Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
“Kemarin kepala keluarga Maharaja datang.” Randi menyimpan koran yang dia baca ke atas meja. “Untungnya dia tidak akan memperpanjang masalah. Ayah juga memberinya lukisan Ophelia itu sebagai tanda damai.”
Itu bagus.
Tapi kalau bukan tentang masalahnya dan Reine kenapa mereka dikumpulkan begini?
“Sekarang ke masalah lain.”
Ophelia merasakan genggaman Chelsea di tangannya semakin erat.
“Ayah sudah menemukan calon yang tepat untuk dijodohkan dengan Chelsea. Orang itu juga sudah setuju.”
Ophelia mengerutkan dahi. “Perjodohan?”
Jadi itu alasan kenapa tubuh Chelsea tidak boleh terluka sekarang.
“Kepala keluarga Wijaya baru kehilangan istrinya karena kecelakaan beberapa bulan lalu. Dia sedang mencari istri baru dan tertarik dengan Chelsea ketika melihatnya di pesta kemarin,” ujar Randi tenang, seakan hal yang dia katakan adalah hal biasa.
“Dia bilang jika Chelsea diberikan padanya kita akan mendapat keuntungan besar, jadi Ayah setuju.”
“Ayah yang setuju?” ujar Ophelia tak terima. “Chelsea sendiri bagaimana? Pak Wijaya itu jauh lebih tua dari Ayah. Lagipula ada rumor kalau Istrinya bukan meninggal karena kecelakaan biasa.”
“Memangnya pendapat Chelsea penting dalam hal ini?”
Hah?
Yelena yang dari tadi diam mulai berbicara. “Satu-satunya hal yang Chelsea punya hanyalah wajah dan tubuhnya yang sempurna. Kalau tidak memanfaatkan itu dia tidak akan punya kegunaan lain.”
Ini bercanda ‘kan ya? Bahkan pada putri kandung mereka sendiri—
“Kalau soal bisnis Ayah?” tanya Ophelia. “Chelsea itu anak pertama, dia yang seharusnya mewarisi itu semua nanti. Justru rugi kalau dia dijodohkan di usia yang semuda ini.”
“Bukannya ada dirimu?” Randi menatapnya datar.
“...aku?”
“Chelsea itu bodoh, diajari berulang kali pun dia tidak akan pernah mengerti soal mengurus bisnis. Selain meningkatkan reputasi, Ayah mengadopsimu karena tahu pasti kalau dia adalah produk gagal.”
“Produk?” gumam Ophelia.
“Lagipula kenapa malah kamu yang protes?” Yelena mengangkat alis. “Chelsea yang akan dijodohkan saja diam dari tadi.”
Itu karena kalian tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengutarakan hal yang dia mau.
Dia dibesarkan, dibentuk sedemikian rupa sebagai budak yang akan patuh tanpa mempertanyakan apapun.
“Oh, kamu membelanya mungkin karena tau kalau situasi kalian tidak jauh berbeda?” Yelena tersenyum sinis dan menatap Ophelia dari atas ke bawah. “Kamu memang pintar, tapi selain otakmu itu—tidak ada hal lain yang bisa kamu banggakan ‘kan?”
Ophelia balas menatap tajam. “Maksudnya?”
“Wajahmu itu tidak bisa dibilang cantik, tubuhmu juga dibawah rata-rata. Rasanya agak mustahil kamu bisa dinikahi oleh seseorang. Dan dengan pinggul begitu… apa kamu akan bisa hamil?”
“Ha.” Ophelia tertawa kecil. “Masa bodo dengan itu, aku jauh lebih berharga daripada seseorang yang cuma mengandalkan tubuh untuk merayu orang lain.”
“Apa—”
“Cukup.”
Randi yang dari tadi duduk diam berbicara tegas. “Lakukan perdebatan bodoh kalian itu nanti, kita sedang membicarakan hal serius di sini.”
Ophelia melirik Ayah angkatnya. Padahal dia mengangkat isu perselingkuhan Yelena, tapi Randi tidak terlihat peduli sama sekali? Apa dia sudah tahu akan hal itu?
“Chelsea, setuju atau tidak kamu akan tetap dinikahkan dengan Pak Wijaya. Mengerti?”
Chelsea terlihat terdiam sebelum mengangkat kepalanya yang tertunduk. Dengan mata kosong dan jawaban yang terdengar hampa, dia menjawab, “Baik, Ayah.”
Ophelia langsung menggeram mendengar itu.
“Bagus. Kalau begitu selain Ophelia kalian bisa pergi.”
Yelena terlihat tidak perlu disuruh dua kali dan langsung keluar dari ruangan sedangkan Chelsea menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Aku akan baik-baik saja,” ujar Ophelia pelan. Ia merasakan tangannya diremas pelan sebelum kakaknya juga pergi dari sana.
