Menceritakan sisi kehidupan seorang Faiq sebagai anak indigo.
Berbeda dengan saat di novel 'Guna Guna', kali ini kehidupan Faiq akan dikupas secara detail sejak ia kanak-kanak hingga dewasa.
Kisah Faiq menjalani hidup yang harus bersinggungan dengan dunia lain yang baginya antara ada dan tiada.
Juga serunya persahabatan Faiq dengan mekhluk ghaib yang enggan meninggalkannya.
Kisah apa lagi yang akan dijalani Faiq ?.
Penasaran, ikuti kisahnya yuk....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 ( Pacar Hantu )
Efliya duduk di belakang Faiq dengan santai. Tiba-tiba Efliya langsung memeluk pinggang Faiq dengan kencang dan membenamkan wajahnya di punggung Faiq hingga membuat Faiq menghentikan laju motornya sebelum tiba di gerbang sekolah.
" Kenceng banget El, sakit tau...," kata Faiq sambil menoleh ke belakang.
Saat menoleh, Faiq melihat mata Efliya terpejam dan tubuhnya sedikit menegang seolah baru saja melihat hantu.
" Kamu kenapa El...?" tanya Faiq.
" A, ada hantu...," sahut Efliya gugup.
Faiq mendengus kesal. Ini adalah kali kedua Efliya melihat hantu di sekolah. Pertama saat di SD, bahkan Efliya berteman dengan hantu anak perempuan bernama Lila, yang merupakan siswi di SD tempat Efliya sekolah. Dan sekarang, Efliya kembali melihat hantu siswa yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan Efliya di SMAN Kebangsaan 8.
" Jangan gangguin Adikku. Aku bakal bantuin Kamu, tapi ga sekarang ya, Kami lagi ditunggu di rumah Opa. Insya Allah besok Aku ke sini lagi...," kata Faiq sambil menatap hantu siswa yang berdiri tepat di samping Efliya.
" Dia Adikmu...?" tanya hantu siswa itu sambil menatap Efliya lekat.
" Iya...," sahut Faiq cepat.
" Aku suka sama dia. Dia cantik dan ramah...," kata hantu siswa itu sambil tersenyum dengan tangan terulur ingin menyentuh kepala Efliya.
" Jangan. Kalo Kamu sentuh dia, Aku akan menghancurkanmu...," ancam Faiq dengan mata yang menatap tajam.
" Iya, iya. Possesif banget sih. Jangan lupa bantu Aku ya...," kata hantu itu lalu menghilang.
Faiq menoleh lagi kearah Efliya. Ia menepuk lembut tangan Efliya yang sedang memeluk pinggangnya erat.
" Gapapa El. Udah pergi hantunya...," kata Faiq.
" Ya Allah. Abang ga tau sih, dia tuh pas banget di muka Aku tadi. Ngeliat penampakannya yang pucat dan berdarah gitu gimana Aku ga kaget...!" seru Efliya sambil mengendurkan pegangan di pinggang kakaknya.
" Dia begitu karena dia suka sama Kamu...," kata Faiq.
" Hah, yang bener Bang...?!" tanya Efliya panik.
" Iya. Nih minum dulu...," sahut Faiq sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Efliya yang langsung disambut Efliya.
Setelah Efliya menyelesaikan minumnya, Faiq melajukan motornya perlahan. Saat melintas di Pos security, Faiq menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kearah security sekolah.
" Permisi Pak...," sapa Faiq.
" Jemput Neng Efliya ya...," sahut security sambil tersenyum.
" Iya Pak, disuruh Mama ke rumah Opa. Mari Pak...," sahut Faiq.
" Iya, hati-hati...," sahut security.
" Ok Pak...," sahut Efliya dan Faiq bersamaan.
Motor pun melaju cepat membelah jalan raya. Hingga mereka tiba di depan rumah Darius. Terlihat suasana sangat ramai saat itu. Nampak Fatur sedang mengawasi kedua anak kembarnya, Fabian dan Diandra, bermain di halaman. Sedangkan Bilqis menyuapi si kembar yang berusia empat tahun itu bergantian.
" Assalamualaikum...," sapa Faiq dan Efliya.
" Wa alaikumsalam...," sahut Fatur dan Bilqis.
" Kakak, Abang...," panggil Diandra sambil tersenyum.
" Hallo cantik. Lagi apa nih...?" tanya Efliya sambil mencubit pipi Diandra dengan gemas.
" Lagi mamam...," sahut Diandra manja.
" Kalo Fabian lagi apa...?" tanya Faiq.
" Lagi main mobil-mobilan, tapi sambil mamam juga...," sahut Fabian dengan mulut penuh hingga suara yang keluar terdengar lucu.
Faiq dan Efliya tertawa. Kemudian mereka menghampiri Fatur dan Bilqis lalu mencium punggung tangannya bergantian.
" Lho, Efliya baru pulang sekolah...?" tanya Bilqis.
" Iya Tante. Aku les dulu tadi, makanya ga sempet ganti baju...," sahut Efliya.
" Les apa...?" tanya Diandra lucu.
" Les matematika Diandra Sayang...," sahut Efliya gemas.
" Matika tuh apa...?" tanya Fabian tak mengerti.
