NovelToon NovelToon
TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:25.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vey Vii

Kisah pernikahan paksa yang di alami oleh seorang gadis berusia 22 tahun dengan seorang laki-laki arogan yang di pilih ayahnya sebagai mempelai pria putrinya.

Sabrina, terpaksa menerima pernikahan ini demi menyelamatkan perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut, dia harus merelakan dirinya sebagai alat balas budi kepada laki-laki yang telah bersedia membantu keluarganya.

Meskipun sang suami adalah laki-laki yang begitu tampan dan mapan, Sabrina kurang menyukainya. Sabrina memiliki karakter yang cenderung mudah mengeluh dan keras kepala, ia wanita yang tidak suka di atur dan bertindak sesukanya.

Di novel ini, kalian akan di buat kesal tujuh turunan sama si pemeran utama. HAHAHA


Selamat membaca, semoga suka ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bang Bimo

Setelah aku sampai di dekat mobil, dengan sigap sopir baru itu membukakan pintu untukku, aku lebih memilih duduk di bangku belakang, karena sejujurnya, aku merasa sedikit takut dengan penampilan laki-laki di depanku ini.

"Sudah siap, Non?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.

"Sudah." Aku menjawab biasa.

Dalam perjalanan aku hanya termenung, melihat ke luar kaca mobil sambil menyandarkan kepalaku di kursi.

"Non, kok melamun sih, nanti kesambet loh," ucap sopir itu membuatku terkejut.

"Eh, iya pak," jawabku.

"Jangan panggil saya pak dong, Non. Saya ini loh masih muda."

"Lalu sebaiknya saya memanggil apa?" tanyaku heran, kenapa dia tidak mau dipanggil dengan sebutan itu.

"Panggil saya bang Bimo aja, biar kelihatan so cute gitu. Hehehe," ujarnya sambil tertawa cekikikan.

Eh orang ini tampang serem tapi jiwanya jiwa hello kitty ya, Hahaha. Gumamku dalam hati.

"Iya deh, bang Bimo." Aku menahan tawa sampai perutku terasa keras.

Jalanan begitu macet, tumben sekali jam segini sudah macet, padahal menurutku ini masih pagi, tapi kendaraan sudah padat memenuhi kota.

"Non Sabrina apa nggak telat?" tanya bang Bimo sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.

"Ah, tidak apa-apa, santai saja, Bang," ucapku sambil memperhatikan laki-laki itu dari kaca spion diatas kepalanya.

Dia hanya mengangguk-ngangguk sambil matanya tetap fokus ke arah mobil di depannya yang sudah mau bergerak maju.

Akhirnya kami sampai di depan butik, perjalanan yang normalnya bisa di tempuh hanya dalam waktu setengah jam, kali ini lebih dari satu jam lamanya.

"Bang Bimo mau nungguin saya seharian disini?" tanyaku saat akan turun dari mobil.

"Ini kan sudah perintah tuan Arga, jadi ya saya ngikutin aja, Non."

"Bang Bimo gak bosen seharian disini?"

"Nggak kok, saya ini orangnya bisa jadi apa saja, Non Sabrina bisa nyuruh saya bantu-bantu disini, seperti kata tuan Arga." Bang Bimo tersenyum lebar menampakkan hampir seluruh gigi depannya.

"Ya sudah, ikut masuk yuk bang," ajakku.

Di dalam butik, kami sudah di sambut mata para karyawan yang mnatap ke arah kami dengan tatapan aneh, begitu juga dengan Riani.

"Bang Bimo disini saja ya, bantuin temen-temen saya packing, saya mau ke ruangan saya dulu, kalau ada apa-apa bisa temui saya di lantai atas," ucapku pada bang Bimo yang berdiri malu.

"Baik, Non."

Aku kemudian menaiki anak tangga diikuti Riani di belakangku, sudah pasti Riani akan mengintrogasiku kali ini.

"Eh, Sabrina, orang itu siapa?"

"Sopirku, Ni."

"Ah yang bener, tampangnya serem banget, Sa. Bikin takut tau," ucap Riani sambil bergidik ngeri.

