Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pengumuman terdengar begitu merdu di telinga Xaviera. Ia membuka sleep mask yang menutup matanya. Perlahan-lahan Xaviera membuka matanya, mengangkat tangannya kirinya untuk melihat jam. Pukul 6 sore. Xaviera menarik napas panjang dan mengembuskannya kembali. Setelah penerbangan cukup panjang, bahkan hari sudah berganti sore. Kini Xaviera berada di kota kelahirannya. Kota dimana ia dibesarkan oleh cinta dari wanita yang sangat disayanginya.
"Untuk keselamatan dan kenyamanan Anda, mohon tetap duduk dengan memakai sabuk pengaman Anda."
Kata-kata yang biasa diucapkan oleh salah satu pramugari jika pesawat akan landing. Semua hening menunggu saat pesawat mendarat dengan sempurna. Dengung pesawat mulai terdengar jelas. Lampu-lampu di kabin mulai di padamkan sebagian, sebagai prosedur standar keselamatan untuk membuat mata para penumpangnya menyesuaikannya dengan keadaan dan para awak kabin dapat lebih jelas memantau keadaan di luar pesawat.
Mereka akhirnya mendarat dengan selamat.
Xaviera menghembuskan napas lega. Penerbangannya aman dan tidak kurang suatu apapun.
"Atas nama seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!”
Xaviera berjalan ke depan pintu, terdengar sapaan ramah terima kasih dan sampai jumpa dari dua orang pramugari yang berdiri di dekat pintu keluar. Ia terus berjalan sambil menarik kopernya di ujung pintu pesawat yang terhubung dengan pintu terowongan menuju airport. Xaviera menggunakan celana jins biru dan kaos putih santai. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Ia tidak menduga akan tiba di sini. Kenangan yang membuatnya selalu menangis. Getaran perasaan itu menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuat tangan dan ujung jari-jarinya dingin. Ia kembali mengembuskan napasnya untuk melakukan ritualnya, menyiapkan diri untuk bertemu dengan pengacara itu.
Jujur, Xaviera sangat ketakutan saat pertama kali menginjakkan kakinya ke sini lagi. Bayang-bayang kejadian kelam, membuatnya tangan dan kakinya gemetar hampir di sepanjang take off. Namun Xaviera terus memikirkan pesan Daniel dan terus menyebut nama Yohanna dalam hatinya. Tujuan untuk menguatkan batinnya. Kini Ia berada di kota ini membiarkan tubuhnya menerima udara yang benar-benar sudah lama ia lupakan. Karena Xaviera sudah beradaptasi di Amsterdam.
Xaviera kembali berjalan mengeluarkan handphonenya dan mengaktifkannya. Banyak panggilan WhatsApp dan pesan notifikasi beruntun masuk. Xaviera mengirimkan pesan kepada aunty dan Ester. Menyatakan bahwa Ia sudah sampai dengan selamat. Kemudian Xaviera membaca pesan dari Daniel, mengatakan jika ia sudah melakukan reservasi di restoran Maison pic. Orang yang akan ditemuinya di sini.
Dengan cepat Xaviera mengetik sesuatu di handphonenya untuk membalas pesan dari Daniel. "Oke! Aku sudah tiba di kota xx. Besok pukul 09.00 kita bertemu di restoran Maison Pic. Terima kasih."
Xaviera memasukkan kembali handphonenya dan keluar dari pintu kedatangan. Ia berjalan ke arah taksi yang sudah berjejer rapi untuk mencari penumpang. Begitu di dalam taksi, Xaviera segera mengatakan alamat yang ditujunya.
Tiga puluh menit waktu yang ditempuh hingga tiba di rumah Xaviera. Ia turun dari mobil yang mengantarkannya tiba di rumah. Saat mobil taksi itu pergi, ia tidak langsung beranjak dari tempatnya. Ia diam menatap keadaan rumah itu. Di tempat Xaviera menyimpan kenangan bersama mommynya. Ia menarik napas dalam saat melihat keadaan rumah tidak terawat. Sesak itu datang lagi. Ia menahan air matanya agar tidak keluar. Rasanya sangat berkecamuk. kondisi rumah itu kini nampak kusam seolah tak dirawat dengan baik. Xaviera memberikan kunci cadangan kepada pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah Alexander. Tapi kenyataannya mereka tidak pernah membersihkannya.
