Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilatan Cokelat Keemasan
⚒️⚒️
Tiga jam setelah pulang dari rumah Su Long dan diakhiri dengan drama kereta itu, Jia masih saja menggerutu sesekali. Su Hao harus bersabar terus menenangkan istrinya, baru mulut itu diam saat diiming-imingi sepiring nasi hangat lengkap dengan tumisan daging cacah. Karena hari masih siang, Su Hao memutuskan mampir ke bengkel. Tentu saja Jia ngotot ikut; diam di rumah sendirian cuma bikin dia bosan. Lebih enak mengekor suaminya sambil memutar otak mencari cara supaya isi piringnya ke depannya cuma ada daging dan nasi pulen.
Dan disinilah mereka sekarang. Jia sedang mengiris bawang. Aroma tajam itu membuat matanya perih, tapi ia terus mengusap dan mengupas satu per satu dengan wajah masam.
Su Hao memberinya pekerjaan ringan ini-mengupas bawang-dua tujuan sekaligus: supaya Jia belajar sedikit urusan rumah tangga, dan supaya ia tidak berkeliaran menyentuh benda tajam di bengkel.
"Kenapa mesti pakai bawang?! Rasa ikan takkan berubah jadi ayam cuma gara-gara ini. Buang-buang uang saja!" gerutu Jia, hampir saja bawang itu hancur diremuk tinjunya.
Di sisi lain ruangan, Su Hao sibuk mengasah mata pisau, termasuk pisau milik istrinya. Pisau dapur di rumah terlalu besar dan berat buat tangan mungil Jia, jadi Su Hao sengaja membuatkan satu gagang pendek yang pas digenggamnya.
"Sayang, itu pesanan orang, atau kau sendiri yang mau jual nanti?" tanya Jia sambil memperhatikan suaminya yang tenggelam dalam pekerjaan.
"Semua pesanan. Selain Su Long, beberapa petani pesan satu-dua buah untuk di ladang. Kalau Su Long, dia jual lagi ke pasar atau desa sebelah," jawab Su Hao tanpa menoleh sedikit pun.
Saat itulah Jia menyadari suaminya terlihat berbeda, jauh lebih tampan dari biasanya. Rambutnya yang biasanya berantakan kini tampak rapi. Padahal biasanya, setelah mandi pun laki-laki itu tak pernah peduli penampilan.
Sebelum ke bengkel tadi, Jia sempat menarik rambut Su Hao dengan keras ke belakang sampai kepala pria itu terangkat. Su Hao sempat panik, refleks memegang lehernya, mengira istrinya benar-benar berniat mematahkan lehernya. Perempuan ini memang tak pernah bisa ia tebak tingkahnya.
Saat Su Hao hendak menahan tangan istrinya, Jia justru menyisir rambutnya kasar dari belakang. Su Hao yang hampir tak pernah bersentuhan dengan sisir, meringis keras saat beberapa helai rambut tercabut hingga ke akarnya.
Tanpa sadar Su Hao, Jia tak cuma menyisir. Dengan gunting sederhana, ia merapikan rambut itu mengikuti potongan rapi: sisi kiri kanan ditipiskan, bagian atas dibiarkan agak panjang dan jatuh alami.
Setelah selesai, Jia menodongkan cermin kecil tepat ke wajah suaminya.
Su Hao menatap bayangannya sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia berbalik, memeluk pinggang istrinya, dan mengecup pipi itu sekilas.
"Selain pandai menyakiti orang, ternyata kau juga pandai mencukur rambut, ya."
Jia menyilangkan tangan di dada, dagu terangkat tinggi penuh rasa puas.
"Tentu saja. Berbanggalah punya istri sepertiku."
Dalam hati kecilnya sempat terlintas sedikit penyesalan: Rambutnya jadi pendek, kalau aku mau menjambak nanti apa lagi yang bisa kugenggam? Telinga? Mustahil bisa lepas telinganya.
Su Hao menghela napas panjang, lalu mengusap kepala istrinya pelan.
"Pasti aku bangga. Kelakuanmu yang manis sekaligus bringas itu selalu jadi kebanggaanku."
🔥
Jia menatap lekat-lekat punggung suaminya. Parang di tangan Su Hao bergerak naik turun, jari-jarinya cekatan meski bahunya tampak berat dan lelah. Pria itu bekerja dalam diam, seolah semua beban dunia harus ia pikul sendiri.
Dada Jia terasa sesak. Ia tahu Su Hao bekerja keras, dengan kondisi seperti itu, dan masih harus menafkahi istri yang makannya tidak pernah sedikit.
"Sayang," panggil Jia, suaranya jadi lebih manja dari biasanya. "Aku yang cantik ini punya saran cemerlang untuk menambah isi kantong kita."
Tangan Su Hao sempat berhenti sesaat, lalu kembali bergerak mengasah. Celotehan istrinya memang tak pernah benar-benar mengganggu konsentrasinya, tapi kali ini hatinya mulai waswas.
"Oh ya? Sebutkan saja. Asalkan jangan beli sawah lagi, ide itu harus kau buang jauh-jauh,"
Jia meletakkan bawang di meja, lalu berjalan mendekat dan duduk di sisi suaminya. Su Hao berhenti sebentar, menarik tangan mungil itu, mencucinya bersih di baskom air sebelum kembali bekerja.
"Sudah beberapa hari aku amati keadaan desa kita ini," ujar Jia dengan nada penuh keyakinan, "aku dan otak jeniusku punya rencana."
Su Hao hanya mendengarkan sambil mengelap sisa minyak pada bilah pisau.
"Bagaimana kalau kita jual makanan jadi di pasar? Nasi, lauk, bumbu lengkap. Pasti laku keras!"
Su Hao bahkan tak mengangkat kepala. Ia menggeleng pelan.
"Kau disuruh jaga api saja mengeluh. Masak nasi selalu hangus. Kau mau jual apa? Arang?"
Jia mendengus, tak terima. Ia mencubit lengan Su Hao. Pria itu tidak terusik sama sekali. Tangannya tetap lincah, mengerjakan satu per satu benda tajam tanpa ragu.
Jia kembali memutar otaknya. Dalam benaknya, kehidupan sebelumnya terlintas. Ia pernah melihat orang hidup dari berdagang. Cukup duduk manis di toko, pandai bicara, pandai membaca situasi. Tidak perlu kerja sekeras ini.
"Kalau begitu... bikin sandal!" Ia menunjuk kakinya sendiri. "Aku lihat banyak anak-anak sampai orang tua masih jalan telanjang kaki."
Su Hao berhenti mengasah sebentar, menghela napas panjang.
"Mereka tak pakai sandal bukan karena tak ada yang jual. Tapi karena tak punya uang untuk beli, Jia."
Jia terdiam sejenak. Menyerah bukan sifatnya.
"Kalau bahan bangunan? Lihat lantai rumah warga, kebanyakan masih tanah.
Pisau di tangan Su Hao hampir mengiris jarinya sendiri."
"Di desa ini, rumah kayu saja sudah cukup," "Sandal saja susah dibeli, apalagi semen. Banyak orang bisa makan saja sudah bersyukur."
Jia makin kesal. Mulutnya bergerak lebih cepat, ide makin liar bermunculan.
"Kalau begitu... buka arena adu pukul saja!" matanya berbinar serius. "Dua orang baku hajar, pasang taruhan. Yang menang dapat uang. Yang kalah dapat kuburan."
"Kita yang jadi bandar. Pegang uang taruhannya. Menang atau kalah, tetap uang masuk ke tangan kita. Aman!"
Su Hao membeku.
Detik berikutnya, parang di tangannya ditancapkan ke tanah keras dengan satu hentakan kuat.
DUK!
Suara berat itu menggema di ruangan, membuat Jia langsung bungkam seketika.
"Istriku," ucap Su Hao sungguh-sungguh, "Asal kau tenang dan tidak macam-macam, itu sudah cukup. Aku suamimu. Aku masih mampu menghidupimu sampai aku mati."
Ia menatap wajah Jia sejenak.
"Berhenti berpikir liar. Itu tidak sesuai parasmu yang manis."
Hati Jia terenyuh.
Su Hao mengelus rambutnya.
