Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - Mie Ayam
Siang itu, sekitar pukul sebelas siang, mereka telah selesai ujian di sekolah, maka dari itu, kelas memang lebih singkat dari biasanya. Seperti biasa, mereka berjalan menuju parkiran motor untuk mengambil motor kesayangan Ben.
Rayna berjalan di samping Ben sambil sesekali bercanda, suasana hati mereka sudah membaik setelah kejadian tadi pagi. Udara siang itu terasa hangat, tapi kebersamaan mereka membuat semuanya terasa menyenangkan.
"Temenin gue makan dulu ya, laper," kata Ben sambil memegangi perutnya.
"Kemana?" tanya Rayna.
"Kalau makan ke material," jawab Ben asal.
"Loh kok makan ke material?" Rayna mengerutkan keningnya bingung.
"Ya lo pikir aja kalau makan kemana," Ben tertawa kecil melihat ekspresi bingung Rayna.
"Ih gue kan cuman nanya, maksudnya makan apa gitu," Rayna memukul pelan lengan Ben.
"Udah ah ikutin gue aja, pokoknya ini tempat favorit gue," kata Ben sambil menarik tangan Rayna menuju motornya.
"Oke deh," jawab Rayna pasrah, tapi sebenarnya dia penasaran kemana Ben akan membawanya.
"Ayo buruan naik," ujar Ben sambil menunggu Rayna.
"Iya iya, tapi jangan lama-lama ya di tempat makannya. Kita harus belajar lagi, masih ada ujian besok," balas Rayna sambil tersenyum, tetap perhatian sama tanggung jawabnya.
Mereka berdua lalu segera naik ke motor, siap melanjutkan hari mereka dengan semangat meski harus menghadapi ujian lagi.
"Iya ah, bawel," jawab Ben sambil mencubit hidung Rayna gemas.
Dia lalu menyalakan motornya dan melaju meninggalkan parkiran sekolah, membawa Rayna menuju tempat makan favoritnya. Pasti ada sesuatu yang spesial di tempat itu, pikir Rayna dalam hati.
Motor melaju sedikit lebih cepat, membelah jalanan yang mulai ramai. Udara siang itu memang sedikit panas, tapi angin yang berhembus saat mereka melaju sedikit mengurangi gerah.
Akhirnya, motor menepi di depan sebuah gerobak mie ayam di tepi jalan. Rayna sedikit terkejut, tapi dia tersenyum melihat Ben sudah turun dari motor dengan wajah bersemangat. Ternyata ini tempat makan favorit Ben, sederhana tapi pasti punya rasa yang istimewa.
"Ayo, pasti lo belum pernah makan ginian kan? Apalagi di Praha," kata Ben sambil tersenyum lebar, seolah bangga dengan pilihannya.
Dia tahu Rayna terbiasa makan di tempat yang lebih mewah dan modern, jadi dia yakin ini akan jadi pengalaman baru buat Rayna. "Dijamin nagih deh!" tambahnya sambil menarik tangan Rayna mendekati gerobak mie ayam.
"Pak, pesan mie ayam 2 ya, yang spesial," kata Ben dengan nada akrab pada bapak penjual mie ayam. Bapak itu tersenyum ramah dan mulai menyiapkan pesanan mereka.
Rayna melihat sekeliling, tempat itu memang sederhana, hanya ada beberapa bangku plastik dan meja yang agak reyot. Tapi, aroma mie ayam yang menggoda membuatnya penasaran. Mungkin benar kata Ben, tempat ini punya sesuatu yang istimewa.
"Ayo kita duduk di sana," kata Ben sambil menunjuk salah satu meja yang kosong. Rayna mengangguk dan mengikuti Ben.
Mereka duduk bersampingan, menunggu pesanan mie ayam datang. Rayna memperhatikan Ben, wajahnya terlihat senang dan bersemangat. Dia jadi ikut penasaran, apa yang membuat mie ayam ini begitu spesial di mata Ben.
Tak lama kemudian, pesanan mie ayam mereka datang. Dua mangkuk mie ayam panas mengepul dengan taburan ayam cincang, pangsit goreng, dan sayuran hijau yang segar.
Aroma kuahnya yang gurih langsung menusuk hidung, membuat perut Rayna semakin keroncongan. Ben langsung mengambil sumpit dan mulai makan dengan lahap. Rayna tersenyum melihatnya, lalu ikut mengambil sumpit dan mencoba mie ayamnya.