Rumah 3 lantai bercat putih itu kumuh, warna dinding hitam memudar dengan debu yang menempel di berbagai sisi. Ornamen-ornamen kaligrafi yang juga terdapat dalam rumah itu seperti tak terlihat lagi karena cat yang sudah memudar. Rumah yang tampak besar dan megah itu ternyata tak sepenuhnya terlihat mewah lagi. Mata Xaviera berkaca-kaca. Ia menarik napas dengan mulut terbuka. Tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan. Xaviera menarik koper miliknya. Ia berhenti di depan pintu. Rasanya benar-benar haru. Xaviera membuka pintu dengan kunci miliknya. Ia menarik napasnya dan menangis saat pintu rumah itu terbuka. Ia menghapus cepat air matanya dengan telapak tangannya.
Saat kakinya melangkah masuk, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan haru yang teramat dalam menguasai hatinya. "Mommy, aku sudah datang." ucapnya terbata dengan desahan napas.
"Aku rindu mom." kata Xaviera dengan bibir bergetar. Air matanya tak di undang tergelincir begitu saja. Ia melihat sekeliling. Rumah itu pengap dan berdebu. Ia seakan mengulang momen kenangan itu. Xaviera langsung menuju ke arah kamarnya. Tempat tidurnya tertutup dengan kain putih. Ia segera menarik kain putih itu. Menyingkap apa yang ada di dalamnya. Sarung bantal dan seprei nya persis seperti di tinggalkannya terakhir kali. Xaviera tersenyum. Ia puas mengelilingi rumahnya. Xaviera menghubungi seseorang, untuk membersihkan rumah ini. Untuk malam ini Ia memilih menginap di hotel.
⭐⭐⭐⭐⭐
Pagi harinya, sesuai janjinya dengan Daniel. Xaviera sudah bersiap menuju restoran Maison Pic. Ia menggunakan taksi pergi ke restoran itu. Dengan tarikan napas panjang, Xaviera turun dari taksi.
TUK TUK TUK
Ia berjalan dengan menuju pintu yang bertuliskan open di pintu kaca.
"Selamat siang nona, apa anda sudah melakukan reservasi?"
"Ehmm, atas nama Daniel."
"Oh, tuan Daniel. Mari ikut saya." Ucap pelayan itu dengan ramah. Ia membawa Xaviera ke ruangan VIP dimana Daniel sudah tiba lebih dulu.
"Apakah pak Daniel sudah datang?" tanya Xaviera berjalan menuju koridor restoran mewah itu.
"Beliau sudah datang tiga puluh menit dari jadwal reservasi yang di buatnya."
"Ah... tiga puluh menit?" ucapnya dengan gerakan mulut tanpa bersuara.
Pelayan mengantarkannya ke sebuah ruangan VIP. Ia terus melangkah. Hingga sampai ke sebuah ruangan yang bertuliskan VIP itu.
"Silakan masuk, nona!" ucap pelayan dengan sopan saat membuka pintu untuk Xaviera. Tangannya mengulur agar Xaviera masuk ke ruangan itu.
"Terima kasih." ucapnya tersenyum lembut.
"Kalau begitu, saya permisi nona." Kata pelayan membungkuk dan menutup pintu itu kembali. Ia langsung melihat tempat itu sebagian dari dindingnya terbuat dari kaca yang langsung menyajikan pemandangan luar. Air mancur dari taman dari restoran itu terlihat jelas dari ruangan kelas VIP. Benar-benar menenangkan mata. Di meja makan terdapat bunga hidup yang menghias meja. Warna lembut terkesan kalem.
