NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebutkan Harga untuk Meninggalkan Rex

Greenindia sedang menikmati sarapan paginya di ruang makan, setelah kembali dari shift malam di kafe. Rex sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi. Greenindia merasa sedikit lega karena ketegangan beberapa hari lalu sudah mereda.

Ia sedang memotong steak kecil ketika ia mendengar bunyi pintu lift terbuka. Greenindia mengangkat alisnya, heran. Antonio tidak pernah naik ke atas tanpa pemberitahuan.

Lalu, terdengar suara langkah kaki yang pasti, dan sesosok wanita ramping memasuki ruang makan.

Lauren.

Greenindia segera berdiri, meletakkan pisau dan garpunya. Ia memasang ekspresi sopan, menyambut kedatangan Lauren.

“Lauren. Selamat pagi. Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini. Apakah ada yang kau butuhkan?” tanya Greenindia, suaranya dipaksakan ramah.

Lauren tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Ia mengenakan gaun sutra mahal yang tampak terlalu mewah untuk kunjungan mendadak.

“Tentu saja tidak, Greenindia. Aku hanya mampir untuk berkunjung,” jawab Lauren, melangkah lebih dekat. “

Greenindia tahu. Lauren datang untuk mencari Rex. “Rex sudah pergi ke kantor. Ada rapat mendadak pagi-pagi sekali.”

Mendengar nama Rex, senyum Lauren sedikit memudar. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada Greenindia, dan kemudian pada piring makanan Greenindia.

“Oh, kau sedang makan. Steak? Lezat sekali,” kata Lauren, lalu tanpa diundang, ia menarik salah satu kursi di meja makan besar itu dan duduk di hadapan Greenindia. Tatapannya menempel pada Greenindia, tatapan yang aneh, campuran rasa ingin tahu yang kejam dan remeh.

Greenindia merasakan ketidaknyamanan merayap di punggungnya. Tatapan Lauren terasa mengancam, seolah wanita itu melihat semua rahasianya.

“Ada apa, Lauren?” tanya Greenindia, kembali duduk, mencoba melanjutkan makannya tetapi kehilangan selera. “Kau ingin makan sesuatu?”

Lauren hanya menggeleng. Ia tidak memandang steak itu, ia memandang Greenindia.

“Aku tahu segalanya tentang Rex,” kata Lauren tiba-tiba, suaranya perlahan, seolah ia sedang berbagi rahasia yang sangat pribadi. “Aku tahu semua permainannya, semua rencananya. Aku tahu dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan aku tahu, pernikahan ini tidak masuk akal baginya.”

Greenindia menghentikan gerakan makannya. Ia menunduk sedikit, menatap potongan steak di piringnya, merasakan ancaman dalam kata-kata Lauren.

Lauren melanjutkan, nadanya kini berubah menjadi langsung dan sinis.

“Jadi, mari kita ke intinya, Greenindia. Aku tidak suka bermain-main. Aku tahu kau tidak mencintai Rex, dan Rex pasti tidak mencintaimu. Aku tahu pernikahan ini adalah bisnis, dan kau pasti punya harga.”

Lauren membungkuk sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan yang mematikan.

“Berapa banyak yang kau butuhkan untuk pergi? Berapa banyak uang yang harus kubayar agar kau meninggalkan Rex? Sebutkan hargamu.”

Greenindia menahan napas sejenak. Ia meletakkan garpunya dengan suara denting kecil di piring. Ia mengangkat wajahnya, menatap Lauren.

“Saya tidak pernah meminta uang kepada siapa pun, Lauren,” jawab Greenindia, suaranya tenang, meskipun di dalamnya ada badai. “Saya bisa mendapatkannya sendiri.”

Lauren tertawa pelan, tawa yang menusuk dan penuh penghinaan. “Oh, tentu saja. Kau bisa mendapatkannya sendiri. Kau bekerja sebagai pelayan, bukan? Atau mungkin… kau mendapatkannya dari pria lain.”

