Musim 1 (1-103) Musim 2 (104-226) Musim 3 (227-310)
Kisah cinta yang telah terjalin sekian lama, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan, setelah seorang lelaki lain merenggut kehormatan sang kekasih dan membuatnya mengandung benih dari lelaki tersebut.
Rencana pernikahan mereka terpaksa pupus begitu saja karena sang kekasih mau tidak mau harus dinikahi dan menjadi istri dari lelaki yang telah menodainya, demi masa depan anak dalam kandungannya.
Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah takdir berpihak pada cinta keduanya ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisha Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 JANGAN LAGI
Yoga meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, tanpa menurunkan Nara dari pangakuannya. Untuk sesaat mereka bertatapan dengan canggung. Lalu Yoga menerima panggilan dari Beno yang sudah menggagalkan adegan mesranya dengan sang istri.
"Ya? Ada apa?" Suara lelaki itu terdengar keras, seolah ingin melampiaskan semua kekesalannya pada sang asisten.
"Maaf, Pak. Pewakilan dari perusahaan Nirwana Grup meminta untuk bertemu dengan Bapak besok pagi."
"Bagaimana dengan isi kontrak kerjasamanya?"
"Semua sudah sesuai dengan persyaratan dari pihak kita."
"Baik. Atur pertemuannya besok jam sepuluh pagi. Dan pastikan waktunya tidak lebih dari satu jam!"
"Akan saya sampaikan kepada pihak Nirwana Grup, Pak."
Yoga menutup telepon lebih dulu lalu meletakkan ponsel di sampingnya.
Suasana hening lagi. Tangan Yoga kembali ke pinggang Nara. Mereka sama-sama gugup dan salah tingkah, saat bertemu pandang untuk kesekian kalinya.
Berniat untuk turun dari pangkuan Yoga, Nara melepaskan lingkaran tangannya dari leher lelaki itu. Namun tak disangka, tubuhnya hampir terjatuh ke samping lantaran Yoga juga mulai merenggangkan pelukannya.
Alhasil, tubuhnya kembali ditangkap dan didekap oleh Yoga, diikuti kedua tangannya yang kembali berpegangan pada leher sang suami.
"Hati-hati, Ra." Liruh suara Yoga, namun terdengar berat. Gejolak di hatinya belum mereda.
Tubuh Nara kembali menegang di pangkuan Yoga. Bukan karena hasratnya lagi, tapi karena ada yang terus bergerak-gerak di dalam perutnya, dan terasa sangat sakit.
Yoga melihat perubahan wajah Nara yang memucat. Satu tangannya terlepas dari leher Yoga, berpindah memegang bagian bawah perutnya yang terasa semakin sakit.
"Ra? Wajah kamu pucat! Kamu sakit? Di mana yang sakit?" Yoga panik, ditambah lagi Nara yang mulai meringis menahan sakitnya.
Yoga berdiri sambil masih memangku Nara, lalu berbalik dan membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
Mengikuti arah tangan sang istri yang terus memegangi perutnya, Yoga semakin panik. Tangannya ikut menyentuh perut Nara yang ternyata sudah sangat kaku akibat gerakan yang timbul tenggelam dari dalamnya.
Dengan cepat Yoga mengambil ponselnya dan menghubungi Ardi.
"Di, siapkan ruangan untuk Nara. Aku akan membawanya ke sana sekarang!"
Setelah menutup telepon tanpa memberi kesempatan Ardi untuk bersuara, Yoga menyimpan ponselnya di saku celana, meraih kunci mobil, lalu menggendong tubuh Nara keluar dari kamar.
"Pak, Bu. Saya akan membawa Nara ke klinik Ardi."
Yoga terus berjalan melewati kedua mertuanya yang masih mencerna ucapannya. Tapi saat melihat Nara yang kesakitan dalam gendongan Yoga, mereka langsung panik, sama seperti Yoga.
Tanpa menunggu lagi, Yoga membawa Nara dengan mobilnya sendiri, sementara mertua dan adik iparnya mengikuti dengan mobil yang berbeda.
Dengan gesit Yoga memacu mobilnya cukup kencang demi cepat sampai di klinik milik Ardi. Sesekali dia mengawasi Nara yang masih terus kesakitan, dan ikut mengusapi perut istrinya tersebut.
Tak sampai setengah jam berpacu dengan kecepatan mobilnya, mereka sampai di depan instalasi gawat darurat, di mana Ardi, Bunga dan beberapa perawat sudah siaga menunggunya.
Yoga keluar dengan terburu-buru, lalu berlari untuk membuka pintu sebelah kiri. Menggendong tubuh istrinya dengan hati-hati, dia segera membaringkannya di atas brankar yang sudah disiapkan di samping mobil.
Menyerahkan kunci mobil pada salah seorang sekuriti di sana, Yoga kemudian berjalan tergesa mengikuti Nara yang dibawa masuk oleh Ardi dan timnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ardi di sela-sela dia memeriksa perut Nara yang memang terasa sangat kaku dan terus bergerak-gerak.
"Kakinya tersandung meja dan hampir terjatuh. Tapi aku bisa menahannya hingga dia jatuh di pangkuanku."
Nara meremas tangan Yoga yang terus menggenggamnya tanpa putus sejak sampai di klinik tadi. Yoga membalasnya, menggenggam dengan erat meski hatinya diliputi ketakutan yang sangat besar.
Setelah memastikan kondisi kehamilan Nara melalui pemeriksaan ultrasonografi, Yoga dibantu oleh Bunga menyuntikkan cairan injeksi sebanyak dua kali, untuk menghentikan rasa sakit di perut bagian bawah Nara.
"Istriku baik-baik saja kan, Di?"
"Kita bicara di luar. Biar perawat memasang infus dan membersihkan tubuhnya dulu."
Yoga hendak menolak, tapi Ardi memberi tanda melalui tatapan matanya bahwa Nara akan baik-baik saja.
"Aku keluar dulu. Hanya di balik tirai ini."
Nara mengangguk dan merenggangkan genggamannya, demikian juga Yoga yang terpaksa melepaskan tangan Nara dengan berat hati, lalu keluar dan menunggu tak jauh dari bilik perawatan sang istri.
"Bagaimana keadaannya, Di?"
"Apa dia sedang banyak pikiran? Atau kamu sudah menyakitinya lagi?" cecar Ardi. Mata Yoga langsung bereaksi tajam menatap sahabat kecilnya.
"Aku sudah berjanji untuk tidak menyakitinya lagi! Kamu tahu, aku tidak punya banyak waktu. Sekarang aku hanya ingin memberinya kebahagiaan."
Ardi menarik nafas panjang sebelum menjelaskan kondisi Nara pada Yoga. Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja dokter di ruangan besar tersebut.
"Kandungannya sempat mengalami kontraksi yang cukup kencang dan berlangsung lama. Dan saat diperiksa tadi, ternyata dia juga mengalami pendarahan ringan."
Mendengar kata pendarahan, Yoga kembali panik bukan main. Di dalam pikirannya sudah terbayang hal-hal buruk yang membuatnya takut kehilangan Nara dan calon anak mereka. Namun sebelum Yoga berpraduga lebih jauh, Ardi sudah menenangkannya.
"Jangan khawatir, Nara dan kandungannya baik-baik saja. Aku sudah memberinya suntikan dan beberapa obat untuk menghentikan kontraksi dan pendarahannya. Dia hanya butuh istirahat lebih dan tidak boleh banyak pikiran."
Yoga bisa sedikit bernafas lega mendengar penjelasan Ardi. Tapi dia masih mencemaskan kondisi psikis Nara.
"Dalam sehari tadi, tanpa sengaja kami melihat Alan dua kali dan dia tengah bersama wanita lain. Setelah itu, Nara menangis dan terlihat begitu sedih. Meskipun aku bisa mengalihkan perhatiannya, tapi di dalam hatinya dia pasti masih terus memikirkan Alan."
Yoga mengacak-acak rambutnya lalu menyugarkan dengan kasar. Ingin rasanya dia menemui Alan dan menghajarnya, karena sudah membuat istrinya menjadi seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat dengan keluarga Nara yang juga ikut menyusul mengikutinya. Dia meminta Ardi untuk menemui mereka dan memberikan penjelasan tentang kondisi Nara, karena dia sendiri tidak mau meninggalkan sang istri.
Ardi menuruti permintaan sahabat kecilnya dan segera berjalan keluar dari ruang penanganan gawat darurat.
Setelah Ardi keluar, Bunga dan teman perawatnya juga keluar dari balik tirai yang mana membuat Yoga langsung berdiri dan memastikan lagi kondisi istri tercintanya.
Bunga memberi tahu kalau Nara sudah lebih baik dan bisa ditemani olehnya, sambil menunggu persiapan ruang perawatan untuk ditempati, karena ibu hamil itu harus menginap untuk memastikan perkembangan keadaannya lebih dulu.
Yoga melangkah cepat mendekati Nara dengan wajah yang masih terlihat sangat khawatir.
"Ra...."
Lelaki itu memegang tangan lemah Nara lalu membungkukkan tubuhnya, mencium kening Nara dengan perasaan cinta yang sangat dalam hingga membuat matanya memerah dan berkaca-kaca begitu saja.
Nara bisa merasakan kesedihan dan kekhawatiran lelaki itu. Dia membalas genggaman tangan Yoga dengan lemah.
"Aku baik-baik saja. Calon anak kita juga."
Yoga menarik wajahnya dari kening Nara. Mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Tanpa suara, tanpa kata-kata, hanya saling memandang dalam keharuan yang sama.
Perlahan, Nara menarik tangannya ke atas, menyentuh lembut wajah Yoga yang semakin merah dan basah. Diusapnya permukaan wajah lelaki itu dengan hati sendu, lalu menghapus bersih air matanya dengan tatapan sayu yang membuat keduanya kembali mengunci pandangan satu sama lain.
"Jangan bersedih lagi, Ga."
"Dan jangan lagi membuatku khawatir, Ra."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
nyeseknya gak kuat
sampai bab ini aku bacanya nangis terus,cinta segitiga yang menyayat hati