Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang terabaikan oleh anak - anak nya di usia senja hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup nya.
" Jika anak - anak ku saja tidak menginginkan aku, untuk apa aku hidup ya Allah." Isak Fatma di dalam sujud nya.
Hingga kebahagiaan itu dia dapat kan dari seorang gadis yang menerima nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit 2
*****
" bunda minta maaf ya, Nak. Bunda kurang memperhatikan kamu selama ini. Sampai kamu bisa sakit lagi dan masuk rumah sakit. Bunda memang keterlaluan pada mu, Naya." Ucap Fatma membelai kepala Kanaya dengan lembut.
" Bukan bunda yang salah. Memang sejak sore Naya sudah merasa nggak enak badan, bunda. Tapi malah Naya diemin saja."
" Kalau sudah begini, lebih baik kamu berhenti kerja saja dari kantor. Bunda punya tabungan dan perhiasan yang cukup untuk biaya hidup kita dan biaya pengobatan kamu sampai kamu sembuh." Fatma berkata dengan kuasa penuh atas diri sang putri angkat.
" Tapi, bunda. Biaya semua itu nggak murah. Dan Naya nggak mau merepotkan, Bunda." Bantah Kanaya.
" Tidak ada tapi lagi, Naya. Ini sudah keputusan bunda. Dan kamu tidak lagi bisa membantah." Balas Fatma, seraya mengusap lembut kulit tubuh Kanaya.
" Memang nya tadi kamu kemana? Bisa sampai pingsan di jalan. Terus tadi yang jawab hp kamu... Zey... Sekarang dia mana?"
" Sudah pulang mungkin, bunda." Jawab Kanaya.
" Dia itu baik. Untung nya di membawa kamu ke rumah sakit dokter Shafa. Kamu tadi kemana?" Tanya Fatma lagi.
" Tadi nya Kanaya duduk di taman, bunda. Mau menenangkan pikiran sebentar." Jawab Kanaya.
" Masih memikirkan soal, Aris? Kamu nggak usah pikir kan dia lagi. Jangan berhubungan dengan dia lagi. Kamu bisa cari laki - laki yang lebih baik dari Aris."
Fatma begitu kekeh agar Kanaya memutuskan hubungan nya dengan Aris.
" Apa karena masalah bunda dengan mas Aris, makanya Naya nggak boleh berhubungan dengan mas Aris lagi?" Tanya Kanaya dengan serius.
" Bunda ini ibu nya, Naya. Jadi bunda tahu bagaimana karakter Aris itu. Mungkin di depan kami di sangat manis. Tapi tidak di depan bunda, Nak. Kamu lihat saja tadi. Dia malah bilang bunda sudah meninggal. Itu arti nya dia sama sekali tidak merindukan bunda." Jawab Fatma.
" Yang terjadi antara bunda dan mas Aris itu hanya salah paham. Mas Aris berhak tahu cerita yang sebenar nya. Wajar jika tadi mas Aris kaget dan belum siap melihat bunda. Ibu yang selama ini mas Aris, bahkan semua orang kira sudah meninggal hidup lagi. Di balik sikap mas Aris yang sudah meninggalkan bunda di panti jompo, mas Aris tetap harus tahu cerita yang sebenar nya."
" Jadi kamu lebih membela Aris?" Kata Fatma yang duduk di samping brankar Kanaya.
" Bukan begitu bunda. Naya hanya tidak ingin antara bunda dan Mas Aris itu ada salah paham. Mas Aris memnag salah. Tapi untuk urusan ini, Naya akan ceritakan yang sebanarnya sama mas Aris." Sahut Kanaya.
" Terserah kamu saja. Yang terpenting buat bunda, kamu jangan berhubungan lagi dengan Aris. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari Aris, Kanaya."
Kanaya mengangguk pelan menatap Fatma. Masih terlihat jelas raut kesal dan marah di wajah Fatma. Dan Kanaya tidak bisa menghilangkan nya itu. Karena Kanaya juga merasakan hal yang sama pada Aris. Menyayangkan sikap Aris pada ibu nya.
*
*
*
Saat keluar dari rumah sakit, Shafa berpapasan dengan Zeyden di pintu utama rumah sakit.
" Zey... Mama pikir kamu sudah pulang?" Ucap Shafa.
" Zey nggak mungkin pulang, ma. Zey harus menemani Naya malam ini." Jawab Zeyden dengan enteng.
" Nggak perlu. Kamu nggak perlu menemani Kanaya. Sudah ada bunda nya yang jaga. Mending sekarang, kamu ikut mama pulang." Sahut Shafa menarik lengan Zeyden.
" Mama... Mama kan bawa mobil. Mama pulang duluan saja. Zey masih mau di sini." Tolak Zeyden menyentuh kulit tangan sang mama.
" Kanaya itu harus banyak istirahat. Jadi kamu ikut mama pulang. Jangan sampai kehadiran kamu malah mengganggu istirahat Kanaya. Besok dia akan melakukan terapi." Paksa Shafa lagi.
" Iya, iya. Mama pulang duluan saja. Nanti Zey bakal pulang. Mau pamit dulu sama Naya. Oke, ma."
" Serius ya. Setelah pamit, kamu harus pulang. Jangan ganggu Kanaya. Mama duluan nih."
" Iya, ma. Mama hati - hati ya nyetir nya."
Zeyden menarik tangan Shafa dan mencium nya dengan lembut.
" Kamu juga hati - hati nyetir nya. Jangan sampai kamu nabrak Kanaya Kanaya di luar sana."
" Ngeledek nih, mama...."
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Tak lagi melihat kepergian Shafa, Zeyden langsung berbalik badan dan berjalan menuju kamar perawatan Kanaya.
Sedangkan Shafa masih berdiri di tempat nya. Tersenyum dengan bahagia melihat kepergian putra nya. Ada rasa bahagia yang tak bisa dia ungkap kan di sana.
" Mau bohongi mama. Zeyden... Zeyden... Belum pernah lihat Zeyden di mode khawatir seperti ini." Gumam Shafa tersenyum.
Dokter Shafa kemudian mengeluarkan kunci mobil dan melangkah menjauh dari pintu utama rumah sakit.
Karena dia harus segera pulang untuk istirahat. Tadi dia sudah mengatur penjadwalan terapi untuk Kanaya besok. Kanaya akan segera melakukan terapi hormon oleh tim ahli.
*
*
*
Ceklek
Zeyden melangkah masuk ke ruangan dengan langkah tegap, tatapan matanya langsung menuju Kanaya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
" Assalamualaikum." Ucap Zeyden.
" Waalaikumsalam." Jawab Fatma.
Dengan perasaan campur aduk, Kanaya hanya bisa memandang sosok Zeyden yang sekarang mendekat.
Zeyden segera mendekati Fatma, menundukkan kepalanya dan mencium tangan wanita tua tersebut dengan hormat.
" Terima kasih, Zey. Ku sudah menyelamat kan anak saya hari ini. Terima kasih karena sudah segera membawa Naya ke rumah sakit." Ucap Fatma.
" Sama - sama, bunda. Bukan kah sesama manusia kita harus saling membantu." Balas Zeyden.
Fatma mengangguk, matanya berkaca-kaca.
" Kalau begitu, untuk malam ini biar saya yang jaga Naya. Bunda pulang saja. Istirahat di rumah."
" Nggak..." Tolak Kanaya.
Zeyden dan Fatma sontak menatap Kanaya.
" Nggak mau. Bunda di sini saja. Temenin Naya." Kata Kanaya.
" Jangan tega begitu dong, Naya. Lihat dong ini bunda. Lihat tuh mata nya, udah sembab banget. Bunda pasti capek, harus istirahat. Kalau di rumah sakit, bunda tidak akan bisa istirahat dengan baik. Biar kan bunda pulang dan istirahat di rumah. Besok pagi kan bunda bisa datang lagi. Ya kan bunda?" Sahut Zeyden.
" Tapi... Tapi Naya mau bunda."
" Bagaimana, Nak? Nggak papa kamu di jaga sama Zey malam ini?" Tanya Fatma menatap Kanaya.
Kanaya menatap Fatma yang nampak sangat lesu, wajahnya sembab dan mata yang muram menunjukkan betapa lelahnya dia hari ini, terutama setelah pertemuan yang menyayat hati dengan Aris.
Kanaya ragu untuk meminta Fatma yang sudah terluka batinnya untuk menemaninya di rumah sakit. Meski membutuhkannya, Kanaya sadar dia tidak mampu untuk menambah beban sang bunda yang tampaknya telah menguras segala tenaganya.
Kanaya yang mendengarkan pertukaran kata-kata itu merasa sebuah kepasrahan dalam dirinya. Dia tidak menyukai Zeyden karena beberapa alasan pribadi, namun pada malam itu, dia tidak memiliki energi untuk protes atau menolak. Zeyden duduk di samping ranjangnya, mengambil tangan Kanaya yang dingin dalam genggamannya, memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
" Ya sudah, bunda. Bunda pulang saja. Tapi besok bunda datang kan?" Jawab Kanaya dengan berujung pertanyaan.
Kanaya tidak dapat membayangkan jika dia masih di temani Zeyden sampai besok.
" Iya, Nak. Besok pagi bunda akan datang. Kan dokter Shafa bilang kamu mau di terapi? Bunda akan temani kamu besok."
Kanaya mengangguk pelan.
" Bunda hati - hati ya pulang nya. Langsung istirahat, jangan pikir kan soal mas Aris lagi."
" Iya. Kamu juga harus istirahat ya. Jangan pikir kan Aris juga. Jangan buang tenaga kamu untuk memikirkan laki - laki seperti Aris." Balas Fatma menyindir Kanaya.
" Bunda pulang dulu ya, Zey. Bunda percayakan Kanaya sama kamu malam ini. Tolong jaga anak bunda dengan baik. Kalau ada apa - apa, hubungi bunda segera." Pesan Fatma sebelum dia pulang.
" Pasti, bunda. Saya akan menjaga Naya dengan baik." Ucap Zeyden melirik Kanaya.
Kanaya menyipitkan mata nya membalas tatapan Zeyden. Menunjukkan jika dia tidak suka dengan keberadaan Zeyden menjaga nya.
Fatma pun pergi meninggalkan Kanaya dan Zeyden malam itu.
"Kamu istirahat saja, Kanaya. Saya di sini," kata Zeyden dengan nada yang mencoba menenangkan.
Meski Kanaya merasa tidak nyaman dengan kehadiran Zeyden, namun suara dan tatapannya yang lembut itu membuatnya sedikit merasa lebih aman.