NovelToon NovelToon
Jalan Pulang

Jalan Pulang

Status: tamat
Genre:Romantis / Supernatural / Spiritual / Kriminal / Tamat
Popularitas:210.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: azhar muhammad

Novel ini berkisah tentang pencarian seseorang dalam menemukan Tuhan-nya. Seorang tersebut adalah mantan seorang preman kawakan.
Namanya Hazri. Pemuda asal Jombang, Jawa Timur, itu merantau ke Jogja hanya untuk menuntut ilmu. Tapi, nasib membawanya menjadi ketua geng preman kelas atas ternama di Jogja, Kopen.
Kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Hazri membuatnya disegani. Sebagai ketua geng Hazri pun akrab dengan kehidupan super keras dan kejam.
Suatu ketika, ia terpaksa membunuh seorang anggota geng di Jepang. Hal itu membuatnya harus menjalani pelarian selama berbulan-bulan. Dan, selama perjalanan itulah, perjalanan Hazri dalam mencari Tuhan pun dimulai. Dari sekedar risih tidak sholat sedangkan yang lain sholat, Hazri pun mulai menjalankan ibadah wajib tersebut.
Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Putus asakah Hazri dalam mencari Tuhan-nya? Bagaimana pula dengan nasib geng Kopen dan anak buahnya?
Simaklah perjalanan sang tokoh dan pergolakan psikologinya. Selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon azhar muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. berita televisi

Pagi-pagi Hazri sudah duduk di depan televisi. Dia melihat siaran berita pagi yang pasti menyiarkan kejadian tadi malam. Dan benar saja, sebuah stasiun swasta memberitakan pembunuhan di depan warkop Blandongan.

“Selamat pagi, Pemirsa. Berita pagi ini diawali dengan sebuah berita pembunuhan yang terjadi di depan warung kopi Blandongan di kawasan Banguntapan Sleman Jogjakarta tadi malam. Di temukan dua korban berkelamin laki-laki yang belum diketahui identitasnya. Kedua korban ini ditembak dari jarak yang cukup dekat. Hal ini terbukti terdapat empat butir peluru bersarang di tubuh salah seorang korban, dua di dada, satu di leher, dan satu di kepala korban. Sementara korban yang lain ditembak di bagian perut serta kepala.”

Muncul gambar-gambar di TKP...

“Menurut kesaksian dari saksi mata di tempat, pelaku diperkirakan berjumlah lebih dari sepuluh orang, mereka mengendarai tiga mobil Panther. Diyakini pelaku adalah orang yang profesional, terdapat diantaranya memakai seragam loreng tentara. Saksi juga menyebutkan bahwa selain membunuh, para pelaku juga telah menculik seorang rekan dari kedua korban tersebut. Seorang anggota polisi yang kebetulan berada di lokasi saat kejadian mengalami gegar otak akibat dianiaya oleh para pelaku. Saat ini yang bersangkutan dirawat di Rumah Sakit Sardjito Jogjakarta. Sampai berita ini ditayangkan pihak kepolisian masih melakukan olah TKP dan belum memberikan keterangan resmi mengenai kejadian tersebut...,” kata perempuan pembaca berita itu.

Hazri menyimak gambar-gambar rekaman kejadian yang masih ditayangkan sesaat setelah beritanya. Terbayang kekacauan situasi wakop Blandongan tadi malam ulah para anak buahnya itu.

Selesai beritanya. Hazri tersenyum tipis. Lanjut ke berita selanjutnya...

“Sementara itu, tadi malam di kawasan Kampus Orange Jogjakarta juga terjadi kejadian pembantaian secara brutal...”

Hazri kembali  menyimak.

“Sebuah rumah di kawasan tersebut yang dijaga sekelompok pemuda diserang oleh kelompok pemuda lain. Tercatat terdapat empat puluh pemuda tewas dan lebih dari lima belas orang terluka parah. Kondisi tempat pun hancur berantakan...”

Sejenak kemudian muncul gambar-gambarnya. “Gilaa...” Hazri berkata pelan melihat hasil kerja Ajay dan Sapri itu.

“Seorang pengayuh becak yang melintas tidak jauh dari tempat kejadian menuturkan, dia melihat tiga truk mengangkut sekelompok pemuda yang setibanya di lokasi langsung menyerang pemuda yang ada di rumah tersebut...”

Ada wawancaranya pula. “Banyak sekali Mas...,” kata saksi mata tersebut. “Lebih dari seratus orang...Huuhh, serem, Mas, ngeri pokoknya...,” sambungnya bersemangat tapi matanya ketakutan. Orang-orang yang ikut masuk di kamera TV itu pun mengiyakan keterangan Bapak ini. “Bener, Mas..., kejadiannya cepet banget...,” komentar salah seorang tanpa diminta.

Pembaca berita melanjutkan, “Menurut saksi mata yang lain, setelah melakukan aksinya, para pemuda yang menyerang langsung kabur kembali naik truk. Pihak kepolisian belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Namun menurut seorang perwira polisi yang berhasil kami wawancarai, dugaan sementara adalah perkelahian antar kelompok preman. Sampai saat ini olah TKP masih terus dilakukan oleh pihak kepolisian...,” kata pembawa berita yang tadi.

Tayangan gambar-gambar kejadian di wilayah Kampus Orange jauh lebih dramatis daripada kejadian di Blandongan. Markas Kapri cs itu layak disebut tempat pembantaian. Pecahan kaca berserakan, meja kursi sudah tidak berbentuk lagi, mayat-mayat bergelimpangan ditutupi koran bekas. Darah ada di mana-mana. Belum lagi potongan-potongan bagian tubuh yang berserakan. Jangankan orang awam, Hazri pun miris melihat karya Ajay dan Sapri ini.