"Emm, enak banget!" kata Rayna dengan mata berbinar setelah suapan pertama. Dia tidak menyangka mie ayam di gerobak sederhana ini bisa seenak ini. Kuahnya gurih, mienya kenyal, dan ayamnya terasa lezat. "Pantesan lo suka banget makan di sini," tambahnya sambil tersenyum pada Ben.
"Iya dong, pilihan gue selalu istimewa," kata Ben dengan nada percaya diri sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Emm, masa iya?" balas Rayna sambil tertawa kecil.
"Iyalah, buktinya mie ayam ini dan lo, hahaha," goda Ben sambil menunjuk mie ayamnya lalu menatap Rayna.
Rayna tersenyum salah tingkah, pipinya sedikit merona. Dia berusaha menyembunyikan senyumnya dengan kembali fokus pada mie ayamnya. Ben memang selalu bisa membuatnya merasa istimewa.
Rayna tiba-tiba tersedak saat sedang menikmati mie ayam, wajahnya memerah dan matanya membelalak.
UHUKK UHUKK..
Da berusaha mengeluarkan sisa-sisa udara yang terjebak.
"Eh, Ray, lo... minum minum, bentar," ujar Ben cepat, sambil berlalu untuk mengambil air putih yang ada di dekat gerobak.
Dia khawatir dan langsung menyodorkan gelas berisi air putih ke Rayna. "Tenang, tenang, santai," katanya dengan suara lembut, berusaha membuat Rayna merasa lebih baik.
Rayna meneguk air putih yang diberikan Ben dan merasa lega. Tenggorokannya sudah tidak terasa sakit lagi.
"Gue tau mie ayam pilihan gue ini enak, tapi santai aja kali makannya," kata Ben sambil tersenyum jahil. Dia senang melihat Rayna sudah baik-baik saja.
"Ih, apaan sih lo," balas Rayna sambil memukul lengan Ben pelan. Dia merasa malu karena tersedak di depan Ben, tapi dia juga senang karena Ben begitu perhatian padanya.
Mereka kembali fokus pada mie ayam masing-masing, menikmati setiap suapan.
Tak lama kemudian, Rayna memanggil, "Ben…"
Tidak ada respons.
"Ben," ulangnya, lebih keras sedikit.
Tetap tak menoleh.
Rayna cemberut dan mendorong bahunya. "Ben! Ih!"
Ben menoleh perlahan, memasang ekspresi bingung. "Lo manggil siapa?"
Rayna mematung. "…ya lo lah!"
"Gue? Gue bukan Ben." Ia memasang wajah serius tapi matanya jelas menyimpan tawa.
Rayna menghela napas. "Apaan sih!"
Ben mendekat, senyumnya muncul. "Lupa ya? Gue nyuruh lo panggil gue apa hari ini?"
Rayna terdiam. Baru ingat.
Oh. Itu.
Yang bikin dia merinding setengah mati.
Dengan suara super lirih, Rayna berkata, "Maaf…"
Ben menaikkan alis, mencondongkan tubuhnya. "Maaf apa…?"
"Maaf… Gan… teng… ku…" ucapnya super malu, wajah sudah seperti tomat.
Bibir Ben terangkat sempurna. "Nah gitu dong, sayang."
Kali ini Rayna tidak hanya salting. Dia mau menghilang dari muka bumi.
Jantungnya memukul-mukul tulang rusuk. Ia menunduk dalam, tapi Ben tak berhenti menatapnya dengan sorot mata yang… bikin lemah lutut.
"Kenapa sayang? Malu ya?" bisiknya pelan, nyaris mengenai telinga Rayna.
"Ih udah ah! Jangan manggil gue gitu!" Rayna menutupi wajah dengan tangan.
"Kenapa? Padahal cocok lho," jawab Ben seenaknya.
Rayna makin salah tingkah. "Udah ayo pulang, gue mau belajar…"
"Hmmm, ketauan kan saltingnya," Ben terkekeh, tak berhenti menggoda.
Rayna memelototkan mata merah-malunya. "Ayolah, Gan... teng… ku…" suaranya pelan, nyaris kayak rengekan.
Ben tertawa puas. "Oke deh, ayo kita pulang, Nona Salting, gue bayar dulu. Jangan kabur ya," katanya sambil mengedip nakal dan beranjak ke penjual.
Rayna hanya bisa menunduk, pipinya panas sekali. Tapi di dalam hati?
Dia berharap momen seperti ini nggak cepat berakhir.
Bersambung...
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget