Dari kecil Raka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu, Ibu nya selingkuh saat ia baru berusia satu tahun. dan saat itu Ayah nya tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
Sampai Raka di usia 22 tahun, Ayah nya memutuskan untuk menikah dengan janda satu orang anak.
Disanalah hidupnya berubah setelah berkenalan dengan Adik tirinya bernama Nadine, Nadine baru berusia 20 tahun, mahasiswi semester 4 jurusan Tata boga.Dan ternyata mereka satu kampus.
Nadine tidak ikut tinggal dengan keluarga barunya, ia memilih untuk tinggal di apartemen nya, tapi sesekali ia akan menginap di rumah keluarga barunya, dan disanalah Mereka sering bertemu dan berinteraksi. mau di rumah ataupun di luar.
Ada kejadian dimana membuat Raka mulai jatuh cinta dan tertarik kepada Nadine.
kira-kira kejadian Apa ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Dua Puluh Tiga
***
Malam hari, Benar ternyata Ibu nya meminta bukti benar atau tidak Nadine dan Tari sedang mencoba memasak masakan timur tengah.
Beruntungnya mereka tadi sore sempat membeli bahan-bahan masakan yang sebelumnya pernah mereka beli juga, sengaja Masak menu yang sama seperti itu agar tidak berabe.
“Nah kan, untung kita bikin.” ucap Tari.
Nadine baru saja melakukan panggilan video call dengan Ibu nya untuk memastikan benar atau tidaknya.
“Ibu itu udah curiga dari lama, kalau Gue selalu ngehindar dari Bang Raka.” ucap Nadine.
“Kalau kata Gue mending mulai sekarang Lo jangan ngehindar, Gue suka gregetan kalau kalian ketemu. Saling lirik tapi suka nggak ada yang mulai ngomong duluan.” ucap Tari.
“Kalau lagi ada orang memang Bang Raka nggak pernah ngajak ngomong, tapi kalau cuma berdua suka ngajak ngomong tapi ya itu cuma singkat doang.” balas Nadine.
Mereka baru saja menyelesaikan masakan nya, “Eh tapi, kali ini lebih enak dari sebelum nya.” ucap Nadine.
“Bentukannya juga.” tambah Tari.
Mereka tertawa bersama, “Ada untungnya juga bohong.”
Setelah menghabiskan hasil masakan nya, mereka bersantai di ruang tengah sambil menyalakan televisi.
Ting
“Bang Fahri kirim chat.” beritahu Nadine menatap Tari.
“Apa katanya?“ tanya Tari.
“Tanya soal nanti sidang, mau datang atau nggak.” jawab Nadine.
“Jawab, belum tahu gitu. Jangan di kasih tahu sekarang Kalau Lo nggak bakalan datang” ucap Tari.
Nadine membalas seperti apa yang di katakan Tari barusan.
.
Di Apartemen Elvano, Raka berada di sana. Ia juga tidak jadi ikut dengan orang tuanya dan memilih untuk menginap di Apartemen nya El.
“Kata Gue sih Lo jangan terlalu berharap Nadine datang.” ucap El, membawa minuman dingin dari kaleng dan ikut bergabung dengan mereka.
“Siapa yang berharap coba, yang penting nanti pas Wisuda yang harus datang.” ucap Raka.
“Tapi, kalau pas Wisuda juga sama gimana?” tanya Fahri.
“Ya minta tolong sama Tari.” jawab Raka.
“Gue hampir lupa, tadi siang nggak sengaja ketemu nyokap Lo.” ucap El.
“Lo ngomong sama siapa?” tanya Raka. Soalnya pas El bicara, mata nya El fokus pada layar laptop nya.
El mengalihkan pandangan menatap kedua sahabatnya. “Lo berdua, pertama pas Gue nganter nyokap ke supermarket ketemu nyokap Lo. Tapi Nggak tegur sapa karena nyokap langsung narik tangan Gue pas nyokap Lo mau ngomong sama kita, terus pas jam dua siang nya Gue ketemu sama Tante Ajeng, kayaknya sama pacar Baru nya.” jawab El.
“Gue udah nggak peduli lagi sama nyokap, awalnya Gue masih peduli tapi dua hari yang lalu tiba-tiba dia datangi Gue minta duit 50 juta, Gue nggak kasih karena memang nggak punya. Tapi dia malah ungkit-ungkit biaya Gue dari kecil, terus dia juga bilang jangan nganggap dia Ibu lagi.” ucap Fahri.
“Terus Sasa gimana?” tanya El.
“Masih Gue kasih duit jajan, tapi kali ini perbulan.” jawab Fahri.
“Berapa?”
