NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Posesif

“Jika aku tampak cemburu, itu bukan karena aku meragukanmu, aku hanya takut namaku tak lagi kau sebut saat kau lelah.”

...***...

Hujan akhirnya benar-benar turun sore itu.

Bukan hujan deras yang ribut, melainkan rintik halus yang jatuh perlahan, cukup untuk membasahi jalanan, cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin, dan cukup untuk mengubah suasana hati seseorang tanpa ia sadari.

Rayna berdiri di balik pintu rumahnya. Tubuhnya sudah di dalam, tapi pikirannya masih tertinggal di luar. Matanya menatap halaman kosong, tempat Ben tadi berdiri sebelum akhirnya pergi, dengan senyum kecil yang ia paksakan.

Tangannya masih menggenggam gagang pintu. Jarinya kaku, seolah kalau ia melepaskannya, sesuatu akan benar-benar berakhir.

“Kenapa sih gue gini…” gumamnya pelan.

Rayna menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang terasa sesak tanpa alasan jelas. Lalu ia menutup pintu perlahan. Bukan dibanting. Bukan juga cepat. Seolah ia masih memberi kesempatan pada sesuatu, atau seseorang, untuk kembali.

Rumah langsung terasa sunyi.

Terlalu sunyi.

Padahal belum lama tadi, ruang tamu itu penuh suara Ben. Candaan recehnya, tawa kecilnya, cara dia bicara tanpa mikir tapi selalu bikin suasana hidup. Sekarang semua itu hilang, menyisakan keheningan yang terasa asing.

Rayna melangkah ke arah sofa dan duduk di tempat yang sama dengan Ben tadi. Ia tidak langsung bersandar. Diam dulu. Seperti menunggu sesuatu yang tak akan datang.

Ada bekas hangat di sana. Atau mungkin itu cuma perasaannya yang belum siap menerima kalau Ben sudah pulang.

Ia meraih bantal di sampingnya dan memeluknya pelan.

Hanya sebentar.

Terlalu sebentar untuk disebut kebetulan.

Namun saat ia sadar dengan apa yang ia lakukan, Rayna langsung melepaskan bantal itu, wajahnya sedikit memanas.

“Apaan sih, Ray…” gumamnya, kesal pada diri sendiri.

Ia menunduk, lalu tertawa kecil tanpa suara.

“Gue jadi mikirin dia terus deh…”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi maknanya berat. Karena Rayna tahu, ini bukan cuma soal perhatian biasa. Ini sudah terlalu sering. Terlalu konsisten.

Ponsel di atas meja tiba-tiba terasa mencolok. Rayna meliriknya sekilas, lalu meraih dan membuka layar. Tidak ada notifikasi. Kosong.

Aneh. Padahal baru beberapa menit.

Tak lama, layar ponsel menyala.

Nama Ben muncul.

Rayna refleks mengangkat ponsel itu sedikit lebih dekat ke wajahnya.

Ben:

“Ray, gue udah sampai rumah. Kehujanan dikit tadi, tapi aman kok.”

Rayna tersenyum.

Bukan senyum yang dibuat-buat. Senyum yang muncul begitu saja, tanpa aba-aba. Senyum yang bahkan belum sempat ia sadari sebelum jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia mengetik balasan hampir tanpa berpikir.

Rayna:

“Syukur deh kalau udah sampe. Jangan lupa mandi air hangat.”

Pesan itu sederhana. Tidak ada kata manis. Tidak ada emot berlebihan. Tapi di baliknya, ada rasa khawatir kecil yang bahkan Rayna sendiri enggan akui.

Pesan terkirim.

Rayna menatap layar.

Menunggu.

Lalu balasan masuk.

Ben:

“Siap. Perhatian banget ya lo sekarang 😏 udah terkagum-kagum sama gue ya?”

Rayna langsung mematikan layar ponselnya.

Bukan karena kesal.

Tapi karena jantungnya tiba-tiba berdetak terlalu cepat untuk kalimat sesantai itu.

“Bukan gitu, Ben…” katanya pelan, sambil memejamkan mata sebentar.

Ia menghembuskan napas, lalu menambahkan dengan suara hampir berbisik,

“Cuma… gue gak enak aja.”

