NovelToon NovelToon
Sistem Sang Raja Pahlawan

Sistem Sang Raja Pahlawan

Status: tamat
Genre:Sistem / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Laten Kishi

Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.

Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbincangan

Akira menunggu di mobil selama beberapa menit, menunggu Amamiya dan polisi.

Kalau polisi ingin meminta penjelasan kepada Akira, hal itu langsung ditolak oleh Amamiya, pada akhirnya Amamiya lah yang menjelaskannya berdasarkan pesan yang dikirim Akira.

Setelah itu, Amamiya sudah menyelesaikan urusannya dengan polisi, walau penjelasan dari Amamiya belum ada bukti secara nyata, Amamiya berjanji pemerintah akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Setelah itu, Amamiya masuk kedalam mobil dan tidak berbicara satu katapun, namun, sebelum sempat menyalakan mobil, Akira meminta Amamiya untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah, mendengar tempat yang ingin dituju Akira, Amamiya langsung menurut tanpa basa-basi.

Selama perjalanan, Akira menjelaskan secara langsung mengenai alasan dia yang menyerang kedua Pria itu.

Walau Akira memberikan penjelasan lewat pesan, tapi itu tidak begitu rinci, jadi dia menjelaskan mulai dari Luka yang dialami Amane, namun dia tidak menjelaskan mengenai dirinya yang bisa melihat ingatan.

Pukul 01:00 Siang Hari

Sesampainya di depan rumah, Akira tidak langsung masuk, dia berbicara kepada Amamiya yang masih didalam mobil.

“Terimakasih.” 

“Tidak masalah.” jawab Amamiya.

“Bagaimana mengenai ‘dia’ kedepannya?” tanya Akira.

“Kami sudah menyiapkannya, jadi jangan khawatir.”

“Begitu ya, sekali lagi, aku berterimakasih.”

“Bukan masalah, ini memang tugas kami, lalu, saya pamit pergi.” 

“Iya, hati-hati.”

Brum!

Akira melihat mobil yang menjauh, kemudian, berbalik badan melihat pintu rumah, memegang gagang pintu lalu terdiam.

Dia berpikir, bagaimana ia harus menghadap mereka, apalagi dia meninggalkan rumah tanpa kabar setelah bangun dari pingsan yang lama.

Walaupun sedikit ragu, dia tetap memberanikan diri.

Cklek!

Pintu perlahan terbuka.

Puk!

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, Nako sudah ada di depan Akira dan langsung memeluknya, Nako tidak menatap wajah Akira namun dia hanya bersandar.

“Nako—”

“Aku takut…” suara Nako terdengar begitu kecil dan lemas.

“Aku takut Kakak kenapa-napa…” Pelukan Nako sedikit menguat.

Akira yang menyadari kegelisahan Nako, langsung mengelus kepalanya secara lembut sambil berkata,

“Maaf, membuat khawatir…”

“Yoshikawa?”

Suara Kisaragi terdengar dari depan, Akira melihat sumber suara itu, mendapati yang lain sedari tadi sedang berdiri di depannya.

“Kamu pergi kemana? Kami semua dapat kabar dari Amamiya, kalau kamu pergi sebentar.”

Begitu mendengar perkataan Kisaragi, Akira menatap ke bawah, ke arah Nako dan masih mengelus kepalanya .

“Apa bisa kita duduk dulu?”

Nako yang mendengar, mengangguk tipis.

Mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu, Akira duduk bersebelahan dengan Nako dan Lumina, berhadapan dengan Amane dan Kisaragi.

“Maaf…” Amane menundukan kepalanya dengan kedua tangan yang mengepal.

“Gara-gara ak—”

“Tidak.” Suara Akira memotong pembicaraan Amane.

Amane yang sebelumnya merasa bersalah menjadi bingung, ia mengangkat kepalanya dan menatap Akira.

“Kenapa?! Sudah jelas ak—”

“Kemarikan tanganmu.”

“?!”

Amane yang mendengar itu terkejut dan ragu, tapi ia tetap mengulurkan tangannya sambil tatapannya menghindar.

Akira memegang tangannya sambil berpikir,

“Selama itu luka, seharusnya bisa.”

“Heal.”

[Skill Heal:Aktif]

Cahaya hijau seperti mengalir dari tangan Akira ketangan Amane hingga cahaya hijau terang terlihat oleh semuanya.

Amane sedikit terkejut karena merasakan sesuatu di tangannya, dia melihat tangannya dan mendapati cahaya hijau itu berkeliling di sekitarnya, tidak lama, cahaya itu perlahan menghilang.

Begitu selesai, Akira melepaskan tangan Amane, kemudian Amane melihat tangannya secara seksama karena masih tidak mengerti apa yang dilakukan Akira.

“Kamu tidak bersalah, yang salah adalah orang itu.” ucap Akira.

“?”

Amane masih belum paham apa yang dikatakan Akira dan hanya menatapnya.

“Aku sudah membereskannya, dan mulai sekarang… hiduplah seperti yang kamu inginkan.”

Amane yang mendengar hal itu matanya membulat dan tak percaya apa yang dikatakan Akira.

“Jangan-jangan…”

“Benar, aku juga sudah menyembuhkanmu, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot lagi, lalu ada rumah baru yang sudah disiapkan Amamiya.”

Mata Amane berbinar dan sedikit mengeluarkan air mata, begitu menyadarinya, dia langsung menunduk dan menutupi matanya dengan kedua tangan.

“Terimakasih…”

Yang lain tidak tau alasan kenapa Amane menangis, tapi mereka semua berpikir, mungkin, sesuatu yang membuatnya berbuat hal yang tak seharusnya dia lakukan, sudah hilang.

“Ehem!” Akira batuk untuk memecah suasana canggung.

Amane yang sebelumnya menutup Matanya, mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Akira.

“Aku juga mampir ke suatu tempat sebelum kesini, jadi—”

Akira memencet sistem yang melayang di hadapannya.

Tiba-tiba Kue dan camilan yang terlihat mahal dan sangat banyak muncul di meja.

“Aku gak tau harus beli apa, tapi kurasa kalian suka ini?” ucap Akira.

Begitu melihat kue dan camilan yang dibelikan Akira mereka semua langsung sedikit tersenyum.

“Kalau begitu aku akan makan tanpa segan!” Nako langsung mengambil satu potong kue dan memakannya dengan wajah berseri-seri.

“A-aku juga.” ucap Lumina dengan ragu-ragu.

“Kalian juga ambillah.” ucap Akira melihat ke arah Kisaragi dan Amane.

“I-iya terimakasih.” ucap Kisaragi.

Kisaragi agak sedikit ragu, lalu dia mengambil satu potong kue dan menawarkan Amane untuk makan bersama.

“Terimakasih,” ucap Amane sambil tersenyum tipis.

Akira yang melihat mereka semua, membuat hatinya merasa tenang dan bahagia.

“Sudah lama sekali… aku merasakan kebahagian ini.”

Saat itu, mereka saling berbincang.

Dan Akira mendapati saat dia pingsan, Kisaragi dan Amane tidak mengikuti duel dan justru menunggu Akira sadar.

Walaupun ujung-ujungnya Akira tidak sadar, mereka tidak langsung pulang, dan menunggu sampai Akira sadar hingga hari ini.

Setelah perbincangan panjang, sekarang Kisaragi dan Amane harus kembali ke pulang saat sore hari, karena mereka harus sekolah.

Mereka diantar secara khusus oleh Amamiya, khusus Amane dia diantar ke rumah barunya, walau sekarang dia hidup sendiri, bisa dibilang dia orang yang cukup mandiri, jadi itu tidak masalah untuknya.

......................

Seminggu pun berlalu semenjak hari itu.

Di ruang tamu rumah Akira.

Akira sedang menyeduh sebuah teh yang hangat.

“Kakak~ apa gak ada kegiatan lain~”

Sedangkan Nako sedang berbaring di pangkuan Akira.

“Tidak, bukan begitu, kurasa begini deh.” ucap Kisaragi yang sedang mengerjakan tugas bersama Amane di hadapan Akira.

Di sebelah Akira, Lumina juga ikut menyeduh teh hangat dengan tenang.

Walaupun begitu damai, ada satu hal yang membuat Akira bingung.

“Kenapa mereka terus datang kesini…”

Sejak 6 hari yang lalu, Kisaragi dan Amane yang rumahnya sangat jauh, repot-repot datang kesini hanya untuk mengerjakan tugas sekolah.

Walau begitu, Akira tidak memusingkannya, dia hanya khawatir karena rumah mereka sangat jauh.

“Kisaragi, Amane.” ucap Akira.

Mereka berdua yang sedang sibuk mengerjakan tugas langsung melihat ke arah Akira dengan bingung.

“Kenapa kalian repot-repot kesini? Kan bisa mengerjakan tugas di rumah masing-masing.”

“Ahh itu…” Amane menggaruk pipinya dengan satu telunjuk dengan menghindari tatapan Akira.

Melihat tingkah Amane, Kisaragi memejamkan matanya dan berkata.

“Dia ingin bertemu kamu, jadi aku menemaninya saja.”

“Kisaragi! bukannya kamu janji gak bakal bilang!” Amane memukul pelan Kisaragi dengan malu karena alasannya terbongkar.

“Aku gak masalah, tapi apa kalian baik-baik saja pulang pergi dari sini? Lalu, bagaimana dengan orang tuamu Kisaragi?”

“Selain kami punya kekuatan, Amamiya selalu mengantar kami, lalu, orang tuaku selalu mengizinkannya, bahkan kalau bisa, aku disuruh mengundang Yoshikawa ke rumahku bersama yang lain.” jawab Kisaragi.

“Be-begitu ya…”

“Walau aku sedikit terkejut tentang undangannya, tapi kapan Amamiya dan mereka bertukar kontak? Walau begitu, aku jadi sedikit lebih tenang kalo mereka diantar orang yang bisa dipercaya.” 

“Ba-bagaimana kalau kita lanjutkan tugas kita, aku sedikit kesusahan,” ucap Amane.

“?”

Akira yang penasaran apa yang mereka kerjakan mencoba bertanya,

“Kalian sedang ngerjain tugas apa? Mungkin aku bisa bantu.”

“Eh?” Amane sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Akira.

“Kenapa?” tanya Akira.

“Ti-tidak, i-ini silahkan lihat.”

Amane menyodorkan bukunya dan memperlihatkannya ke pada Akira.

Sebuah angka rumit tertulis di buku Amane, hingga menarik perhatian Lumina dan Nako.

“Ini saja?”

“I-iya.” jawab Amane.

“Boleh pinjam pulpennya?”

“Bo-boleh, ini.” Amane menyodorkan pulpennya.

Akira mengambil pulpen dari tangan Amane dan mulai menulis sesuatu di buku Amane hingga sekitar 2 menit berlalu.

“Sudah, nih.” Akira mengembalikan Buku dan pulpen Amane.

“Eh sudah?!” ucap Amane dengan terkejut.

Amane dan Kisaragi pun melihat hasil yang ditulis Akira.

“Bagaimana menurutmu Kisaragi?” tanya Amane.

“I-ini bener semua, bagaimana caranya?” Kisaragi dan Amane menatap Akira dengan penasaran.

“Gampang saja.”

“Ga-gampang? A-apa jangan-jangan kamu sekolah di sekolah terkemuka.” tanya Kisaragi.

“Aku putus sekolah.”

“Hah?!” Kisaragi dan Amane terkejut mendengar perkataan Akira.

“La-lalu bagaimana bisa? Otodidak?” tanya Kisaragi.

“Enggak.”

“Apa Yoshikawa pernah mendapat peringkat tinggi?!” tanya Amane.

“Peringkat? Pernah sih.”

“Be-berapa,” tanya Kisaragi sambil menelan ludah.

“Satu.”

Buk!

Kisaragi langsung menepuk mukanya begitu mendengar Akira.

“Wah! Kisaragi saja biasanya 10 sampai 5 loh.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Tapi… sepertinya dia merasa kalah.” Amane melirik ke arah Kisaragi sebentar lalu menatap Akira.

“Yah~ dibandingkan aku… Kisaragi jauh lebih baik.”

“Tidak usah terlalu dipikirkan.”

“Oh iya, memangnya Yoshikawa terakhir sekolah dimana?”

Kisaragi yang sedang menutup mukanya langsung menatap penasaran ke arah Akira.

“Sekolah kalian.”

“Sekolah… kami?” tanya Amane.

“Pantas saja saat itu kalian sedang ngobrol dengan kepala sekolah ya…” gumam Kisaragi.

“Kalau gitu… bagaimana dengan Kak Lumina dan Yumeno? Apa mereka masih sekolah?” tanya Amane.

“Kalau Lumina anggaplah sudah lulus, kalau Nako…”

“?” Kisaragi dan Amane penasaran dengan jawaban dari Akira.

“Dia lulus cepat karena terlalu pintar.”

“...”

Seketika ruangan penuh keheningan bahkan Lumina yang sedang menyeduh teh langsung berhenti.

“Aku gak kepikiran hal bagus lainnya…” pikir Akira.

“Pantas saja, waktu diajarin Yumeno, aku ngerasa dia kayak bukan orang seumurannya, berarti dia beneran jenius ya.” Amane memecah keheningan.

Nako langsung bangkit dari pangkuan Akira dan tersenyum sambil memejamkan matanya ia berkata,

“Sepertinya kau baru sadar ya!”

“Ya… walaupun sifatnya begitu sih.” ucap Amane sambil tersenyum.

Ding…

“Hmm?”

Akira melihat ke sistem didepannya yang tiba-tiba muncul.

[Quest Kelima Kebangkitan Sang Raja Pahlawan Dimulai]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!