Lauren menyandarkan dirinya ke belakang kursi, senyumnya kini benar-benar jahat. “Aku tidak menyalahkanmu. Memang sulit untuk memilih. Superstar yang panas, atau pria kaya yang tidak bisa kau sentuh?”

Mata Greenindia melebar sedikit. Ia terkejut. Itu adalah kejutan yang nyata, bukan kepura-puraan. Lauren sedang mengungkit skandalnya dengan Chester. Lauren tahu sesuatu.

Lauren membiarkan kalimatnya menggantung di udara, membiarkan racunnya menyebar.

“Aku melihatmu, Greenindia. Kemarin. Kau tahu, sangat sulit untuk memilih gaun desainer dengan pria yang berbeda di setiap sudut kota, bukan?” sindir Lauren, tatapannya menyindir pada gaun mahal Greenindia. “Jadi, berapa hargamu untuk melepaskan Rex? Aku tidak mau kau menjadi pengganggu di tengah bisnis keluargaku.”

Greenindia terdiam mendengar ucapan Lauren. Ia menundukkan wajahnya lagi, tetapi kali ini bukan karena takut. Pikirannya bekerja cepat, menyusun kepingan teka-teki. Kemarin.

Saat ia pulang. Ia ingat mobil Chester yang mewah dan langkahnya yang terburu-buru saat masuk ke taksi. Lauren pasti melihatnya. Lauren tidak hanya menebak, Lauren memiliki bukti.

Greenindia mengangkat kepalanya, sebuah senyum tipis, dingin, dan sangat meremehkan muncul di bibirnya. Senyum yang membuat Lauren merasa seperti serangga yang sedang diamati.

Greenindia mengulang kata Lauren, suaranya pelan. “Harga?”

Pandangan meremehkan Greenindia semakin jelas, menantang Lauren, seolah ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang merengek.

“Berapa harga yang bisa kau tawarkan untuk Rex, Lauren?” tanya Greenindia, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

Pertanyaannya menohok, menyindir balik Lauren yang mereduksi harga diri Rex menjadi komoditas finansial. “Kau bilang kau tahu segalanya tentang dia. Kalau kau tahu, kau pasti tahu bahwa Rex Carson bukanlah barang yang bisa dibeli, atau dijual. Jadi, berapa harga yang harus kau bayar agar dia meninggalkanku?”

Wajah Lauren seketika memerah. Matanya menyala marah. Sindiran Greenindia, yang menyiratkan bahwa Rex adalah objek yang ia miliki dan bukan Lauren, memicu kemarahan yang membara.

“Jangan bermain-main denganku, Greenindia!” bentak Lauren, dan dengan gerakan marah, ia menggebrak meja makan marmer itu hingga piring di hadapan Greenindia sedikit bergeser.

“Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau mendekati Rex untuk uang, lalu kau kembali bermain-main dengan superstar bodoh itu! Kau menjual dirimu ke mana-mana! Kau adalah gold digger yang serakah! Rex hanya menggunakannya untuk menenangkan skandal itu, dan kau menggunakannya untuk menaikkan status sosialmu!” teriak Lauren, suaranya bergema di ruang makan mewah itu.

Greenindia tetap tenang, kontras tajam dengan luapan emosi Lauren. Ia hanya menatap Lauren, membiarkan kemarahan wanita itu merobek-robek udara.

“Kau seharusnya tahu posisimu!” desis Lauren, bangkit dari kursinya. Ia menunjuk Greenindia dengan jari telunjuk yang gemetar. “Tinggalkan Rex sekarang! Akhiri pernikahan konyol ini sebelum kau benar-benar menghancurkan segalanya! Kau tidak pantas berada di sini!”

Greenindia menyandarkan tubuhnya di kursi, melipat tangannya di dada, menunjukkan kejenuhan.

“Aku akan meninggalkan Rex,” jawab Greenindia datar. “Tentu saja. Begitu dia memintaku untuk pergi.”

Jawaban Greenindia, yang secara tersirat menyerahkan keputusan akhir kepada Rex, membuat Lauren semakin marah.

