Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syndrome Cinta Segitiga
"Dila... kamu pikirkan matang-matang, ini kesempatan kamu untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, dan yang lebih bagusnya lagi karir mu akan semakin bersinar."
Adila bertopang dagu, memilih satu diantara dua pilihan memang sangatlah rumit. Terlebih, dua pilihan itu memanglah sangat berarti untuknya.
"Tapi apa harus selama itu Mas?"
"Come on Dil... itu nggak terlalu lama. Desainer itu ingin kamu yang menjadi modelnya. Nanti kamu akan bergabung dengan beberapa model dari kota lain, ini kesempatan emas buat kamu."
Adila tidak menjawab lagi, tawaran fantastic ini terlalu mendadak untuknya.
"Waktu kamu tidak banyak, aku tunggu keputusan kamu dalam dua hari ini, dan aku harap kamu bisa berpikir realistis demi kemajuan karir kamu kedepannya, kamu mengerti kan?"
"Iya Mas, aku akan pikirkan ini baik-baik."
"Oke."
"Kalau gitu aku permisi ya?"
"Iya, hati-hati."
Adila berderap menuju pintu keluar.
"Dila...."
Adila kembali menengok.
"Aku berharap kamu menerima tawaran besar ini, karena kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali... dengan kamu mengambil job besar ini, kamu juga akan membantu agency kita untuk lebih maju dari sebelumnya."
Adila mengangguk, mengerti apa yang dikatakan Mas Pram, kepala Agency yang menaunginya saat ini.
Mengendarai mobil sedan merahnya, Adila membelah jalanan kota Surabaya dengan tenang, santai dan terarah. Pertama kali dalam sejarah berkendara, seorang Adila menjalankan mobil senyaman mungkin tanpa grasak grusuk dengan pengguna lain apalagi dijam pulang kantor seperti sekarang.
Sampai di parkiran gedung Wirrbel, Adila melepas seetbelt, menyandarkan punggung dengan menatap gedung yang menjulang tinggi didepannya.
Hari terakhir ia melatih disini, Adila tersenyum kecut, dan besok akan jadi hari terakhir ia bisa melihatnya lagi. Aditya, pria dewasa yang hampir dua bulan ini telah mengisi pikiran dan hatinya yang semula gelap, menjadi berwarna. Namun sayang tidak berlangsung lama, kini warna itu telah memudar dan berubah gelap kembali.
Tuk...tuk...tuk...
Adila terhenyak saat seseorang mengetuk kaca mobilnya. Ternyata Moly, muncul dengan seringai dan mata genitnya.
Adila membuka kaca mobil.
"Ciiin... you ngapain disinong, yuk keluar."
"Lu duluan aja."
Moly menghentak-hentakan kaki dengan bibir yang sengaja dibuat mengerucut, layaknya anak kecil yang merengek ingin dibelikan balon.
"Ayuk dung Nek... ek miss bingits no ketemong sama you sehari kemarin."
"Lebaaayy..."
Moly tersenyum girang saat Adila mendengarkan kata-katanya untuk segera turun dari mobil.
Ia mengunci pintu mobil otomatis, kemudian menyampirkan tas selempang di pundaknya.
"Ih kok lemes... cemungut dung, jangan kayak orang kurang gizi gicuu, nanti ek bawa yey ke posyandu loh."
Adila berdecak," Jangan banyak protes, kayak lu emak gue aja."
"Emang ek emaknya situ, yey nggak ngerasa cantiknya yey nurun dari syapose?" Delik Moly sambil mengaleng tangan Adila dengan membetulkan bando pink berkuping kelinci bermotif polkadot yang melorot menyentuh keningnya.
Mata Adila tertarik melihat bagian atas kepala Moly," Itu bando dapat dari mana, punya anak tetangga lu ya?"
"Ih jahanamnya itu speak... ini tuh oleh-oleh from Korea, you now Korea... yang mantan ek tinggal di itu negara."
Adila menyipitkan mata, bau-bau khayalan tingkat tinggi Moly kembali merajai.
"Emang lu punya mantan?"
"Ih pedesnya itu pertanyaan, you pikir ek no laku sampai mantan pun ek tak punya?"
Adila mencibir dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Oppaaaa....Dila jahat sama ek." Jerit Moly.
"Oppa mana?"
"Oppa Min Ho dung cin...ih emes deh."
"Mimpi lo ketinggian, jatuh....gubrak-gubrak jreng jreng jreng lo..."
"Inces Syahrini dung ek..."
Adila mencubit kedua pipi Moly," Kebagusan."
"Aduh bedak ek luntur... no pegang-pegang ek punya pipi ya, ini tuh baru di facel tahu..." Seraya mengambil bedak dalam tas jinjing yang senada dengan warna bandonya.
Adila tertawa gemas, sikap Moly menjadi hiburan tersendiri untuk ia melupakan sejenak kepenatan, kebimbangan dan kesedihan yang tidak bisa dia bagi kepada siapapun, cukup hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Memasuki lobby, Adila dan Moly tertawa cekikikan, mendengar celotehan Moly tentang perjalanannya kemarin yang hanya satu hari satu malam di negeri ginseng Korea.
