Catherine merasa sangat beruntung memiliki ayah tiri sebaik Agus. Jika banyak berita tentang ayah tiri yang melecehkan anak tirinya, itu tidak terjadi pada Catherine!
Agus benar-benar menyayangi nya seperti anak kandung sendiri, menjaganya seperti anak kandung sendiri. Hingga kemudian, di usianya yang ke dua puluh tahun, Catherine sadar dan paham kenapa ayah tirinya itu begitu menjaganya agar tetap utuh!
Ia dijodohkan paksa dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah ia kenal, seorang pengusaha tekstil kaya raya yang usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun!
Duda dengan anak satu itu akhirnya resmi jadi suami Catherine! Lalu bagaimana dengan nasib pacar Catherine, si calon dokter itu? Dan bagaimana Catherine menjalani hari-harinya?
Simak terus kisahnya ya ...
Jangan lupa mampir ke "Cinta Jas Putih" dan "COMPLICATED" ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Sensitif
"Mas ...." rintih Catherine setelah ia sukses menumpahkan semua isi perutnya pagi itu.
Rama bergegas masuk ke dalam kamar mandi, menemukan Catherine bersandar di bathtub dengan wajah pucat.
"Astaga, sini Sayang." Rama bergegas menggendong tubuh lemah Catherine itu. Wajahnya begitu pucat, membuat Rama begitu iba.
"Tidur di sini sebentar, aku telpon Dokter Rizal." guman Rama setelah membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Ia bergegas merogoh Smartphone miliknya, lalu menghubungi Dokter Rizal, Obsgyn kepercayaan Rama itu.
Catherine tidak banyak bicara lagi, ia memejamkan matanya. Rasanya benar-benar lemas tubuhnya. Perutnya masih terasa mual. Begini amat sih rasanya hamil? Kenapa beberapa orang bisa santai, bisa tetap lancar aktivitasnya? Kenapa ia tidak bisa seperti mereka?
"Saya tunggu ya, Dokter." guman Rama lalu mematikan Smartphonenya, ia kembali duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan istrinya.
"Makan dulu mau ya? Dikit aja?" bujuk Rama dengan lembut
Catherine hanya menggeleng lemah, rasanya ia tidak ingin makan apapun. Perutnya masih tidak bisa diajak kompromi. Rama hanya menghela nafas panjang, ia mengelus kepala Catherine lalu kembali merogoh Smartphonenya.
"Din, saya nggak masuk hari ini. Saya pantau semua dari rumah ya, handle dulu semuanya." guman Rama pada sekretaris pribadinya itu.
"Lho Mas nggak kerja?" Catherine akhirnya bersuara, ia membuka matanya menatap Rama yang masih duduk di tepi ranjang.
"Gimana bisa kerja kalau kamu kayak gini sih?" Rama menatap manik mata itu. "Daripada aku nanti nggak konsen karena kepikiran kamu terus ya lebih baik aku pantau semua dari rumah, sambil nungguin kamu."
Catherine tersenyum, hatinya benar-benar tersentuh dengan laki-laki satu ini. Mata Catherine memanas, kemudian bulir bening itu meleleh dari matanya.
"Kok nangis?" Rama dengan lembut menghapus air mata itu, kemudian mencium kening istrinya.
"Terimakasih banyak." gumannya sambil menyeka air mata.
"Untuk apa sih? Kenapa harus berterimakasih?"
"Untuk semua cinta dan kasih sayangmu."
***
"Sudah minum obatnya kan? Sekarang ayo makan." guman Rama lalu menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk itu ke depan mulut Catherine.
"Aku makan sen ...,"
"Sudah, biar Mas yang suapin." Rama menatap dalam-dalam mata istrinya lalu tersenyum.
Catherine hanya mengangguk, lalu membuka mulutnya dan mulai mengunyah nasi itu. Matanya menatap wajah Rama, wajah yanh dulu sangat tidak ia sukai itu, kini menjadi wajah yang begitu ia rindukan, menjadi alasannya tetap merasa aman dan nyaman.
"Makan yang banyak, vitaminnya jangan lupa di minum. Kalau kepengen apa-apa bilang ya, jangan cuma diam aja." cerocos Rama sambil kembali menyodorkan sendok itu ke depan mulut Catherine.
Catherine hanya mengangguk, ia tidak lagi banyak membantah. Sebaik ini ternyata laki-laki yang menjadi suaminya itu? Catherine benar-benar tidak menyangka sebelumnya. Ternyata benar kalimat yang dulu pernah ia dengar, bahwa 'Menikahlah dengan orang yang mencintaimu, karena apapun itu akan ia lakukan untuk membuat kamu, orang yang ia cintai, selalu bahagia.'
Dan itu benar-benar terjadi, Rama benar-benar melakukan semua hal untuk membahagiakan dirinya, membuatnya merasa aman, nyaman dan selalu terlindungi.