“Duit jajan sejuta sebulan, duit ongkos beda lagi. gue udah nyuruh orang buat anter dia pulang pergi sekolah, urusan biaya sekolah biar nyokap yang urus.”
“Kalau Lo gimana, Rak?” tanya El.
“Bodo Amat, Gue udah punya Ibu sekarang.” jawab Raka.
El mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sedikit beruntung dari teman-teman nya. Walaupun di mata orang lain keluarganya itu keluarga berengsek, pemain semua. Tapi orang tuanya tidak sampai berpisah, ia tidak merasakan broken home.
Masih punya orang tua yang lengkap, satu ayah satu Ibu.
“Kalau Lo mau Ke Bandung, Gue ikut ya.” ucap El pada Fahri.
“Mau ngapain? mending fokus skripsi aja.” ucap Fahri.
“Astaga, nggak Lo nggak Raka. Yang di bahas skripsi Mulu, balik ke rumah skripsi juga yang di bahas.” El menutup laptopnya dan menyenderkan kepalanya pada sofa.
“Itu tandanya Lo harus cepat-cepat kelarin tuh skripsi.” kekeh Fahri.
“Yaelah, Lo aja belum kelar.”
“Bentar lagi ya, Gue udah di penutup tinggal kasih ke Dosen. Moga aja revisiannya dikit.” balas Fahri.
“Pada curang Lo pada, kenapa buru-buru sih. Jadikan Gue juga kudu buru-buru, mana Gue keceplosan lagi di depan nyokap kalau Raka udah mau sidang, jadi kan yang di tanya skripsi Mulu.” omel El.
“Heh, Lo itu gak konsisten banget sih jadi orang. Katanya mau cepat-cepat selesai juga biar bisa kerja, terus berubah jadi lebih baik, biar Tari mau lagi sama lo.” ucap Raka.
“Kayak gak tahu dia aja, orangnya kan begitu. Semangatnya awal doang, ujungnya malah pura-pura lupa.” ucap Fahri.
El mencabikan bibirnya, ia sudah memainkan ponselnya. “Tuh Nadine bikin Story.” ucapnya.
Raka yang sedang rebahan langsung mengambil ponsel nya, membuat El dan Fahri geleng-geleng kepala.
“Wajar, baru merasakan jatuh cinta.” kekeh El.
Kemudian ia menatap Fahri. “Eh, Mantan Lo gimana kabarnya?” tanya El kepada Fahri.
Fahri mengernyitkan keningnya, “Ngapain tanya-tanya mantan?”
“Siapa tahu kan Lo belum move on.”
“Gue nggak pernah ngerasa Pacaran, waktu itu cuma bilang suka terus dia juga suka. Udah gitu aja, nggak sampai pacaran.” balas Fahri.
“Ah iya juga, kehalang tembok yang begitu tinggi.” ucap El.
Fahri pernah menyukai teman sekelas nya waktu kelas 1 SMA, mereka sama-sama saling suka. Tapi sayangnya tidak bisa bersama karena kehalang oleh keyakinan.
“Dia kuliah di Mesir kan ya? Penampilan nya aja sekarang udah ketutup semuanya.” ucap El.
“Nggak tahu Gue, udah nggak pernah ngepoin akunnya lagi semenjak kuliah.” ucap Fahri.
“Gue cari ah akunnya.”
Fahri memejamkan matanya, kalau perasaan nya masih sama sampai sekarang juga. Tapi ia tetap berusaha agar tidak goyah.
Bukan hanya tembok nya yang tinggi, tapi dari status Keluarga mereka saja sangat jauh. Mereka berasal dari keluarga yang begitu paham agama, sementara Dirinya? Setiap Minggu saja ia jarang beribadah.
“Ketemu.” seru El.
Bukan hanya Fahri yang melirik tapi Raka juga. “Nyari apa sih Lo?” tanya Raka.
“Akunnya Meisha, ternyata dia masih di mesir.” jawab El.
“Oh, Gue kira Lo nyari apa.” ucap Raka kembali fokus pada layar hp nya.
Sementara Fahri kembali memejamkan matanya, ia berusia untuk tidak teringat lagi dengan perempuan itu.
“Lupa Gue sama mukanya, eh ada kan ya foto kita pas SMA.” ucap El.
“Jangan di cari fotonya, udah biarin aja.” gumam Fahri.
“Bukan buat Gue, tapi buat Lo. siapa tahu kangen.” balas El.
“Hemm, Gue nggak kangen. dan stop jangan bahas dia lagi.” ucap Fahri.
El tidak menanggapi, tapi mata dan tangannya tetap pada layar hp nya.