"Adilaa..." Seru Moza yang dari kejauhan sudah melambaikan tangan kearahnya, seperti sengaja ingin mempertontonkan kebersamaannya dengan Aditya.
Moly melirik Adila yang hanya diam tidak menanggapi.
"Nek, say hello lagi dung, apalagi ada si tampan disinong."
"Ogah... gue beda alam sama tuh dedemit." Bisik Adila.
"Maksud yey?"
"Lu tahu Mak Lampir?" Tatap Adila serius.
Mata Moly melirik keatas, mengingat sesuatu," Misteri gunung merapi?"
Adila memberikan jempolnya," Nah demit yang atu itu, yang suka bareng sama Mak Lampir disana."
Mata Moly membelalak," Grandong?"
"Cakeeep..."
"Grandong kok syantik, no black and nyeremin kek di film."
"Ralat tuh CANTIK, kalau nggak... gue kutuk lu jadi monyet si Buta Dari Gua Hantu."
"Aih...aih... berasa malin kundang ek deket you." Moly mendelikan matanya.
Semakin berjalan mendekat, jantung Adila semakin tidak karuan, apalagi dia bisa melihat Aditya yang terus menatapnya.
"Kamu baru dateng Dil?" Sapa Moza.
"Iya."
"Selamat siang menuju sore Pak Tampan Honey Bunny Sweety..." Moly melambaikan jari berkutek merahnya.
Aditya hanya tersenyum menjawab sapaan Moly.
"Kalau gitu kita duluan ya Dil, kebetulan kita mau ada acara diluar."
"Oke." Jawab Adila singkat tanpa sedikitpun melihat Aditya yang terus menatapnya.
"Yuk Mol..." Adila menarik tangan Moly, tak ingin didahului mereka untuk pergi lebih dulu karena itu akan lebih menyakitkan untuknya.
Aditya resah, tak ingin melihat Adila pergi begitu saja, ia pun berbalik memanggilnya,"Adila tunggu..."
Hati yang gamang memaksa kakinya untuk berhenti dan memaksa matanya untuk menoleh.
"Aduuh..."
Tiba-tiba tubuh Moza oleng dengan tangan memijit pelipis.
"Za kamu kenapa?" Aditya menyangga tubuh Moza.
"Kepalaku sakit banget Dit..."
"Kok bisa tiba-tiba gini?"
"Sebenernya dari pagi, cuma aku tahan."
"Kalau gitu kita ke klinik yang ada disini."
"Nggak usah, aku ingin ke ruangan kamu saja, istirahat sebentar pasti nanti juga baikan."
"Tapi kamu harus diperiksa."
"Ini hanya sakit biasa, mungkin kecapean dan kurang tidur juga Dit, bawa aku keruangan kamu aja yah... di ruangan kamu kan ada kamarnya." Rengek Moza.
Dasar Drama Queen titisan Mak Lampir...
Adila menggeram dalam hati dan langsung membuang wajah, menarik tangan Moly untuk pergi dari hadapan mereka saat Aditya melihat kearahnya.
Mau tak mau Aditya menuntun Moza kembali masuk ke dalam lift, walau tanpa ia sadari hatinya ingi sekali mengejar Adila yang pergi menjauh darinya.
*****
"Aduh Nek.... sakit tangan ek."
"Sory..."
Adila melepas cekalan tangannya yang tanpa sadar sudah mengenggam tangan Moly terlalu keras.
"You kenapose?"
Moly menurunkan wajah untuk menjangkau wajah Adila yang menunduk.
"Gue nggak kenapa-kenapa."
"Cius?"
Adila melirik tajam, jengah dengan pertanyaan Moly yang seperti ingin mengintip kejujurannya.
Moly memutar bola matanya," You nggak lagi ngalamin Syndrome kan?"
"Syndrome apaan, ya nggak lah, jangan aneh-aneh deh."
Moly berdecak," You bohong sama ek."
"Bohong dari mananya... lagian gue nggak kenal sama yang namanya syndrome-syndroman."
Moly tersenyum misterius," You terkena Syndrome cinta segetiga."
"Apaan sih loh, sejak kapan ada snydrome cinta segtiga, ngarang."
Moly berjalan memutari badan Adila," Sejak disinong, sejak my eye melihat you, you and you... dunia kedokteran Moly berspeak-speak ceria..."
Moly merentangkan kedua tangan, menarik nafas dalam-dalam,"... you, Pak Tampan and Grandong... Pohon rimba di gunung merapi mengatakan pada mata batin ek..."
"Ada cinta yang kurasakan saat berkata dalam canda.... ada cinta yang kau getarkan saat ku resah dalam harap, oh indahnya." Moly menyanyikan salah satu soundtrack lagu Kahitna, Ada Cinta.
Adila menutup kedua telinga, pergi meninggalkan Moly dengan suara emasnya.
"Eh Ciiin... kemenong, ek kan lagi sing a song."
Adila semakin mempercepat langkah, berjalan setengah berlari.
"Nek tunggu ek... aduh melorot lagi nih bando."