Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kasus Pembunuhan.
...~•Happy Reading•~...
Seminggu kemudian》
Setelah kedatangan Richo dan teman-temannya seminggu yang lalu, rumah Ambar terasa tenang karena tidak ada gangguan dari keluarga Rulof.
Seperti pagi ini, Ambar bersama Juha dan Seni bisa sarapan dengan tenang. Mereka bersyukur, sudah satu minggu lebih, tidak ada gangguan dari keluarga Alm. Rulof. Hal itu memang menenangkan lingkungan rumah Ambar, tetapi tidak dengan hatinya.
Terutama ketika mengingat perilaku Richo, suami Inge. Ambar selalu bergidik jika mengingat atau mendengar nama Richo. Tatapan dan perilakunya sangat berbeda saat Rulof masih hidup.
Ambar merasa dia selalu dimata-matai ketika berada di luar rumah. Sehingga dia jarang berada di luar rumah, apalagi sekarang sedang cuti kerja. Jika tidak urgent Ambar lebih sering di dalam rumah.
Ambar sering mengajak Juha untuk belajar di kamarnya, atau bermain di ruang tamu sambil menonton TV. Dia khawatir membiarkan Juha bermain di luar rumah.
"Seni, beli saja sayur dan ikan atau ayam di tukang sayur, ya." Ambar menyerahkan uang kepada Seni. "Iya, Bu." Seni mengambil uang yang diberikan.
Tiba-tiba ponsel Ambar berdering. Ketika melihat nama Mathias, Ambar langsung merespon.
"Hallo, Pak Mathias. Selamat pagi." Sapa Ambar.
"Pagi, Bu Ambar. Ada di mana?" Tanya Mathias.
"Saya sedang di rumah, Pak." Jawab Ambar.
"Ooh, Bu Ambar tidak kerja hari ini?" Tanya Mathias lagi, karena pikirnya Ambar sudah bekerja lagi.
"Saya sedang cuti, Pak." Jawab Ambar. Dia merasa tidak enak kepada Mathias, karena tidak memberitahukan perkembangan kondisi rumah setelah kedatangan keluarga Rulof.
"Saya kira Ibu sedang kerja. Jadi bisa mampir ke kantor untuk bicarakan mobil, karna mobilnya sudah dibeli." Mathias menjelaskan tujuannya menelpon.
"Ooh. Iya, Pak. T'rima kasih." Ambar jadi tenang dan senang.
"Kalau Ibu di rumah, nanti asisten saya ke sana untuk serahkan surat-surat dan uangnya. Atau uangnya mau ditransfer?" Tanya Mathias, mengingat banyaknya uang yang harus dibawa oleh Bagas dengan motor.
"Sementara ini, asisten bapak jangan ke rumah saya dulu, Pak. Biarkan semuanya di tempat Pak Mathias, karena saya sedang diawasi. Supaya mereka tidak tahu, asisten bapak yang menjual mobilnya." Ambar menjelaskan yang dirasakan.
"Siapa yang mengawasi anda? Kenapa tidak kasih tahu saya?" Mathias terkejut, sebab tidak menyangka
"Maaf, Pak. Saya tidak kasih tahu, karna hanya perasaan saya saja, kalau sedang diawasi. Mereka tahu yang saya lakukan, seperti ke kantor Mas Rulof, contohnya." Ambar merasa bersalah tidak memberitahukan Mathias.
"Tidak apa-pa, kasih tahu saja, supaya saya juga tau. Terus sekarang bagaimana, apa mereka tidak datang buat ribut lagi?" Tanya Mathias serius.
"Setelah mobil dibawa, besoknya mereka datang seperti yang Pak Mathias bilang. Mereka marah dan sejak itu, mereka tidak pernah datang lagi. Tapi saya menjadi khawatir, karna terlalu tenang." Ucap Ambar khawatir.
"Iya, saya mengerti. hati-hati! Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya." Mathias mengakhiri pembicaraan setelah Ambar mengiyakan yang diminta.
Tidak lama kemudian, Seni pulang membawa belanjaan dari tukang sayur. Ambar membantu menyiapkan masakan untuk makan siang.
Tiba-tiba terdengar bunyi pagar diketok. "Seni, tolong lihat siapa yang datang." Seni segera keluar untuk melihat, siapa yang datang. Beberapa saat kemudian, Seni kembali dengan wajah bingung dan cemas.
"Bu, ada polisi di luar membawa surat panggilan kepada Ibu. Apakah saya buka pagar?" Tanya Seni, khawatir.
"Polisi? Iyaa, buka saja. Biarkan mereka duduk di teras. Ibu mau ganti baju." Ambar jadi panik.
Kemudian Ambar keluar menemui polisi yang sedang duduk di teras. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ambar sopan.
