Siena gadis berusia 20 tahun harus merelakan suaminya untuk wanita lain dan takdir mempertemukannya dengan Kenzi seorang pria dingin dan kejam. Berawal dari teman kerja dan membawa Siena ke dunia Kenzi.
Akankah tumbuh rasa cinta di atara mereka setelah pengkhianatan yang di alaminya di masa lalu. Terlebih Kenzi mendekati Siena hanya untuk balas dendam.
Cover: Pinteres
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Menanti
Sementara itu di rumah pak Karta, ia memerintahkan Rei untuk pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Siena kalau Alya di rawat.
"Rei, kau jenguk Siena dan Nyonya Alya..mungkin dia butuh bantuan," ucap Pak Karta.
"Baik Tuan," jawab Rei.
"Katakan, aku tidak bisa menjenguk karena kesehatanku juga kurang bagus."
"Baik Tuan." Rei langsung bergegas melangkahkan kaki menuju rumah sakit.
Di perjalanan ia melihat Reegan tengah berjalan bersama seorang wanita memasuki Club malam. Sesaat Rei menepikan mobilnya.
"Bukankah itu suami Siena..kenapa dia tidak menjaga ibunya?" ucap Rei pelan. Memperhatikan Reegan dari dalam mobil. Kemudian ia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
Tak lama kemudian Rei telah sampai di rumah sakit, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan langkahnya terhenti di pintu kamar no 06.
Perlahan Rei membuka pintu, ia melihat Siena tengah duduk dan menoleh ke arahnya. "Rei?!" sapa Siena.
Rei menganggukkan kepala, ia berjalan mendekati Siena. "Selamat malam nyonya Alya," sapa Rei menatap wajah Alya. Alya hanya bisa menganggukkan kepala.
"Siena, aku di suruh kakekmu untuk menjenguk kalian," ucap Rei menatap Siena.
"Terima kasih," jawab Siena. "Bagaimana kabar kakek juga ibu?" tanya Siena.
"Tuan sedang kurang sehat, tapi kalau nyonya Hana baik baik saja," jawab Rei.
"Kakek sakit? aku belum bisa menjenguknya." Siena menundukkan kepala.
"Tidak apa apa, mungkin Tuan akan menjenguk nyonya Alya besok."
Siena menganggukkan kepala, "apa kau sudah makan?" tanya Rei.
Siena menggelengkan kepala, "belum Rei."
"Bagaimana kalau aku belikan kau makanan?" usul Rei.
"Boleh.." kata Siena.
"Kau tunggu di sini, aku keluar sebentar."
Siena menganggukkan kepala, Rei beranjak pergi meninggalkan ruangan. Sementara Siena membenarkan selimut Alya. "Mama istirahat ya," ucap Siena.
Alya menganggukkan kepala, ia pejamkan mata dan berusaha tertidur meski hati dan pikirannya tertuju pada Reegan juga Sandra.
"Tega sekalk kau mengkhianati istrimu yang begitu baik dan perduli sama mama..mama benar benar kecewa padamu nak.." ucap Alya dalam hati. Dari sudut netranya mengalir air mata.
"Mama..jangan sedih terus..percaya deh..mama pasti sembuh," ucap Alya sembari menyeka air mata Alya.
Alya mengangguk meski matanya terpejam. "Maafkan mama Siena.."
Tak lama kemudian Alya pun tertidur, Siena bangun dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Ia memperhatilan lorong rumah sakit menunggu kedatangan Reegan. "Kamu kok belum datang.." gumam Siena. "Apa kau ketiduran? mungkin kau lelah seharian bekerja." Siena tersenyum sendiri.
Saat ia hendak duduk di kursi luar kamar Alya. Ia melihat seorang pria keluar dari pintu sebelah ruangan tempat Alya di rawat. Pria itu berjalan dengan tertatih tatih. Siena hanya diam memperhatikan, tapi detik berikutnya pria itu tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Dengan Reflek Siena langsung bangun dan berlari ke arah pria itu.
"Ya ampun!" pekik Siena.
Ia langsung mengangkat tubuh pria itu untuk bangun, "kau tidak apa apa?" tanya Siena.
Pria itu tengadahkan wajahnya menatap Siena, "terima kasih nona," ucap pria itu berdiri.
"Iya sama sama, kau mau kemana?" tanya Siena menatap wajah berkulit putih, hidungnya mancung dan rahang yang besar.
