Cananga Odorata adalah seorang guru cantik yang ditinggal oleh suaminya..
Melakukan pekerjaan paruh waktu disebuah perusahaan, membuat dia mengenal sosok baru yang bernama Fachri.
Pekerjaan inipun terpaksa membuat dia bertemu kembali dengan kekasih semasa SMA nya dulu bernama Zio.
Namun apakah Ana mampu menemukan kebahagiaannyà kembali?, di tengah-tengah kemelut yang datang silih berganti.
kisah ini bercerita tentang keluarga, persahabatan dan sebuah kisah cinta.
Ikuti Kisahnya yang berwarna warni di setiap episodenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chaesalphinia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Up and Down
Jumat ini, hari sekolah terakhir sebelum PAS.
Ana masih sibuk di Polaris, melakukan meeting untuk acara gathering yang akan dilaksanakan hari Rabu, bertepatan dengan milad perusahaan.
Semua persiapan dilakukan dadakan, mengingat akhir-akhir ini jadwal padat merayap.
Zio membagikan SK kepanitiaan kepada semua anggota yang hadir untuk rapat.
"Sebelum rapatnya dimulai, sambil nunggu pak Fachri silahkan dibaca dulu pembagian job desk nya masing-masing!" pinta Zio pada semuanya.
Ana, Risa dan Zaky serta 5 orang lainnya menjadi seksi acara.
"Always, ga dimana-dimana selalu jadi seksi acara," batin Ana.
Ana dan Risa bergabung dengan kelompoknya.
Setelah beberapa saat, Fachri datang dan rapatpun dimulai.
Sesi diskusi dimulai.
Ana beserta rekan-rekannya mendiskusikan mengenai konsep acara yang akan dihelat, kemudian menyampaikannya di forum.
Panitia yang lain memberikan beberapa masukan yang kemudian dihimpun untuk dijadikan sebuah konsep yang disepakati bersama.
Menjelang magrib barulah rapat selesai.
Fachri meminta izin untuk mengantar Ana pulang, karena Dirga hari ini tidak masuk kantor.
Mengingat waktu yang semakin larut Ana menerima tawaran Fachri.
Suasana di dalam mobil sedikit canggung seperti biasa.
"Mas."
"Na," ucap mereka bersamaan.
Kemudian mereka berdua tersenyum kikuk.
"Ada apa Na?" tanya Fachri.
Ana menunduk malu, tapi lambungnya tidak bisa diajak kompromi.
Krukk, kruukk. Suara perut Ana.
Fachri tersenyum lebar.
"Kamu laper??"
Ana mengangguk pelan.
"Tadi mas mau ngomong apa?"
"Mau ngajak kamu makan dulu, perut mas udah gelar konser nih," jawab Fachri sambil bercanda.
"Bisa ae bang Jaly," ucap Ana.
Fachri tertawa lebar.
Akhirnya mereka turun dari mobil dan makan di warung pinggir jalan.
"Ga apa-apakan disini?" tanya Fachri.
"Ga apa-apa mas, Ana kan rakyat jelata, makan ditempat ginian mah biasa."
Fachri tersenyum dan memberikan ruang untuk Ana duduk di depannya.
Suasana semakin ramai, pengunjung lain berdatangan. Ada beberapa pemuda yang baru dateng, melihat ke arah Ana.
"Kang, itu si teteh yang pake kerudung ijo sendirian?" tanya salah seorang pemuda pada si akang warung pecel lele.
Kang pecel menoleh ke arah Ana.
"Si teteh cantik itu? tadi mah asa sama cowo, tapi ga tau kemana cowonya," jelas si kang pecel yang tak melihat Fachri bersama Ana.
Si pemuda dengan senyum sumeringah hendak duduk disamping Ana.
"Teh boleh duduk disini?" tanya si pemuda sopan.
"Ga boleh! itu masih luas!" tiba-tiba suara Fachri meninggi.
Si pemuda dan Ana menoleh ke arah sumber suara.
"Eh punten kang, kirain si tetehnya sendirian," ucap si pemuda.
"Sendirian-sendirian, ga liat nih ada saya?" ucap Fachri galak.
Fachri memutari meja dan duduk disamping Ana.
Mata elang Fachri menatap tajam para pemuda itu. Merasa salah, merekapun mencari tempat duduk lain.
Ana merasa lucu melihat Fachri galak seperti itu.
"Eh malah senyum-senyum," Fachri heran melihat Ana senyum -senyum sendiri.
"Ae ae, meni serem marahnya," ucap Ana sambil pura-pura bergidik ngeri.
Fachri merajuk, melipatkan kedua tangannya dan memasang wajah cemberut.
"Eh malah cemberut," goda Ana.
"Na, kamu kepikiran ga sih buat di cadar?" tanya Fachri serius.
Ana melongo.
"Maksudnya?"
"Pake penutup muka kalo pergi-pergi," jelas Fachri.
"Kenapa gitu mas?"
"Wajah kamu tuh sumber fitnah tau."
"Fitnah?? fitnah apa si mas?"