Itu adalah tamparan tak terlihat di wajah Lauren, karena Lauren tahu Rex adalah satu-satunya orang yang tidak bisa ia pengaruhi.

“Kau pengecut!” seru Lauren. “Kau takut! Kau tahu jika kau keluar dari pernikahan ini, kau akan kembali menjadi putri yang jatuh miskin!”

Greenindia tidak menanggapi tuduhan itu. Ia hanya tersenyum kecil.

Lauren mengatupkan rahangnya, kekalahannya nyata. Ia tahu, ia tidak bisa memprovokasi Greenindia lebih jauh. Ia harus menemukan cara lain. Dengan satu tatapan tajam terakhir, Lauren berbalik.

“Kau akan menyesal, Greenindia. Kau akan menyesal sudah mengganggu rencana kami. Aku akan memastikan Rex melepaskanmu,” ancam Lauren, lalu melangkah cepat meninggalkan ruang makan menuju lift.

Greenindia hanya diam di kursi, mendengar pintu lift menutup, menandakan kepergian Lauren. Ia menghela napas panjang, rasa lelah yang mendalam menyelimuti dirinya. Ia kembali menatap piring di hadapannya. Nafsu makannya hilang.

Konfrontasi dengan Lauren, meskipun berhasil ia tangani dengan dingin, telah menguras energinya. Ia tidak ingin memikirkan Rex. Ia hanya ingin melepaskan diri sejenak dari semua drama.

Greenindia segera berdiri dan bersiap-siap. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Lizbet.

“Kak? Kau libur hari ini, kan?”

“Ya, aku baru saja akan menonton maraton film. Ada apa? Kau terdengar seperti baru saja menang perang dunia ketiga," balas Lizbet di ujung telepon, nadanya ceria.

“Mungkin hampir,” Greenindia terkekeh kecil, lega mendengar suara sahabatnya. “Ayo kita bertemu. Di suatu tempat yang bising dan penuh lampu. Kita butuh pelepas stres.”

“Kau butuh main game,” simpul Lizbet. “Time Zone?”

“Sempurna,” jawab Greenindia.

***

Satu jam kemudian, Greenindia dan Lizbet bertemu di sebuah pusat perbelanjaan besar. Suasana di Time Zone yang ramai, bising oleh musik arcade dan suara tembakan dari berbagai game, adalah pelarian sempurna dari ketegangan di penthouse.

Mereka berdua berjalan menuju mesin koin, wajah Greenindia terlihat jauh lebih rileks dibandingkan saat ia berada di penthouse.

“Jadi, bagaimana rasanya menjadi Nyonya Carson?” tanya Lizbet, mengambil koin untuk bermain driving game.

Lizbet hanya tahu Greenindia menikah dengan pria kaya dan berpengaruh yang memberinya perlindungan. Greenindia tidak pernah menyebutkan nama Rex secara langsung.

Greenindia menyandarkan diri di mesin game, mengawasi Lizbet yang sedang berkonsentrasi. “Aku tidak tahu. Itu… aneh. Kami seperti dua orang asing yang tinggal serumah. Dia sibuk, aku juga sibuk.”

Lizbet menghentikan mobil game-nya sebentar, menoleh ke Greenindia. “Tapi… apakah kau bahagia?”

Greenindia terdiam. Ia menatap lampu-lampu arcade yang berkedip-kedip, pada wajah Lizbet yang penuh harap, dan kemudian pada dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu,” jawab Greenindia jujur. “Aku aman. Aku tidak lagi khawatir tentang makanan. Aku punya uangku sendiri. Tapi, bahagia? Kebahagiaan terasa terlalu mahal, Kak. Terlalu jauh.”

Lizbet tersenyum lembut. “Aman adalah awal yang baik, Green. Kau harus memberinya kesempatan. Atau setidaknya, memberimu kesempatan untuk memulainya lagi.”

Mereka melanjutkan dengan beberapa permainan, menertawakan kecanggungan Greenindia saat mencoba menembak, dan keahlian Lizbet dalam permainan balapan. Tawa dan teriakan yang dilepaskan di antara mesin game terasa seperti terapi.