Pria itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Siena, ia hanya memperhatikan wajah Siena saja.
"Siena, kau sedang apa?" sapa Rei dari arah belakang menenteng kantong plastik yang berisi makanan.
"Rei, dia tadi terjatuh..aku membantunya," jawab Siena.
"Oke Siena, sekarang kita makan.." Rei menarik tangan Siena dan meninggalkan pria pria itu berdiri terpaku menatap mereka.
****
"Si..bangun..sudah pagi," ucap Rei menepuk pundak Siena yang tertidur di kursi. Perlahan Sieba membuka matanya, ia menatap wajah Rei lalu beralih menatap wajah Alya yang masih tertidur pulas.
"Jam berapa Rei?" tanya Siena.
"6:00" jawab Rei melirik ke arah jam tangannya.
"Sebaiknya kau pulang dulu, untuk sementara nyonya Alya biar aku yang menjaga," tawar Rei.
"Baiklah."
"Pagi sayang!" seru Reegan dari arah pintu, mereka menoleh menatap Reegan yang tetlihat rapi dengan setelan jas. Reegan langsung memeluk Siena dan mencium keningnya sesaat. "Maafkan aku sayang..semalam aku ketiduran."
"Ketiduran?" ucap Rei dalam hati. "Bukankah semalam dia ke club malam bersama wanita?"
"Tidak apa apa sayang, aku mengerti..kau pasti lelah," jawab Siena.
"Mama masih tidur?" tanya Reegan menatap ke arah Alya.
"Iya, mama tidurnya pulas." Siena mencium aroma parfum yang berbeda dari yang biasanya Reegan gunakan. "Sejak kapan kau gantu merek parfum?" tanya Siena menatap tajam Reegan.
"Ya ampun sayang, kau lupa ya..aku punya dua parfum di rumah..mulai pikun deh kamu," jawab Reegan.
Siena mengerutkan dahi, ia coba mengingat. "Mungkin kau benar..aku yang lupa."
"Siena, jangan berpikir yang aneh aneh..aku titip mama..hari ini aku bakalan sibuk banget. Jadi tidak bisa pulang cepat."
"Tidak apa apa..ya sudah..kau berangkat..kerja yang tenang..dan hati hati di jalan." Siena mengusap pipi Reegan lembut.
"Baiklah..kau juga jangan lupa makan. Aku tidak mau kau sakit," jawab Reegan. "Kalau begitu, aku berangkat dulu." Reegan mencium kening Siena. Sesaat ia menoleh ke arah Rei, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Alya.
Siena tersenyum menatap punggung Reegan. Sementara Rei hanya diam memperhatikan keganjilan yang di ucapkan Reegan. Jelas semalam ia pergi ke club, tapi mengapa ia berbohong pada Siena?
"Sebaiknya aku mencari tahu, ada apa dengan Reegan? dan siapa wanita itu?" ucap Rei dalam hati. "Sepertinya ada yang tidak beres, aku tidak akan mengatakannya dulu sebelum mendapatkan bukti bukti," ucap Rei dalam hati.
"Rei! seru Siena mengibaskan tangannya di wajah Rei. Rei tersenyum menatap Siena.
" Kenapa bengong? apa yang kau pikirkan?" tanya Siena.
"Tidak ada Siena, aku lagi memikirkan bagaimana caranya supaya nyonya Alya bisa cepat sembuh.." ucap Rei berbohong.
"Benarkan? kau baik banget." Siena tersenyum, ia mengambil tas di atas meja. "Aku titip mama dulu ya, aku cuma sebentar kok."
"Siap nona Siena!" sahut Rei.
Siena tertawa kecil, ia menoleh ke arah Alya. "Ma..aku pulang dulu sebentar untuk ganti pakaian," ucap Sieba. Lalu ia balik badan meninggalkan ruangan menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan Siena memikirkan ucapan Reegan. "Benarkan dia punya parfum dua? seingatku dia hanya menyukai satu parfum saja." ucap Siena pelan.
"Aku tidak boleh berburuk sangka, itu hanya akan menyakiti diriku sendiri." Siena menepuk keningnya sendiri. "Terserah dia mau bohong atau tidak..suatu hari nanti alan kerahuan juga jika memang dia berbohong," gumam Siena. Tak terasa ia sudah sampai di halaman rumah sakit, ia langsung mencari taksi untuk pulang ke rumah.