(Perhatian! Cerita ini mengandung beberapa adegan kekerasan dan dewasa! Mohon bijak untuk membaca)
Alexander Wijaya, seorang pria berdarah dingin dan kejam. Tidak pernah tertarik dengan wanita manapun bahkan yang cantik dan sexy sekalipun. Yang ada di dalam pikirannya hanya ada balas dendam..
Namun siapa yang mengira, saat dirinya menculik seorang gadis bernama Anna Elizabeth Pratama, anak dari musuh besarnya. Gairah di dalam tubuhnya tiba-tiba muncul saat berada di dekat gadis itu. Padahal selama ini wanita manapun tidak pernah bisa membuatnya bergairah.
Lalu bagaimanakah dengan balas dendamnya??
Apakah dia akan menyerah dan bertekuk lutut pada gadis itu??
Atau dia akan tetap bersikeras membalaskan dendamnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Maria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Call My Name!
Alex menghampiri Roy dan Mr. Felix yang sedang berbincang.
"Selamat malam Mr. Felix" sapa Alex.
Seketika pembicaraan Roy dan Mr. Felix terhenti karena kedatangannya.
"Hey Selamat malam Alex" ujar Mr. Felix.
"Roy sudah berbicara denganku tentang rencana pembuatan penthouse di ibu kota. Jujur aku sangat tertarik dengan ide ini. Bisnis properti pada saat ini sedang digandrungi. Membuatnya di pusat ibu kota pasti akan menarik perhatian" ujar Mr. Felix.
Roy tersenyum bangga sambil menatap Alex.
Alex pernah menceritakan ide kerjasama ini dengan Roy. Dan sekarang secara tidak langsung Roy membantu mempermudah rencana Alex untuk mewujudkannya.
Memang Alex sedang mengincar investor seperti Mr. Felix untuk bekerjasama dengannya. Dan sepertinya Mr. Felix sudah tertarik dengan rencananya.
"Aku berharap ide ini akan segera terwujud" ujar Alex.
Mr. Felix menganggukkan kepalanya pada Alex.
"Benar, mari kita wujudkan ide brilian ini. Ayo kita bicarakan di tempat yang sedikit tertutup" ajak Mr. Felix pada Alex dan Roy.
Alex menatap Anna dari kejauhan. Dia sedikit cemas meninggalkan gadis itu sendirian disana.
Tapi jika dia menolak ajakan Mr. Felix, itu akan membuat kesan yang buruk untuknya.
"Ayo!" ajak Mr. Felix.
Dengan terpaksa Alex mengikuti langkah Mr. Felix dan meninggalkan Anna yang masih berdiri di tempatnya.
Roy menatap arah pandang Alex yang menatap Anna dari kejauhan. Roy tersenyum dalam hatinya, lalu tangannya dengan cepat merangkul pundak Alex.
"Tenang saja, dia bukan anak kecil yang akan tersesat.. Sepertinya kau tidak ingin jauh-jauh dari gadis itu. Apakah kau mulai menyukainya?" goda Roy pada Alex sambil tersenyum meledek.
Alex menatap tajam pada Roy,
"Tutup mulutmu!!" ujar Alex tajam.
"Hahahaha" tawa Roy pecah seketika.
Mereka pun berjalan mengikuti Mr. Felix ke sebuah ruangan untuk membicarakan kerjasama mereka.
Selama di dalam ruangan, Alex tidak fokus dengan pembicaraan yang mereka bahas. Pikirannya tertuju pada Anna. Ada kecemasan yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Sepertinya meninggalkan gadis itu sendirian disana bukanlah ide yang bagus.
Roy diam-diam memperhatikan gelagat Alex. Walaupun Alex terlihat datar seperti biasanya. Namun Roy masih bisa melihat ada raut keresahan dari wajahnya. Apakah dia sedang mengkhawatirkan gadis itu?
Entah mengapa Roy merasa senang melihat tingkah Alex kali ini. Dia hanya berharap dinginnya hati Alex perlahan akan mencair.
"Kurasa kita sudah mendapat kesepakatan. Kalau begitu kita bisa bicarakan detailnya lain kali Mr" ujar Roy pada Mr. Felix.
Dia memilih untuk segera mengakhiri pembicaraan ini. Roy mengerti keresahan yang dirasakan Alex saat ini. Dia ingin tau apa yang akan di lakukan pria dingin itu saat bertemu dengan gadis tawanannya nanti.
"Baiklah.. Pembicaraan ini cukup memuaskan. Kita akan atur perencanaannya nanti. Kalau begitu silahkan nikmati lagi pestanya" ujar Mr. Felix pada Alex dan Roy.