"Aku tidak ingin kau lelah. Lagipula... kau bisa saja sudah hamil. Sejak kita menikah, kau tidak pernah datang bulan, kan?"
....
Tubuh Jia menegang mendengar kata itu. Rasa dingin merambat perlahan dari ujung kaki hingga ke ujung jari, membuat seluruh tubuhnya terasa mati rasa.
Bayangan Wei Lanhua tiba-tiba menyelinap masuk ke pikirannya. Suara manis wanita itu, yang dulu sering mendesaknya agar segera mengandung, kembali bergaung di telinga. Dulu, Jia masih bisa menanggapinya dengan candaan ringan; kata "hamil" saat itu terdengar sekadar tekanan sosial yang tak pernah benar-benar menyentuh jiwanya.
Karena waktu itu, dirinya yang sesungguhnya belum sepenuhnya menghuni tubuh ini.
Sekarang, segalanya berbeda.
Setiap sentuhan hangat Su Hao, setiap hembusan napas beratnya yang menyapu leher, setiap malam panjang yang mereka lewati bersama-semuanya terasa begitu nyata, tertangkap jelas oleh seluruh indranya. Bahkan aroma minyak besi dan bau bengkel yang dulu asing, kini terasa akrab seperti bagian tak terpisahkan dari hidupnya. jika hal itu benar terjadi, ia harus menanggungnya dengan segala beban yang melekat. Menjadi ibu bukan sekadar melahirkan, tapi soal kesiapan tubuh dan jiwa-hal yang jelas-jelas belum Jia miliki.
"Hao..."
Aku sering dengar, perempuan yang mengandung pasti sering muntah-muntah, susah makan, dan badan terasa lemas tak berdaya. Kalau itu terjadi padaku... tubuhku yang sudah kurus kerontang ini pasti makin menipis saja, takkan ada sisa."
Ia mengetuk dada bidang Su Hao pelan. Ucapannya terdengar seperti keluhan biasa, tapi sebenarnya ia sedang berusaha meredam kecemasan yang mengganjal kuat di dadanya. Di lubuk hati terdalam, Jia tahu dirinya belum siap. Keuangan mereka masih serba pas-pasan. Bagaimana mungkin ia bisa membagi gizi untuk dua nyawa, jika tubuhnya sendiri saja masih sering kekurangan asupan?
"Kata orang, kondisi ibu adalah pondasi bagi bayinya," sambungnya lagi dengan nada bergetar. "Kalau aku sendiri belum kuat, bagaimana aku bisa menjaga nyawa kecil itu dengan baik?"
Su Hao langsung berhenti mengasah pisau. Bunyi gesekan besi itu lenyap seketika.
Tanpa banyak bicara, ia mengangkat istrinya dengan hati-hati seolah Jia adalah barang rapuh. Keluhan dan ketakutan istrinya itu tiba-tiba membuatnya sadar betapa ceroboh dirinya. Ia lupa bahwa tubuh Jia masih sangat rawan, lemah, dan belum terbiasa dengan kerasnya hidup di desa. Dada Su Hao terasa sesak dan berat. Benihnya sudah terlanjur bersemai di sana; mustahil ditarik kembali, dan mustahil dihapus begitu saja.
"Aku akan cari tahu segala hal yang kita butuhkan," ucap Su Hao tegas, nadanya tak diragukan lagi. "Kita bisa bertanya pada orang yang paham, berkonsultasi dulu sebelum memutuskan apa pun. Semuanya akan baik-baik saja."
Ia menatap lekat-lekat manik mata istrinya, penuh perhatian dan ketulusan.
"Bagaimana? Apa kamu setuju, Sayang?"
"Lu Jia?" Panggil Su Hao lagi.
Ia meraih kedua pipi istrinya.
Baru saat itulah ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak: pupil mata Jia yang hitam pekat seolah memudar dalam sekejap, berubah menjadi cokelat keemasan yang redup. Su Hao tak berkedip sedikit pun menyaksikan perubahan itu, sampai beberapa detik kemudian warna mata tersebut kembali seperti semula.
Satu pikiran langsung terbesit di benaknya: Ada sesuatu yang sangat tidak beres.