Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
koin emas??
Azura tengah duduk di kursi ayunan di taman belakang, mulutnya sibuk mengunyah. Sedangkan matanya menatap fokus pada layar ponsel.
Akibat foto Leon yang dia unggah kemarin, kini dia sibuk membaca semua komentar yang didominasi perempuan.
Mulutnya sesekali tertawa ketika membaca komentar absurd dari salah-satu mereka.
"Ini manusia dari mana sih? Kok ganteng banget!" gumamnya pelan, dan terkekeh geli.
"Emang ganteng sih banget dia."
Komentar selanjutnya membuat Azura berhenti menggulir, matanya menyipit membaca komentar.
"Lha, Ini @Stve_ kan? Ngapain Azura ngepost Lo? Gue bilangin Sulis ahh @Sulis67"
Azura mengernyit.
"Steve?"
Dia membuka profil akun yang menandai nama itu. Namun akun tersebut terkunci.
"Siapa, sih? Kok dia bilang Leon itu Steve?"
Tanpa berpikir panjang, Azura langsung menekan tombol Follow.
Leon berkeliling rumah mencari Azura, dia baru saja selesai mandi, dan niatnya akan membayar makanan yang dia beli kemarin.
Namun dia tak melihat keberadaan gadis itu diluar, hanya ada beberapa ajudan Jody dan asisten yang hilir mudik di luar rumah.
Leon memanggil salah satu dari mereka "Heii, tunggu!"
Asisten perempuan yang tengah membawa keranjang cucian berhenti sejenak, dan mendekat pada Leon.
"Kenapa den?"
"Apa kau melihat Azura?"
"Non Azura di taman belakang"
Tanpa mengatakan apapun, Leon segera pergi ke taman belakang.
Dia mendapati Azura yang sedang asyik memainkan Ponsel dengan alis menukik.
Leon mendekati gadis itu, dan berdiri di hadapannya.
"Ekhemm... Azura"
Azura mendongkak dengan alis terangkat, dan merunduk lagi pada ponsel.
"Kenapa?"
Leon duduk di sebelah Azura, menatap sekelilingnya yang di dominasi dengan tumbuhan berwarna, dan ada kolam kecil di tengah.
"Kenapa? Kok diem?"
Tanya Azura yang masih fokus pada ponselnya.
Leon menatap Azura dari samping.
"Aku ingin mengganti uangmu yang kemarin aku pakai untuk membeli makanan"
Azura berhenti sejenak, menatap Leon dengan alis tertaut.
"Maksud Lo?"
"Aku ingin mengganti uang mu"
Azura berdecak, memutar matanya malas.
"Gak usah, apaan sih! Gue iklas kemarin jajanin Lo. Lagian, emang Lo punya duit?" Cibirnya.
Leon mengangguk pelan, merunduk mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Aku membawa beberapa koin emas dari rumah. aku harap, ini cukup."
Leon menyodorkan tiga koin emas pada Azura dengan senyum tipis.
Azura melirik malas koin di tangan Leon, dan menatap pemuda itu dengan mata menyipit.
"Lo serius mau bayar pakai koin mainan?"
Leon menggeleng.
"Ini mata uang kerajaanku."
Azura langsung ngakak.
"Kerajaan apaan? Kerajaan Majapahit?"
"Kalo gini mah Lo ngehina gue! Maksud Lo apa kasih gue ginian? Lo pikir gue bocil!" Ketusnya.
Leon sedikit tersentak, menatapi tiga koin di tangannya.
"Apa ini tidak cukup? Aku hanya membawa tiga keping" ucapnya pelan.
Azura bernafas kasar. "Bukan cuma gak cukup! Benda ginian mana laku Leon!" Katanya seraya melempar koin tersebut.
Namun dia agak terkejut ketika koin itu terasa berat, dia buru-buru mengambilnya kembali, Leon hanya diam ketika Azura melempar koin itu ketanah.
Azura berjongkok sambil menatapi koin di tangannya, membolak-balikkan dengan berulang.
Lalu menimang-nimang dengan tangan.
"Berat"
Gumamnya pelan, dia berbalik menatap Leon yang hanya diam, dan berdiri mendekati pemuda itu.
"Lo dapet ini dari mana? Ini asli?"
Leon mengangguk pelan. "Aku membawanya dari rumah, tapi aku tidak membawa banyak"
Azura mengambil koin lainnya dari tangan Leon, dan melihat simbol yang berada di sana.
Simbolnya berbentuk kuda Yeng tengah meringkih, dan di bawahnya terdapat nama LUNAVENTIA yang tercetak jelas. Dan di sisi lainya terdapat simbol istana yang berdiri megah di bawah sinar bulan.
Azura menyengrit, masih tak mengerti.
Dia membawa koin itu masuk ke dalam rumah, untuk dia perlihatkan pada orangtuanya. Di ikuti Leon di belakang.
Azura berjalan cepat menuju ruang tamu, dan hanya mendapati Jody yang tengah duduk dengan laptop di pangkuannya.
