Eilaria Thomson tak pernah menduga kalau pria yang dicintainya ternyata memiliki saudara kembar.
Gabriel Dawson dan Gabrian Thomson adalah saudara kembar yang saling menyayangi. Mereka akan melakukan apa saja untuk membuat saudara kembarnya bahagia.
Demi mengejar cinta sejatinya, Eilaria rela menikah diam-diam. Setelah menikah itulah, Eilaria tahu ada yang berbeda. Antara Gabrian dan Gabriel, Siapakah yang sesungguhnya ia cintai? Dan siapakah yang akhirnya ia nikahi?
Cerita ini Kisah hidup keluarga Thomson (cerita : I HATE YOU BULE, 3 HATI 1 CINTA) dan kisah anak2 Giani dan Jeronimo (MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung
Pagi yang cukup menggembirakan bagi semua dokter dan perawat yang selama hampir 4 bulan menjaga dan merawat Gabriel. Hari ini pasien tampan mereka akhirnya membuka matanya saat jam baru menunjukan pukul 6 pagi.
Eilaria yang langsung memanggil dokter saat melihat Gabriel membuka mata, tak lupa juga menelepon ibu mertuanya. Nomor Giani sudah disimpan Eil semalam. Entah kenapa, ia merasa tak harus menelepon Gabrian.
Giani, Jero dan Gabrian datang bersamaan ke rumah sakit. Giani langsung menangis bahagia saat melihat Gabriel benar-benar sudah membuka matanya bahkan sekarang sementara duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
Para dokter ahli masih memeriksanya sambil memberikan beberapa pertanyaan. Mereka nampak senang karena sekalipun sempat mengalami geger otak, Gabriel tidak mengalami amnesia.
Giani sudah tak sabar ingin memeluk anaknya. Makanya, setelah dokter dan para perawat keluar, ia segera masuk dan langsung memeluk putranya dengan luapan kebahagiaan yang mendalam.
"Tuhan sungguh baik. Bahkan teramat baik bagi kita. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup mommy. Bahkan lebih berbahagia dari pada hari dimana mommy melahirkan mu. Gabriel anakku, kau hebat sayang." Giani melepaskan pelukannya. Namun tangannya masih terus membelai wajah putranya.
"Terima kasih selalu menjagaku, mom. Selalu membacakan ayat-ayat suci, selalu menyanyikan pujian rohani. Doa mommy selalu membuatku berusaha untuk membuka mataku." kata Gabrian walaupun dengan suara yang masih serak karena lama ia tak bicara.
"Kau mendengarnya?"
"Ya." kata Gabrian sambil mengangguk.
"Syukurlah." Giani menatap suaminya. Pria itu pun mendekat, lalu memeluk putra keduanya itu dengan penuh rasa sayang.
"Iel, banyak istirahat ya. Kau masih memerlukan banyak tenaga untuk bisa pulih."
"Ok, dad."
Pandangan Gabriel kini tertuju pada Gabrian dan Eilaria secara bergantian.
"Aku mau cuci muka dulu." Eilaria langsung keluar dari kamar. Tangisnya pecah. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia senang karena Gabriel akhirnya sadar. Namun hatinya sakit saat mengingat bagaimana ia memeluk dan mencium pria lain.
Wajah Gabriel langsung berubah sedih saat Eilaria keluar dari kamarnya.
"Dia hanya butuh air dingin."Kata Gabrian sambil mendekat. Ia pun memeluk Iel dengan penuh kasih.
"Terima kasih, Ian. Kau mau berjuang menggantikan aku selama 3 bulan di penjara. Aku sungguh tak menyangka kau bisa melalui semuanya itu. Apa yang harus ku lakukan untuk membalas semuanya ini?"
Gabrian tersenyum. Ia menepuk pundak adik kembarnya itu. "Yang harus kau lakukan adalah berusaha untuk cepat pulih. Laksanakan bulan madu mu bersama Eil. Cepat punya anak supaya mommy dan daddy senang." ujar Gabrian membuat Giani dan Jero saling berpandangan sambil tersenyum.
"Bee, sudah siap dipanggil opa?" tanya Giani.