Randi berdiri dari kursi dan pergi ke arah perapian. Dia terlihat memutar-mutar batu bara yang menyala di dalam sana dengan besi panjang.
“Di kediaman Purnomo, ada seseorang yang tahu tentang lukamu?” tanyanya.
Ophelia menjawab dingin. “Tidak.”
“Tapi kamu terlihat sehat, berarti lukamu setidaknya diobati.”
“Aku mengobatinya sendiri.”
“Luka sebanyak itu, letaknya juga di tempat yang sulit untuk dijangkau dan kamu mengobatinya sendiri?” Randi terlihat ingin tertawa. Tangannya masih memainkan besi itu di antara batu bara, membuat ujungnya terlihat merah menyala.
Ophelia menatap besi panas itu dengan tatapan horor. Jangan bilang—
Oh.
Ophelia menghela napas lega ketika Randi menyimpan besi itu kembali ke tempatnya.
“Airin itu sangat dekat dengan keluarga Mahawirya. Salah satu kakaknya juga seseorang yang benar-benar merepotkan jika dijadikan musuh.” Randi kembali duduk di kursinya. “Tapi kalau untuk mengancammu kita tidak perlu pergi sejauh itu ‘kan ya?”
Ophelia menyipitkan mata.
Randi mengambil koran yang ia baca tadi dan memberikannya pada Ophelia.
Di salah satu koran itu, terdapat berita kalau seorang anak panti asuhan masuk rumah sakit karena tertabrak—itu salah satu adiknya!
“Apa yang—?!”
“Dia baik-baik saja, cuma memar kecil dan pergelangan tangan yang terkilir,” ujar Randi santai. “Tapi mulai sekarang, kalau kamu melakukan hal nekat lagi hukumanmu akan disalurkan pada anak-anak itu, mengerti?”
Ophelia menggenggam erat koran di tangannya.
“Kamu mengerti?”
Ophelia menggigit bibir.
“Dimengerti.”
...****************...
Ophelia menatap foto yang dikirim oleh Ibu Panti. Adiknya itu terlihat baik-baik saja, bermain seperti biasa walau tangannya masih diperban.
Menjadikan keluarganya sebagai ancaman ya?
Kalau itu diri Ophelia sendiri ia masih tidak peduli, tapi kalau sampai menyangkut mereka—ia tidak boleh gegabah lagi.
“Lia?”
Chelsea masuk ke kamarnya membawa beberapa obat. “Kita lihat punggungmu.”
“Aku beli obat baru, dapat dari kakaknya Airin,” ujar Ophelia tapi tetap membuka jaketnya. “Efeknya jauh lebih terasa.”
“Bagus kalau begitu.”
Ketika melihat lukanya, Chelsea terdiam sebentar sebelum bergumam. “...Ayah biasanya berusaha agar luka yang dia beri tidak menjadi apa-apa. Tapi punyamu ini—pastinya meninggalkan bekas.”
“Separah itu ya? Aku tidak ada niatan untuk memamerkan punggungku sih, jadi tidak apa-apa.”
“Bukan begitu maksudnya.”
Chelsea membersihkan luka itu dengan gerakan lembut, bahkan hampir tidak terasa oleh Ophelia.
“Kamu udah membelaku tadi, terima kasih.”
“...”
“Aku harap aku bisa melakukannya sendiri, tapi yang bisa kulakukan cuma duduk ketakutan di depan Ayah.”
“...Kakak benar-benar tidak bisa menolak?” tanya Ophelia pelan.
Chelsea menggeleng. “Kamu juga tau kalau Ayah sudah memutuskan sesuatu pasti itu akan terjadi. Lagipula aku tau kalau suatu saat nanti aku akan dijodohkan begini.”
“Ya tapi ‘nggak sama orang begitu juga.” Ophelia langsung berbalik, menatap kakaknya. “Istrinya yang baru meninggal itu istri keduanya, dia cuma beberapa tahun lebih tua dari Kakak dan meninggalnya pun tidak wajar. Istri pertamanya hilang entah kemana, kalau Kakak menikah dengan orang itu nasib Kakak nanti gimana?”
“Mungkin saja bisa lebih baik dari rumah ini? Menikah juga salah satu cara untuk bisa keluar dari genggaman Ayah,” ujar Chelsea. Gadis itu mencoba untuk tersenyum.
“...kalau lebih buruk?”
“Berarti takdirku memang begitu.”
Takdir adalah hal yang bisa diubah, batin Ophelia. Ia tahu itu, ia yang mengubah masa depannya sendiri, tapi—
Ophelia melirik ke arah foto adik-adiknya di panti yang sedang tersenyum. Mengacaukan rencana Randi sekali lagi dan entah apa yang akan dia lakukan pada mereka.
Ia tidak bisa bergerak sendiri sekarang.
Tidak ada pilihan lain, Ophelia akan memakai salah satu kartu yang ia punya.