Di luar, hujan masih turun, membasahi jalanan tanpa henti.

Dan di dalam hati Rayna, perasaan yang selama ini ia jaga jarak… perlahan mulai mendekat, tanpa izin.

...***...

Malam datang tanpa banyak suara.

Lampu kamar Ben sudah menyala sejak tadi, memantulkan cahaya kekuningan ke dinding yang polos. Hujan di luar masih menyisakan bau tanah basah, samar tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih sepi dari biasanya.

Ben duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar malas ke dinding. Ponsel ada di tangannya, layar sudah lama menyala, tapi pikirannya tak benar-benar ada di sana. Namanya Rayna muncul berkali-kali di kepalanya, jauh lebih sering daripada notifikasi apa pun.

Ia menghela napas pelan.

“Kangen gue sama wanita cantik itu...” gumamnya.

Ben menatap layar ponsel beberapa detik, lalu akhirnya menekan satu nama yang tak perlu ia ragu.

Rayna 💗

Nada sambung terdengar.

Calling…

Ben menunggu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, hal yang bahkan tak ia sadari sebagai tanda.

Namun layar tiba-tiba berubah.

Rayna 💗 sedang berada di panggilan lain…

Dada Ben mengencang.

Bukan karena marah. Tapi karena ada perasaan asing yang langsung menyusup, tanpa permisi.

“Lah…” Ben menurunkan ponselnya sedikit, menatap layar seolah kalimat itu bisa berubah. “Lo lagi teleponan sama siapa sih, Ray.”

Ia mencoba tersenyum kecil, memaksakan santai.

“Paling juga Eve,” katanya pada dirinya sendiri, walau dadanya belum sepenuhnya percaya.

Beberapa detik berlalu.

Ben mencoba lagi.

Calling…

Tetap sama.

Sekali lagi.

Masih.

Ben menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar. Tangannya menutup sebagian wajahnya, seolah ingin menahan pikiran-pikiran yang mulai tak terkendali.

“Kenapa gue jadi kayak gini, sih…” bisiknya.

Ada rasa yang menggelitik, tidak nyaman, tapi juga terlalu nyata untuk diabaikan. Cemburu, kata yang terlalu besar untuk diakui, tapi terlalu jelas untuk dipungkiri.

...***...

Di tempat lain, Rayna duduk di atas ranjangnya, punggung bersandar pada bantal. Ponsel menempel di telinga, suaranya terdengar lembut dan sopan, berbeda dari nada santainya bersama Ben.

“Halo, Tante…”

Nada itu bukan dibuat-buat. Rayna memang selalu begitu pada Mama Ben, hangat, hormat, dan terasa seperti keluarga.

“Hai, Rayna sayang. Kamu apa kabar?”

“Baik, Tante,” jawab Rayna sambil tersenyum kecil. Senyum yang muncul karena kenyamanan, bukan gugup. “Tante gimana?”

Percakapan mengalir ringan beberapa saat, sampai akhirnya suara di seberang sedikit merendah, seolah ingin masuk ke topik yang lebih penting.

“Rayna… besok Ben ulang tahun.”

Rayna terdiam.

Bukan karena tak peduli. Justru karena ia benar-benar tidak tahu.

“Eh?” alisnya terangkat kecil. “Ben besok ulang tahun, Tante?”

“Iya,” jawab Tante dengan tawa kecil. “Kamu nggak tahu ya?”

Rayna ikut tertawa, ada rasa bersalah yang langsung muncul.

“Aduh… Ben nggak bilang apa-apa sih, Tante.”

Kalimat itu keluar ringan, tapi di hatinya ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul, perasaan aneh saat tahu seseorang yang sering ada di dekatmu punya hari spesial yang hampir terlewat.

“Makanya Tante mau ngajak kamu makan bareng besok. Kalau kamu nggak keberatan.”

Rayna menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

“Keberatan? Engga dong, Tante,” jawabnya cepat, hampir terlalu cepat. “Rayna mau banget.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara yang lebih lembut,

“Rayna ajak Mama juga ya, Tante.”

“Boleh. Tante seneng kalau kamu datang.”

"Iya Tante, Rayna pasti datang."

