Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENIAL
"Maaf ya, Wi. Secara tidak langsung aku menolak kamu," ujar Kyara saat keduanya berjalan menuju antrean wahana, mereka belum capek, masih ingin menjelajahi beberapa wahana yang belum selesai. Apalagi Kya merengek untuk melihat sampai malam, agar bisa melihat parade dengan kerlap-kerlip lampu. Mama menolak, beliau ingin pulang sudah capek. Papa mengizinkan Owi yang menemani Kya saja, sedangkan Adit juga capek, tak mau sampai malam.
"Udah biasa, dan udah ketebak. Santai saja."
"Setelah disakiti, aku harus lebih selektif lagi, Wi. Aku gak mau modal kesepian main terima saja."
Owi mengangguk, dan tersenyum saja kemudian mengacak rambut Kya, untuk bersikap santai saja. Tak perlu dipikirkan lebih dalam lagi, mumpung di sini nikmatin saja asyiknya Disney Land. Kya setuju, dan suasana canggung yang tadi sempat menghampiri keduanya mencair karena fokus pada liburan di sini.
Bahkan selesai melihat parade rumah hantu dengan lampu kerlap-kerlip, Kya masih diajak Owi untuk menikmati jajanan di Tokyo pada malam hari. Foto sendiri maupun foto berdua sudah terdokumentasi rapi di ponsel Kya maupun Owi. Saat antri ramen, ponsel Owi berdenting, masuk sebuah pesan dari seseorang yang bernama Megumi, kebetulan ponsel Owi berada di dekat ponsel Kya.
Kya melihat respon Owi yang langsung membuka pesan itu dan terkesan fokus membalas chat tersebut, terpantau dari cekatannya ia mengetik. Kya diam saja, tak berniat tanya. Dia hanya teman, tak perlu mengetahui privasi Owi berlebihan. Lagian, dia atlet, penampilannya dengan tinggi 187 cm dan wajah ganteng, ya kali tak punya gebetan. Mungkin saja dia memang gak punya pacar, tapi banyak perempuan yang naksir sama dia, dan bisa jadi ditanggapi.
Sampai orderan datang, Owi masih sibuk dengan ponselnya. "Besok tournya ke mana?" tanya Owi di sela-sela fokusnya pada ponsel.
"Mama ajak belanja sekalian menemani Kak Adit mencari kebutuhan untuk mengisi apartemennya. Kenapa?"
"Hem gak pa-pa, kayaknya aku gak bisa ikut."
"Oh, santai saja. Papa mungkin pakai sopir dari hotel lagi," ucap Kya yang mengira Owi ada keperluan dengan Megumi.
Keduanya makan dengan diam, karena Owi masih sibuk dengan ponselnya. Bahkan setelah mengajak makan ramen, pun Kya minta antar ke hotel langsung diiyakan oleh Owi.
See. Dia pasti dekat sama cewek, Megumi itu.
Selama perjalanan pulang, Owi yang biasa cerewet atau menjahili Kya mendadak diam, masih sibuk dengan ponsel. Bahkan ia berniat langsung balik tanpa mengantar Kya sampai ke kamar hotel seperti kemarin. Kya mengangguk, dan tak lupa mengucap terimakasih kepada Owi, sudah direpotkan oleh keluarganya. Beruntung ada Adit, yang baru keluar dari mini market dekat hotel.
"Owi mana?"
"Langsung balik."
"Tumben, gak antar kamu. Kemarin saja sampai antar ke kamar papa."
"Ada repot kali, tadi tak sengaja lihat chat yang masuk, habis itu dia sibuk dengan ponselnya."
"Dari cewek?" tanya Adit dengan tatapan menyelidik. Kya hanya mengedikkan bahu, dan menyebutkan nama kontak yang sempat ia baca.
Adit spontan merangkul pundak sang adik setelah keluar lift, dengan tawa mengejek. "Kok aku mencium bau-bau cemburu agak gosong dikit ya," ledek sang kakak. Kya hanya berdecak sebal.
"Gak ada cemburu. Ngapain. Cuma teman juga."
Adit main kruwes bibir sang adik, "Bibir aja ngomong cuma teman, hati ingin jadi pacar ya kan?"
"Dih, sok tahu."