Xaviera menikmati sebentar. Sementara Daniel tersenyum memandang ke arah Xaviera. Ia dan salah satu pengacara wanita, segera bangun duduknya. Tamu terhormat yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Xaviera membalas senyum pria paruh baya itu. Ia melangkah dan mendekat ke arah pria itu.
DANIEL SMITH
.
"Xaviera Careen?" Pria itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya ke arah Xaviera.
"Iya, saya Xaviera Careen. Anak dari Yohanna Anne." Ucapnya tersenyum tangannya mengulur menyambut tangan Daniel.
"Senang bertemu denganmu, saya Daniel Smith, pengacara Yohanna."
"Senang bertemu denganmu pengacara Daniel." Xaviera membalas dengan senyuman lalu menundukkan kepalanya.
Xaviera melemparkan senyumnya dan menatap ke arah wanita yang berdiri di samping Daniel.
"Oh, iya. Saya lupa. Dia pengacara hebat saat ini beliau memegang perusahaan Reinald. Saya sengaja membawanya ikut bersamaku." Daniel tersenyum menatap ke arah gadis yang berdiri di sampingnya.
"Perkenalkan saya Carlissa Reinald." Carlissa mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah kepada Xaviera.
"Senang bertemu denganmu." ucap Xaviera menjabat tangan Carlissa dengan senyuman.
"Silakan duduk," Daniel menunjuk sebuah kursi yang ada di samping Xaviera.
"Terima kasih." Ucap Xaviera duduk dengan posisi berhadapan dengan Daniel dan Carlissa.
"Apa kau sudah sarapan? atau Kau mau pesan sesuatu?"
"Maaf saya susah sarapan. Kita bisa langsung saja. Waktuku tidak banyak di sini. Apa pesan mommy sebelum meninggal, membuat anda tak putus asa untuk menghubungi saya." Ucap Xaviera to the point.
"Maafkan saya Xaviera atas ke tidak nyaman anda. Saya sudah mengenal Yohanna dari masa SMA dan bisa di katakan kami cukup dekat sebagai sahabat. Hingga dia menggunakan saya sebagai pengacara perusahaan Gold milik ibumu."
Xaviera diam tanpa ekspresi, posisi duduknya ia bersandar ke kursi sambil menatap Daniel yang kembali melanjutkan kalimatnya.
"Beberapa bulan sebelum Yohanna meninggal, dia datang ke kantor dan menangis."
Xaviera mengerutkan dahinya bingung. "Mommy menangis?" Ia terus menatap Daniel dengan tatapan penuh tanya.
"Hmmm, ibumu menangis."
Xaviera semakin memicingkan matanya, ia menatap Daniel dengan tatapan serius. "Kenapa mommy menangis?"
Daniel menarik napasnya dalam-dalam. "Alexander selingkuh."
Xaviera tersentak kaget dengan mata membulat. Ekspresi wajahnya tegang. Ia masih mencerna perkataan lelaki itu, tatapannya turun kebawah "Daddy selingkuh?" tanyanya memandang kembali ke arah Daniel. Napasnya sesak dan tertahan di leher. Ia hanya menatap Daniel bahkan tanpa berkedip.
"Iya, awalnya Yohanna hanya curiga melihat perubahan Alexander. Ia tidak terlalu memikirkannya. Namun wanita itu nekad dan ingin bertemu dengan Yohanna beberapa kali. Meminta Yohanna untuk menceraikan Alexander."
Xaviera tersentak dengan wajah mengerut. Matanya membulat dan mencerna kembali apa yang baru saja didengarnya membuatnya shock. Napasnya begitu cepat berganti, menarik dan mengembuskan dengan pola tidak normal. Wajah Xaviera pucat, hampir menangis dengan bibir gemetar sambil memegang dadanya.
Melihat keadaan Xaviera, Daniel bangun dari duduknya. "Xaviera, apa kau baik-baik saja?''
"Lanjutkan?" ucapnya datar dengan pandangan kosong.
Daniel duduk kembali dan menarik napas singkat. "Dia mengancam Yohanna beberapa kali dan terang-terangan mengirimkan video hasil percintaan mereka kepada Yohanna."
