NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Naik Kelas / Paksaan Terbalik / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rositi

Fina terpaksa menikah dengan Bian, tetangga yang juga merupakan sahabatnya karena Lia calon istri Bian, tiba-tiba membatalkan pernikahan, tepat satu hari sebelum pernikahan digelar.

Fina pikir, meski ia hanya sebagai mempelai pengganti, ia bisa menjadi istri sekaligus wanita yang dicintai Bian, terlebih orang tua mereka juga sangat mendukung hubungan mereka. Namun siapa sangka, belum genap satu minggu usia pernikahan mereka, Bian yang menjadi bersikap dingin bahkan sama sekali tidak mau menyentuh Fina semenjak pernikahan mereka, justru menceraikan Fina.

Diceraikan oleh Bian membuat Fina menjadi janda tidak terhormat. Terlepas dari itu, semua beban moril yang Fina dapat juga membuat nama baik keluarga Fina hancur, bahkan Raswin ayah Fina menjadi sakit parah. Di tengah keterpurukannya, Fina justru bertemu dengan Rafael, pria kaya raya yang pernah Fina tolak cintanya.

Rafael yang sedang dihadapkan dengan perjodohan meminta Fina untuk bekerja menjadi istrinya. Rafael benar-benar melakukan segalanya demi meyakinkan Fina. Akankah hubungan mereka benar-benar hanya sebatas "saling membutuhkan" sedangkan benih-benih cinta juga mulai hadir mewarnai kebersamaan? (Tamat di NovelToon)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 : Menemui Orang Tua Fina

“Bercerai terlebih menerima perceraian hanya akan merugikanmu, terlebih jika melihat kilas balik hubunganmu dengan mantan suamimu.”

Episode 32 : Menemui Orang tua Fina

Ada sedikit beban yang terangkat dari dada Fina, ketika kebersamaan dengan orang tua Rafael berakhir. Meski kebersamaan berikut acara makan malam terbilang jauh dari hangat, tetapi tidak dicecar bobot, bibit, bebet yang selalu menjadi kriteria umum ketika mencari jodoh atau pasangan saja, Fina sudah merasa sangat untung. Belum lagi, perihal status Fina yang bahkan belum sempat mengurus surat perceraian. Dan memikirkan itu semua, ... Fina merasa perlu membicarakannya dengan Rafael.

“Tunggu sebentar. Aku sudah mengutus orang untuk mengirim ponsel baru untukmu,” ucap Rafael ketika mereka sudah sampai di depan kamar hotel tempat Fina menginap.

Rafael kembali dengan sikap dinginnya. Namun, bagi Fina apa pun keadaan pria itu, asal tidak sampai mengamuk, Fina masih bisa memakluminya. Toh, Rafael juga sudah memberi Fina terlalu banyak.

Menyadari tidak ada orang lain di antara mereka, terlebih lorong keberadaan hotel juga terbilang sepi, Fina pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membicarakan perihal statusnya. Hubungannya dan Bian yang belum sampai menjalani sidang perceraian.

“Raf, ... aku mau bicara penting. Man, kan?” Fina menatap Rafael penuh keseriusan.

Rafael mengernyit dan masih membiarkan kedua tangannya tersimpan di kantong sisi celananya. Dan tanpa menjawab kendati ia juga balas menatap Fina jauh lebih serius, ia mengangguk, memberi wanita itu izin.

“Mengenai perceraianku, ... kenapa kamu enggak memikirkan itu?”

“Memang enggak ada perceraian,” balas Rafael santai.

Fina cukup terkejut dengan balasan Rafael. Apa maksud pria itu? Bukankah Rafael yang meminta pernikahan secepatnya? Kenapa sekarang justru tidak ada perceraian? Bagaimana mungkin, Fina bisa menikah tanpa adanya perceraian? Masa iya, Rafael berharap menjadi suami ke dua Fina? Fina menjalani poliandri? Dan memikirkan itu, Fina menjadi sangat kesal.

Fina yang sempat menunduk, kembali menatap Rafael. Namun ketika ia melakukannya, ternyata Rafael sudah sampai menunduk dan wajah pria itu sudah ada tepat di wajahnya.

“H-hei ... apa, ini?” tahan Fina yang seketika itu juga dilanda ketegangan luar biasa.

“Ada yang mengikuti kita,” lirih Rafael yang sesekali mengerling.

“Meyakinkan orang lain perihal status kita yang menjadi pasangan, enggak harus sampai melakukan adegan romantis berlebihan, kan?” ucap Fina kebingungan.