Roy dan Alex melangkah keluar dari ruangan. Alex berjalan cepat ke tempat dia meninggalkan Anna tadi. Pandangan tajamnya menelisik ke setiap arah. Gadis itu sudah tidak ada di tempatnya!! Sial!! Gadis itu sudah di peringati namun tidak mendengarkan perkataannya!!
Alex dengan marah mencari keberadaan Anna. Sialan!! Jika gadis itu berani kabur, aku tidak akan mengampuninya, kesal Alex dalam hatinya.
Alex terus mencari dan memperhatikan setiap orang yang ada di pesta ini. Disini terlalu banyak orang menurutnya. Akan sedikit sulit untuk menemukan gadis itu.
Entah mengapa perasaan cemas menghantui pikirannya. Sial!! Dia harus segera menemukan gadis itu.
Seketika Alex mengeluarkan handphone di sakunya. Dia baru ingat, saat turun dari mobil tadi, dia menyimpan chip kecil di gaun belakang gadis itu agar mudah melacaknya jika saja gadis itu mencoba untuk melarikan diri darinya.
Alex menatap layar handphonenya. Titik merah yang menandakan keberadaan gadis itu menunjukkan ke arah lantai 2. Untuk apa gadis itu berada disana? pikir Alex.
Alex dengan segera mengikuti kemana titik itu berada.
-
Anna menatap sepatu seseorang yang berdiri di hadapannya. Pria itu menyeringai melihat keadaan Anna yang terlihat lemas dan kepanasan.
Anna mengangkat wajahnya dan melihat pria yang tadi menabraknya sedang berdiri di depannya.
"Hai.. Kita bertemu lagi" ujar pria itu tersenyum penuh arti pada Anna.
Pria itu berjongkok dan menyentuh wajah Anna agar menatap padanya.
Seketika kulit wajah Anna seperti tersengat sesuatu saat pria itu membelai wajahnya. Tubuhnya benar-benar terasa panas. Anna menatap pria itu dengan mata sendunya.
"Manis.. Apa kau ingin aku membantu menghilangkan panas di tubuhmu?" ujarnya mendekatkan bibirnya pada telinga Anna.
Anna merasa sesuatu dalam tubuhnya menggelinjang saat pria itu menempelkan hidungnya pada leher Anna. Anna mencoba mendorong pria itu, namun tubuhnya terasa lemas.
"Lepaskan!!" ujar Anna pelan.
"Aku suka wangi di tubuhmu! Aku menginginkannya!" ujar pria itu.
Anna merasakan gejolak di dalam tubuhnya. Pria itu mulai mengangkat tubuh Anna untuk berdiri dan menekannya pada tembok.
"Lepaskan aku!!" teriak Anna ketakutan.
Tubuhnya sudah bergetar hebat. Dia merasa jijik dengan sentuhan pria brengsek di depannya. Anna mencoba mendorong kuat tubuh pria itu, namun pria itu menahan kedua tangannya dengan kuat. Anna menutup matanya kuat menahan tangisannya.
Apakah dia akan berakhir seperti ini?
"Aku akan membuatmu menjadi milikku!!!" ucap pria itu lalu mencium leher Anna dengan rakus.
"Tidak!!! Tolong!!!" teriak Anna sambil menangis. Dia berharap akan ada seseorang yang menolongnya.
Tiba-tiba wajah Alex muncul di dalam pikirannya.
'Alex tolong aku!' jerit Anna dalam hatinya.
Tiba-tiba sebuah tendangan kuat mendorong tubuh pria itu sampai tersungkur ke lantai.
"Keparat!!!" geram Alex.
Kilatan marah terpancar jelas di kedua matanya.
Pria itu menatap Alex dengan pandangan mencemoohnya, lalu bangkit.
"Ohh, kau tau.. kau sudah mengganggu kesenanganku!!" ujar pria itu menatap Alex.
Alex dengan cepat menarik kerah baju pria itu lalu memukul wajahnya dengan keras.
BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
Alex terus memukul pria itu seperti sedang kesetanan.
Jika seseorang melihat pada matanya, maka dia akan melihat kilatan api membara disana.
Alex terus memukul pria itu sampai wajah pria itu berlumuran darah dan satu giginya patah.
BUGH!!
Anna yang bersandar di lantai menatap Alex dengan sendu dan air mata yang masih mengalir.
Tiba-tiba Roy datang dan terkejut melihat Alex yang sedang memukuli pria itu tanpa henti.
"Alex!! Cukup!!!" teriak Roy lalu menahan tubuh Alex.