Napas Xaviera kembali naik turun, ia menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Apakah wanita itu Valeria?" tanya Xaviera dengan bibir gemetar dan tatapan nanar.
Daniel mendesah melihat Xaviera dengan mata sayu. Ia kembali melanjutkan penjelasannya. "Ehmm wanita itu adalah Valeria. Mereka menjalin hubungan terlarang enam bulan tanpa diketahui Yohanna. Alexander menggunakan uang perusahaan untuk memberikan fasilitas mewah kepada wanita itu. Seperti membeli mobil dan tas yang harganya sampai puluhan juta."
Mata Xaviera kembali berkaca-kaca dan mengedip pelan. Ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara.
Lagi Daniel mendesah. "Ibumu berusaha untuk menghentikan wanita itu. Dia tidak ingin rumah tangganya hancur karena orang ke tiga. Ia mencoba bertemu dengan Valeria. Memintanya untuk meninggalkan Alexander. Yohanna memberikan cek kepada Valeria agar pergi meninggalkan negara ini. Wanita itu menerima uang itu dan berencana meninggalkan Alexander. Namun Alexander sepertinya tidak mau berpisah dengan Valeria. Dan sebelum ibumu tewas dalam kecelakaan itu. Yohanna menangis dan mengatakan ingin bercerai dari Alexander."
Xaviera tercengang. Ia terdiam dengan mulut terbuka. Xaviera mendongak. Ia tertawa tapi tidak bersuara. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Napas Xaviera sesak. Dadanya ikut sesak dan sakit. Ia mengeluarkan desahan napas berulang-ulang dengan mata yang mengkristal penuh dengan tumpukan air mata yang siap jatuh. Fakta yang mengejutkan. Ternyata daddy sudah berselingkuh dengan wanita itu jauh sebelum mommynya meninggal. Mereka menyakiti hati mommy? Air bening itu akhirnya tumpah juga, menetes di pipinya.
"Xaviera?" panggil Daniel kembali. Mereka saling berpandangan dengan Carlissa karena melihat perubahan wajah dari Xaviera.
Napas Xaviera keluar dengan tempo cepat. Ia memandang ke arah lain. Berkali-kali mendongak dan mengeluarkan napas terbata-bata. Seketika ia memandang ke arah Daniel. "Apakah ...apakah...mereka telah merencanakan kecelakaan mommy?" Mulutnya gemetar tak sanggup mengatakan itu. Ia menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya. Ia berharap kematian mommy tidak ada hubungannya dengan daddy. Setidaknya Alexander tidak sekejam itu.
Daniel mengembuskan napas singkat, menatap Xaviera dengan iba. "Maaf Xaviera, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kasus kematian Yohanna di tutup saat itu juga dan pihak kepolisian mengatakan itu murni karena kelalaian pemilik mobil truk. Karena kedua korban kecelakaan itu meninggal dunia jadi pihak polisi tidak bisa melanjutkan kasus ini."
Xaviera kembali menangis. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Ia terluka mengetahui yang sebenarnya.
Daniel menarik napasnya dalam-dalam. Ia mengunci pandangannya ke arah Xaviera. "Sebelum saya menunjukkan semua surat wasiat terakhir Yohanna. Satu bulan sebelum kematian ibumu. Yohanna sudah mengurus semuanya, baik itu melalui bank juga. Yohanna telah mendonasikan seluruh kekayaannya jatuh ke tanganmu Xaviera, beserta perusahaan dan rumah mewah yang ditempati Alexander saat ini. Yohanna juga berharap di usiamu yang ke 22 tahun itu. Kau bisa menjalankan perusahaan Gold."
DEG
DEG
DEG
BERSAMBUNG
❣️ Maaf ya readers tersayang terkadang terlambat ngirimnya, banyak kesibukan di dunia nyata 😂😂 Semoga tetap suka dengan karya saya ya. Salam sehat selalu 🤗🤗🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee