"Aku duda beranak satu," katanya dengan menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya.
Adakalanya seseorang mengidamkan pernikahan dengan sesama lajang. Namun, apa yang terjadi ketika Irene Putri Hadinata justru hendak dilamar oleh seorang Dokter Duda. Bukan karena cinta, tapi karena seorang anak yang lebih dekat kepada Irene dan memilih Irene yang sebaiknya menjadi Mama sambungnya.
Bisakah pinangan ini berakhir bahagia? Apakah mungkin masa lalu dan berbagai problem menikahi duda bisa membuat Irene tetap setia kepada suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resepsi di Jakarta
Pagi ini adalah pagi yang indah untuk Thania. Bagaimana tidak, anak kecil yang terbiasa tidur sendiri hingga bangun pagi pun sendiri, sekarang ada Mama dan Papa yang berbaring di sampingnya. Sedikit gerakan Thania rupanya membangunkan Irene. Kelopak mata saling terbuka, dan Irene melihat Thania yang sudah terbangun. Ditatap oleh Irene, Thania kemudian tersenyum.
"Mama ... Pagi Mama," sapanya.
"Pagi, Thania. Bisa bobok?" tanya Irene.
"Iya, bisa ...."
Suara Thania ternyata membangunkan Rangga juga. Akhirnya Rangga ikut terbangun dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Pagi-pagi membuka mata, dia melihat Thania dan Irene yang sudah mengobrol dan sama-sama tersenyum.
"Pagi," sapa Rangga dengan sedikit menguap dan membuka lebar kelopak matanya.
"Pagi Papa," balas Thania.
Rangga tersenyum tipis dan mengusap perlahan puncak kepala Thania. "Kamu sudah bangun sepagi ini?" tanya Rangga.
Thania menganggukkan kepalanya. "Ayo, Pa. Mama disayang dulu. Berikan ciuman selamat pagi. Sama seperti Opa kepada Oma," kata Thania.
Irene seketika membuang muka, kenapa Thania justru meminta Papanya menciumnya sebagai sapaan selamat pagi. Belum Rangga bereaksi, Thania sudah menarik tangan Papanya. Bahkan Thania mengubah posisinya supaya Papanya tidak terhalang ketika hendak memberikan ciuman selamat pagi untuk Mama barunya itu.
Sebelum mencium Irene, Rangga tampak menyugar rambutnya. Bahkan pria muda itu tampak meneguk salivanya sendiri. Sebelumnya, Rangga pernah gagal, pernah berhubungan dengan wanita juga. Akan tetapi, dengan Irene agaknya Rangga dalam bersikap benar-benar penuh dengan perhitungan. Ada rasa segan ketika dia berhadapan dengan Irene. Seolah memang Irene memiliki citra tersendiri baginya. Bahkan Irene seolah memiliki sesuatu bahwa gadis itu walau hangat dan ramah, tapi secara personal Irene tak mudah untuk didekati.
"Ayo, Pa ... yang romantis," kata Thania.
Rangga sampai membatin dalam hatinya, kenapa anak sekecil Thania sampai bisa mengenal kata romantis padahal selama ini dia tidak pernah mengatakan hal itu. Atas bujukan Thania, akhirnya Rangga mendekat, bahkan wajahnya juga hanya beberapa jengkal saja dari Irene.
Akhirnya Rangga benar-benar mendekatkan bibirnya hingga mengenai pipi halus milik Irene. Semburat merah jambu seketika terlihat di wajah Irene. Gadis itu rasanya semakin malu karena Rangga mencium pipinya beberapa detik lamanya. Memang hanya di pipi, tapi tetap saja itu adalah hal yang mendebarkan.
Ada kurang lebih lima detik, kemudian Rangga menarik wajahnya kembali. Thania malahan tertawa lebar dan bertepuk tangan. "Yeay, Papa romantis. Cium Mama setiap pagi ya Pa ... kayak Oma dan Opa biar saling sayang."
Rangga menganggukkan kepalanya. Usai itu, Thania berpamitan untuk turun dari kamarnya terlebih dahulu. Dia mengatakan ingin membantu Bundanya menyiapkan sarapan. Keluar dari kamar, Irene menyentuh pipinya yang beberapa saat tadi dicium Rangga. Seolah bibir suaminya itu masih menempel saja di pipinya. Aneh, mendebarkan, dan juga ciuman suaminya itu bisa membuat Irene salah tingkah.