Rafael terdiam bingung.

“Cukup pelukan saja ... jangan macam-macam dulu,” tawar Fina kemudian yang bahkan sampai mendekap Rafael lebih dulu.

Fina juga menyandarkan sebelah wajahnya di dada Rafael. Dan ketika ia menoleh ke sumber kedatangan, dari sana, orang tua Rafael berikut Raden datang.

Meski merasa aneh dengan pelukan Fina, tetapi Rafael balas memeluk wanita itu.

“Orang tua dan kakekmu datang. Mereka tahu aku menginap di sini?” bisik Fina.

“Em! gumam Rafael benar-benar singkat tanpa balasan lain.

“Sudah cukup, kan, pelukannya?” lanjut Fina lagi.

“Memangnya mau sampai kapan? Kamu betah banget meluk aku!” cibir Rafael kemudian.

“Si Fina menggoyahkan imanku saja!” batin Rafael seiring Fina yang menyudahi pelukan mereka. Karena sebenarnya, ulah Fina juga sukses membuatnya gugup bahkan tegang.

Orang tua berikut kakek Rafael datang disertai seorang pria yang mengenakan setelan hitam. Pria itu membawa empat kantong besar yang ditentangnya menggunakan kedua tangan.

Fina segera mengulas senyum sambil membungkuk sopan.

“Kami hampir lupa memberikan ini,” ucap Mey sambil mengulas senyum basa-basi kepada Fina.

Rafael mengernyit menatap curiga mamanya sambil kembali mengantongi kedua tangannya di sisi celana.

“Rafael sangat tidak berpengalaman dalam menjamu seseorang apalagi calon mertua, jadi ... maaf jika dia juga kurang bersikap baik,” lanjut Mey.

“Ada beberapa ramuan herbal yang bagus untuk kesehatan. Termasuk ramuan untuk mempercepat penyembuhan tetanus untuk ayahmu,” timpal Raden dengan senyum ramahnya.

“Besok kalian pergilah dengan hati-hati.” Burhan berkomentar dengan gaya dinginnya. Benar-benar tidak disertai senyum sedikit pun.

“Tanpa campur tangan kalian, aku juga sudah menyiapkan segalanya.” Rafael menanggapinya dengan angkuh.

Yang membuat Fina merasa tertampar, tak lain karena kedatangannya sama sekali tidak disertai buah tangan, tetapi keluarga Rafael sampai memberinya banyak. Apakah mereka tulus? Atau ... mereka benar-benar sedang berusaha menamparnya?

Kendati merasa terbebani bahkan malu, Fina berangsur mengulas senyum sambil mengucapkan terima kasih. Dan yang membuat Fina kembali merasa terkejut, Rafael yang bertingkah menyebalkan ternyata mau mengambil alih empat kantong yang dikatakan sebagai oleh-oleh untuk orang tua Fina. Rafael membawakannya untuk Fina.

“Ya sudah. Tolong sampaikan salam kami kepada orang tuamu. Kami menunggu kabar baik agar bisa secepatnya ikut berkunjung,” tambah Burhan masih tidak mau memberikan senyumnya.

Fina langsung membalasnya dengan senyum yang lebih hangat. Senyum yang mungkin menjadi senyum paling tulus, selama kebersamaan mereka.

“Sekali lagi terima kasih banyak, Om ... Tan, ... Kek ... jadi merepotkan begini,” ujar Fina yang memang menjadi merasa sangat sungkan.

“Sudah enggak apa-apa. Kamu istirahat, ya.” Senyum di wajah Mey semakin lepas. Kemudian, fokusnya teralih pada Rafael. “Kamu mau sekalian pulang biar bisa langsung istirahat? Besok kalian berangkat jam berapa?” ujarnya.

“Biarkan saja mereka berdua dulu. Pasti masih banyak hal yang ingin mereka bahas apalagi selama sepuluh tahun, mereka juga jarang bertemu,” tegur Burham yang bahkan tidak menatap yang dimaksud. Fokus matanya menyisir suasana langit-langit lorong keberadaan mereka.

Fina sampai dibuat heran dengan sikap Burhan. Apakah nantinya, Rafael akan sedingin burhan?

“Ya sudah. Kami pergi dulu. Baik-baik, ya. Jangan lupa salam buat orang tua dan keluarga kamu!” Mey mengakhiri kebersamaan dan dibalas senyum ramah oleh Fina.

