Awakening Of The Demon God
• Author : Moonlight Siao ( 'Lil Moonlight )
Siapa yang menyangka terlahir sebagai manusia membuat diriku dari seorang Putra Mahkota kerajaan Demon Beast menjadi seorang Putra Mahkota yang terbuang dan diburu untuk disingkirkan.
Aku Shio Lin terpaksa bertransmigrasi ke Dunia Paraler yang dihuni oleh Manusia, namun mereka masih saja mengejarku dan mencari keberadaanku.
Tapi suatu hari baru kusadari ada yang aneh dengan diriku, aku merasa ada suatu kekuatan merasuki tubuhku dan mengubahku menjadi sosok yang berbeda.
Ditambah lagi suatu sistem terbangkitkan dalam tubuh ini, membuat aku harus melakukan hal hal yang diluar nalar bertujuan mebuatku semakin kuat dan tangguh sampai aku akan menjadi Mahluk yang paling terkuat di seluruh Alam Dunia
Maka aku bisa kembali untuk menghukum mereka semua yang telah melanggar peraturan hukumku.
Salam kenal :
Jangan lupa semangatin author dengan :
Gift🌷☕ Favorit♥ Like👍 Comment💌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moonlight Siao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Ratu Azarya & Erl Marline
...¤¤¤...
Terdengar suara dari balik pintu perunggu besi itu, seakan-akan pintu itu berdecit seperti sedang terbuka.
Namun tidak ada yang menghiraukan hal itu, karena mereka sedang sibuk mengintrogasi feeya.
Kenz yang merasakan Ada suara dari balik pintu perunggu besi 'nan besar itu, iapun segera menolehkan tatapannya dan memperhatikan dengan sasakma.
Tiba-tiba sebuah butiran kristal es kecil meluncur dengan sangat cepat dan menggores sedikit tangan xavier yang saat itu sedang menggenggam feeya, sehingga membuat feeya terlepas dari belenggunya.
Xavier lantas langsung menoleh kearah pintu perunggu besi itu yang berada dibalik lorong dingin tidak jauh dari lokasi mereka berada, xavier jelas sangat yakin serpihan kecil kristal es yang melukai tangannya barusan berasal dari sana.
Sedangkan feeya yang begitu bahagia karena terlepas berseru dengan senangnya, " Yeah, bebas! " seru feeya yang lalu menggerakkan sayap kecilnya dan terbang riang
Artemis yang melihat feeya terlepas dan terbang dengan riangnya berusaha menangkapnya kembali, " tidak kena! " seru feeya mengejek, yang alhasil merekapun saling kejar-kejaran lagi.
Xavier berjalan maju mendekati lorong yang terdapat pintu perunggu besar itu, dan kenz yang melirik xavier kembali mendekati pintu itu membuat dirinya ikut mendekati pintu besar itu.
" Kau merasakannya juga? " ucap kecil xavier pada kenz, namun kenz menjawabnya dengan hanya mengangguk.
" Apa mereka sudah akan keluar? " tukas tanya xavier kembali, xavier dan kenz pun kembali menatap pintu perunggu itu.
Sedangkan artemis yang saat itu sedang berusaha menangkap feeya, " dapat! " seru artemis.
" Sekarang kau tidak bisa kabur lagi. " ujar artemis.
" Lepaskan! " seru feeya, memberontak.
Tetapi tiba-tiba kebisingan yang mereka buatpun terhenti seketika itu juga, mereka ikut terpaku melihat kenz dan xavier yang sedang menatap pintu besar itu.
Lantas mereka berdua ikut menghampiri xavier dan kenz, " apa yang terjadi? " sapa artemis, bertanya-tanya.
Namun xavier dan kenz hanya diam terus menatap pintu itu, sehingga membuat mereka semua jadi hanya menunggu sambil menatapi pintu itu sepanjang malam.
Tiba-tiba disaat semua mulai kelelahan dan terlelap, pintu itu kembali berdecit dan berbunyi lagi sehingga membuat mereka terjaga sepanjang malam.
Sesampai esok harinya, setelah fajar menyingsing tinggi.
Pintu itu kembali berbunyi, namun kali ini pintu itu terbuka secara perlahan.
" Berisik sekali, aku masih ingin tidur. " ujar feeya.
" Aku juga masih mengantuk. " sambung artemis dengan lemas.
" Benar paling hanya bunyi tertiup angin. " sambung feeya kembali.
Akan tetapi xavier dan kenz yang mendengar bunyi pintu perunggu besi itu, mereka berdua pun segera bangun melihat.
Begitu xavier dan kenz membuka mata mereka berdua, dilihatnya kalau pintu itu telah sedikit terbuka.
