NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Melindungi Keluarga

"Saya tidak mau bergabung. Saya tidak ingin terlibat dalam pertarungan korporasi besar mana pun."

Penolakan itu keluar begitu saja dari mulut Rudi. Pemuda berkacamata tebal itu bahkan tidak menoleh ke arah pintu. Matanya tetap terpaku pada deretan kode hijau yang terus bergerak di layar monitor hitam. Jemarinya sibuk mengetik di keyboard mekanik, menciptakan bunyi ketukan yang memenuhi lab komputer universitas.

Shaquena melangkah masuk pelan. Ruangan itu terasa sangat dingin. Suara AC bercampur dengan dengung puluhan server yang terus menyala. Pada pukul delapan malam, tidak ada mahasiswa lain di sana.

Ia berhenti tepat di samping kursi Rudi. Matanya menyapu layar monitor di depannya. Ribuan baris algoritma memenuhi layar. Itulah inti dari sistem pelacakan logistik paling presisi, karya yang suatu hari nanti bisa mengubah industri distribusi di ibu kota.

"Asisten dosenmu mencuri sistem logistik waktu nyata buatanmu," kata Shaquena tenang. Suaranya terdengar jelas di tengah sunyinya lab.

Jari Rudi langsung berhenti di atas tombol spasi. Bahunya menegang.

"Dia mempresentasikan kode itu di depan dekan pagi ini," lanjut Shaquena. "Dia mengaku program itu sebagai proyek tesisnya. Besok pagi, dia akan menjual sistemmu ke perusahaan rintisan logistik seharga dua miliar rupiah."

Tatapan Shaquena beralih ke jaket parasut kusam yang dikenakan Rudi. "Sementara kamu, pencipta aslinya, masih duduk di ruangan dingin ini dengan perut kosong."

Rudi memutar kursinya dengan keras. Wajahnya memerah menahan amarah. Lingkar hitam di bawah matanya menjadi bukti sudah berhari-hari ia mengorbankan waktu tidur demi menyempurnakan program itu.

"Itu bukan urusan Anda, Nyonya." Rudi menatap Shaquena tajam. Napasnya memburu. "Saya bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Besok pagi saya akan melaporkan plagiasi itu ke komisi etik kampus."

"Dan kamu yakin komisi etik akan memihak mahasiswa tingkat akhir yang tidak punya koneksi?" Shaquena membalas dengan senyum tipis. "Asisten dosenmu adalah keponakan wakil rektor. Dia punya uang dan perlindungan. Sementara kamu hanya punya kebenaran."

Rudi mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.

"Di dunia ini, kebenaran tanpa kekuatan hanyalah lelucon yang menyedihkan," kata Shaquena dingin.

Rudi menelan ludah. Ucapan wanita di hadapannya menghantam tepat sasaran. Ia tahu, melapor ke kampus kemungkinan besar tidak akan mengubah apa pun.

Shaquena menarik kursi lipat dari meja sebelah, lalu duduk dengan tenang sambil menyilangkan kaki. Kini jarak mereka lebih dekat. Suasana yang semula tegang mulai sedikit mencair, memberi Rudi kesempatan untuk bernapas.

"Aku tidak datang untuk merendahkanmu, Rudi." Suara Shaquena kini lebih lembut. Tatapannya beralih ke secangkir kopi instan yang sudah dingin di dekat siku Rudi. "Kamu sangat berbakat. Kode yang kamu buat bisa memangkas biaya bahan bakar truk sampai empat puluh persen."

Rudi hanya menundukkan kepala.

"Sayangnya, orang-orang serakah selalu bisa mencium bakat dari jauh," lanjut Shaquena pelan. "Mereka mendekat hanya untuk merampas hasil kerja kerasmu. Aku pernah ada di posisimu. Melihat karya yang kubangun diambil oleh orang yang paling kupercaya."

Rudi mengangkat kepala. Wajah mudanya dipenuhi kepahitan.

"Lalu apa bedanya Anda dengan asisten dosen itu?" balasnya sinis. "Anda datang menawarkan uang untuk membeli otak saya. Anda hanya ingin menjadikan saya alat untuk melawan Mahendra Group."

