saja di depan orang-orang yang biasa menemani ayahnya berjudi.

Ia ingin lelaki itu merasakan sendiri bagaimana rasanya ditolak. Bukan hanya oleh sistem, tapi oleh keadaan yang selama ini ia anggap bisa ia kendalikan. Dan untuk pertama kalinya, Mikayla merasa, kendali itu sepenuhnya berada di tangannya.

Hanya butuh waktu lima belas menit.

Ponsel Mikayla bergetar tanpa henti di atas meja. Nama “Ibu” muncul di layar, berkedip-kedip seolah mendesak untuk segera dijawab. Namun Mikayla tidak bergerak. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi datar, lalu dengan tenang menyesap teh hangat di tangannya.

Panggilan pertama terputus…

Beberapa detik kemudian, panggilan kedua masuk. Disusul panggilan ketiga. Lalu notifikasi WhatsApp bermunculan, beruntun, penuh kepanikan.

“Mika! Kamu di mana? Kenapa ATM Ibu diblokir semua? Ibu lagi di kasir butik ini, malu ditungguin orang! Cepat urus, Elang lagi nggak bisa dihubungi!”

“Mika! Jawab! Bapakmu juga marah-marah ini kartunya nggak bisa dipakai buat bayar hotel!”

Mikayla tidak membukanya. Ia cukup membaca sekilas dari baris notifikasi.

Senyum tipis terukir di bibirnya dingin, tanpa kehangatan. “Malu, Bu?” gumamnya pelan. “Itu belum seberapa… dibanding rasa malu yang aku tanggung saat Mas Elang mengumumkan pertunangan dengan kakakku sendiri di depan umum.” Ia meletakkan cangkirnya dengan tenang, lalu mengubah pengaturan ponselnya ke mode Jangan Ganggu.

Hanya tiga nama yang ia izinkan menembus batas itu: Rasya, Reno, dan Pak Hendra, selebihnya tidak penting. “Biarkan mereka merasakan,” bisiknya lirih, hampir seperti doa yang dipenuhi racun, “bagaimana rasanya jadi orang biasa… tanpa uangku.” Ia tahu ini belum berakhir. Elang pasti akan turun tangan, membayar semua kekacauan itu seperti biasa.

Namun justru itu yang ia inginkan, semakin sering Elang menggunakan dana perusahaan untuk menutup kebutuhan pribadi keluarganya, semakin dalam ia menggali lubang untuk dirinya sendiri.

Dan Mikayla hanya perlu menunggu.

Ia meraih ponselnya kembali, kali ini untuk menelepon. “Reno,” ucapnya begitu sambungan terhubung, suaranya stabil, profesional, tanpa jejak emosi. “Pastikan semua pembayaran hotel di Bali hari ini yang dilakukan Elang untuk orang tuaku tercatat lengkap. Aku ingin itu jadi bukti tambahan penyalahgunaan dana perusahaan.”

“Dimengerti, Mikayla,” jawab Reno di seberang sana. “Mereka benar-benar masuk ke dalam skenario yang kamu siapkan.”

Panggilan berakhir…

Mikayla menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi kerja. Ada kelegaan yang aneh, ringan namun hampa, pemutusan ini akhirnya benar-benar terjadi.

Bukan lagi sekadar jarak, tapi garis tegas yang tak bisa ditarik kembali, Ia tidak lagi memiliki keluarga yang harus dilindungi, yang tersisa kini… hanyalah orang-orang yang harus ia jatuhkan. Satu per satu. Secara perlahan tanpa ampun.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mikayla merasa bebas.

Suasana di butik mewah itu mendadak tegang. Wajah ibu Mikayla yang tadinya kemerahan karena bangga, kini berubah pias saat kasir mengembalikan kartu debitnya untuk ketiga kalinya.

"Maaf, Ibu. Transaksinya ditolak. Reason code-nya: kartu diblokir atau limit tidak mencukupi," ucap staf butik dengan senyum profesional yang mulai terasa menghakimi.

Naura, yang sudah menenteng dua gaun pesta sutra seharga puluhan juta, mendengus tidak sabar. "Bu, kok bisa sih? Katanya saldo di tabungan itu masih banyak. Malu tahu dilihatin orang!”

