NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008

Pak Song Datang

"Nah. Itu muka orang yang tahu sesuatu."

Kiara ingin membantah Cici, tetapi wajahnya yang masih panas jelas tidak bekerja sama. Ia akhirnya memilih cara paling aman, yaitu menunduk dan pura-pura membaca map Tim Kriminal dari Bu Ratna.

"Kamu terlalu banyak baca zodiak," gumamnya.

"Dan lo terlalu banyak menyimpan rahasia."

"Kerja, Ci."

"Baiklah, Nona Misterius."

Cici kembali ke mejanya, tapi senyum jahilnya belum hilang. Sepanjang pagi, setiap kali ponsel Kiara menyala, Cici langsung menoleh seperti radar. Untungnya, pesan Rayhan tidak datang lagi. Kiara bisa bernapas sedikit lega, walaupun tubuhnya masih pegal dan pikirannya belum sepenuhnya lepas dari kalimat tentang Scorpio yang sama sekali tidak perlu.

Lega itu hanya bertahan sampai pukul satu lewat.

Rayhan:

Aku jemput jam dua. Ada tambahan keterangan soal Brandon. Sekalian cek tanganmu.

Kiara menatap pesan itu, lalu melihat plester tipis di pergelangan yang mulai menguning di pinggirnya.

Kiara:

Kak Rayhan nggak perlu repot. Aku bisa naik Grab ke Polda.

Rayhan:

Aku sudah ada urusan dekat kantormu.

Kiara:

Urusan apa?

Rayhan:

Menjemputmu.

Kiara langsung membalik ponsel di meja sebelum Cici sempat membaca semuanya. Sayangnya, telinganya sudah telanjur panas.

Ia tidak sempat membalas lagi setelah itu.

Menjelang siang, Bu Ratna memanggil Kiara ke ruang rapat kecil. Galih sudah duduk di sana dengan beberapa berkas kasus. Mereka membahas cara menulis berita kriminal tanpa membuka identitas korban. Kiara mencatat cepat, berusaha tidak terlihat seperti anak magang yang terlalu senang dipercaya.

"Jangan tergoda drama keluarga pelaku," kata Bu Ratna. "Keluarga kaya selalu punya cara membentuk narasi sendiri. Tugas kita tetap fakta."

Kiara mengangguk. Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa menempel.

Mungkin karena keluarga memang sering menjadi tempat paling mudah untuk memutar fakta.

Rapat selesai pukul dua. Kiara baru kembali ke mejanya ketika resepsionis kantor menelepon.

"Kiara, ada yang mencari kamu di lobi."

Kiara mengerutkan kening. "Siapa?"

"Katanya keluarga."

Darah di wajah Kiara turun begitu cepat sampai Cici yang sedang makan keripik langsung berhenti.

"Ki?"

Kiara berdiri pelan. Ada rasa dingin yang merayap dari tengkuk ke punggung. Keluarganya yang mungkin datang ke kantor hanya satu orang, dan orang itu tidak pernah membawa kabar baik.

"Aku turun sebentar."

"Gue ikut."

"Nggak usah."

Cici sudah berdiri sambil mengambil ponsel. "Gue ikut."

Di lobi, Pak Song duduk di sofa tamu dengan kaki terbuka lebar, sandal kulit kusam, kemeja bermotif yang terlalu mencolok, dan senyum yang membuat perut Kiara mual. Empat tahun menghilang tidak membuatnya terlihat menyesal. Wajahnya lebih kurus, matanya lebih liar, tetapi cara ia menatap Kiara masih sama.

Seperti Kiara adalah dompet yang bisa bicara.

"Akhirnya turun juga," katanya.

Kiara berhenti beberapa langkah darinya. "Kenapa datang ke kantor saya?"

Cici berdiri di samping Kiara, wajahnya berubah serius. "Pak, kalau ada urusan, bisa bicara baik-baik."

Pak Song melirik Cici dari ujung kepala sampai kaki. "Temanmu cerewet juga."

"Jangan bawa dia," kata Kiara. "Mau apa?"

Pak Song tersenyum. "Dingin sekali sama bapak sendiri."

Kiara menahan napas. Di meja resepsionis, dua staf mulai saling pandang. Seorang satpam mendekat, tapi belum cukup dekat untuk mendengar semua.

"Saya sedang kerja," kata Kiara. "Kalau tidak ada urusan jelas, saya kembali."