Adit menyentil kening Kya, "Dengar ya, Dek. Laki-laki kalau serius, dia bakal berani mengungkap perasaannya di depan orang tua si cewek, dan Owi sudah melakukannya. Tapi kalau ditolak begini, kamu juga harus sadar diri jangan pernah mencampuri urusan hidupnya, apalagi melarang dia berinteraksi dengan perempuan lain. Jangan pernah menjadikan diri kamu perempuan yang harus dikejar, karena dalam menjalin hubungan itu harus setara pengorbanannya."
"Dalem cuy, Kak Adit terlalu berlebihan!" ucap Kya sembari menempelkan kartu kamarnya, dan Adit hanya tertawa mendengar penolakan sang adik untuk kesekian kalinya.
Kya sendiri denial dengan apa yang ia rasanya. Benar kata Kak Adit, di mulut memang bilang hanya teman, tapi di hati enggak juga. Sejak Owi sering bilang tertarik pada Kya, dirinya pun mulai menilai kepribadian Owi dan kesetiaan pemuda itu. Harusnya kalau memang menyukai Kya, gak patut lah dekat atau interaksi berlebih dengan perempuan lain.
"Bukan mau dikejar, tapi aku gak suka saja cowok terlalu friendly dengan perempuan, maklum aku masih ada trauma dikhianati," gumam Kya sebelum membersihkan diri.
Setelah sholat, Kya pun melipir ke kamar kedua orang tuanya, terlihat mama dan papa memesan makanan dari layanan hotel, Adit pun ikut masuk. "Besok Owi ikut kita lagi gak?" tanya papa sembari menikmati tempura.
"Enggak, ada urusan!"
"Marah kali ya, kan habis kamu tolak," sambung mama. Kya memutar bola mata malas.
"Jaga jarak, jaga jarak," ini lagi si kompor Adit ikut mulu.
"Ya wajar sih, udah ditolak."
"Gak gitu, papa. Emang Owi ada urusan."
"Ya urusannya bisa dibuat-buat."
"Entahlah, lagian ya mungkin dia gak enak juga ikut tour kita."
"Padahal papa sih gak masalah, dia baik loh, Kya."
"Ya emang siapa yang bilang, Owi jahat. Gak ada deh."
"Papa juga klik aja sama Owi."
"Ya memang dia easy going, Pa. Sama anak lain juga sama."
"Gitu kamu kenapa gak pacaran sama Owi, malah milih Bagas!"
"Hati mana bisa dipaksa sih, Ma."
"Ya kalau memang kamu sudah menolaknya, ya jangan bergantung sama dia, Dek. Khawatir kalau kamu ganggu dia terus, serasa kamu pemberi harapan."
"Owi tahu, Pak. Perasaan Kya seperti apa, dia mengungkapkan perasaan juga sering, cuma jawaban Kya sama. Menolak. Udah ah, Kya mau jadi jomblo dulu, Pa. Nanti kalau sudah bertemu jodoh, langsung Kya mau nikah aja."
"Boleh, Papa juga gak memaksa kamu harus sama Owi kok. Cuma feeling papa dia memang cocok sama kamu."
"Feeling mama juga."
"Feeling Adit juga."
"Dih, dibayar berapa sama Owi sampai mau jadi tim suksesnya." Mereka tertawa saja, paling suka memojokkan si bungsu, karena dia gampang ngambek.
Kya memang sengaja tak membawa ponsel ke kamar papa. Begitu dia mengantuk, dan sudah diusir oleh Kanjeng Mamih, gadis itu kembali ke kamar dan kaget setengah mati, karena 20 panggilan tak terjawab dari Owi.
"Ngapai telepon?" batin Kya langsung mengirim chat pada Owi.
Iya Wi, kenapa? Owi tak perlu membalas pesan, langsung video call pada Kya.
"Dari mana? Mandi?"
"Enggak, dari kamar mama. Kenapa?"
"Syukurlah, aku pikir ke mana. Gak aku antar sampai kamar, khawatir diculik orang aja."
"Gak bakal ada yang berani culik aku, aku makannya banyak." Owi tertawa.
"Ya udah gih, istirahat. Selamat malam, besok pasti gak asyik jalan-jalannya."
"Kenapa?"
"Gak ada aku."
"Dih, percaya diri banget tuan. Sudah mulai terbiasa hidup jomblo juga kali. Lagian kamu juga sibuk sama cewek kamu, pasti marah dua hari ini kamu sibuk sama aku."
"Cewek?" Owi kaget, kok tiba-tiba jadi menyinggung cewek.