...🍀🍀🍀...
Tiga Hari Kemudian ....
Di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Sebuah ballroom dihias dengan begitu megahnya. Pernikahan putra taipan yang kaya raya akan digelar malam ini. Dekorasi rustic yang indah dan didominasi bunga-bunga mawar dan peony yang cantik dan menawan.
Tamu undangan yang datang pun didominasi oleh mitra bisnis Bunda Kanaya selaku Direktur Utama Jaya Corps. Ada rekan dokter dari rumah sakit tempat Ayah Bisma bekerja juga. Selain itu, ada keluarga besan yang datang dari Jogjakarta.
"Nikmati saja pesta resepsi ini ya, Irene. Nanti kalau memang capek, kamu dan Rangga bisa duduk. Tamunya tidak banyak. Hanya rekan-rekan Ayah dan Bunda, serta rombongan keluarga dari Jogjakarta dan Solo," kata Bunda Kanaya.
"Iya, Bunda."
Irene, sang pengantin sudah berdandan begitu cantik dengan wedding gown berwarna putih. Make up yang terkesan flawless, dan sebuah tiara yang berhiaskan berlian swarosky menghiasi kepalanya. Jika akad di Jogjakarta mengusung konsep adat Jawa. Sekarang, konsep yang diusung adalah Internasional.
"Kamu sangat cantik, Irene. Rasanya kayak beberapa tahun lalu, Bunda menggelar resepsi pernikahan Aksara dan Arsyilla, sekarang kamu yang berdiri mendampingi Rangga. Senangnya hati Bunda," kata Bunda Kanaya.
Irene tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Walau belum banyak juga yang terjadi antara dia dan suaminya, tapi juga Rangga bisa dikatakan sebagai orang yang baik. Rangga juga menerima keputusan Irene yang menangguhkan malam pertama hingga perasaan mereka sudah benar-benar tumbuh terlebih dahulu.
Sekarang, saat yang dinantikan tiba. Pasangan pengantin akan memasuki pelaminan. Ratusan pasangan mata memperhatikan keduanya. Ini memang pernikahan kedua untuk Rangga, tapi resepsi sebesar ini baru sekarang Rangga rasakan.
"Pelan-pelan jalannya, pegang lenganku," kata Rangga berbisik kepada Irene.
"Iya, Mas," balasnya.
"Tamunya banyak banget. Aku grogi," kata Irene kemudian kepada Rangga.
"Tenang saja ada aku," balas Rangga.
Sekarang di pelaminan Rangga dan Irene mengikuti saja prosesi demi prosesi yang dipandu master of ceremony. Walau sudah mulai lelah, tapi Irene tetap berusaha tersenyum ketika menerima salam, ucapan, dan jabatan tangan dari setiap tamu undangan yang datang.
Hingga akhirnya, di antrian tamu undangan ada sosok wanita muda yang hadir. Wanita muda itu berias begitu cantik dan juga mengenakan gaun putih, seolah dia ingin menandingi sang pengantin wanita. Dalam jarak beberapa meter, pandangan Rangga seolah bertemu dengan wanita itu. Hingga Rangga merasakan gugup dan dia melirik Irene.
"Kenapa Mas?" tanya Irene perlahan.
Belum sempat Rangga memberikan jawaban, wanita itu sudah berdiri di depan Rangga dan Tasya, tangannya terulur dan memberikan ucapan kepada mereka berdua.
"Rangga," sapanya lirih.
"Dania," balas Rangga.
Irene masih diam dan berusaha memahami suasana apa yang sedang terjadi sekarang ini. Namun, dari gestur yang ditunjukkan Rangga memang terlihat tidak biasa.
"Happy wedding untuk kamu dan istri kamu ya, Rangga ... selamat," katanya.
Rangga hanya diam. Sepatah kata pun, Rangga tak bersuara. Kemudian wanita itu menatap Irene yang berdiri di samping Rangga. Mengamati Irene dari ujung kaki dan ujung kepala. Namun, Irene memilih tenang. Jika memang ingin meminta penjelasan dari Rangga, nanti pastilah Irene akan menanyakan semuanya kepada suaminya itu. Bahkan ada pertanyaan terkait masa lalu suaminya yang perlu Irene tanyakan.