"Fitnah duniawi, bikin orang lupa ngedip tau ga?"
Ana kicep. Raut mukanya berubah. Dia mengeluarkan masker dari tasnya, kemudian memakainya.
"Kalo gini, mas ga lupa ngedip kan?" tanya Ana.
Fachri tertawa pelan. Ingin rasanya mengelus kepala dan mencubit pipi Ana. Eitss nanti kalem belum syaahh.
Tak lama makananpun datang, Ana masih terpaku melihat makanannya.
"Buka maskernya! makan dulu! katanya lapar?" perintah Fachri.
"Nanti takut ada yang lupa ngedip mas," jawab Ana.
Fachri tersenyum lebar, dan menarik ujung tali masker Ana.
"Makan!" perintah Fachri.
Ana mengangguk dan makan dengan lahap.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Ana.
Selesai makan Ana meminta izin pada Fachri seperti biasa senin dan selasa tidak masuk, tapi berhubung ada persiapan acara, Ana izin masuk setengah hari.
****
Minggu cerah ceria, Ana menghabiskan waktunya bersama keluarga. Adit dan Tasya juga berkunjung ke rumah ibu.
Mereka mengadakan acara ngaliwet bareng di taman belakang rumah.
Para perempuan sibuk memasak dan para lelaki menjaga bocah-bocah dan mempersiapkan tempat.
"Dirr, tolongin bawain makanan nih! udah beres," teriak Ana dari dalam rumah.
Menu makan kali ini ada, sambel dadak, asin sepat, ayam goreng, lalapan, jengkol goreng garam.
Menu sederhana tapi menggugah selera.
"Widiih jengkol nih," mata Dirga berbinar.
"Iya sok makan aja, aku mah lagi puasa jengkol," ucap Ana.
"Meni geleuh puasa jengkol, biasanya juga maruk," ledek Dirga.
"Heeh, lagi ada projek, nanti pas rapat tengsin dong kalo pas HAH bau jengkol," jelas Ana.
"Udah-udah masalah jengkol aja ribut," Adit sebagai kaka tertua menengahi.
Mereka semua makan dengan nikmatnya, di temani cuaca cerah dan semilir angin yang menyegarkan. Damar dan Baby Kyara terlihat begitu senang dan ceria bermain bola plastik.
****
Senin sore di Sekolah.
Setelah beres mengawas ujian, merapihkan dan mengurutkan lembar jawaban siswa sesuai nomer peserta, Ana hendak kembali ke ruang. Suasana sekolah sudah mulai sepi tinggal guru-guru pengawas, panitia ujian dan beberapa siswa yang masih cinta sekolah.
Ana mengawas ujian di lantai 2. Di kelas atas ini, pemandangan sekolah terlihat sangat jelas apalagi dibagian koridor sekolah.
Ana berjalan lurus menuju tangga, pandangannya terhenti saat melihat ke arah koridor.
Ana diam terpaku beberapa saat.
"Punggung itu......" gumamnya dalam hati.
Ana memegangi dadanya yang tiba-tiba menjadi sesak.
Seseorang itu, tampak jelas terlihat, namun hanya sisi belakangnya saja yang tampak.
Ana merasa seluruh tulang ditubuhnya rontok.
Seseorang itu berjalan semakin menjauh, kemudian wajahnya menoleh ke arah Ana sekilas.
Ana berjongkok tak kuasa menahan bobot tubuhnya.
Bu Vely keluar dari kelas sebelah, membawa berkas ujian. Langsung panik melihat Ana yang duduk lemas di balkon kelas.
"Na, na," bu Vely menepuk-nepuk lengan Ana.
Ana terdiam terpaku seperti orang sawan.
Bu Vely semakin khawatir. Digenggamnya tangan Ana yang begitu dingin.
"Na, kamu sakit?" tanya Bu Vely panik.
Air mata Ana meleleh membasahi pipinya.
"Sakit mbaa," tangis Ana semakin menjadi.
"Mana? mana yang sakit?" selidik bu Vely.
Ana memegang dada kirinya.
"Ini mba, ini," jawab Ana dengan napas tersenggal.
Bu Vely makin panik, berpikir kalo Ana sakit jantung.
Bu Vely berteriak memanggil pak Renan yang baru keluar dari ruangannya.
"Ada apa?" tanya pak Renan.
"Ana, sakit jantung," bisik bu Vely pada pak Renan.
Pak Renan membulatkan matanya.
"Apa? hayu bawa ke klinik!" ucap Pak Renan.
"Ga usah pak, Ana baik-baik aja," ucap Ana lirih, tak mau teman-temannya panik.
Pak Renan membawakan berkas-berkas milik Ana, sedangkan bu Vely memapah Ana menuju UKS.
"Duduk dulu, rebahan dulu!" perintah bu Vely.
Saat hendak duduk, kepala Ana pusing dan tiba-tiba ambruk di atas sofa.
"Astagfirullah, Ana," teriak bu Vely.
pdhl isi ny bgs banyak nasehat yg bermanfaat..
soalnya seru ceritanya