Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Perempuan di Taman
Sehari berlalu sejak kedatangan Rayven yang serba kaku itu. Kondisi fisik Rhea perlahan membaik, meski kepalanya masing sering berdenyut ngilu jika dipakai berpikir terlalu keras.
Yang paling disyukuri Rhea adalah tidak ada lagi bayangan-bayangan aneh yang menganggunya. Dia mulai yakin bahwa kejadian beberapa hari yang lalu adalah murni akibat efek trauma otak dan obat penenang dari dokter.
Siang itu, matahari bersinar hangat. Anging sepoi-sepoi menerpa pepohonan dia area taman rumah sakit. Zora, dengan sifat protektifnya yang ekstra mendadak, berinisiatif mendorong kursi roda Rhea mengelilingi area hijau tersebut.
"Nah, begini kan enak. Hirup udara segar, biar otak lu makin jernih dan nggak berhalusinasi lagi." kata Zora sambil mendorong kursi roda Rhea menyusuri jalan setapak di taman.
Rhea memejamkan mata, membiarkan hangatnya sinar matahari menerpa wajahnya yang masih agak pucat.
"Makasih ya, Ra. Kalau nggak ada lu sama Ibu, mungkin gue udah stress berat dikurung di kamar rawat terus."
"Sama-sama, Tuan Putri." Zora tertawa renyah. "Btw, Rhea air minum lu di botol udah habis itu. Gue beliin teh hangat dulu yah di kantin depan? Sekalian mau ke kamar mandi bentar. Lu diam disini, jangan kemana-mana. Oke?"
"Iya, Zora. Gue nggak bakal kabur pakai kursi roda ini kok," jawab Rhea terkekeh tipis.
Zora menepuk bahu Rhea pelan lalu melangkah pergi menembus deretan rumpun bunga kertas. Suasana taman seketika mendadak hening. Hanya ada seru samar kendaraan dari luar pagar rumah sakit dan kicauan burung gereja di atas pohon kamboja.
Rhea menyandarkan punggungnya, menikmati ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan. Namun, pandangannya mendadak tertuju pada sebuah bangku kayu putih yang berjarak hanya dua meter di sebelah kirinya.
Di sana, duduk seorang perempuan muda. Usianya mungkin sekitar awal belasan tahun atau awal dua puluhan. Perempuan itu mengenakan gaun katun putih berlengan panjang yang agak kebesaran. Kulitnya amat pucat hampir transparan dan rambut lurus hitam terurai melewati bahu.
Dia hanya duduk mematung, menatap lurus ke arah kolam ikan kecil di depannya tanpa berkedip sedikit pun. Rhea menghampiri perempuan itu dan mencoba menyapanya, mungkin dia sedang menunggu keluarga yang sakit pikir Rhea saat itu.
"Permisi.." sapa Rhea pelan, mencoba keramahan formal. "Mbak pasien disini juga?"
Perempuan itu tidak menoleh. Tidak ada gerakan sedikit pun dari tubuhnya, bahkan bahunya tidak naik turun seperti orang yang sedang bernapas.
Rhea mengerutkan kening. Merasa kasihan melihat wajah perempuan itu yang begitu layu dan sepi, Rhea memutar sedikit kursi rodanya agar lebih mendekati perempuan itu.
"Mbak? Lagi nunggu perawat ya? Atau nunggu keluarga?"
Tetap tidak ada jawaban sama sekali. Suasana di sekitar taman mendadak terasa sedikit merambat dingin, meski matahari tepat di atas kepala. Angin yang tadinya berhembus pelan mendadak berhenti total. Daun-daun di pohon kamboja mematung kaku.
Rhea memiringkan kepalanya, mencoba mengintip wajah perempuan itu dari samping. "Mbak nggak kenapa-napa kan? Kalau butuh bantuan, saya bisa panggilkan..."
"Rhea." panggil Ibunya. "Ini Ibu bawakan sop ayam hangat."
Suara Ibu melengking dari arah belakang memecah keheningan yang kaku. Ibu berjalan tergesa-gesa sambil membawa rantang makanan berdesain bunga-bunga dan sebotol air mineral. Wajahnya ibunya berseri-seri saat melihat anak gadisnya.