Jeda iklan. Hazri mencari siaran lain. Hampir semua berita pagi ini dari berbagai stasiun televisi swasta menyiarkan kejadian di kawasan Kampus Orange dan Blandongan. Tayangan gambar dan isi beritanya tidak jauh berbeda. Hazri terus menyimak, siapa tahu ada yang menyiarkan berita tentang Day di Kedubes Jepang. Ternyata, sampai semua siaran berita pagi itu habis, berita tentang Day belum juga muncul. Mungkin nanti siang atau sore baru ada, sebab tidak mungkin sekarang mayat Day belum ditemukan oleh orang.

Hazri beranjak keluar kos mencari makan, perutnya menggerutu dari tadi. Seperti biasa pedagang soto keliling menjadi sarapan favorit baginya. Hazri memesan seporsi untuk langsung dimakan di tempat. Dia menyantap dengan cepat sarapan sotonya lalu minta dibungkuskan seporsi lagi untuk di bawa ke kos. Lapar betul kelihatannya. Selesai sarapan, Hazri menyempatkan duduk di teras depan, namun belum lagi rokok akan dinyalakan siaran televisi yang masih dia nyalakan dari tadi itu menyiarkan breaking news tentang ditemukannya mayat di jalanan depan kantor Kedubes Jepang. Hazri pun bergegas masuk, dia duduk di depan televisi menyimak berita yang memang ditunggunya itu.

“Dini hari tadi, sesosok mayat ditemukan di depan Kedutaan Besar Jepang di Jalan Surdiman Jogjakarta. Kondisi mayat yang terbungkus plastik ini sangat mengenaskan. Kepala terpisah dengan tubuhnya dan pada bagian perut terdapat luka lebar yang menganga diduga karena sayatan benda tajam. Diduga mayat ini adalah korban penganiayaan yang kemudian tubuhnya dimutilasi. Walaupun belum diketahui identitas korban, tetapi menurut keterangan kepolisian, dari ciri-ciri fisiknya korban bisa dipastikan adalah warga negara asing. Yang kemungkinan warga Jepang. Pihak Kedutaan Besar Jepang masih menolak untuk memberi konfirmasi tentang kejadian ini. Juru bicara Kedubes Jepang menyatakan masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian. Demikian breaking news kali ini, kita berjumpa lagi satu jam mendatang. Selamat pagi.”

Hazri menghela napas. Dengan adanya berita tadi berarti semua rencananya membalas dendam kepada Day telah terlaksana. Kematian Ridwan tidaklah sia-sia kini. Hazri mengusap-usap wajahnya, bagaimana pun  dikatakan sukses rencana itu tetap muncul rasa bersalah dalam dirinya karena dia telah menyebabkan kematian banyak orang. Bukankah yang mati itu juga anak orang lain. Mungkin suami seorang perempuan atau ayah dari anak-anaknya. Kalau sudah berpikir sampai sana, Hazri selalu buntu. Entah mesti harus bagaimana. Jelas Hazri tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pembunuh, namun sekarang dia bukan hanya seorang pembunuh, biangnya pembunuh berdarah dingin. Hendak menangis tidak bisa, mau mengadu ke siapa? Akhirnya yang mesti terjadi...terjadilah.

Hazri mengambil HPnya. Dia menghubungi bergantian keenam tangan kanannya untuk mengucapkan terima kasih karena mereka telah bekerja dengan profesional sehingga berhasil dalam menjalankan rencana ‘Kopi Item Habis’ itu. Selanjutnya, Hazri memerintahkan gerakan tutup mulut kepada semua anggota Kopen atas kejadian tersebut. Pokoknya tidak tahu, titik. Hazri juga menanyakan jumlah korban dari pihak Kopen dalam penyerangan di kawasan Kampus Orange kepada Ajay. Hanya terdapat dua korban luka parah, keduanya anak buah Sapri. Dari Sapri diketahui kalau kedua korban dalam kondisi membaik dan sedang menjalani pengobatan alternatif di daerah Sleman kampung halaman Sapri. Aman, karena tidak perlu ke rumah sakit yang beresiko terbongkarnya identitas mereka.

Bosan seharian di depan televisi dan baca koran, Hazri pun beranjak ke teras depan. Tempat favoritnya bersantai di kos sambil melihat Kang Tejo dan pekerjaannya. Sebatang rokok pun dinyalakan, diisap dalam-dalam lalu dihebuskan....

1
Herybae Hery
tanks thoor
ryye🌾
klo nama knp typo mulu,thor..agak ngelag jdiny..selebih ny sih ok bgt jln crita ny🙏
ryye🌾
haii.othor .numpang baca di 2025..
Agus anas
cerita ini mirip novel Kun fa yakun, cuma beda nama pemeran
Fatur Rohman
berat... tp nambah ilmu
Arsi Oke
Luar biasa
Fatur Rohman
sambil baca cerita, belajar sosiologi... mantap
Fatur Rohman
vrije man artinya apa thor?
Abi Uung
lanjut !!! semakin menarik
Abi Uung
luar biasa ceritanya,lanjut bro
Abi Uung
lanjut,mantap ceritanya
Abi Uung
mantap
Abi Uung
bagus ceritanya
Samsul Rijal
Luar biasa
Ricky Fajar
klo boleh tau penuliS nya toriqoh apa ya
Indri
di tunggu thor kelanjutan nya
Bundanya Pandu Pharamadina
terkenang waktu itu
Bundanya Pandu Pharamadina
like
favorit
👍❤
Ridho Widodo
bagus tentang hidup ini
Ridho Widodo
authornya rumahnya di mana..bisa tidak jadi murid sy....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!