"Urusan jelas." Pak Song berdiri. Bau rokok lama dan keringat menabrak Kiara. "Bapak butuh uang."

Cici langsung menegang.

Kiara tidak terkejut. Justru itu yang membuat dadanya terasa hambar. "Saya tidak punya."

"Jangan bohong. Kamu sekarang kerja di koran. Kakakmu dirawat di rumah sakit bagus. Siapa yang bayar kalau bukan kamu?"

"Itu bukan urusan Pak Song."

Mata Pak Song menyipit. "Pak Song?"

Kiara menatapnya lurus. Tangannya dingin, tapi suaranya lebih stabil dari yang ia kira. "Iya. Pak Song."

Tamparan tidak mendarat, tetapi ekspresi Pak Song cukup untuk membuat masa kecil Kiara berkedip di belakang matanya. Piring pecah. Ibu menangis di dapur. Kevin berdiri di depan Kiara dengan tubuh remaja yang terlalu kurus, berkata jangan takut, Kakak ada.

Sekarang Kevin terbaring di RS Harapan.

Dan pria penyebab semua itu berdiri di depannya meminta uang.

"Anak kurang ajar," desis Pak Song. "Siapa yang membesarkan kamu?"

"Kak Kevin."

Kata itu keluar tanpa ragu.

Wajah Pak Song mengeras. "Kevin tidak akan bisa melindungimu selamanya."

Cici maju setengah langkah. "Pak, cukup. Ini kantor."

"Aku bicara dengan anakku!"

Suaranya meninggi. Orang-orang di lobi menoleh. Bu Ratna muncul dari tangga dengan wajah dingin. "Ada masalah?"

Kiara segera berkata, "Tidak, Bu. Saya tangani."

Pak Song melihat Bu Ratna, lalu tersenyum dengan cara yang terlalu cepat berubah sopan. "Saya hanya minta anak saya membantu sedikit. Namanya juga keluarga. Orang tua susah, masa anak diam saja?"

Bu Ratna menatap Kiara, bukan Pak Song. "Kamu butuh bantuan?"

Kiara ingin berkata ya.

Tapi kalau Bu Ratna ikut, kantor akan tahu lebih banyak. Kalau kantor tahu, Cici akan tahu. Kalau Cici tahu, satu-satunya dinding tipis yang menutupi hidupnya dengan Rayhan bisa ikut retak.

"Saya bisa, Bu."

Bu Ratna tidak tampak puas, tetapi ia mengangguk pelan. "Satpam tetap di sini."

Pak Song mendengus setelah Bu Ratna menjauh. "Hebat sekarang. Punya orang kantor yang membela."

"Pergi," kata Kiara pelan.

"Lima puluh juta."

Kiara hampir tertawa karena marah. "Saya tidak punya uang sebanyak itu."

"Cari. Pinjam. Kamu pasti punya kenalan kaya sekarang." Pak Song mendekat. "Aku dengar kamu tinggal di cluster mahal. Perumahan Graha Perwira, ya?"

Jantung Kiara berhenti sesaat.

Cici menoleh cepat. "Ki?"

Pak Song melihat reaksi itu dan senyumnya melebar. "Ternyata benar."

"Jangan datang ke sana," bisik Kiara.

"Kalau kamu tidak kasih uang, aku bukan cuma datang ke sana. Aku akan tanya semua satpam, kamu tinggal dengan laki-laki siapa."

Udara di sekitar Kiara seperti habis.

Cici menggenggam lengan Kiara. "Pak, ancaman itu bisa kami laporkan."

Pak Song tertawa. "Lapor saja. Polisi mana yang mau ikut campur urusan bapak dan anak?"

Kiara menarik napas. "Saya bukan anak yang bisa Pak Song jual lagi."

Senyum Pak Song hilang.

Tangannya bergerak cepat, mencengkeram lengan Kiara. "Jangan sok kuat."

Cici berteriak memanggil satpam.

Pak Song menarik Kiara setengah langkah ke arah pintu kaca. Orang-orang bergerak panik. Kiara mencoba teknik yang diajarkan Rayhan, memutar pergelangan ke celah ibu jari. Cengkeraman itu longgar, tapi Pak Song lebih dulu mengumpat dan mengangkat tangan.

Di luar lobi, sebuah Fortuner hitam berhenti mendadak di tepi jalan.

Pintu pengemudi terbuka.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!