Setelah lebih dua tahun menjalankan pernikahan dengan lelaki yang tak pernah mencintainya, akhirnya Sherin Mumtaza menyerah. Ia putuskan untuk membatasi kesabarannya karena menyadari bahwa cinta Alarick William—sang suami— tak akan pernah bisa,ia genggam selamanya.
Tapi di saat langkahnya mantap untuk meninggalkan segala harap yang tertuang dalam doa permohonan, Sherin dihadapkan pada sebuah kenyataan yang membuat langkahnya harus berhenti dan tetap memilih bertahan.
Quinsha Daneen—sahabat Sherin—juga mengalami kisah cinta tak jauh beda darinya. Hampir dua tahun ia menyebut nama Bayhaki Arfan dalam doanya, tapi berakhir dengan lelaki itu melabuhkan hati pada satu nama, yang bukan namanya.
Di saat bersamaan, hadir seorang Rafardhan Malik yang seolah datang sebagai penawar luka. Namun sebenarnya, artis muda terkenal itu, hanya ingin membawa Quinsha dalam pusaran luka di masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tak Bertuan 32
Setelah mendapatkan balasan chat dari manajer Rafardhan terkait lokasi Cafe yang mereka pilih sebagai tempat bertemu, Quinsha segera menghampiri pak Dimas yang sudah menunggunya untuk mengantar pulang.
“Pak Dimas, pulang duluan ya, saya masih ada acara!”
“Loh, ada acara apa, Non?”
“Ada janji sama teman, Pak. Dan saya sudah ijin umi juga,” terang Quinsha.
“Oo, ya wes. Kalau gitu saya pulang dulu, Non,” pamit pak Dimas, yang segera mendapat anggukan dari Quinsha. Gadis cantik berhijab itu lalu memanggil taksi untuk mengantarnya ke tempat yang dituju, setelah pak Dimas dan mobilnya berlalu.
Setibanya di kafe, Qhinsha duduk manis menunggu. Ia membunuh waktu dengan segelas minuman dan sebuah buku bacaan.
Sudah lima bab, dari satu judul novel yang ia baca. Dan minuman dingin yang dipesannya juga sudah tersisa hampir separuhnya. Tapi yang ditunggu belum juga tiba.
Kembali Quinsya melihat jam tangannya, ternyata sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati bersama. Quinsha mendesah berat, ada rasa kesal yang mulai menyelinap.
‘Bukannya seorang artis besar itu sangat menghargai waktu ya, kenapa mereka malah terlambat begini’ Monolog Quinsha dalam hati.
Dibawanya kembali sepasang matanya meneliti setiap tulisan dari novel yang dipegang, yang telah menjadi teman pengusir suntuk dalam penantian. Hingga kemudian terdengar notifikasi dari ponsel genggam, gegas Quinsha memerhatikan.
Kami akan sedikit terlambat, maaf.
Itu chat singkat dari Adam, yang membuat Quinsha menarik napasnya dalam. ‘Begini kali ya, kalau ingin bertemu dengan artis terkenal? Harus penuh perjuangan. Berlelah-lelah dalam penantian’ Quinsha tersenyum sendiri di akhir monolognya. Senyum menghibur diri, yang rupanya harus kembali bersabar menanti.
“Gak papa ditunggu aja, selagi keterlambatan mereka masih bisa ditolerir,” putusnya. Dan kembali menyibukkan diri dengan membaca. Begitu cermatnya Quinsha membaca setiap untaian kalimat indah yang membentuk kisah dari novel itu, hingga luput dari penglihatannya, akan adanya beberapa orang, dari sesama pengunjung kafe yang tengah melihat Quinsha dengan pandangan menyelidik lalu satu sama lain saling berbisik. Hingga kemudian.
“Siang, Mbak,” sapa seorang perempuan yang berdiri di depan Quinsha. Barulah atensi gadis itu beralih dari novel yang tengah dibaca, dan menatap pada perempuan yang sudah menyapa. Ada tiga orang gadis muda yang sepertinya seumuran, berdiri di depannya dan sama-sama menatap Quinsha dengan seksama.
“Siang,” sambut Quinsha dengan tatapan tak lepas, mengimbangi ketiga orang di depannya yang juga menatapnya lekat.
“Mbak ini pacarnya Rafardhan ‘kan?”
Satu pertanyaan singkat yang terucap dari salah satunya segera membuat Quinsha tercekat. “Ee—“ ia bahkan tak diberi kesempatan untuk menjawab, karena perempuan yang lain juga berucap.
“Aku liat mbak, di majalah bersama Rafardhan.”
“Iya, berita tentang Mbak dan Rafardhan juga ada di tv,” timpal perempuan yang satunya.
“Mbak kenal Rafardhan di mana?” pertanyaan yang satunya datang lagi.
“Apa Mbak putrinya kyai? Katanya Rafardhan itu punya hubungan dengan anak kyai?”
“Ee saya—“ dan lagi-lagi Quinsha tak diberi kesempatan untuk menjawab. Dia hanya diberondong dengan pertanyaan tapi tak memberi waktu untuk mendengarkan jawaban. Kesal, tentu saja itu yang ada dalam diri Quinsha sekarang. Apalagi kemudian dilihatnya orang-orang semakin banyak berdatangan, dan mereka mengarahkan kamera ponsel pada Quinsha. Gadis itu segera beranjak dari duduknya untuk pergi saja dari sana.
Akan tetapi tak semudah yang dipikirkan, karena orang-orang itu berada di semua arah seakan tak memberi jalan. Quinsha pun mulai dilanda kepanikan. Ditambah lagi pertanyaan mereka yang terkesan menyudutkan.
Sungguh, situasi seperti ini tak pernah ada dalam bayangan Quinsha. Tanpa sadar atau tanpa sengaja, dia terseret dalam kehidupan artis terkenal yang setiap inchi dari kehidupannya selalu menjadi pemberitaan.
Sudah tak terhitung berapa dakwaan yang ia terima terkait foto yang tak sengaja diambil oleh para wartawan pada waktu itu. Dan yang paling ekstrem adalah sekarang, di mana ia dikepung oleh para fans Rafardhan, diberondong dengan beberapa pertanyaan dan tak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam situasi yang semakin kacau balau, tiba-tiba saja terdengar ucapan bernada lantang.
“Maaf ya, kalian semua salah orang. Dia bukan pacarnya Rafardhan, tapi dia calon istri saya.”
Semua pasang mata, tak terkecuali Quinsha sama-sama mengarah pada asalnya suara, terlihat seorang pemuda tampan menerobos kerumunan dan menghampiri Quinsha. “Arfan?” suara lirih Quinsha seakan tak percaya. Entah dari mana datangnya, Bayhaki Arfan tiba-tiba saja sudah ada di kafe itu juga dan menjadi Dewa penyelamat bagi Quinsha.
Arfan mengangguk samar. “Ayo Sha, kita pergi dari sini!” ajaknya dan satu tangannya segera meraih tangan Quinsha, menggandengnya keluar dari barikade para penggemar Rafardhan. Mereka sama-sama melihat langkah keduanya yang saling menautkan tangan.
msh stia menunggu kisan Meidina & Irfan Arafka Wafdan,, Davinna & Ra Fattan..
aq nunggu kelanjutanya lho