"Eh, jangan dikira tampang serem itu selalu galak, bang Bimo baik kok, Ni." Aku duduk di kursi belakang meja.

"Tapi kan, Sa," ucap Riani menggantung.

"Sudahlah, Ni. kamu bisa minta tolong apa saja sama bang Bimo, dia akan seharian disini sampai nunggu aku pulang."

"Ada yang aneh sama kamu deh, Sa. Kemarin kamu di anter laki-laki ganteng banget imut-imut, sekarang malah punya sopir nyeremin kayak gitu, sebenarnya apa yang terjadi sih?" tanya Riani dengan raut wajah penasaran.

"Hmm, aku belum siap bercerita padamu, Ni. Lain kali aku janji akan menceritakan semuanya," ucapku sambil menghela nafas panjang.

Riani hanya mengangguk sambil berlalu meninggalkan ruanganku.

Tentu saja Riani begitu penasaran, karena sebelumnya, aku selalu terbuka padanya, setiap ada masalah atau apapun, aku selalu menceritakan semuanya pada Riani, karena dia adalah sahabatku satu-satunya, dia selalu mengerti diriku.

Aku mengawali pagiku dengan merawat bunga-bunga favoritku, dengan begitu pikiranku terasa fresh dan tenang, sehingga bisa dengan mudah menuangkan ide-ide design baru diatas kertas.

Hari ini aku menggambar beberapa design gaun malam, memang tidak ada yang memesan, tapi aku selalu menyiapkan beberapa rancangan baru untuk stok kalau ada yang benar-benar butuh gaun dalam waktu singkat, sehingga saat aku tidak ada di butik, Riani bisa memberikan beberapa gambar ini sebagai opsinya.

Jam menunjukkan pukul 12 siang, aku mengajak Riani menuju caffe depan untuk sekedar minum dan mengobrol.

"Sa, ternyata sopirmu itu lucu banget loh, Sa. Tampangnya aja yang sangar, tapi orangnya lucu bener." Riani tertawa kecil.

"Sudah ku bilang, bang Bimo orangnya baik," jawabku.

"Kamu sudah makan siang, Sa?" tanya Riani.

"Belum, setelah ini biar bang Bimo yang beli makanan di luar sebentar," ucapku.

"Aku titip ya, Sa. Aku juga belum makan."

"Oke."

...

Setelah setengah jam duduk di caffe, kami kembali ke butik menemui bang Bimo.

"Bang, sudah makan siang belum?" tanyaku sambil menepuk bahunya pelan. Saat itu bang Bimo sedang duduk di sofa panjang di dekat kaca sambil bermain game cacing-cangingan di ponselnya.

"Belum," jawabnya singkat.

"Tolong belikan saya sama Riani makan siang ya, Bang, sekalian buat bang Bimo juga," ucapku sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.

"Mau makan apa, Non?" tanyanya sambil memasukkan ponsel di saku celana.

"Enaknya apa ya, Bang?" Aku balik bertanya, karena aku sendiri belum tau ingin makan apa.

"Kalau saya sih, segalanya doyan non. Hehehe."

"Bang Bimo mau mie ayam gak?"

"Wah, mau banget, non Sabrina ini udah kayak peramal, tau aja yang sedang ada di pikiran bang Bimo," ucapnya sambil menahan tawa. Sebenarnya aku geli melihat sikap bang Bimo yang agak bagaimana gitu, wajah seram yang terpampang nyata berbanding terbalik dengan sikap jenakanya.

Aku hanya tersenyum menahan tawa mendengar ucapan bang Bimo barusan, berbeda dengan Riani yang tawanya sudah meledak mengisi seluruh ruangan ini.

"Saya pergi dulu ya, Non," pamit bang Bimo.

"Hati-hati di jalan, Bang."

...

Sambil menunggu bang Bimo membeli makan siang, aku menuju ruanganku untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda tadi.

Beberapa kali aku mencoba menggoreskan pensil kecilku diatas kertas, tapi zonk. Tidak ada ide yang berseluncur di otakku.

Entah mengapa pikiran ini sudah tidak lagi fokus dengan apa yang ada di hadapanku, seperti ada yang mengganjal di benakku.

Tidak lama kemudian terdengar suara orang ribut-ribut di ruangan bawah, aku mendengar suara seorang laki-laki yang sepertinya tidak asing lagi di telingaku, suara seorang laki-laki yang berteriak keras memanggil namaku.

Dengan gugup aku membuka pintu berniat turun menemui laki-laki itu.

"Aku ini suaminya, aku tidak perlu izin siapapun untuk memasuki tempat ini ataupun menemuinya." Suara laki-laki itu terdengar penuh emosi.

Gawat, itu seperti suara harimau gilaku yang sedang lepas dari kandangnya. Bagaimana bisa dia berada disini.

"Siapa kau, berani-beraninya menghalangi jalanku. Aku bisa membuatmu dipecat dari pekerjaanmu ini." Suara itu terdengar makin kencang.

Aku berlari menuruni anak tangga, dugaanku pasti benar, Riani yang tidak mengizinkan tuan Arga masuk menemuiku, karena tuan Arga pasti bersikap seenaknya seperti biasa.

Dengan jantung yang ritmenya sudah berantakan, aku berdiri memandang laki-laki tampan yang wajahnya sudah memerah menahan gejolak emosi yang membara.

"Tu, tuan," ucapanku terhenti. Tuan Arga langsung menarik tanganku kasar, menyambar bibirku tanpa permisi, kedua lengan kekarnya dilingkarkan di pinggulku, mendekapku begitu erat.

Sedangkan beberapa pasang mata yang awalnya terlihat takut kini berganti dengan tatapan penuh keheranan melihat adegan panas yang tiba-tiba dilakukan tuan Arga.

Ya Tuhan, apa yang sedang dilakukan laki-laki gila ini, tolonglah, Tuan, jika kau memang sudah gila, gilalah sendiri, jangan menyeretku dalam kegilaan ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung ...

1
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
🥲
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
🥰
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
😭😭...aku terharu
𝔪𝔢𝔩𝔦𝔞𝔫𝔞𝔣𝔟𝔯𝔫
yeyy,tuan arga dan Sabrina akhirnya bertemu kembali 😍😍
Apthiana Devi
Luar biasa
Irma Dwi
masih memantau
Irma Dwi
baru baca,,,,

semoga suka, sama kayak novel othor yg lainnya,,,,
🥰🥰🥰🥰
Raja Rosnenty
Luar biasa
Rari
Bagus sih... cuma ada yg janggal... masak panggil suami Tuan sih
Revina Darajati
ATM Kamu kenapa gk diminta Sabrina..nti dihabsin Ama adikmu itu
Revina Darajati
aku doain Semoga Sabrina sengsara dgn kebodahannya
Revina Darajati
sabrinaa ternyata orang bodooh...pikirannya sempit
Revina Darajati
Arga baik bbgtu kok masih nggrutu aja...Hamill luu
Revina Darajati
itu kan karena Sabrina sendiri yg selalu bilang lelah.mangknya Arga batesin kerjanya...salah muu... kapok..mangkanya jgn suka booong
Revina Darajati
muna emang Sabrina.. menyebalkan ceritanya gitu2 doang thoor
Revina Darajati
yaa kamu yg aneh dan cuek Sabrina...kamu yg gk mau kash perhatian sm Arga.. pdhal dia sering kash kode..dasar Oneng..BKN kesel tiap aku baca ini...udh tau Arta Semourna bukan bersyukur..malah nggrutu mulu
Revina Darajati
iiish dodol Sabrina...gk paham perhatian Arga..malah sibuk mikir perhatian orang
Revina Darajati
heduuuh.. menggerutu Mulu Sabrina...kiriman diawal dia orang baik..ternyata jelek bgt sifatnya
Revina Darajati
Oneng Sabrina
.justru klo hamil nanti Arga JD makin sayang
Revina Darajati
emang enak kamu Sabrina..JD merendahkan dirimu sendiri..yg akhirnya menikmati juga..nyebelin..emang udh kewajiban kamu melayani..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!