Rudi tertawa pelan, tanpa sedikit pun rasa geli. "Kalau saya bergabung dengan tim Anda, ujung-ujungnya saya juga akan mati digilas raksasa bisnis itu."

Shaquena tetap tenang. Ia membuka tas kulit hitamnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat berlogo firma hukum ternama. Amplop itu diletakkannya tepat di atas keyboard Rudi.

"Buka," ucapnya singkat.

Rudi menatap amplop itu sesaat sebelum meraihnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengeluarkan selembar dokumen bermaterai. Matanya langsung membelalak begitu membaca kop surat dan paragraf pertamanya.

"Ini..." Suaranya tercekat.

"Itu surat somasi resmi dari tim pengacaraku, Maya." Shaquena menyandarkan tubuh ke kursi. "Satu jam yang lalu, salinannya sudah dikirim ke dekan, rektorat, dan perusahaan rintisan yang berniat membeli programmu."

Rudi membaca isi surat itu dengan saksama. Deretan ancaman pidana terkait pencurian hak kekayaan intelektual membuat tubuhnya bergetar.

"Kami juga melampirkan riwayat log pengetikan dari server komputermu sebagai bukti forensik digital," kata Shaquena tenang. "Asisten dosenmu sekarang sedang memohon ampun di ruang dekan. Karier akademisnya berakhir malam ini."

Rudi mendongak dengan mulut sedikit terbuka. Belum pernah ada orang yang membelanya sampai sejauh ini.

"Besok pagi dia akan diberhentikan secara tidak hormat." Tatapan Shaquena tetap lurus ke arahnya. "Dan sistemmu sudah resmi dipatenkan atas namamu hari ini. Hak ciptamu aman."

"Anda melakukan semua ini untuk saya?" bisik Rudi lirih. "Padahal saya bahkan belum setuju bergabung?"

"Aku hanya membersihkan jalanmu," jawab Shaquena mantap. "Karena aku membutuhkan kejeniusanmu untuk membersihkan jalanku. Tujuan kita sama. Kita sama-sama muak melihat orang licik menindas mereka yang lebih lemah."

Rudi meletakkan kembali surat somasi itu di atas meja. Ia mengusap wajahnya yang kuyu. Pertahanannya mulai runtuh. Ia memang bersyukur, tetapi rasa takut masih terlalu kuat untuk diabaikan.

"Pak Stefanus baru mengambil alih Divisi Logistik Mahendra Group siang ini," jelas Shaquena. "Sistem distribusi mereka sedang kacau. Kami membutuhkan program waktu nyatamu untuk membenahi seluruh jalur logistik. Kamu akan menjadi direktur teknologi, Rudi. Bukan lagi mahasiswa yang terus diremehkan."

Rudi terdiam. Lab kembali dipenuhi suara dengung AC dan server yang terus bekerja.

"Saya benar-benar berterima kasih karena Anda sudah menyelamatkan hak paten saya, Nyonya." Rudi menggeleng pelan. "Tapi jawaban saya tetap sama. Saya menolak bergabung."

Shaquena mengernyit tipis. "Berikan aku satu alasan yang masuk akal."

"Keluarga." Rudi menatap mata Shaquena tanpa mengalihkan pandangan. "Saya bukan pria lajang yang bisa mempertaruhkan nyawa sesuka hati. Saya masih punya keluarga yang harus saya jaga."

Jemarinya meremas ujung jaket yang dikenakannya.

"Saya punya kakak laki-laki bernama Radityo. Dia bekerja sebagai kuli bangunan untuk membiayai kuliah saya." Suara Rudi mulai bergetar. "Saya juga punya adik perempuan, Mirna. Sekarang dia dirawat di rumah sakit umum daerah karena gagal ginjal."

Rudi menarik napas panjang, berusaha menahan sesak di dadanya.

"Kalau saya ikut perang melawan keluarga Mahendra, mereka pasti mencari titik lemah saya." Matanya mulai berkaca-kaca. "Mereka akan meneror keluarga saya. Saya tidak bisa mempertaruhkan nyawa Mirna demi ambisi balas dendam korporasi Anda."