Alex mencoba melepaskan diri dari Roy yang menahan tubuhnya.
"Cukup Alex!!! Kau bisa membunuhnya!!!" ujar Roy.
Alex menatap pria itu dengan tatapan membunuhnya.
"Aku memang akan membunuhnya!!" ujar Alex marah.
"Cukup Alex!! Dibawah sedang banyak orang!! Jangan buat keributan!! Aku akan memanggil polisi untuk menangkapnya!!" ujar Roy.
Pria itu sudah tidak berdaya di atas lantai dengan wajah yang tak berbentuk dan berlumuran darah.
"Sebaiknya kau bawa gadis ini pulang, sepertinya pria ini memberikan gadis itu obat perangsang" ujar Roy sambil menatap Anna yang duduk lemas di atas lantai dengan tubuh yang berkeringat.
Seketika Alex menatap pada Anna yang terlihat berantakan. Ada tanda merah di leher gadis itu akibat ciuman pria bajingan tadi.
Alex menggertakkan giginya kuat, lalu dengan cepat menggendong tubuh Anna.
"Aku akan membawanya pulang!" ujar Alex dingin lalu melangkah pergi membawa Anna.
Roy menatap kepergian Alex. Terlihat jelas di matanya bahwa Alex sepertinya mempunyai perasaan yang berbeda pada gadis itu.
Dalam hatinya Roy tersenyum senang, dia berharap Alex akan sadar pada perasaannya suatu saat nanti..
-
Alex menggendong tubuh Anna masuk ke dalam mobil. Dengan cepat Alex mengemudi mobilnya.
Di dalam mobil Anna terlihat resah dan masih terpengaruh oleh obat yang di berikan pria tadi.
"Panas" bisik Anna yang membuat Alex mempercepat laju mobilnya.
Setelah sampai di halaman rumah. Alex dengan cepat keluar dari mobil dan menggendong tubuh Anna.
Anna merangkul leher Alex dengan kuat, tubuhnya masih terasa panas.
"Alex.. Panas.." bisik Anna lirih.
Seketika Alex yang masih emosi dengan kejadian di hotel tadi, merasa hatinya bergetar saat gadis itu menyebut namanya. Ini pertama kalinya dia menyebut Alex dengan nama. Entah mengapa hal itu sangat berpengaruh pada kerja tubuhnya. Ada gejolak dalam dirinya yang tidak bisa dia tahan lagi.
Alex menaiki tangga dengan cepat dan masuk ke dalam ruangan pribadinya dengan Anna yang masih berada di gendongannya.
Alex membuka pintu kamar mandi dengan cepat dan menutupnya keras. Dia menurunkan tubuh Anna di bawah shower dan menyalakan airnya. Membuat tubuhnya dan tubuh Anna basah bersamaan. Anna yang kaget dengan dinginnya air secara refleks merangkul kuat leher Alex.
Alex mendekatkan wajahnya pada Anna, menyandarkan keningnya pada kening Anna.
"Dimana pria itu menyentuhmu!!" geram Alex.
Belum sempat Anna menjawab. Alex dengan cepat mencium seluruh leher Anna dengan bibirnya. Menghapus jejak pria bajingan itu di leher Anna.
Anna tidak melawan sama sekali, tubuhnya tidak menolak dengan sentuhan Alex.
"Panggil namaku!" ujar Alex dengan suara seraknya.
Anna menatap Alex sejenak dengan ragu,
"A.. Alex" bisik Anna.
Alex menatap wajah Anna dalam, dan menyentuh bibir Anna dengan lembut. Seketika Alex menempelkan bibirnya pada bibir Anna. Menciumnya perlahan dan **********.
Alex menggenggam tangan Anna yang mencoba mendorongnya. Lalu secara perlahan menuntun Anna agar membalas ciumannya.
Tidak ada perlawanan lagi dari Anna. Mereka saling ******* dengan intens dan lembut. Alex memeluk tubuh Anna erat sambil terus memperdalam ciumannya. Entah mengapa Alex tidak ingin melepaskan ciuman ini, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dia menginginkan gadis ini!
Dibawah guyuran air yang dingin mereka saling ******* dan berbagi kehangatan..
Bersambung..
Halo dukung selalu ya cerita ini, walaupun terkadang pembacanya menurun dan ngak stabil, tapi setiap baca komen-komen pembaca bikin mood naik lagi ☺️
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, kasih like dan komennya..
Terimakasih ❤️
sudah mulai ada tanda2 bahaya
betul2 menjijikkan 😡😡😡
💪💪💪