Cerita ini adalah lanjutan dari The Secret Miranda
Aku hanya perempuan yang dipenuhi oleh 1001 kekurangan. Perempuan yang diselimuti dengan banyak kegagalan.
Hidupku tidak seberuntung wanita lain,yang selalu beruntung dalam hal apapun. Betapa menyedihkannya aku, sampai aku merasa tidak ada seorang pun yang peduli apalagi menyayangi ku . Jika ada rasanya mustahil. .
Sepuluh tahun aku menjadi pasien rumah sakit jiwa, aku merasa terpuruk dan berada di titik paling bawah.
Hingga aku bertemu seseorang yang mengulurkan tangannya, mendekat. Memberiku secercah harapan jika perempuan gila seperti ku masih bisa dicintai. Masih bisa merasakan cinta .
Meski hanya rasa kasihan, aku ucapkan terimakasih karena telah mencintai ku. Miranda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanie Famuzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Ruang kerja dr. Jodi terasa sunyi, hanya suara jarum jam berdetak pelan.
Ia duduk di balik meja, wajahnya tenang tapi matanya tajam. Di hadapannya, Damar tampak rapi, duduk dengan senyum sopan namun sulit ditebak.
Pak Zein, sang pengacara, menaruh map berwarna hitam di atas meja.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Dok. Klien saya hanya ingin mengetahui perkembangan kondisi pasien bernama Miranda.”
Jodi mengangkat wajahnya perlahan. “Pasien itu dalam pengawasan penuh saya. Tapi saya tidak ingat ada nama Damar dalam daftar wali atau penanggung jawab medisnya. Anda siapanya?”
“Saya memang bukan siapa-siapa, bukan keluarga juga,” sahut Damar tenang. “Tapi saya orang yang menolongnya waktu dia ditemukan di jalan, sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit ini. Saya pikir, saya punya hak moral untuk tahu keadaannya.”
Jodi terdiam sejenak. “Hak moral tidak sama dengan hak hukum, Pak Damar.”
Pak Zein segera menimpali, nada suaranya tetap formal.
“Betul, Dok. Tapi mengingat pasien ini..maaf ..tidak tercatat memiliki keluarga resmi atau penanggung jawab tetap, pihak administrasi memberi kelonggaran kepada pihak luar untuk sekadar mendapatkan laporan umum tentang kesehatannya. Tentu saja dengan pengawasan dokter.”
Damar menatap Jodi. “Saya hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja.”
“Secara medis, iya,” jawab Jodi pendek. “Secara mental… tidak sepenuhnya.”
“Lalu… apakah dia sudah ingat masa lalunya?” tanya Damar hati-hati.
“Tidak,” sahut Jodi, menatap balik dengan pandangan mencurigakan. “Dan saya tidak yakin sebaiknya Anda tidak menggali hal itu.”
Damar menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. “Kadang seseorang bisa sembuh bukan karena terapi atau obat, Dok… tapi karena ada alasan untuk bertahan.”
“Dan Anda menganggap diri Anda alasan itu?” potong Jodi cepat, nada suaranya mulai meninggi.
Senyum samar muncul di bibir Damar. “Entahlah. Tapi saat saya melihatnya dulu, tatapan matanya seolah minta dibebaskan.”
Keheningan tegang melingkupi ruangan.
Zein hanya bisa melirik keduanya bergantian, merasa ada sesuatu di antara mereka yang jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan pasien dan orang luar.
Akhirnya Jodi bersandar di kursinya, nada suaranya dingin namun terkendali.
“Kalau Anda benar-benar peduli, biarkan kami yang merawatnya dengan cara yang benar. Jangan mencampuri urusan medis.”
Damar menatapnya tenang, matanya tajam tapi tidak mengandung amarah.
“Saya tidak akan mencampuri urusan medis, Dok,” ucapnya datar. “Saya hanya ingin memastikan Miranda berada di tempat yang seharusnya.”
Zein, pengacaranya, segera menyela dengan nada profesional, “Betul, Dok. Klien saya tidak berniat melanggar aturan. Ia hanya ingin mengajukan permohonan resmi untuk pemindahan perawatan pasien Miranda ke fasilitas pribadi di bawah pengawasan tenaga medis yang kompeten.”
Kening Jodi berkerut, ia mencondongkan tubuh ke depan. “Pemindahan perawatan? Atas dasar apa?”
Zein membuka map hitamnya, memperlihatkan beberapa lembar dokumen dengan stempel resmi. “Kami sudah menyiapkan berkas permohonan dan jaminan biaya penuh, termasuk penanggung jawab hukum serta rumah perawatan yang sudah memenuhi standar medis. Semua akan dilakukan secara legal, Dok.”
Jodi menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya. Ia tahu, secara administratif permintaan seperti ini bisa saja dipertimbangkan, apalagi jika pasien tidak memiliki keluarga yang terdaftar.
Tapi ada sesuatu yang aneh. Terlalu rapi. Terlalu terencana.
“Apa alasan Anda ingin memindahkannya, Pak Damar?” tanya Jodi akhirnya. Suaranya pelan, tapi mengandung tekanan halus.
Damar menatap balik, matanya berkilat samar di bawah cahaya lampu.
“Karena saya yakin… di sini dia tidak akan pernah sembuh,” katanya lirih, nyaris seperti gumaman. “Tempat ini hanya membuatnya lupa siapa dirinya. Sedangkan saya…” ia berhenti sejenak, bibirnya menyunggingkan senyum samar, “...akan membuatnya ingat kembali.”
Hening.
Ucapan itu menampar ruang hampa di antara mereka.
Zein melirik cemas ke arah kliennya, lalu cepat menimpali, “Maksud klien saya tentu dalam konteks pemulihan emosional pasien, Dok. Kami tidak akan mengambil langkah tanpa persetujuan pihak medis.”
Namun Jodi tahu, Damar tidak sedang berbicara sebagai orang yang peduli.
Nada suaranya terlalu dalam, terlalu pribadi…
Jodi menarik napas dalam, menegakkan tubuh. “Baik, saya akan pelajari berkas ini dulu. Tapi selama belum ada keputusan resmi, pasien tetap berada di bawah pengawasan rumah sakit. Dan saya ingatkan…” ia menatap Damar tajam, “setiap tindakan tanpa izin, akan dianggap pelanggaran berat.”
Damar menatapnya balik, seulas senyum muncul di wajahnya. “Saya mengerti, Dok. Tapi Anda tahu, bukan? Tidak semua yang tampak seperti pelanggaran… adalah sesuatu yang salah.”
Ucapan itu menimbulkan getaran halus di dada Jodi. Entah kenapa, firasatnya mengatakan, pria ini bukan sekadar datang untuk meminta izin.
Begitu Damar dan Zein meninggalkan ruangan, Jodi hanya bisa menatap pintu yang baru saja tertutup.
Ia menatap dokumen di mejanya, lalu menatap jam dinding.
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
“Miranda…” gumamnya pelan, “kamu tidak akan pergi kemanapun. Kamu akan tetap bersama saya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...