Dari balik pintu perunggu besi itu tampak keluar asap putih yang disertai udara dingin, yang terus merambah ke sekujur tubuh tubuh xavier.
Rasa dingin itu seperti memberikan sebuah respon pada luka kecil yang ada ditangan xavier tadi, bekas luka akibat serpihan kristal es yang menggores tangannya tadi 'kian lama 'kian semakin terasa nyeri dan sakit.
Namun tampak jelas dari raut wajahnya kalau xavier sedang menahan semua rasa sakitnya itu.
Tidak selang beberapa lama pintu itu pelahan-lahan terbuka semakin lebar, dan seberkas sinar cahaya terang kemudian keluar dari arah pintu itu.
Cahaya yang teramat menyilaukan itu sampai membuat feeya dan artemis kembali terjaga, sehingga membuat mereka berdua mau tidak mau harus terbangun dari tidurnya.
...•••...
Mereka semua menatap kilauan cahaya yang menusuk mata itu, yang tidak lama dari balik tabir cahaya tampaklah dua sosok yang tampak tidak asing lagi dilihat muncul dari balik pintu perunggu besi tersebut, yang tak lain adalah Ratu azarya dan Erl Marline.
Ratu azarya sambil menggendong bayi putra mahkota, ia berjalan dengan perlahan mendekati xavier dan juga kenz yang tidak lama disusul oleh erl marline dibelakangnya.
" Ratu azarya?! " ucap xavier dalam hatinya.
" Bagaimana mungkin bisa ratu azarya ada disini? "
" Benarkah yang dihadapanku ini ratu azarya? "kembali tanya xavier dalam hatinya yang sempat meragu.
Xavier pun segara menghaturkan hormatnya kepada ratu azarya, meski luka kecil ditangannya terasa sakit.
Dilihatnya pula sosok seorang wanita berambut putih, memegang sebuah tongkat elder elf dari kayu mahoni yang berwarna hitam pekat.
Xavier melirik ke arah wanita berambut putih itu dengan sebuah senyuman, terlihat jelas kalau xavier telah sangat mengenal wanita itu.
" Lama tidak berjumpa xavier. " tegur erl marline.
Sewaktu erl marline menyapa xavier semua mata terpanah kepada xavier bahkan feeya sampai tercengang kaget mendengarnya, hanya ratu azarya yang tidak lagi merasa heran.
Namun saat itu xavier hanya terus merunduk saja bersikap hormat kepada ratu azarya dan erl marline.
Sebersis tampak diwajah xavier pada saat itu sedang menahan rasa sakit luka yang ada ditangannya.
" Sepertinya kau tidak belajar dengan benar, maka karena itu aku menghukum dirimu dengan sedikit melukai tanganmu. " tegur erl marline.
Errgghhhh...
Xavier kembali menahan rasa sakit ditangannya dan tetap diam, tapi feeya dengan segera mendekati xavier dan melihat keadaan tangan xavier yang terluka.
Mata feeya berkedip-kedip mencari luka ditangan xavier, dan ternyata benar ada bekas luka goresan ditangan xavier.
Luka itu tampak kecil tapi seperti sebuah racun yang dapat membekukan aliran darah pada nadi, dalam seketika tampak tangan xavier telah membiru dan terasa kaku.
Kenz yang mendengar itu juga melirik ke arah xavier dengan ekspresi datar, " itukan hanya luka kecil, apa begitu serius? " pikir kenz saat itu yang merasa aneh, lalu ia menatap erl marline.
" Jadi itu penyihir erl marline yang begitu dilegendakan. "
" Dia mengenal xavier, artinya xavier dan erl marline ada sebuah keterikatan. " analisis kenz dalam hatinya, sedang mata feeya yang menyipit kecil tajam kearah xavier, " apa xavier mahluk abadi juga? " telitinya picik.
Tapi tidak lama muncul aluna sambil membawa bayi demon yang ada dalam keranjang itu, artemis yang melihat saudarinya datang jadi ikut kaget.
" Sebenernya ada apa ini? " tanya kecil artemis, namun dengan santai aluna berjalan melewati artemis dan menghadap erl marline, lalu meletakkan keranjang bayi demon yang dibawanya ke sisi dekat hadapan erl marline.
Tanpa banyak berbicara lagi, erl maline langsung membuka pokok pembicaraan pada azarya.
" Aku tahu niat kedatanganmu. "
" Tapi kau juga tau kalau kau hanya memiliki serpihan batu giok bulan biru dan tidak utuh, lalu bagaimana aku bisa membantu dirimu...? " ucap erl marline yang belum selesai.
" Kau adalah ibuku, tapi mengapa aku tidak tau kalau kau masih hidup? " potong artemis, merasa tidak bisa menerima kenapa hanya dirinya yang selama ini tidak tau apa-apa, sedang aluna sepertinya sudah tau tentang semua ini.
