Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Berteman kesendirian
Pagi ini, seperti biasa. Santri dan santriwati berolahraga, berbeda tempat dan beda pembimbing. Santriwati olahraga dengan jalan kaki bersama-sama. Pukul 5:30 jalan pagi bersama dimulai, Laila juga ikut karena biasanya juga seperti itu. Laila berulang kali melirik ke belakang dengan ekor matanya saat mendengar Fatma membicarakannya, membicarakan hubungan terlarang antara dirinya dan Iqbal.
” Umi mau kemana?” Husna menarik pergelangan tangan Laila, belum juga jauh dari pesantren Laila berbalik dan hendak kembali tidak mau melanjutkan lagi.
” Aku lupa sesuatu di rumah, aku duluan. Assalamu'alaikum” Laila melangkah pergi meninggalkan semuanya.
” Wa'alaikumus Salaam" jawab Husna dan terus memperhatikan Laila.
Laila melangkah seraya menundukkan wajahnya, karena santriwati dan warga menatapnya sinis. Penuh curiga dan begitu mengintimidasi.Laila masuk ke dalam rumahnya dan Raihan yang melihat masih tidak percaya Laila seperti itu.
Di rumah Maryam, Yusuf baru pulang dari masjid. Dia duduk di sofa, di ruang tamu. Bu Nurjanah keluar, melangkah pelan menggunakan tongkat nya hanya melewati Yusuf dan tidak menegur putranya itu.
” Bu" lirih Yusuf memanggil, tapi ibunya sama sekali tidak menoleh. Hari ini dua belum melihat ibunya tersenyum, Ibunya terus diam, bungkam dan tidak mau berbicara dengan siapapun.
” Abi” tegur Maryam dan Yusuf menoleh sekilas.
” Kalau hanya perdebatan dan terus perdebatan yang ingin kamu bahas, mending kamu diam atau aku yang harus pergi” tegas Yusuf, Maryam menundukkan kepalanya dan dia duduk dan tidak berani mengatakan apapun.
****
Di ibukota, Rizky terkejut mendengar kabar dari sahabatnya dan juga dari teman-temannya di pesantren atas apa yang sudah dilakukan adiknya. Air mata Rizky menetes deras, kini adiknya sendirian, menghadapi fitnah yang begitu kejam menyeretnya ke dalam kubangan orang-orang yang sibuk menyalahkannya, jika ditanya. Laila atau dirinya sendiri yang dia pilih, Rizky akan mengorbankan dirinya untuk adiknya begitu juga untuk ibunya tercinta. Adiknya sendiri, tidak memiliki siapapun, jika Yusuf saja suaminya menjauh apalagi dengan orang-orang di sekelilingnya, hanya tahu dan tidak memiliki ikatan apapun dengannya, Rizky mengusap air matanya. Tidak sanggup dia membayangkan kesedihan adiknya.
” Aku tidak percaya, adikku tidak seperti itu, Imron” tegas Rizky
” Semua orang sudah tahu, kabar sudah menyebar luas Ky. Aku juga tidak percaya adik kamu seperti itu, sekarang kita pikirkan saja bagaimana perilaku Iqbal. Mana mungkin adikmu seperti itu jika bukan akal-akalan Iqbal” Imron menjelaskan, dan Rizky mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
” Kamu benar, apa kamu mau bantuin aku Im?” Rizky tidak bisa pulang di saat-saat seperti ini, dia pun tidak akan membawa apa-apa jika pulang sekarang.
” Kalau aku bisa, aku bantuin. Aku janji”
” Nuhun Im, tolong kamu perhatikan adik aku Laila. Dari kejauhan saja, jangan sampai Iqbal melakukan hal buruk kepada Laila. Aku hanya bisa meminta bantuan sama kamu Im, nelepon ustadz Yusuf kalau keadaannya begini juga aku gak berani” pinta Rizky dan Imron menyapu sekeliling takut ada yang mendengar bahwa dia sedang berbicara dengan Rizky.
” Aku gak janji kalau untuk memperhatikan Laila, apalagi dalam keadaan seperti ini. Tapi aku janji, aku akan menjaga Iqbal dari dekat supaya dia tidak bisa mendekati Laila ataupun mencoba membuat hal baru dan menambah keruh masalah” tutur Imron menjelaskan dan Rizky paham.
” Pokoknya aku benar-benar berterima kasih sama kamu, jangan lupa kabarin aku. Aku harus kerja, assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
*****
Hari demi hari Laila lewati dengan penuh kesedihan dan duka, matanya tidak pernah baik-baik saja. Selalu bengkak karena menangis. Hari ini adalah hari ke 13 puasa. Laila sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa bersama suaminya, entah suaminya akan datang ataupun tidak Laila tetap menyiapkannya.
Waktu berbuka puasa pun tiba, Laila membatalkan puasanya dengan kurma terlebih dahulu lalu meminum teh hangat tawar. Laila melirik pintu berulang kali, terus-menerus sampai air matanya menetes kembali.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus salaam”
Kedua mata Laila berbinar begitu bahagia, melihat suaminya baru datang. Yusuf mengelus pucuk kepala Laila saat istrinya menyalami tangannya. Walaupun Laila sadar suaminya marah padanya, dia senang karena belaian lembut di kepalanya masih dia rasakan. Laila menyiapkan makanan dan dia pergi untuk melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu. Yusuf menunggu dengan setia, sampai istrinya selesai sholat untuk makan bersama. Mendiamkan Laila adalah suatu hal yang sangat menyakitkan untuk Yusuf, dia masih mencari bukti dan memberikan pemahaman kepada istrinya supaya berhati-hati dalam bergaul sekalipun hanya berhadapan dengan lawan bicara.
” Abi kenapa belum makan?” Laila yang sudah selesai sholat bingung melihat makanan suaminya masih utuh.
” Duduk, apa umi tidak mau Abi suapi? bukannya umi selalu abi suapi? selalu susah makan jika tidak disuapi?”
Laila diam, bingung tapi dia juga mau. Tapi ragu.
” Ayo” seru Yusuf dan Laila pun duduk.
Laila pun menerima saat Yusuf menyuapinya, dan terus menatap wajah suaminya itu. Yusuf tak sungkan menyuapi istrinya, dia jilat jemarinya yang sudah di gigit dan masuk ke mulut istrinya. Laila tersenyum tipis dan sama sekali tidak berhenti memperhatikan suaminya.
****
Keesokan harinya, Laila semakin tersudutkan. Teman-temannya sama sekali tidak ada yang mau mendekatinya, semua santriwati menjauh dan hanya Husna dan Hilya yang mau menegur dan menjawab teguran Laila. Salamah yang biasanya dekat pun menjauh, kecewa dengan sikap Laila dan Iqbal. Bahkan Iqbal sudah akan dijemput paksa oleh ayahnya, Yusuf dan ustadz lain sudah angkat tangan dan takutnya mereka tidak bisa menahan amarah lebih baik Iqbal dibawa ke pesantren lain, yang sekiranya memiliki peraturan lebih ketat dari pesantren Nurul Huda, dan Yusuf berharap Iqbal segera berubah.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Laila terdiam saat Yanti yang mendekat padanya, kepalanya menunduk dan takut Yanti akan menceramahi nya padahal dia tidak salah apapun tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena semua bukti benar-benar menyudutkannya.
” Umi mau kemana?”
” Laila mau belajar memanah”
” Mau saya temani?”
Yanti tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, yang dia tahu gadis polos di hadapannya tidak akan bisa melakukan itu. Dan Yanti tidak tega melihat Laila sendirian.
” Ustadzah pasti sibuk” Laila menolak secara halus, semua orang menjauhinya dan dia dekati pun tetap merasa tidak nyaman, mungkin kesendirian lah yang akan menjadi teman setia untuknya.
” Umi tidak mau saya temani?”
” Bukan begitu ustadzah, ya sudah ayo" ajak Laila akhirnya setuju. Yanti tersenyum dan meraih tangan Laila, dia genggam kuat dan Laila terus menatapnya.
****
Perdebatan terjadi di kamar santriwati, dimana ada santriwati yang melarang Laila masuk ke pondok mereka sekalipun hanya untuk bermain-main. Orang yang sudah berzina tidak bisa ditemani, tidak boleh diberikan ruang untuk bersikap seenaknya. Itulah yang mereka katakan.
” Aku yakin umi tidak salah" bentak aam kepada Fatma yang menggembar-gemborkan apa yang terjadi saat ini.
” Bukti sudah ada, jangan mendukung orang yang sudah berzina" tegas Fatma dan Aam menatapnya tajam.
Ainun terdiam, dia menuruni tangga dan pergi untuk mencari Laila. Dia ingin mendengar langsung dari Laila dan dia percaya Laila tidak seperti itu.
” Aku yakin ini hanya fitnah, kita tidak berhak menghakimi umi Laila” seru Wawat yang mulai sadar bahwa Laila tidak mungkin seperti itu.
” Bukti sudah kuat, kita tidak dibenarkan untuk membela orang yang sudah berzina karena sama saja kita dengan mereka jika mendukung mereka" imbuh Nurul.
Aam menangis, Asila juga menangis. Teman-teman Laila ingin mendekati Laila seperti biasa tapi berzina bukanlah hal yang dibenarkan.
Di tempat memanah, Laila dan Yanti berhenti setelah merasa lelah dan Yanti mengajak Laila berjalan-jalan. Udara sore ini sangat sejuk, Laila yang biasanya bawel dan banyak bertanya hanya diam dan hanya menjawab ketika di tanya.
” Umi”
” Iya ustadzah?”
” Tidak ada ujian yang lebih buruk dari sebuah Fitnah, memang tidak ada bukti yang membenarkan umi Laila tapi saya yakin umi Laila tidak bersalah, apa umi Laila bisa untuk tidak mengecewakan kepercayaan saya ini?" lirih Yanti.
” Demi Allah, Laila tidak pernah melakukan itu. Terima kasih sudah mau percaya sama Laila, suatu saat nanti saat Laila terbukti tidak bersalah. Ustadzah adalah orang pertama yang akan Laila sebut sebagai orang yang selalu menemani Laila. Hanya ustadzah satu-satunya” lirih Laila dengan kedua mata berkaca-kaca, kepercayaan dari Yanti menjadi kekuatannya untuk bertahan dan mencari keadilan untuk terbebas dari fitnah tersebut. Ustadzah Yanti tersenyum lebar.
Keduanya berbincang hangat, Laila yang mendengar Yanti menceritakan Yusuf dulu menjadi penasaran seperti apa sosok ayah Yusuf, ayah mertuanya yang sudah tiada itu.
” Ustadzah apa Laila boleh bertanya?”
” Tentu saja”
” Emmm, seperti apa sosok ayah Zainul Hasan ayah dari ustadz Yusuf?” Laila bertanya, dia juga pernah mendengar tentang ayah Yusuf yang ingin menikahi Maryam tapi Yusuf yang menikahinya, bahkan Laila juga mendengar saat itu Yusuf sedang di incar oleh seorang kiyai untuk di jadikan suami dari putrinya.
Yanti tersenyum mendengarnya.
” Almarhum sangat tampan, tinggi besar, baik. Tidak jauh-jauh dari sosok ustadz Yusuf sekarang, namun ustadz Yusuf lebih tampan dan gagah. Ustadz Yusuf sangat pintar seperti Almarhum ayahnya, orang-orang bahkan sering memanggil ustadz Yusuf ustadz Zainul Yusuf karena rupanya hampir sama, kewibawaan dan ilmu agamanya yang sering dibanding-bandingkan" Yanti pun menjawab pertanyaan Laila, Laila tersenyum dan dia sudah tidak penasaran lagi. Jika Maryam pernah menyukai mertuanya di masa lalu.
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