" Ma-te-ma-ti-ka. Itu pelajaran berhitung...," sahut Efliya meralat ucapan Fabian dengan suku kata.
" Emang Kakak ga bisa berhitung. Aku aja sama Dianda bisa berhitung...," kata Fabian bangga.
" Oh ya, masa sih...," goda Faiq.
" Iya. Nih dengerin ya. Satu, dua, tiga...," sahut Fabian yang mulai berhitung hingga dua puluh.
prok, prok, prok.
" Wah hebat...!" seru Faiq dan Efliya bersamaan sambil bertepuk tangan.
Fabian nampak tersenyum bangga. Sedangkan Fatur dan Bilqis ikut tersenyum melihat tingkah putranya.
" Udah Anak-anak, ajak Abang sama Kakak masuk yuk...," kata Fatur.
" Ayo...!" sahut si kembar semangat sambil menarik tangan Faiq dan Efliya lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Darius menyambut kedatangan kedua cucunya dengan gembira. Ia merentangkan tangannya lalu memeluk Efliya dan Faiq bergantian.
" Papa sama Mama lagi di jalan Opa. Sebentar lagi juga sampe...," kata Faiq.
" Iya Nak, gapapa. Keluarga Om Fajar juga belum sampe. Masih nunggu Om Fajar pulang kerja, dan Om lagi di jalan katanya...," sahut Darius sambil tersenyum.
" Kamu ganti pake ini aja Ef...," kata Bilqis sambil menyodorkan kaos berlengan panjang warna salem miliknya.
" Ok deh, makasih Tante cantik...," sahut Efliya sambil mengecup pipi Bilqis dan berlari ke kamar mandi.
Bilqis, Faiq dan Darius nampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah Efliya.
" Masih kaya Anak kecil. Gimana cowok mau naksir...," gumam Fatur dari belakang Bilqis.
" Eit, jangan salah Om. Udah ada yang naksir sama Eliya lho...," sahut Faiq.
" Masa sih. Kok Kamu tau...?" tanya Fatur.
" Iya dong. Tapi ini yang naksir juga spesial Om...," sahut Faiq sambil tersenyum.
" Maksudmu apa...?" tanya Darius.
" Iya beneran Opa. Soalnya yang naksir Efliya tuh hantu...," sahut Faiq sambil tertawa.
" Apa...?!" tanya Bilqis, Darius dan Fatur bersamaan.
" Iya. Jadi ada hantu yang ganggu banget di sekolah Eliya. Katanya sih nongolnya tiap Jum'at, apalagi kalo pas jam olah raga. Nah, hantu itu juga sering gabung sama siswa di sana di jam olah raga. Kebayang kan gimana horrornya tuh suasana olah raga...," kata Faiq di sela tawanya yang diikuti tawa Fatur dan Darius.
" Ih, serem banget sih...," kata Bilqis sambil merapat kearah Fatur.
" Terus...?" tanya Fatur sambil merangkul pundak Bilqis.
" Nah, tadi Aku jemput Eliya dan ga sengaja Aku liat dia. Kirain mah ga ganggu. Ga taunya dia malah nongol pas di mukanya Eliya. Tau dong gimana reaksinya si Eliya. Makanya Aku ajakin ngobrol aja. Ga taunya dia bilang kalo dia suka sama Eliya...," sahut Faiq.
Tiba-tiba terdengar suara Efliya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Abang gosipin Aku ya...," kata Efliya sambil cemberut.
" Ih, siapa yang gosip. Aku mah ngomong apa adanya, fakta...," sahut Faiq santai.
" Tapi ga usah kaya gitu juga dong. Masa Aku disukain sama hantu. Cerita apaan tuh, ga bermutu...!" kata Efliya sambil melengos.
Semua yang melihat tingkah Efliya pun tertawa.
" Terus penampakan hantu cowok itu serem ga, ganteng ya Ef...," goda Fatur sambil menaik turunkan alisnya.
" Ihh, ga banget deh Om. Muka pucet kaya mayat gitu. Apalagi banyak darah di kepala sama bajunya. Hiiiyyy, bikin merinding...," sahut Efliya sambil bergidik mengingat saat ia diperlihatkan sosok hantu yang selama ini menerror semua siswa di sekolahnya.
" Tapi keren kan, kaya oppa Korea idolamu. Buktinya Kamu kesengsem gitu...," goda Faiq membuat Efliya kesal.
" Abang apaan sih. Siapa yang mau punya pacar hantu. Lagian Aku ga suka sama dia ya, yang ada Aku tuh takut tau ga...!" seru Efliya sambil mengejar Faiq yang lari menghindar dengan sembunyi di belakang Darius.
" Pacar hantu apa nih, kayanya Mama ketinggalan berita ya...," kata Farah yang sudah berada di ruang tengah bersama mereka.
Semua menoleh kearah Farah dan Erik yang baru saja tiba. Sontak Faiq pun menceritakan apa yang terjadi saat ia menjemput Efliya tadi. Bisa dipastikan wajah Efliya berubah warna dengan tatapan tajam yang nampak menaruh dendam kepada Faiq. Sedangkan Farah dan Erik nampak tersenyum melihat tingkah kedua anaknya itu.
bersambung