Rhea menoleh ke arah ibunya sambil tersenyum tipis. "Ibu? Kok tahu Rhea disini? Kata Zora tadi Ibu masih tidur di kamar
"Ibu terbangun pas Zora pamit mau ke kantin," kata Ibu sambil meletakkan rantang di atas meja baru dekat kursi roda Rhea. Ibu mengusap kepala Rhea lembut, lalu memandang sekeliling taman yang sepi. "Kamu sendirian dari tadi di sini, nak? Mana Zora nya?"
"Zora lagi ke kamar mandi sebentar, Bu." Jawa Rhea, dia kemudian menunjuk ke arah bangku kayu putih di samping memakai jempol. "Tadi Rhea lagi ngobrol Bu, nyoba nyapa mbak yang duduk di samping ini kasihan dia kayaknya lagi sedih banget..."
Ibu mengerutkan dahi dengan raut wajah bingung. Matanya menatap lurus ke arah bangku kayu putih yang ditunjuk Rhea. "Ngapain kamu nunjuk bangku kosong di sebelah itu, Nak?"
Deg. Tiba-tiba jantung Rhea berdesir aneh. "Hah? Kosong gimana Bu? Ini lho, orang yang mbak-mbak yang pake baju putih di samping Rhea."
Rhea memutar kepalanya dengan cepat ke samping kiri. Bangku kayu putih itu bersih. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada beberapa lembar daun kering yang tergeletak di atas permukaannya yang berdebu.
Rhea membeku, tenggorokannya mendadak terkunci. "Lho... tadi dia duduk di sini, Bu. Beneran, dia pake baju putih terus rambutnya panjang..."
Ibu menatap Rhea dengan raut cemas
yang amat sangat. Tangan ibunya yang agak kasar langsung memegang kedua pipi Rhea yang kembali memucat. "Rhea, Nak. Dari tadi pas Ibu jalan kesini dari jauh, kamu cuman duduk sendirian sambil ngomong sendiri. Nggak ada orang di taman ini selain kamu, Nak."
Pikiran Rhea rasanya seperti di hantam godam besar. 'Ngomong sendiri? Jadi dari tadi aku ngomong sendiri dan perempuan pucat yang duduk di bangku itu bukan manusia?'
Rhea gemetaran hebat. Ini bukan halusinasi trauma otak dan bukan juga efek dari samping obat tidur. Sensasi dingin yang merayakan di kulitnya, rasa kaki di udara dan dengan hilangnya sosok itu secara tiba-tiba adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah lagi.
Rhea beneran bisa melihat hantu.
"Nggak... nggak mungkin." bisik Rhea serak, matanya menatap kosong ke arah bangku kayu putih itu.
Tepat saat itu, Zora berlari-lari kecil menghampiri mereka sambil membawa tiga botol teh hangat. "Sorry ya agak lama, antrean di kantin rame banget. Ehh, Tante udah di sini aja?"
"Zora.." suara Ibu bergetar penuh rasa khawatir. "Tolong bantu Tante dorong Rhea balik ke kamar yuk. Rhea kayaknya kecapekan, linglung lagi."
Zora yang melihat ekspresi panik di wajahmu Ibu dan keraguan di mata Rhea langsung sigap memegang kemudi kursi roda. "Oke, oke kita balik ke kamar sekarang ya."
Saat Zora memutar arah kursi Rhea menuju ke koridor utama rumah sakit, mata Rhea tidak sengaja melirik ke arah kolam ikan kecil di tengah taman.
Di bawah naungan bayangan pohon kamboja yang rindang, perempuan bergaun putih itu berdiri di sana.
Kali ini, sosok itu tidak mematung. Perempuan itu berdiri di tepi kolam, tubuhnya basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung gaunnya, meneteskan air keruh ke atas rumput. Sosok itu perlahan mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah Rhea yang sedang didorong menjauh.
Perempuan itu membuka mulutnya yang pucat pasi, membisikkan sesuatu tanpa suara yang gerakannya dibaca jelas oleh mata Rhea.
"Tolong... saya tidak tenggelam... saya dibunuh..."
Rhea merapalkan bibir sosok itu dengan napas tertahan, sementara kursi rodanya terus didorong masuk ke dalam koridor rumah sakit yang dingin.