"Siap. Tapi aku opa yang awet muda, yang tetap tampan dan gagah, yang selalu tergila-gila pada Giani istriku."
Gabrian dan Gabriel hanya bisa tertawa mendengar perkataan papa mereka. Papa Jero yang paling takut terlihat tua. Dan lihatlah dia sekarang. Diusianya yang sudah 50an, Jero tetap terlihat gagah dengan tubuhnya yang atletis dan jangan lupa, ia rajin ke salon untuk perawatan wajah. Makanya ia terlihat lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Joselin dan Stevany saja selalu bangga jika jalan ke mall dengan daddy mereka.
"Mengapa Eil lama ya?" tanya Gabriel mulai gelisah. Ia tahu kalau papa, mama dan kakaknya berusaha mengalihkan perhatiannya dengan bercerita yang lucu-lucu.
"Aku akan menyusul nya." Gabrian segera keluar ruangan. Ia mencari keberadaan Eilaria dan menemukan gadis itu sedang duduk di taman.
"Eil....!" panggil Gabrian.
Eilaria menoleh. Saat melihat Gabrian, ia langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kenapa nggak masuk? Iel menanyakan mu." Kata Gabrian lalu berdiri di depan Eil.
"Aku masih ingin di sini." ujar Eilaria dingin.
"Kalau begitu, ayo kita ke kantin untuk minum kopi. Kau terlihat lelah."
Eilaria menggeleng. "Aku hanya ingin sendiri, Ian" kata Eilaria walaupun agak kaku mengucapkan nama Ian di ujung kalimatnya.
"Baiklah. Namun aku mohon jangan terlalu lama. Iel menunggumu." Gabrian membalikan badannya dan langsung meninggalkan Eil namun panggilan gadis itu membuat Gabrian membalikan badannya lagi.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Eilaria.
"Melakukan apa?" tanya Gabrian bingung.
"Berpura-pura menjadi Iel. Aku melihat caramu menatapku sama seperti cara Iel menatapku. Bagaimana bisa kau memelukku walaupun memang agak kaku, mencium bibirku, dan hampir saja bercinta denganku pada hal kau tahu aku adalah istri saudaramu."
"Eil, maafkan aku. Aku melakukan semua itu agar kau tak curiga padaku. Aku memang keterlaluan." Namun aku mencintaimu, Eil, guman Ian dalam hati.
"Sekarang katakan, bagaimana aku harus bersikap diantara kalian berdua. Karena aku hanya mengenal satu wajah. Apakah itu Ian atau Iel, aku tak tahu. Aku hanya menginginkan satu pria. Aku juga tak tahu apakah itu Iel atau Ian. Cinta yang kurasakan hanya pada pria dengan wajah yang sama. Aku tak bisa lagi memilih." Ujar Eilaria dengan emosi yang meledak-ledak.
"Eil, tenanglah...!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Ini semua sangat menyakitkan bagiku."
Gabrian menarik napas panjang. Ia mengerti dengan luka yang Eilaria rasakan.
"Adikku mencintaimu. Dan kau juga mencintainya..Dia hanya tak ingin kamu bersedih. Maafkanlah dia." Lalu Ian meninggalkan Eil yang masih duduk dengan wajah sedihnya.
**********
Gabriel hampir saja jatuh lagi dalam tidurnya. Ia lelah menunggu Eil yang tak kunjung datang. Papa dan mamanya sedang makan siang di restoran dekat rumah sakit ini sedangkan Gabrian baru saja selesai mengabari Gerry dan menanyakan keadaan perusahaan.
Pintu ruangan perawatan Iel terbuka dan nampak lah sosok Eilaria yang sudah berganti pakaian.
"Sayang....!" Gabriel langsung tersenyum senang melihat kedatangan Eil. Sedangkan Gabrian langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pergi menemui bunda dulu ya..." Ujar Gabrian. Ia tersenyum ke arah Eilaria. Gadis itu membalas senyumnya tipis lalu ia mendekati brangkar Gabriel.