Saat Lizbet sedang bersemangat bermain claw machine, ponsel Greenindia bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Rex.

Greenindia menarik napas, merasakan jantungnya kembali menegang. Rex tidak pernah meneleponnya di luar jam kerja.

“Halo, Tuan Carson?” jawab Greenindia, menjauh sedikit dari Lizbet.

“Kau di mana, Green? Antonio bilang kau tidak ada di rumah, dan kau tidak ada di kafe. Kau tidak mengangkat teleponmu,” suara Rex terdengar serius, tetapi ada nada kekhawatiran yang samar di dalamnya.

Greenindia terkejut. Rex melacaknya. “Aku sedang di luar dengan teman. Aku ada di pusat perbelanjaan.”

“Di mana tepatnya?” tuntut Rex.

Greenindia berpikir sejenak. Ia sudah memberitahu Rex bahwa ia bersama temannya, Lizbet. Tidak ada gunanya berbohong lebih jauh. Rex akan mencari tahu. Dan sejauh ini, Lizbet adalah satu-satunya orang yang tidak perlu ia sembunyikan dari Rex.

“Aku di Time Zone, Tuan Carson,” jawab Greenindia.

Hening sejenak di ujung sana. Rex Carson di Time Zone? Itu adalah bayangan yang sangat konyol.

“Tunggu aku di sana,” kata Rex singkat, lalu menutup telepon.

Greenindia menatap ponselnya, bingung.

“Siapa?” tanya Lizbet, yang sudah berhasil menangkap boneka kecil.

“Rex,” jawab Greenindia, masih setengah tidak percaya. “Dia bilang dia akan datang menyusul.”

Lizbet membelalakkan mata. “Rex Carson? Ke tempat seramai ini?”

Tidak lama kemudian, keheningan di Time Zone tiba-tiba terasa tebal. Semua mata tertuju pada sosok yang baru saja memasuki area arcade. Rex Carson, mengenakan setelan jas abu-abu mahal, berdiri di antara mesin-mesin game yang berwarna-warni, terlihat sangat tidak pada tempatnya.

Rex terlihat mencari-cari, dan matanya akhirnya menangkap sosok Greenindia dan Lizbet di dekat mesin balap. Ia berjalan ke arah mereka, ekspresinya tenang, seolah ia baru saja menghadiri rapat dewan direksi, bukan memasuki arena permainan.

“Rex, kau sungguh datang,” kata Greenindia, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Tentu saja. Aku ingin memastikan kau aman,” jawab Rex, melirik ke sekeliling pada kebisingan dan lampu berkedip. “Tempat macam apa ini?”

“Ini Time Zone, Tuan Carson. Tempat kami menghabiskan masa muda kami,” kata Lizbet riang, memberanikan diri untuk menyapa.

Rex menoleh ke Greenindia, mengambil kartu game dari tangannya. “Kau bilang kau ingin bersenang-senang. Aku akan bergabung.”

Rex berjalan ke mesin basket terdekat. Ia memasukkan kartu, mengambil bola. Semua orang di sekitar memperhatikan, penasaran.

Dengan gerakan yang presisi dan fokus yang sama saat ia menandatangani kontrak bernilai jutaan, Rex melompat kecil, dan melempar bola ke keranjang. SWISH. Sempurna.

Greenindia dan Lizbet hanya saling pandang, terperangah. Mereka melihat sisi Rex Carson yang belum pernah mereka bayangkan.

“Nah,” kata Rex, menoleh ke Greenindia. Ada senyum tipis di wajahnya, senyum yang menunjukkan sedikit kesenangan. “Ayo. Lawan aku.”

1
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
hasatsk
Lauren,bisa memanfaatkan neneknya Rex untuk menghancurkan pernikahan Rex dan greenidia..nenek Lauren menginginkan cucunya menikah dengan orang yang statusnya setara 🤣🤣
Fera Susanti
aku mh selalu menantikan up selanjutnya
hasatsk
ulat bulu terus melancarkan aksinya🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!