Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Anna mengernyit ketakutan. Ya Tuhan, lindungi aku! Bisik Anna dalam hati. Pelan ia mengangkat wajah ketakutan, menatap Alan yang tengah menatapnya datar. Tubuh Anna terasa lemas seperti kapas, dunianya terasa sangat mengerikan saat itu. Habislah dia.
Anna memutar badan untuk segera pergi, namun heel di kakinya sulit dikendalikan, kakinya tergelincir dengan posisi mata kaki mengenai lantai. Ah, buruk sekali kenyataan hari itu. Anna membenarkan posisi kaki kembali tegak kemudian setengah berlari meninggalkan ruangan, melewati semua orang yang menatapnya dengan pandangan heran. Entahlah, Anna tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Ia hanya ingin segera pergi dari sana.
Anna meringis-ringis merasakan nyeri di kakinya. Ia mendapati darah segar mengalir di dekat mata kaki. Ia sampai tidak sadar jika pecahan gelas telah mengenai area mata kakinya. Tiga langkah sebelum benar-benar sampai pintu keluar, Anna melepas high heels dan menjinjingnya karena sudah tidak tahan dengan rasa nyeri yang menjalar sampai ke dada.
Tempat apa ini? Anna membelalak bingung menatap ruangan luas yang ia masuki. Hanya tiang-tiang kokoh dan beberapa pelayan hotel yang lalu-lalang di sana.
Ah, ternyata Anna salah masuk pintu. Gedung itu terlalu luas dan memiliki banyak pintu, Anna lupa kemana arah pintu keluar.
Lalu sekarang bagaimana? Haruskah Anna kembali masuk ke ruang party dan melintasi orang-orang yang menatapnya dengan pandangan keheranan? Tidak. Anna tidak ingin berada di sana lagi.
Anna mengusap air mata yang entah sudah sejak kapan bergulir di pipinya. Perasaanya kian berkecamuk. Takut akan terjadi hal buruk setelah ini, ia juga bingung harus kemana. Langkahnya tertatih mencari pintu.
“Lewat sini!”
Anna menoleh ke sumber suara.
Deg!
Jantungnya menghentak keras melihat Alan yang menunjuk pintu dengan muka datarnya.
***
Anna sesenggukan, kedua telapak tangannya menutupi wajah.
“Mau sampai kapan kamu menangis?” tanya Alan yang duduk di samping Anna.
“Hiks hiks... huuhuuuuu...”
Alan meneguk teh bo*ol yang isinya hanya tinggal separuh. Sudah satu botol ia menghabiskan minuman yang sama. Lelah menanyai pertanyaan yang berulang-ulang, Alan membiarkan Anna menangis sepuasnya. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, manik matanya menyapu pandangan di taman kota. Angin sepoi-sepoi terasa sejuk membelai kulit wajahnya.
Alan menoleh saat tidak lagi mendengar isak tangis.
“Ini!” Alan menyerahkan botol minuman ke arah Anna, gadis itu sudah membuka telapak tangannya.
“Sedotannya mana?” lirih Anna.
Alan menatap Anna. Mata gadis itu bengkak, ujung hidungnya merah seperti jambu. Wajahnya sembab dan kusut. Polesan make up-nya sudah hancur. Bagaimana wajah Anna tidak kacau? Ia menangis dudah hampir satu jam.
“Minum aja langsung dari botol,” jawab Alan.
Anna menuruti. Meneguk minuman hingga habis.
“Apa yang membuatmu menangis? Apa karena menahan sakit di kaki, atau karena hal lain?” Alan menatap luka di kaki Anna yang sudah di balut dengan kain kasa.
Anna mengangkat wajah, kemudian kembali menunduk, menatap kakinya. Ia ingat saat Alan membersihkan lukanya, memeriksa apakah ada kaca yang tertanam di kakinya, juga memberi obat serta membalutnya dengan perban yang Alan beli di apotik terdekat sesaat setelah keluar dari hotel. Anna menoleh menatap pundaknya sendiri. Jas Alan melekat di tubuhnya. Entah kapan Alan memasangkan jas itu ke tubuhnya. Mungkin Alan prihatin melihat dada Anna yang basah kuyup setelah tersiram minuman hingga mempertontonkan belahan dadanya. Jas Alan yang besar dan kedodoran, cukup menutupi dadanya. Sampai detik ini Anna masih belum mengerti apa yang Alan pikirkan tentangnya, apakah marah, kesal, iba, atau malah ingin mengutukinya. Sejauh ini Anna belum bisa memahami sifat Alan yang sulit ditebak.
TBC