"Selamat pagi Bu, kami dari kepolisian bawa surat panggilan dan mau menjemput Ibu untuk kasus pembunuhan." Polisi menyerahkan surat panggilan kepada Ambar.
"Pembunuhan? Pembunuhan siapa dan siapa yang melapor?" Tanya Ambar bingung.
"Ibu ikut kami ke kantor polisi, akan dijelaskan di sana." Polisi berdiri dan menjelaskan.
"Kalau begitu, tunggu, Pak. Saya mau kasih tahu anak saya." Ambar segera masuk dan naik ke kamar Juha. Sambil berjalan, Ambar memberikan kode agar Seni mengikutinya.
"Seni, saya mau ke kantor polisi, tolong jaga Juha. Siapa pun yang datang jangan buka pintu. Bukan pintu pagar saja yang di kunci, tetapi juga pintu rumah. Ini uang, kau pegang." Ambar mengeluarkan uang dari dompetnya.
Kemudian dia mengambil kertas Juha dan menulis nomor telpon Mathias. "Nomor ini, kau pegang untuk berjaga-jaga. Jangan ditelpon, tapi kirim pesan saja, bilang kau ART Ibu Ambar. Kasih tahu yang terjadi, jika dua jam saya belum pulang ke rumah." Ambar menjelaskan sebisanya kepada Seni, lalu pamit kepada Juha.
"Juha, dengar dan ikut yang dikatakan Mba' Seni, ya? Jangan lupa berdoa untuk Mama." Ambar memeluk putranya erat. Dia mengambil tas lalu turun menemui polisi yang sedang menunggu.
Sesampai di kantor polisi, Ambar terkejut melihat semua keluarga Rulof ada di sana dan juga wanita itu. Ambar masuk ke kantor polisi tanpa memperdulikan mereka. Ketika ditanya polisi tentang kematian Rulof, Ambar terkejut. Dia cepat berpikir, mereka sedang menuduhnya membunuh Rulof.
"Maaf, Pak Polisi. Saya tidak akan menjawab sebelum ada pengacara bersama saya." Ambar sangat was-was, tapi mencoba tenang.
"Baik, kami akan sediakan pengacara untuk dampingi Ibu." Polisi yang ada di depannya berkata, lalu melihat salah satu polisi yang sedang berdiri dan yang tadi menjemputnya.
"Terima kasih, Pak. Tapi tidak usah, saya punya pengacara sendiri. Saya akan hubungi untuk datang dampingi saya." Ambar terus mencoba tenang dan yakin. Dia melihat, polisi berdiri terkejut dan melihat ke arah keluarga Rulof yang sedang duduk dalam ruangan itu.
Ambar mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mathias sambil berdoa dalam hati, semoga Mathias tidak sibuk sehingga bisa menerima panggilannya.
Ketika Mathias merespon, Ambar memegang dadanya dengan kuat.
"Maaf, Pak. Saya mengganggu." Ucap Ambar pelan dan terbata-bata
"Tidak mengapa Bu. Ada apa?" Tanya Mathias, karena mendengar suara Ambar yang berbeda.
"Pak, saya sekarang ada di kantor polisi X, karena saya dituduh membunuh."
"Whaattt...? Jangan katakan apa pun, sampai saya tiba. Tunggu saya di situ." Mathias terkejut, lalu memotong ucapan Ambar.
Kemudian Ambar kembali duduk diam, tidak memperdulikan keluarga Rulof yang sedang kasak kusuk. "Pak Polisi, maaf. Saya harus menunggu pengacara saya." Ucap Ambar kepada polisi yang ada di depannya.
"Iyaa, Bu. Kami tunggu." Ucap polisi.
"Katanya tidak punya uang, tapi bisa bayar pengacara. Membunuh anak saya untuk menguasai hartanya." Mama Rulof emosi, namun Ambar mengabaikan ucapannya.
Dia hanya berdoa dalam hati untuk perjalanan Mathias, semoga lancar hingga bisa tiba di kantor polisi dengan cepat dan selamat. Hanya itu yang menjadi harapannya, mengingat Juha putranya.
'Keluarga Rulof benar-benar keterlaluan, terutama Mama Rulof. Tidak ingat cucunya ada di rumah sendiri. Bagiamana jika terjadi sesuatu dengannya.' Ambar membatin dengan hati teriris, sakit.
Berapa lama kemudian, Mathias masuk ke ruangan interogasi sambil memegang helm dan di antar oleh seorang polisi. Ambar langsung berdiri dan menyalami Mathias dengan hati lega.
Ketika melihat Ambar berdiri menyalami Mathias, keluarga Rulof tertegun dan membeku.
...~●○♡○●~...