"Yaudah kalau gitu, Tante tutup dulu telepon nya ya."

Panggilan ditutup.

Rayna menurunkan ponselnya perlahan.

Baru saat itu ia melihat layar.

Puluhan panggilan tak terjawab.

Nama Ben memenuhi notifikasi.

“Hah…”

Rayna menegakkan duduknya.

“Ben nelpon?”

Dadanya berdetak lebih cepat. Ada rasa bersalah yang langsung muncul, bercampur bingung.

“Dari tadi?”

Tanpa menunggu lama, Rayna mengetik pesan.

Rayna:

“Ben, kenapaa… lo sampe spam call gue 27 kali.”

...***...

Di kamar Ben, layar ponsel kembali menyala.

Nama Rayna muncul.

Ben langsung bangkit duduk, tanpa sempat berpikir panjang. Jarinya refleks menekan tombol panggil, seolah ia sudah menunggu momen itu sejak tadi.

Telepon tersambung.

“Halo.”

Suaranya terdengar datar. Terlalu datar untuk orang yang barusan gelisah setengah mati.

“Lo teleponan sama siapa tadi?”

Ben langsung bertanya. Ia tak mau berputar-putar, takut kalau keberaniannya keburu habis.

“Sama pacar gue lah.”

Rayna mengucapkannya ringan. Setengah bercanda. Setengah menguji.

Namun bagi Ben, kalimat itu seperti sesuatu yang jatuh tepat di dadanya.

“Apa?” Ben menelan ludah. “Dih apaan sih. Lo kan tunangan gue, mana mungkin punya pacar.”

Ia mengandalkan logika, karena perasaan terlalu berantakan untuk dipegang.

“Mungkin aja,” jawab Rayna santai.

Di balik nadanya, ada senyum kecil yang tak terlihat. “Nggak ada yang nggak mungkin.”

“Paan sih… nggak jelas.”

Ben memutuskan sambungan.

Bukan karena ingin mengakhiri. Tapi karena takut kalau ia terus mendengar suara Rayna, emosinya akan benar-benar bocor.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, rahangnya mengeras.

“Bener kan dugaan gue…” gumamnya lirih, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun ponselnya kembali bergetar.

Panggilan dari Rayna.

Ben menolak.

Sekali.

Dua kali.

Ia ingin Rayna merasakan sedikit keresahan yang tadi menggerogoti dadanya.

Namun pada panggilan berikutnya, Ben akhirnya mengalah.

“Ben…”

Suara Rayna terdengar lebih pelan sekarang. Tidak lagi main-main.

“Kenapa lo matiin telepon?”

“Ya lo teleponan aja sama pacar lo.”

Nada Ben pendek. Datar. Tapi sarat cemburu yang tak ia akui.

“Oke deh kalau gitu.”

Jawaban itu justru membuat Ben tersentak.

“Dih!!!”

Emosinya bocor juga. Satu kata pendek, lahir dari rasa takut kehilangan yang terlalu cepat tumbuh.

Tawa kecil terdengar dari seberang.

“Hahaha. Engga-engga. Bercanda kok. Mana mungkin gue punya pacar.”

Rayna akhirnya jujur. Ia tak berniat menyakiti—ia hanya ingin tahu, seberapa penting dirinya di hati Ben.

“Nggak lucu bercanda lo,” ujar Ben lebih pelan.

“Iya… maaf ya.”

Rayna berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang sengaja dilembutkan,

“Cemburu ya?”

“Tau ah.”

“Ben… gue bercanda doang.”

Rayna tersenyum kecil, kali ini tanpa main-main.

Ia menambahkan pelan,

“Iya iya...”

Ben terdiam.

Tak ada kata balasan.

Namun dadanya yang tadi sesak, perlahan mengendur.

“Terus lo teleponan sama siapa? Lama banget.”

Ben bertanya dengan nada seolah santai, tapi matanya menatap kosong ke satu titik. Kata lama itu bukan soal waktu, melainkan soal perasaan yang ia rasakan selama menunggu.

“Lama? Ben… ya ampun. Lima menit pun enggak loh, padahal.”