"Ibu juga bingung, Ra! Tadi pagi masih bisa buat beli kopi di hotel. Kok tiba-tiba begini? Duh, mana antrean di belakang sudah panjang," bisik ibunya panik, jemarinya gemetar mencoba menelepon Mikayla berkali-kali namun hanya masuk ke kotak suara.

Langkah seorang pahlawan yang menjerat, Elang, yang baru saja selesai menerima telepon bisnis di luar, melangkah masuk dengan gaya angkuhnya. Ia melihat kegaduhan kecil itu dan segera merangkul pinggang Naura. "Ada apa ini? Kok lama sekali?" tanya Elang.

"Ini, Mas... kartu Ibu nggak bisa dipakai. Padahal aku sudah pilih baju yang cocok buat acara kita nanti," keluh Naura manja, bibirnya mengerucut.

Elang melirik ibu mertuanya yang tampak berkeringat dingin karena malu. Ia menduga Mikayla mungkin sedang "ngambek" karena sakit, atau ada kendala teknis perbankan yang biasa terjadi.

"Sudah, jangan ganggu Mikayla dulu. Dia sedang sakit di apartemen sahabatnya, mungkin dia sedang tidur atau ponselnya mati. Kasihan kalau dia harus mengurus hal sepele seperti ini dalam kondisi drop," ucap Elang dengan nada sok bijak, seolah-olah ia adalah suami paling perhatian di dunia.

Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam dengan logo perusahaan konstruksinya dari dompet kulit mahal. "Pakai ini saja. Anggap saja ini kado tambahan untuk Ibu dan Naura.”

Jebakan yang Semakin Dalam

Bip.

Suara mesin EDC terdengar singkat namun tegas.

“Transaksi berhasil, Pak.”

Staf butik tersenyum lebar saat struk panjang perlahan keluar dari mesin. Di hadapan tatapan penuh harap dan sedikit lega dari wanita di sampingnya, Elang segera mengambil pena dan menandatangani struk itu dengan coretan cepat tanpa ragu, tanpa curiga, ia tidak menyadari, bahwa setiap goresan tinta yang ia bubuhkan adalah satu per satu paku yang mengunci rapat peti mati kariernya sendiri.

Di Jakarta, pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah notifikasi muncul, sistem pemantauan aset yang dipasang Reno langsung berkedip merah tajam, mencolok, seperti alarm yang akhirnya menemukan sasaran, tablet di meja kerja Mikayla bergetar pelan. Ia melirik sekilas, lalu membuka notifikasi itu dengan tenang.

Transaksi Baru

Merchant: Butik Fashion Bali

Nominal: Rp85.000.000

Metode: Kartu Kredit Korporat

Pemilik: PT. Abimanyu Konstruksi

Senyum tipis terukir di bibir Mikayla, tidak ada lagi keraguan. Penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi, terlebih untuk pihak ketiga yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan bisnis, bukan sekadar pelanggaran etika. Itu adalah bukti. Bukti nyata dari penggelapan dana dalam jabatan.

Ia mengetuk ringan layar tabletnya, seolah menegaskan bahwa momen itu telah resmi tercatat dalam permainan yang ia susun sejak awal. “Teruskan… belanja lebih banyak.” gumamnya pelan. “Semakin dalam kamu melangkah, semakin sulit kamu keluar, Mas Elang.” Dan di balik ketenangannya, Mikayla tahu jebakan itu kini bukan lagi sekadar rencana Ia sudah mulai menutup.

"Wah, terima kasih ya, Elang! Kamu memang menantu idaman, nggak kayak Mikayla, giliran dibutuhkan malah susah dihubungi," ujar ibunya sambil memeluk tas belanjaannya, rasa malunya langsung hilang berganti puja-puji.

"Tenang saja, Bu. Selama ada Elang, Ibu dan Naura tidak perlu khawatir soal uang," jawab Elang sombong.

Naura mengecup pipi Elang dengan mesra. "Makasih ya, Mas. Kamu yang terbaik. Yuk, kita lanjut ke toko sebelah, aku lihat ada perhiasan yang bagus!”

Mereka melenggang pergi dengan tawa kemenangan, tidak tahu bahwa di balik layar, Mikayla sedang mencatat setiap rupiah yang mereka hamburkan. Elang baru saja masuk lebih dalam ke lubang yang digali Mikayla. Ia pikir ia sedang menyelamatkan muka keluarganya, padahal ia sedang memberikan bukti pamungkas bagi jaksa penuntut umum nanti.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!