Keduanya saling berpandangan. Eilaria melihat tatapan mata Gabriel dan ia menemukan lagi tatapan mata yang berbinar akan cinta, penuh gelora dan hasrat yang mendalam. Sangat berbeda dengan tatapan mata Ian yang lembut, penuh cinta dan nampak tenang. Eilaria pun mulai menyadari perbedaan diantara mereka.
"Kenapa hanya diam saja? Aku tahu kalau kau marah padaku. Aku minta maaf karena terlalu takut membuatmu sedih dan...."
"Kita bahas itu nanti. Bolehkan?" Eilaria memotong kalimat Gabriel secara cepat.
"Tapi sayang....."
"Aku masih bingung, Iel. Tolong bantu aku untuk tenang dulu. Membayangkan kalau selama beberapa bulan ini aku bukan bersama dengan diri mu, itu sungguh membuatku terpukul."
Gabriel mengulurkan tangannya. Eilaria mendekat dan menyambut tangan Gabriel. "Maafkan aku, sayang. Maafkan aku....." Kata Gabriel dengan sangat menyesal.
Air mata Eilaria jatuh tanpa bisa ditahannya. Ia menangis. Dan ia benci karena sekarang sudah menjadi cengeng.
Tangannya Gabriel menyentuh pipi Eilaria dan menghapus air mata istrinya itu.
"Besok, dokter akan memulai terapi untuk kaki dan tanganku. Karena lama berbaring, jadi harus diterapi agar bisa berfungsi secara baik." kata Gabriel berusaha mengangkat topik pembicaraan yang lain.
"Baguslah."
"Kau akan di sini menemaniku kan?"
"Kemana lagi aku harus pergi?"
"Aku sangat merindukanmu." Kata Gabriel lalu menarik tangan Eilaria agar keduanya dapat saling berpelukan. Eilaria pun memeluk Gabriel dengan erat. Ia bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang. Mengapa pelukan ini terasa berbeda?
"Kau sudah makan, sayang?" tanya Gabriel saat pelukan mereka terurai.
"Sudah. Tadi aku pulang ke hotel untuk mandi dan ganti baju sekalian makan siang. Sekarang, beristirahatlah. Sejak kau membuka matamu tadi pagi, kata mommy, kau belum tidur."
"Aku menunggumu."
Eilaria membantu Gabriel untuk berbaring kembali. Setelah Gabriel membaringkan tubuhnya, Eilaria pun mengambil selimut dan menutupi tubuh Iel sampai ke batas lehernya.
"Jangan tinggalkan aku...!" Kata Gabriel sebelum menutup matanya.
Eilaria menarik kursi yang tadi di duduki Ian. Ia mendekatkannya di brangkar Gabriel, dan menunggui suaminya itu.
*********
Gabrian yang mengintip semuanya itu dari balik pintu yang terbuka sedikit. Ia tersenyum walaupun ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ia pun melangkah keluar dari rumah sakit. Ia ingin menghirup udara segar.
Saat ia mendekati sebuah bangku taman, ia melihat seorang perempuan sedang membaca novel, duduk dengan begitu seriusnya.
"Hurt, by : Adnin Diaz." Gabrian tanpa sadar mengeja judul novel dan nama pengarangnya.
Gadis itu menurunkan novel yang dibacanya. Sepasang mata bulat berwarna hijau menatap Gabrian sambil tersenyum.
"Do you also like the author of this novel? (kamu juga menyukai penulis novel ini?)" tanya gadis itu.
Gabrian mengangguk. "I have several novels by Adnin Daiz. (Aku punya beberapa novel karangan Adnin Diaz)"
Gadis itu tersenyum, menampakan barisan giginya yang putih dan rapih. Gabrian tersenyum melihat gadis itu.
*********
Duh, siapa gadis itu?
Apakah akan ada gadis lain?
Dukung emak terus ya....
sebenarnya Capek sekali hari ini namun demi kamu semua, aku rela bergadang guys
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼
aku tetap se7 ian bersama Andrea
sak karepmu thor km yg bikin cerita kok 🤣🤣🤣
tp kn emng dunia tipu2 jdi nikmati alurny aja,apa lgi aku datang terahir bacanya 🤣🤣