Rayna spontan membantah. Nadanya terdengar heran, hampir tertawa kecil, karena ia benar-benar tak merasa pembicaraan itu selama yang Ben kira. Ia tak sadar, bagi Ben, lima menit tanpa kabarnya terasa jauh lebih panjang.

“Emm… bagi gue sih lama.”

Jawaban Ben pelan, nyaris seperti pengakuan. Ia tak menatap apa pun secara khusus, karena sebenarnya ia sedang berusaha menutupi satu hal: ia terlalu memperhatikan Rayna.

Rayna terdiam sejenak.

“Tadi gue teleponan sama nyokap lo.”

Kalimat itu diucapkan ringan, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Ben mengendur. Ada rasa lega yang langsung muncul, meski ia tak mau mengakuinya.

“Oh iya?”

Nada Ben berubah. Lebih rendah. Lebih tenang. “Bahas apa?”

Ia bertanya seolah biasa saja, padahal hatinya berharap pembicaraan itu bukan hal sepele.

“Gue diajak makan besok katanya. Rayain ulang tahun lo.”

Rayna tersenyum kecil saat mengatakannya. Ada kehangatan di suaranya, bukan cuma karena undangan itu, tapi karena ia akan ada di hari penting Ben.

Ben terdiam sebentar.

“Emm…”

Ia menghela napas kecil. “Jadi Mama udah nyampein ya.”

Nada suaranya terdengar santai, tapi di dalam hatinya ada rasa yang sedikit tertinggal, bukan kecewa, lebih ke keinginan kecil yang tak terpenuhi.

“Tadinya gue yang mau nyampein langsung ke lo.”

Ia mengatakannya pelan. Jujur. Seolah mengakui bahwa ia ingin jadi orang pertama yang memberi tahu Rayna tentang hari penting itu.

“Yaudah, sama aja.”

Rayna menjawab ringan, mencoba menenangkan situasi. Baginya, yang penting adalah kebersamaannya—bukan siapa yang menyampaikan duluan.

“Iya sih…”

Ben mengangguk kecil meski Rayna tak bisa melihatnya.

“Tapi pengen aja gue yang bilang.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi di baliknya ada keinginan yang lebih dalam.

Ingin diperhatikan, ingin dianggap spesial, ingin Rayna tahu bahwa posisi itu penting baginya.

Bersambung...

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Aruna02
cie di publish🤭🤭
🪅D@ B®♓⛎♏
kasian vando nih, jatahnya udah di embat duluan sama si Ben 🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
Ah, mama no no no melulu,, entar kecolongan loh ma 🤭
NyonyaGala
tau sih perasaan eve tapi gatau karakternya semoga waras ya thor 😅
Ramun🍓😈
mudah mudahan aja evenm GK berniat buruk saat di puncak nanti
GreenForest
Eve nih di bilang ulet juga bukan. Semoga aja jadian sama David
Ramun🍓😈
Si eve itu psti cemburu gitu. Smoga dia gak berniat buat ngehancurin hubungan Ben dan Rayna🥹
Ramun🍓😈
Ben pandai bnget manfaatin keadaan🤣🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
cerita tentang Ken sedih banget, pantas aja Ben terpukul setiap kali ingat saudara kembarnya
🪅D@ B®♓⛎♏
di depan mama mereka angguk angguk No no no,,, di belakang mama entar yes yes yes🤭
NyonyaGala
dih david jangan dikasi tau ege, biarin aja jadi rahasia soal eve suka sepihak ama ben
NyonyaGala
ben jagonya manfaatin kesempatan emas buat manja ama raynaa🤣🤣
GreenForest
jelas banget kalau eve itu cemburu
GreenForest
Ben manjanya, nyari kesempatan
Ramun🍓😈
David mulutnya gak ada remnya 🤣
Ramun🍓😈
smoga Event nggak jadi badai🥹
🪅D@ B®♓⛎♏
betul tuh, yg bikin malu itu kerjaan jadi maling walau pakaiannya bagus dan keren tapi kalo kerjaannya maling ya memalukan 🤭🤣
🪅D@ B®♓⛎♏
pede banget kamu Ben, pamerin calon istri. Ingat baju seragam sekolahmu itu loh ben🤭
Aruna02
jangan bilangin suka sama ben ikh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!