Dan yang terjadi pada Rafael, pria itu benar-benar cuek, hanya sebatas melepas kepergian kakek dan orang tuanya. Namun Fina yang teringat pembahasan mengenai maksud perceraiannya dan Bian pun kembali menanyakannya.

“Raf, yang tadi ... apa maksudmu, enggak ada perceraian, sedangkan kamu meminta pernikahan secepatnya?” Ia menatap serius Rafael dengan rasa kesal yang turut menyertai.

“Bercerai terlebih menerima perceraian hanya akan merugikanmu, terlebih jika melihat kilas balik hubunganmu dengan mantan suamimu.”

“Iya, maksudnya bagaimana?”

“Pembatalan pernikahan. Pembatalan pernikahan jauh lebih membuatmu terhormat. Nama baikmu dan orang tuamu juga akan lebih mudah kembali.” Rafael masih menatap Fina dengan serius. “Biar aku yang urus semuanya. Kamu cukup mengikuti saja.”

Fina menghela napas dalam seiring rasa lega yang ia kantongi.

“Namun jika ada hal yang harus kuperbaiki, ... jangan sungkan untuk mengatakannya,” tambah Rafael.

Fina segera mengangguk. “Bian ditinggal menikah oleh Lia--calon istrinya tepat satu hari sebelum hari pernikahan mereka. Dan di hari itu juga, Lia justru menikah dengan pria lain, pria yang juga merupakan ayah dari anak yang Lia kandung.”

Rafael menggeleng tak habis pikir. “Kamu tahu, kan, sejak detik ini juga, semua aksesmu dengan orang lain bahkan sebatas berkomunikasi, akan aku batasi?”

“Bukan masalah. Toh, aku juga jarang berkomunikasi dengan orang lain.”

Rafael tidak menemukan rasa keberatan dari jawaban Fina. Jadi, ia juga tidak membahas lagi perihal peraturan tak tertulis untuk hubungan mereka.

***

Keesokan harinya, sekitar jam setengah enam pagi, mereka menjalani perjalanan untuk menemui orang tua Fina.

Fina, dengan semua gaya yang sudah Rafael tentukan, dari sandang berikut riasan. Jadi, semua pakaian berikut rias milik Fina, tidak ada yang dipakai lantaran sudah ditentukan Rafael.

Kali ini, Fina mengenakan celana pensil panjang warna hitam yang dipadukan dengan blus lengan panjang warna jingga. Dan tak beda dengan semalam, wajah Fina juga hanya dihiasi rias tipis sedangkan rambut panjangnya masih digerai.

Rafael, dengan kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan celana pensil berwarna hitam, gayanya terlihat jauh lebih santai dari biasanya. Termasuk dengan kacamata min yang Rafael pilih untuk menutupi matanya yang masih sangat sipit.

“Fina, ... semalam aku enggak bisa tidur. Jadi jangan bangunkan aku. Biarkan aku tidur minimal tiga jam dari sekarang.” Rafael mengatakan itu dengan kenyataannya yang sudah terejam.

“Di meja depanmu sudah ada sarapan. Dan kalau kamu bosan, kamu bisa menonton televisi. Remote ada di meja juga. Tapi ingat, ... jangan keras-keras.”

Rafael terlihat jelas kelelahan. Bahkan pria itu sampai menutupi sekujur tubuhnya termasuk wajah, menggunakan selimut yang juga sudah tersedia.

Fina yang duduk di seberang Rafael, hanya mengangguk sambil menatap Rafael. Pria yang kiranya memiliki tinggi tubuh seratus delapan puluh senti itu membuat keadaan jok mobil yang ditumpangi menjelma layaknya kasur. Mungkin itu juga yang membuat Rafael memilih menggunakan mobil Alphard yang bisa menampung banyak penumpang dan membuat penumpangnya merasa sangat nyaman, untuk kepergian mereka kali ini. Rafael yang kelelahan sengaja memanfaatkan perjalanan kali ini untuk istirahat.

Di hadapan Fina, ada layar televisi berukuran dua puluh satu inch, selain dua kotak berisi spageti dan dua kotak berisi salad buah, selain empat buah air mineral berukuran satu setengah liter.

Fina tak lantas menyentuh makanan atau remote televisi. Yang ada, ia juga memilih tidur sesaat setelah menilik ponsel barunya yang tidak memilili pemberitahuan baru, kendati dari semalam setelah mendapatkan ponsel berikut nomor baru dari Rafael, ia sudah mengirim pesan WA kepada Rina.

Entah apa yang terjadi. Kenapa Rina sampai tidak membalas pesan Fina, padahal dari keterangan yang berhias centang dua warna biru, harusnya pesan itu sudah dibaca. Namun, keadan tersebut sukses membuat Fina merasa nelangsa. Bahkan, Fina sampai menitikkan air mata.

***

Dengan kemeja batik lengan panjang berwarna emas yang dipadukan dengan celana panjang warna hitam, Ipul melangkah gagah menuju ruang rawat Raswin. Tak hentinya, ia membenarkan kalung emas yang besarnya nyaris sama dengan rante sepeda. Kalung yang panjangnya sampai menyentuh dada tersebut sengaja Ipul keluarkan dari kemeja, dengan kenyakinan, kenyataan tersebut membuatnya terlihat semakin tampan terlebih kali ini, ia juga sampai mengenakan kacamata hitam tebal.

Kali ini, Ipul tidak datang sendiri. Karena di belakangnya juga disertai ayah dan ibunya.

Sumi ibu Ipul tampak bersahaja dengan setelan hijab warna kuning berikut tas hitam yang menghiasi pundak kanannya. Pun dengan Sukat sang suami yang mengenakan batik lengan panjang berikut celana hitam panjang.

Ketiganya yang tampak resmi begitu bersemangat menuju ruang rawat Raswin yang sudah ada di depan mata.

“Dek Fina mai oli wan ... Mas Ipul mau melamarmu lagi! Enggak peduli sekarang kamu ada di mana, Mas yakin, kali ini orang tuamu enggak bisa menolak. Setelah apa yang terjadi padamu dan semua orang sudah percaya!” batin Ipul sembari meraih gagang pintu ruang rawat Raswin dan siap membukanya.

Bersambung .....

Maaf, updatenya telat. Soalnya anak kembali sumeng. Kayaknya mau cacar ini.

Oh, iya, kemarin Author baru saja menamatkan cerita yang judulnya “Selepas Perceraian”. Kalian sudah baca juga belum?

Terus, mengenai visual, harus ada apa bagaimana? Takutnya ada yang enggak sesuai terus Author yang dikata-katain lagi -_- jadi malas kan.

Tapi mengenai visual, kalian bisa kasih masukan kalau memang harus ada, ya. Kalau gambaran dari Author sih sudah ada 😂

Ya sudah ....

Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam kayak karya yang lain apalagi itu yang Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) 😭

Salam sayang,

Rositi.

1
Sandisalbiah
emang ya.. polos ama o'on itu beda tipis ya... sarjana tp kok gak faham kode keras beserta petunjuk akurat yg di berikan Rafael.. Fina.. Fina... hah..
Sandisalbiah
kok jd cape sendiri lihat kesulitan dan nasib buruk yg menimpa si Fina ini... bertubi² tanpa bedah lho... benar kalau Allah itu menguji manusia tdk melebihi kemampuannya tp utuk Fina itu bukan sekedar ujian tp lebih tepatnya seperti kutukan... dr awal lho..
Sandisalbiah
oalah bu Fitri.. itu tuh dolar bukan mainan buuu.. dasar ndeso.. 🤦‍♀️🤦‍♀️
Catur Rini
gak masuk akal,jadi males bacanya, gak ada keluarga yg percaya gitu aja ma omongan oranglain dibanding anaknya sendiri, pa lagi anak kandung,posisi lagi kesusahan lagi.....
Catur Rini
sedikit tidak masuk akal
Omah Tien
pusing lihat nya fina ko sarja na ko bodoh ya meding kawin aja sm ipul g ribet ke jkt segala kalu bikinorang pusing
Omah Tien
jd cewe jg begagu kaku kan mau minta tolong apa lg jg sia2.kan kebaik orang
Dewa Nara
nanti nyesal loh bian oon...
Dewa Nara
emang kamar mandinya diluar ya
Dewa Nara
gak kebayang rasanya jadi fina, dipaksa nikah dan jadi pengantin pengganti...
Nurwana
kok Fina oon banget ya... padahal sarjana lho... kok kesannya kayak orang nda pernah duduk dibangku sekolahan...
Greiche Dian
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Greiche Dian
gapapa deh thor ga ada ipul timbang pembaca pada darting wkwkw
Greiche Dian
bwahahahahahahaha
Greiche Dian
ini jadi kayak semacam hewan yg ngeluarin bau ga enak gitu deh 🤣🤣
Greiche Dian
pengen tabok ipul pake penggorengan..
Susanti Susanti
Luar biasa
Nining Moo
ko fina kayak orng oon sih🤔
Nining Moo
terlalui labil sibian
Amrih Wiludjeng
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!