Kehidupan Salman yang awal mula normal perlahan mulai berubah menjadi ketegangan saat salah satu dari keluarga angkatnya melakukan perjanjian dengan makhluk gaib untuk bisa mendapatkan kelancaran dalam usahanya.
Dampaknya tak lama langsung terjadi setelah sekutunya meninggal dan dan menjadi pocong bermata merah dan terus menghantui semua orang, bahkan ingin mengajak Bu Yun pelaku yang sebenarnya.
Bagaimana ceritanya, apakah Bu Yun akan bisa melawan pocong itu dan selamat? atau malah mungkin sebaliknya? Apakah Salman bisa membantu Bu Yun untuk selamat?
Ikuti perjalanan cerita Salman....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Rumah
Happy Reading...
...****************...
Kesedihan begitu besar dari seluruh keluarga Koh Fei. Kepergian bu Yun seakan-akan menyita semua kebahagiaan mereka yang di lalui selama ini.
Kenapa rasanya begitu cepat, rasanya begitu singkat kebersamaan mereka semua.
Kebahagiaan yang terjadi beberapa hari yang lalu kini terasa luntur dan ikut dengan kepergian bu Yun. Tulang rusuk untuk keluarga itu.
Semua pelayat sudah berdatangan, tenda-tenda juga sudah di dirikan tentunya ada bendera putih yang sudah berkibar di depan rumah meski jenazah bu Yun belum kembali dari rumah sakit.
Semua keluarga besar juga para tetangga sudah berbondong-bondong datang dan kini rumah yang biasanya ramai dengan suara mesin-mesin kayu saja sekarang ramai akan para pelayat yang saling mengucapkan rasa bela sungkawa kepada Deri juga anak yang lain yang menunggu di rumah. Sementara yang ikut ke rumah sakit hanya Koh Fei juga Anton.
Tangisan duka terus menggema dan semakin keras kala mobil jenazah datang. Perhatian semua tersita dan semua orang berbondong-bondong mendekat untuk membantu menurunkan jenazah.
Perlahan pintu terbuka, dan saat itu terjadi sesuatu yang sangat tidak di inginkan. Tercium aroma busuk yang begitu menyengat dari dalam mobil jenazah.
Jelas, semua orang langsung menutup hidung dan langsung menjauh karena tak mau menghirup aroma tak sedap yang ikut datang bersamaan dengan jenazah bu Yun.
Ada apa ini? kenapa bisa seperti ini?
semua tetangga saling lempar pandang, saling lempar asumsi yang tidak baik tentang bu Yun. Meski mereka tidak tau apa yang terjadi tapi tetap saja apa yang terjadi sudah menjelaskan bahwa pandangan mereka itu benar.
"Astaghfirullah, bau sekali," celetuk seorang yang begitu berani. Tak dia memikirkan hati keluarga sebelum dia mengeluarkan kata-kata itu.
Yah! memang yang dia katakan adalah kenyataan dan itulah yang terjadi sekarang. Tapi apakah perlu di jelaskan dengan perkataan juga?
Kata-kata itu jelas membuat keluarga semakin sedih. Mereka tidak tau apa-apa tapi mereka ikut merasa malu. Seakan semua juga ikut terhina.
"Iya, bau sekali. Entah apa yang di lakukan semasa hidupnya. Mungkin dia memakai pesugihan kali ya. Nyatanya usahanya saja langsung kembali naik dalam waktu singkat."
Emang ya, mulut emak-emak rempong itu lebih pedas daripada cabe. Pedasnya cabe di kasih air hilang dampak dari pedasnya. Tapi pedasnya karena sebuah omongan itu akan selalu di ingat dan akan membekas dalam waktu yang sangat lama.
"Permisi, maaf. Tolong jangan berkata yang bisa menyakiti hati keluarga. Mereka sedang berduka jangan di tambah lagi dengan omongan yang terkesan menghakimi," kata seseorang yang lebih bijak dalam mengatasi suatu keadaan.
"Heh," memang tidak menjawab dengan kata yang panjang lebar tapi ibu tadi malah menyungging sinis begitu saja seperti tak suka mendapatkan teguran.
Bahkan orang itu langsung minggir, dia menjauh dan berpindah di tempat paling belakang. Kenapa tidak pulang saja kalau dia tidak senang berada di sana, benar begitu kan?
Perlahan jenazah di turunkan dari mobil. Upacara-upacara yang lainnya juga harus di lakukan sebelum akhirnya di bawa ke pemakaman untuk di istirahatkan.
Lagi-lagi kejadian yang tak diinginkan terjadi. Jenazah Bu Yun terasa sangat berat sampai-sampai beberapa orang yang mengangkat tidak kuat.
Istighfar juga takbir bergantian terucap dan terus menerus mengiringi usaha mereka semua untuk mengangkat jenazah bu Yun.
Pastilah akan semakin nyinyir orang-orang yang tidak menyukainya. Ucapannya akan semakin pedas dan itu akan sangat membekas bagi keluarga.
Dengan segenap usaha akhirnya bisa berhasil. Jenazah bu Yun bisa di bawa masuk ke rumah dan melakukan upacara-upacara yang memang sudah menjadi seharusnya.
Tak banyak yang tinggal, karena semua lebih memilih pulang dan menjauh karena tak tahan dengan bau yang semakin menyengat.
"Kenapa bisa seperti ini, Bu?" gumam koh Fei yang begitu sedih.
Sedih karena di tinggal teman hidup untuk selamanya dan sekarang harus di tambah dengan kesedihan karena apa yang telah terjadi.
Jika saja koh Fei tau apa yang membuat semua ini terjadi mungkin dari awal tidak akan dia biarkan. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah jalannya, inilah takdirnya.
"Yang kuat ya, Koh," ucap salah satu dari pelayat.
"Yang sabar, yang ikhlas dan serahkan semua kepada Sang Pencipta." kata yang lain lagi dan koh Fei hanya mengangguk lemah.
...****************...
Bersambung...