"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab -33
'Istirahatlah, weekend aku jemput.'
Janji Sagara yang masih terngiang di telinga Hanin itu tinggal janji. Sudah satu jam lebih gadis itu menunggu, tapi Sagara belum juga datang. Padahal hari ini, mereka berencana sarapan bareng lanjut jalan-jalan, tapi...
Ting.
Bunyi notifikasi pesan ponselnya membuat Hanin memusatkan perhatian. Ada satu pesan masuk dari Sagara. Menghela napas kasar, Hanin duduk dengan bahu lemas di sofa, Sagara batal menjemputnya karena tiba-tiba ada panggilan dari managernya untuk menghadiri meet up, yang artinya Sagara akan bertemu dengan lawan mainnya dan melakukan banyak hal sama-sama.
"Pembohong!" gumam Hanin melipat bibirnya. Bukan marah pada Sagara, tapi lebih ke kesal pada keadaan.
Hanin memutuskan keluar, hanya untuk menghirup udara segar. Berkeliling taman bawah sana, barulah mencari sarapan.
Sagara baru tiba di mall tepat ketika Syahla menghubunginya. Gegas laki-laki itu menyusul rekannya di lantai tiga dimana tempat mereka meet up berada. Beruntung ia memakai kaca mata hitam dan masker. Kalau tidak, mungkin dirinya tak akan selancar itu menuju lokasi.
"Kamu telat!" Syahla menyambutnya dengan cemberut. Namun, bukan berempati malah Sagara langsung duduk, "Ivan belum datang?"
"Ivan izin gak bisa datang, ada acara."
"Ck!" Sagara ingin mengumpat sebenarnya, ia bahkan sampai membatalkan janji jalannya dengan Hanin hanya demi acara seperti ini. Kalau bukan untuk promo film barunya dengan Syahla, sudah pasti Sagara malas. Apalagi rekan-nya sama sekali tak profesional.
"Habis ini, kita mampir di cafe. Perayaan!" beritahu Syahla.
Sagara lagi-lagi mendengus, "gak penting, baru juga mau tayang. Perayaan apa sih!"
Syahla melipat bibir, merasa laki-laki sebelahnya tidak peka.
Sorot kamera langsung mengarah pada Syahla dan Sagara, begitu MC memanggil nama mereka untuk maju. Banyak fans menyambut dengan antusias acara kali ini, bahkan ada yang terang-terangan mencetak poster muka Sagara segede gaban. Sagara menunjukkan eksistensinya, menyapa penggemar dengan sepatah dua patah kata.
"Fans kamu banyak juga, gak bisa bayangin gimana rasanya jadi cewek kamu kalau fans kamu sendiri aja cantik-cantik." Syahla melirik Sagara yang terus menatap ponsel, setelah selesai menyapa tadi mereka akhirnya kembali duduk bersisihan.
Sagara tak menjawab, karena dirinya sibuk mengirim chat sang kekasih. Sialnya, Hanin kali ini mengabaikannya.
"Sagara!"
"Apa sih? Kamu berisik tau nggak," kesal Sagara. Mood-nya hancur karena dicuekin Hanin.
Syahla memejam sebentar, "sorry."
Sagara melihat jam di pergelangan tangannya, baru setengah jam ia bergabung di acara. Tapi rasanya ingin kabur saja menemui Hanin.
Hingga rangkaian acara demi acara selesai dan Sagara bergegas akan pamit.
"Gara, habis ini kita ke cafe." Syahla cekal tangan Sagara, tapi langsung ditepis.
"Aku ulang tahun."
"Selamat kalau begitu, tapi aku gak bawa kado apa-apa. Sorry, aku gak inget."
Sebenarnya hubungan Sagara dan Syahla tidaklah buruk. Mereka partner yang cocok, juga berteman baik. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini Sagara mengeluhkan sikap Syahla yang kelewat batas.
Sagara tak suka kehidupan pribadinya dicampuri, apalagi soal dengan siapa ia pacaran.
"Kamu cukup datang ke cafe," pinta Syahla memohon.
Sagara bimbang, ia ingin segera menemui Hanin hari ini. Tapi wajah memelas Syahla membuatnya tak tega.
"Oke, cafe doang kan."
Yang tanpa Sagara tahu, Syahla tersenyum tipis setelahnya. Wanita memang susah sekali diprediksi tingkahnya.
Di cafe, perayaan ulang tahun Syahla sangat meriah. Menyewa salah satu ruang VIP. Sagara pikir, hanya akan makan-makan biasa. Namun, ternyata ada banyak teman seprofesi juga disana.
Hanin duduk di salah satu sudut cafe dengan tenang. Tangannya membaca buku, tapi telinganya ia sumpal dengan headset. Secangkir latte menemani kegalauannya siang ini, memilih mengabaikan pesan dari Sagara untuk dapatkan tenang barang sejenak.
"Hanin."
Sagara baru keluar ruang VIP setelah melarikan diri dari wartawan gosip pemburu berita. Sial, Syahla seperti sengaja membuat situasinya rumit, pun terkejut mendapati Hanin berada di cafe yang sama.
Sagara dengan langkah cepat mendekat dan mendudukkan diri di hadapan Hanin.
"Sayang, hai."
Hanin menutup bukunya, menatap Sagara terkejut.
"Tolong jagain aku dari kejaran wartawan."
Hanin mengerjap, masih belum tahu keadaan sekarang seperti apa. Saat menatap lurus ke depan sana, mendapati lawan main Sagara dengan wajah kesal dan sedih keluar area cafe diikuti beberapa orang.
"Kamu bikin masalah apa, Gara?"
Sagara mendengus geli, "satu-satunya masalah yang aku buat adalah membuatmu marah hari ini bukan?"
Hanin menatap Sagara jengkel, apalagi saat laki-laki itu memakai bukunya untuk menutupi wajah.
Sial sekali nasibnya punya pacar Sagara. Mau marah, tapi gak bisa. Laki-laki itu selalu punya cara untuk membuatnya luluh.