Shaquena terdiam. Ia mengerti ketakutan pemuda itu. Ancaman terhadap keluarga adalah hal yang paling ditakuti siapa pun yang masih punya hati. Ia pernah merasakan ketakutan yang sama saat Samuel dipenjara. Karena itu, ia tidak akan memaksa Rudi masuk ke luka yang pernah ia alami.

"Keadilan memang selalu menuntut harga yang mahal," ucap Shaquena lembut sambil berdiri. "Aku menghargai keputusanmu untuk melindungi keluargamu."

Shaquena meletakkan kartu nama hitamnya di tepi meja.

"Tapi ingat satu hal, Rudi. Menghindari pertarungan tidak selalu membuat keluargamu aman dari orang-orang jahat."

Ia berbalik menuju pintu keluar lab. Baru dua langkah berjalan, dering ponsel memecah keheningan ruangan.

Rudi buru-buru merogoh saku jinsnya. Nama yang muncul di layar ponselnya yang retak membuat wajahnya berubah. Radityo. Kakak sulungnya itu hampir tidak pernah menelepon malam-malam kecuali ada sesuatu yang gawat.

Rudi langsung mengangkat telepon. "Halo, Mas?"

Shaquena menghentikan langkahnya di ambang pintu. Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba muncul. Ia menoleh ke belakang.

"Apa?!" teriak Rudi.

Wajahnya seketika pucat. Lututnya lemas hingga hampir tak mampu menopang tubuhnya.

"Gagal bagaimana, Mas? Bukannya kemarin sore jaringan donornya sudah dinyatakan seratus persen cocok?" Suaranya meninggi, memecah kesunyian lab.

Dari seberang telepon terdengar suara Radityo yang penuh kepanikan. Kakak sulungnya itu menangis.

"Aku ke sana sekarang, Mas! Tolong jaga Mirna. Tunggu aku!"

Rudi menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menyambar jaket lusuh di sandaran kursi hingga jatuh ke lantai. Tanpa mematikan komputer, ia berlari ke arah pintu. Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Ada apa, Rudi?" tanya Shaquena cepat. Ia melangkah mendekat dan menahan bahu pemuda itu.

"Adik saya..." Napas Rudi tersengal. Suaranya pecah di antara isak tangis. "Rumah sakit bilang tubuhnya tiba-tiba menolak ginjal baru itu saat operasi."

1
Rini Hasmira
kok bs keren bgini sich thor
yula
💪💪💪💪💪thor
Anita Rahayu
jgn biarkan thor😡😡😡😡😡😤😤😤😤😤😤😤
gaby
Shaquena sok pahlawan sih. Sok jd donatur anonim, akhirnya uangnya terbuang sia2 oleh pengkhianatan Daniel. Mengulang wkt tp ko tetep bodo, tetep kalah. Kampret lah
gaby
Kayanya Sebastian jg mengulang wkt y?? Ko dia slalu tau pergerakan Quena
gaby
Trus wkt Quena ke kampus Daniel buat apa?? Ko bukannya menjalin kerjasma malah jd penonton kehancuran Daniel doang
gaby
Ko mendiang istri sih?? kan helena istri Stevanus & msh hidup
gaby
Oalah ini flasback sblm mengulang wkt. Coba di sisipin kalimat Flasback, biar ga gagal paham
gaby
Ko suaminya sih?? Bukannya shaquenq mengulang wkt, harusnya blm nikah dong. Ko Saquena di panggil nyonya mahendra?? Jujur aq bingung sm alurnya
Juriah Rahmat
lanjuut thor
Juriah Rahmat
kerreenn
Juriah Rahmat
lanjuuut thor gk pake lama yg b
nyaaaakk jg yaaa/Grin/
Santi Seminar
kalo cuma reinkarnasi sebelum menikah dgn Bastian sih gak adil ya rasanya
INeeTha: ka aku gagal paham, gimana maksudnya "ngga adil" coba tolong Kaka kasih aku penjelasan, kali aja aku dapet insight lain. 🙏🙏🙏
total 1 replies
R_Bell
💪💪💪
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!