" Ditambah lagi bukankah aluna tadi sedang dalam keadaan tak sadarkan diri, tapi mengapa bisa ada disini? " lanjut tanya artemis.
Erl marline langsung melihat ke arah artemis, dengan tatapan tajam karena telah memotong pembicaraanya dengan ratu azarya.
" Apa kau pantas mempertanyakan semua itu padaku?! " ucap erl marline datar, namun dengan nada layaknya seorang pemimpin keluarga.
" Tapi... aku... "
" Aku hanya... "
" Aku merasa ini tak adil karena... " ucap artemis terbatah-batah.
Namun ia tidak dapat melanjutkan perkataanya karena tak berani bersikap lancang pada erl marline pemimpin keluarganya, ditambah lagi artemis melihat tatapan mata erl marline yang tertuju tajam padanya.
" Dari dahulu kau terlalu gegabah dan mudah terpancing amarah yang ada malah akan menggagalkan rencana yang sudah disiapkan begitu lama. " ucap erl marline.
...¤¤¤...
Lalu erl marline mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di balik pintu perunggu besi itu, setelah mereka semua masuk pintu perunggu besi itupun tertutup kembali dengan sendirinya.
Didalam begitu banyak energi yang berhamburan dan berbenturan, sehingga tidak sesuai dengan saturasi yang ada.
Ketika mereka sampai pada suatu tempat dimana dihadapan mereka berdiri sebuah diagram sihir dan didalamnya terdapat sebuah bola energi yang cukup besar dan hidup.
" Tempat apa ini? "
" Bahkan tingkat kadar oksigennya saja sangat tipis. " pikir kenz dalam hati begitu masuk kedalam, namun ia hanya diam dan melihat semuanya dengan saksama.
Selang tidak beberapa lama, Erl marline mulai menceritakan apa yang telah terjadi selama ini, tentang kepura-puraannya serta mengapa hanya aluna dan feeya saja yang mengetahui hal ini.
" Semenjak kedatangan echi damarun ke tempat ini, dari semenjak itu aku harus melindungi tempat ini sampai waktunya tiba. "
" Ditambah lagi raja demon beast azzriel telah mencurigai tempat ini sejak lama, namun semua mata-mata yang dikirimnya ketempat ini telah kami buat tidak pernah ada yang kembali. " ucap erl marline menjelaskan.
Mendengar hal itu kenz langsung teringat kalau dia dahulu juga pernah diperintahkan oleh raja azzriel untuk memeriksa seluruh hutan kabut ini, alhasil semua prajurit terlatih yang diutusnya menghilang tidak ada kabar.
" Akhirnya kami memutuskan untuk pindah meninggalkan tempat ini, tapi kami masih harus menunggu sampai yang dinantikan olehnya datang. " lanjut jelas erl marline.
" Pindah?! " xavier terkejut mendengarnya.
" Ya, kami sudah melakukan banyak perpindahan dan menghabiskan banyak energi termasuk energi kehidupan aluna, tetapi artemis yang kutugaskan sebagai penjaga earthareum dia tidak pernah dilibatkan dalam hal ini. " jawab erl marline.
" Makanya dia tidak tau sama sekali akan hal ini, yang artemis tau setelah kedatangan echi damarun ibu terluka parah dan tiada, karena itu semua tugas menjaga monstareum aku yang jalankan. " sambung ucap aluna.
" Echi damarun? "
" Apa mahluk yang dikuasai oleh kai adalah echi damarun? " tanya kenz.
" kalau tidak salah mahluk yang mengejarmu itu bukan, mahluk yang kau sebut echi damarun? " sambung xavier melihat feeya.
" Mahluk itu hanya peliharaan echi damarun. "
" Echi damarun yang asli telah kusegel kekuatannya. "
" Kini mahluk itu tertidur didalam goa dekat sini bersama dengan peliharaannya itu dan feeya kutugaskan untuk menunggu disana. " jelas erl marline kembali.
" Memang apa yang diinginkan mahluk itu? "
" Kenapa mahluk itu bisa datang ketempat ini dan begitu mempersulit kalian? " tanya ratu azarya.
" Mahluk itu menginginkan inti kekuatan yang ada ditempat ini. "
" Inti kekuatan yang telah terkubur selama ratusan ribuan tahun lamanya. " jawab erl marline.
" Sumber kekuatan yang ditakuti oleh para Demon, Noblesse, dan Iblis. " ujar erl marline menegaskan.
" Deblesslayer Nobeast... " ucap xavier yang terlontar begitu saja, sehingga membuat semua mata tersorot kembali padanya.
Mata feeya berkedip-kedip kembali melihat xavier, " kok, kau bisa tau? " tanya kecil feeya keheranan.