Tuhan sudah sangat baik padanya, dan ia tidak boleh menyia-nyiakan semua yang Tuhan beri padanya ini bukan? Catherine memang sudah menerima semua takdirnya ini, dan doanya semoga laki-laki jauh di sana, yang dulu pernah mengisi hatinya itu juga bisa menerima takdirnya, menemukan pengganti dirinya.
***
"Pah, kapan adeknya lahir?" Ayesha memburu Rama yang keluar sambil membawa nampan itu, sebenarnya ia bisa menyuruh pekerja dirumah nya bukan? Kenapa malah semua ia lakukan sendiri? Entahlah, jika berurusan dengan Catherine dan semenjak ia hamil ini rasanya Rama ingin ia sendiri yang mengurus semua keperluan istrinya itu.
"Sembilan bulan lagi, kenapa sudah tidak sabar ya?" tanya Rama sambil tersenyum.
Ayehsa hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah papanya turun ke lantai bawah.
"Besok Ayesha boleh gendong adik kan, Pah?"
"Boleh dong, asal hati-hati ya? Nanti bantuin mama jaga adik juga, kan Yesha kakak yang baik." Rama menyerahkan nampan itu pada salah satu pekerja dirumahnya yang langsung tergopoh-gopoh mendekatinya setelah melihat Tuan-nya itu turun sambil membawa nampan.
"Laki-laki atau perempuan adik Ayesha nanti?" tanya Ayesha penasaran.
"Belum tahu, Ayesha mau perempuan atau laki-laki?" tanya Rama kemudian membawa Ayesha dalam gendongannya.
"Dua-duanya mau! Yang penting Ayesha punya adik, jadi Ayesha ada teman main di rumah, Pah." gumannya sambil memeluk papanya.
"Iya sayang, mau lihat mama?" tanya Rama lalu kembali naik ke atas.
"Mau, Yesha bobok siang sama mama boleh?"
Rama hanya tersenyum dan mengangguk kemudian membuka pintu kamar dan mendapatkan Catherine masih berbaring di atas sana. Melihat ada Ayesha, Catherine sontak bangun, lalu tersenyum.
"Hai, sini sama mama, Sayang?" gumannya sambil merentangkan kedua tangannya.
Ayesha tersenyum, lalu memeluk Catherine erat-erat ketika Rama sudah membawanya naik ke atas ranjang.
"Adik apa kabar?" gumannya sambil mengelus perut Catherine.
"Dia baik, Sayang." mata Catherine berkaca-kaca, Ayesha sangat bahagia dan antusias dengan kehamilannya ini. Membuat ia terharu. Kenapa ia jadi cengeng seperti ini sih? Sejak tadi terus menitiksn air mata.
"Mama kok nangis? Ada apa?" tanya Ayesha yang menyadari mamanya itu menitikkan air mata.
"Mama bahagia, Ayesha sayang sama adik." Catherine meraih gadis itu dalam dekapannya, sungguh sempurna bukan apa yang ia miliki?
"Ayesha juga sayang sama mama papa, jangan nangis lagi ya, Ma."
***
"Sudah lebih enak kan?" Rama tersenyum ketika malam ini Catherine sudah bisa turun dan bergabung di meja makan.
"Sudah, terimakasih ya, Mas." setelah diterapi obat oleh Dokter Rizal, mual dan muntah Catherine sudah berkurang frekuensinya. Ia bisa kembali makan dengan normal.
"Sama-sama, makan yang banyak, atau mau makan apa? Pesan online mau?"
Catherine menggelengkan kepalanya, semua yang ada di meja makan ia rasa sudah cukup. Lagipula ia merasa tidak ingin makan apa-apa lagi, maksudnya tidak ingin sesuatu macam orang ngidam gitu. Ia kembali menyuapkan makanannya, harapannya adalah semoga sampai lahiran nanti semuanya lancar, tidak banyak drama.
"Ayesha nanti masih dapat jatah dibacain buku cerita sebelum bobo kan mah?"
"Masih dong, nanti mau dibacain cerita apa?" Catherine tersenyum, menatap Ayesha yang duduk disampingnya itu.
"Tentang Maleficent boleh?" mata Ayehsa berbinar, senyumnya mengembang di wajahnya.
"Boleh, nanti mama bacain."
"Makasih banyak, ma. Besok gantian deh nanti Ayesha bantuin mama bacain dongen adik sebelum bobo." ujarnya bersemangat.
"Memang Ayesha mau?" Rama tersenyum, rasanya sangat bahagia melihat keakraban mereka.
"Mau dong, kan udah janji kalau punya adik mau bantuin jaga."
Rama dan Catherine saling pandang, senyum mereka merekah. Kebahagiaan itu sudah di depan mata, dan semoga tidak ada yang merusaknya. Semoga ....