Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesejuk Embun Pagi, Sehangat Sinar Mentari
☕🍜 Menurut medis, virus corona bisa lumpuh oleh panasnya matahari, akan tetapi virus congorna tangga hanya bisa lumpuh oleh panasnya api neraka. Eh! (Mwehehehe)🍜☕
Bisingnya deru kendaraan yang berlalu-lalang tak lagi terdengar di telinga pria berambut gondrong yang masih berdiri termangu di pinggir jalan raya.
Yang terdengar di telinganya hanyalah keriuhan dari dalam dadanya, yang tengah mendendangkan nama gadis pujaan hatinya.
Semakin didengarkan, semakin dihayati, terdengar semakin merdu. Bahkan deru napasnya terdengar mengimbangi rima nyanyian di hatinya.
Juan mati-matian melupakan sebuah fakta tak dapat memiliki gadis itu. Peduli setan, seluruh dunia akan mengutuknya hanya karena menyukai seseorang yang berbeda.
Bukankah perbedaan itu indah? Seperti negara Indonesia, yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda-beda tapi kita tetap satu bangsa.
Lalu, bolehkah ia menyamakan dengan semboyan tersebut? Meski berbeda keyakinan, tapi tetap satu cinta.
Ehem. Sudut pandang orang yang sedang jatuh cinta memanglah acapkali demikian. Menghalalkan segala cara. Melogikakan segala yang tidak logika.
Cukup lama Juan termangu. Jika bukan karena suara klakson mobil yang hendak masuk halaman parkir apotek, mungkin Juan masih tetap berdiri di sana hingga jenggotnya mencapai mata kaki.
Juan bergegas masuk ke apotek. Hendak membeli titipan Mamanya.
"Mbak, ada masker?" tanya Juan pada Si Apoteker.
Perempuan berjilbab warna hijau itu sempat terpana melihat pesona Juan. Dia menjawab sedikit gagap, "A-ada, Bang. Tapi … harganya mahal."
"Berapa?" Juan tak peduli dengan kegagapan Si Apoteker.
"Tiga kali lipat dari harga normal. Satu kotak seratus enam puluh ribu, isinya 50 pcs," terang Mbak Apoteker, bicaranya sedikit dilambankan. Seperti sengaja agar bisa berlama-lama melihat pemandangan ciptaan Tuhan yang sungguh indah, terpampang jelas di depan mata.
Dalam hati Juan berkata, "Ini pasti gara-gara corona lagi."
"Memang biasanya berapa?" tanya Juan seraya mengambil dompet dari saku celana bagian belakang.
"Normal empat puluh ribuan ke atas. Tapi, tidak pernah lebih dari lima puluh ribu," jawab Mbak Apoteker. Matanya curi-curi pandang pada manik mata pria di hadapannya.
Ketika Juan hendak membuka dompet berwarna coklatnya, tiba-tiba terdengar dering panggilan masuk dari ponselnya.
Juan mengecek nama yang muncul di layar gawai.
'Nyonya Besar'
Dia berdecak, lalu menyentuh icon berwarna hijau.
"Apa lagi?" semburnya ketika sambungan sudah terhubung dengan seseorang di seberang sana.
"Beli dua, yaa!" seru Maria.
"Untuk apa dua?!"
"Buat jaga-jaga, virus mulai mewabah. Kita perlu stock banyak. Nanti sudah mulai susah dicari, dan harganya pasti berkali-kali lipat lebih mahal. Tahu sendiri, 'kan? Kek mana masyarakat +62 sukanya cari-cari kesempatan mencari keuntungan pribadi," cerocos Maria dengan nada sewot. Sewot pada masyarakat +62.
"Heleh, apa bedanya orang yang cari keuntungan menaikkan harga masker, dengan orang yang beli banyak masker untuk stock? Species sama kok saling sewot. Sama-sama serakah tak peduli orang lain." Juan ngedumel dalam hati.
Dia menghela napas kesal. Memutar bola matanya, jengah.
"Ma, mulut Mama cuma ada satu. Juan dan Chilla juga cuma punya satu. Untuk apa beli banyak-banyak. Ini satu kotak saja isi 50 pcs. Mau dipakai untuk mulut mana lagi?"
Di seberang sana terdengar Maria terkekeh, "He-he-he ... 'kan buat jaga-jaga. Kalau nanti kehabisan kek mana? Hayo loh?"
"Kehabisan memangnya dimakan. Bagi-bagilah sama yang lain. Yang butuh masker bukan hanya kita. Jangan serakah!" Juan berbicara dengan nada naik satu oktaf.
"Si Bujang Lapuk sudah pandai ceramah rupanya. Alangkah bangganya hati Mama. Ya sudah, beli satu saja. Padahal kalau beli banyak, 'kan lumayan bisa untuk menutupi virus congorna tangga … duuu ... duuu ... duuu ...." Maria mengalah, namun setengah tidak ikhlas. Di seberang sana bibirnya mengerucut.
Juan melenguh, berhadapan dengan ibu-ibu memang menjadi perkara yang memiliki kepelikan tersendiri. Juan sengaja tak memberi tahu Mamanya jika harga masker memang sudah naik. Tak bisa dibayangkan jika Mamanya tahu. Mungkin saja urusan akan menjadi lebih ribet.
Dia mematikan sambungan telephone secara sepihak.
Rupanya sedari tadi Mbak Apoteker terus memperhatikan Juan berbicara. Saat Juan mengakhiri sambungan telephonenya, Mbak Apoteker masih termangu, memangku dagunya dengan dua tangan.
Seperti biasa, Juan tidak peduli.
"Ini, Mbak." Juan menyodorkan dua lembar uang berwarna merah.