" Karena xavier adalah anak manusia yang kulatih untuk melindungi para kaum bangsawan yang masih tertinggal di underworld ini. " jawab erl marline.
Kenz, feeya, artemis, dan aluna pun terkejut mendengar pernyataan erl marline kalau xavier adalah manusia.
" Maksudnya manusia biasa? " tanya artemis terkejut.
" Ya, manusia biasa. "
" Seorang manusia biasa yang mencapai semua kemampuan setara para demons dan bangsawan. " jawab erl marline kembali.
" Jadi kau benar-benar manusia biasa? " ujar kecil kenz dengan nada datar, namun xavier melirik dingin ke arah mereka.
" Serius manusia? "
" Padahal dia orang pertama yang berhasil memprovokasi kai sampai ia berubah menjadi seperti itu, dan dia ternyata adalah manusia?! ." ingat kenz dipikirannya yang terlintas begitu saja ketika mengingat pertarungan xavier melawan kai , mendadak wajahnya terlihat tampak suram.
KAI VS XAVIER ...
MONSTER !!! ...
" Mereka sama-sama terlihat seperti monster saat bertarung...! "
" Apa mungkin Xavier sungguh adalah manusia?! " tanya kenz dalam hatinya yang tidak dapat membayangkan lagi gambaran yang terlintas dipikirannya dikala mengingat pertarungan itu.
Tanpa terasa hari pun berlalu begitu cepat, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat didalam sana.
...•••...
Sementara itu malam harinya, dikediaman selir abbystera.
Disebuah ruang hampa dari balik dinding yang tidak terlihat dengan mata biasa yang letaknya tidak jauh dari kamar selir abbystera, dari sana samar-samar terdengar desis suara ular yang sedang meregang sakit.
Saat itu Nilakantha ular yang selalu menempel dengan Nun ibunya sedang mengalami proses ekdisis, ia sedang melepaskan diri dari kulit luar ibunya.
" Selamat ibu, akhirnya kau bisa mengambil ahli tubuh bibi tanpa perlu dibantu putramu ini. " ucap nilakantha begitu sudah selesai proses ekdisis dan terlepas dari kulit ibunya.
" Kau benar sekali, dengan begini Raja Azzriel sendiri sudah tidak akan bisa membedakan lagi. " nun mulai berdiri dengan jenjang kakinya dan memakai gaun yang biasa dipakai selir abbystera.
" Lalu apa rencana ibu sekarang? " tanya Ashwakantha.
" Tentu saja akan menggunakan tubuh bibi kita dan menjadi ratu berikutnya di kerajaan Demon Beast ini. "
" Masa hal seperti ini saja harus kau tanyakan ashwakantha, kau benar-benar bodoh sekali. " ujar nilakantha menyindir kakaknya yang besar dan bodoh.
" Kau...Kau...!" seru ashwakantha yang geram setiap kali diledek bodoh oleh adiknya nilakantha, namun ditahan olehnya karena ia tahu kalau dirinya hampir merusak rencana yang dibuat ibunya.
" Kau masih berani berkata-kata, ckck..! "
" Karena kamu sangat payah dalam berakting, maka penyamaranmu sebagai kyorin dapat dengan mudah disadari oleh kai dan membuat dirimu sendiri dalam bahaya. "
" Untung saja kau tidak kenapa-kenapa tapi kau telah kehilangan 50% energimu dan hampir membuat rencana yang disusun selama ini berantakan. " jelas nilakantha saat itu
" Sudahlah, ini juga bukan salah ashwakantha. "
" Kalau saja ratu azarya tidak memergoki aku disaat hendak membuang bayi itu, pasti tidak akan ada perubahan rencana sebesar ini dan aku tidak perlu melepaskan kyorin yang asli. "
" Untungnya aku telah menghapus beberapa ingatan kyorin dan sedikit memutar cerita dalam ingatanya. " jelas nun kembali.
" Tapi setidaknya kita berhasil menyingkirkan ratu azarya dan bayi perempuan itu. " sambung nilakantha.
" Akupun juga telah berhasil menyamar menjadi ratu azarya dan membuat bayi laki-laki demon beast itu kembali dan kyorin yang menyelamatkannya sama sekali tidak menyadari semua itu, hahaha... " sambung ashwakantha menjelaskan dirinya yang saat itu kembali menyamar menjadi ratu azarya ditengah keramaian dari balik pohon sambil menggendong bayi putra demon beast.
" Mungkin sekarang Raja bodoh itu sedang menjaga putra palsunya yang kita temukan entah darimana dan kita bawa dalam permainan kita ini. " lanjut nun tersenyum sinis tajam yang lalu berjalan pergi meninggalkan ruang hampa tempat mereka berkumpul menyusun rencana.