Mbak Apotek terhenyak dari lamunannya. Dengan sedikit gemetar, dia mengambil uang yang disodorkan oleh Juan.
Dia segera mengambil kembalian, lalu menyerahkannya pada Juan.
Padahal Mbak Apoteker itu masih ingin berlama-lama melihat ciptaan Tuhan yang sungguh indah ini. Tapi, sayangnya Juan justru sebaliknya.
Juan bergegas pergi meninggalkan apotek, diiringi tatapan terpana dari Mbak-mbak Apoteker.
***
Di teras kontrakan, tampak gadis berseragam coklat sedang duduk seorang diri. Memandangi layar gawainya. Jempolnya naik turun di atas layar benda berbentuk pipih itu.
Dia sedang menunggu sahabat yang tadi ia telephone—Maira.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki mendekat.
Salwa mendongak, melihat ke arah sumber suara.
Seorang gadis berusia sebaya dengannya, tengah mendekat. Tubuhnya yang berukuran sedang dibalut dengan setelan gamis berwarna hijau botol.
Tangan kanannya tampak menenteng bungkusan plastik berisi satu kotak masker dan vitamin.
Dia melangkah santai. Senyumnya senantiasa mengembang. Sorot matanya berbinar.
Rasanya, sudah lama sekali Salwa tidak melihat pemandangan anggun dari sahabatnya ini.
Gadis itu, Khumaira. Memiliki aura yang menyenangkan bagi siapa saja yang melihatnya. Saat dia diam, terasa sejuk seperti embun. Saat dia tersenyum, terasa hangat seperti mentari pagi.
Senyumnya bukan hanya indah dipandang mata. Namun, mampu memberi energi positif bagi siapa pun yang memandang.
Hatinya yang baik, tutur katanya yang santun, juga sikapnya yang lembut, sungguh terasa damai dan mendamaikan apabila bersamanya.
Demikianlah yang dirasakan oleh Salwa, juga oleh orang-orang yang dekat dengannya.
Sungguh bodoh orang yang telah menyia-nyiakan gadis sebaik Khumaira.
Bahkan, hingga saat ini Salwa selalu yakin. Bahwa, Ferry—mantan Maira pasti merasa sangat menyesal hingga tujuh turunan sebab sudah menyia-nyiakan sahabatnya.
Kehangatan menyeruak di dada Salwa ketika langkah Khumaira semakin mendekat.
Salwa sudah melengkungkan bibirnya menyambut kedatangan Maira.
"Tumben pulang cepat, Sal." Maira duduk di sebelah Salwa. Maira meletakkan bungkusan plastik di atas ubin.
Yang ditanya mengerutkan dagu. Dia masih tenggelam dalam kehangatan pesona Maira.
Pesona yang membuat siapa saja dapat merindu. Alangkah cantik luar dan dalam gadis bernama Khumaira ini. Hingga Salwa sesama perempuan pun dapat merasakannya, dan mengakui berkali-kali walau hanya diungkapkan dalam hati.
Salwa terus memandangi sahabatnya. Semakin dalam, semakin sejuk dan damai.
Terbersit tanya dan kata dalam hatinya, "Apa yang membuat Maira sememesona ini? Keberadaannya selalu ku rindukan, kehadirannya selalu aku nantikan? Betapa beruntung aku menjadi bagian dari orang terdekatnya."
"Sal ...." Maira menyentuh lembut lengan Salwa.
Salwa masih bergeming. Dia terus memandangi Maira. Semakin dalam. Hati gadis berambut sebahu itu sedang butuh kedamaian.
Khumaira kembali menerbitkan senyum pamungkasnya. Yang seketika mengalir ke dalam hati Salwa melalui sentuhan tangannya.
Hangat.
Itu yang Salwa rasakan.
Akhirnya energi kedamaian berhasil menyelinap ke dada gadis berseragam coklat itu.
Salwa mengukir senyum. Senyum yang mampu menaklukkan hati pria berusia 24 tahun, yang memiliki hoby mengacak-acak anak rambutnya.
"Kenapa, Cantik?" Maira bertanya.
"Sungguh dirimu yang lebih cantik, Sahabatku!" tukas Salwa.
Maira tersenyum lebar, "Apa barusan aku bertanya tentang siapa yang lebih cantik?"
"Ha-ha-ha ... apa aku salah jika ingin memuji sahabatku?" Salwa balik bertanya.
"Pertanyaan tidak boleh dijawab dengan pertanyaan, Sobat."
"Sejak kapan ketentuan itu dibuat, Sahabatku?" Salwa tak mau kalah.
"Sejak kamu menyalahi jawaban, Sobatku." Maira juga tak mau kalah.
"Lalu apa jawabannya dari seorang sahabat yang merindu?"
Maira terhenyak sesaat. Kini, gantian Maira yang memandangi Salwa.
Salwa menunduk. Lepas kendali bilang rindu pada sahabatnya. Terdengar menggelikan, bukan? Seorang perempuan mengungkapkan rindu pada sesama perempuan? Meski tentu saja mereka sama-sama memahami, maksudnya adalah rindu atas dasar persahabatan.
Maira memiringkan sedikit kepalanya. Mengintip Salwa yang menunduk malu. Sebenarnya, Maira sangat senang mendengar sahabatnya mengaku rindu.
"Coba katakan lebih keras, Sahabatku," pinta Maira pelan. Terdengar menggelitik di telinga Salwa.
Seketika Salwa terbahak. Tawanya menular pada Maira. Akhirnya tawa dua gadis itu saling berderai. Tertawa dengan rasa malu dan lucu.
Demikianlah kehangatan antar sahabat dalam merayakan rindu setelah lama tak bertemu. Sesederhana itu.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