"Papi!"
"Hmm."
Azura segera duduk di sebelah Jody, memperlihatkan koin milik Leon pada papinya.
"Ini emas beneran bukan pih? Soalnya berat"
"Ya beneran lah, masa mas bohongan!"
Jawabnya santai tanpa melirik nya sedikit pun.
Azura kesal, segera menutup laptop Jody dengan sebal. "Papi liat dulu..."
"Apa sih Ra? Papi lagi kerja"
"Kerja-kerja! Ini hari Minggu. Masa kerja terus?" Cibirnya "nih liat dulu, ini emas beneran bukan?"
Jody berdecak sebal, memperbaiki letak kacamatanya, mengambil koin emas dari tangan Azura, dan menatapnya intens.
"Kamu dapet ini dari mana? Menang lotre?"
"Bukan punya aku, ini punya Leon"
Jody menatap Leon yang baru saja datang, dan memperlihatkan koin itu padanya.
"Ini punya kamu?"
"Iya, itu punyaku"
"Kamu dapet ini dari mana?
Leon menyengrit samar.
" Itu memang mata uang kami. Dan setiap kerajaan memiliki mata uang yang berbeda."
Jody dan Azura saling pandang sejenak, keduanya sama-sama bingung.
"Kamu sebenarnya dari mana Leon, kenapa kamu bilang ini mata uang kalian?"
Tanya Jody masih belum percaya.
Leon bernafas pelan. Menunduk sejenak sebelum kembali menatap Jody.
"Aku memang berasal dari lunaventia, dan aku tidak berbohong" jawabnya tenang namun tegas.
Jody terdiam beberapa saat.
"...Oke. Saya belum bisa percaya cerita kamu."
"Tapi saya percaya satu hal."
Leon mengangkat kepala.
"Koin ini jelas bukan mainan."
"Aku tidak memaksa kalian untuk percaya, tapi tolong bantu aku untuk mencari jalan pulang. Karna ini bukan duniaku" pupil mata Leon membesar, menaruh harap pada mereka.
Jody dan Azura menatap Leon iba, kata-kata nya sungguh yakin kalau dirinya bukan dari dunia mereka.
Azura menggaruk kepalanya pelan. Suasana di sekitar mendadak sunyi.
Dia berdehem sejenak untuk menghilangkan udara di sekitar yang mendadak pengap.
Jody menghela nafas pelan. Tersenyum tipis pada Leon.
"Saya akan meminta teman saya untuk memeriksa koin ini, dan jika benar ini emas, kamu bisa menjualnya untuk kebutuhan kamu sebelum menemukan jalan pulang."
Namun Leon dengan cepat menggeleng. "Tidak, aku sudah memberikannya pada Azura, dan aku tidak bisa mengambilnya kembali."
Azura sedikit menarik diri mendengarnya.
"Hah? Kapan gue nerima? Bilang iya juga enggak!"
"Gak apa-apa, nanti akan saya minta cek lebih dulu, nanti saya kasih tau kamu." Jody bangkit dari duduknya, membereskan laptop dan beberapa berkas dari meja, dan membawanya menuju kamar.
Namun langkahnya berhenti sejenak, berbalik menatap Azura.
"Eh... Kamu hari ini gak ada kegiatan?"
Azura menggeleng pelan.
"Kenapa emangnya? Mau nyuruh?" Cibirnya seolah tau isi kepala Jody.
"Gak boleh? Papi cuma mau nyuruh kamu beli baju"
Azura langsung melebarkan matanya, menatap Jody sumringah. "Maksud papi, shopping? Boleh deh kalau itu mah"
Jody mendengus sinis. "Shopping aja cepet!" Cibirnya. "Sekalian beliin Leon, dia cuma papi kasih baju beberapa, gak sempet beli. Mau nyuruh mami belum pulang dia"
Azura mengangguk antusias, menggesek-gesekkan kedua tangannya. "Boleh banget pih, asal ini aja..." Azura menaik-turunkan alis.
Jody yang mengerti, tangannya membentuk huruf o.
" YES!" Azura melompat senang. menatap Leon yang masih terdiam.
"Ganti baju kuy! Kita shopping!" Pekiknya ceria.
"Shopping?"
"Udah ikut aja, kita jalan-jalan lagi" Azura menarik tangan Leon berdiri.
Leon berdiri dengan wajah berseri.
"Jalan-jalan?"
"Iya"
"Membeli siomay?"
"Yaampun!" Azura menepuk jidatnya.
"Jalan-jalan. Bukan jajan jajan!" Jawab Azura sambil menarik tangan Leon menuju ke kamar pemuda itu.
"Tapi kita akan kelaparan jika tak makan" Leon menghentikan langkahnya.
Azura memutar mata, tertawa pelan.
"Iya entar kita beli jajan. SIOMAY!" tekannya dengan terkekeh pelan.
Leon ikut tersenyum senang.
Azura terperangah.
'Kenapa dia ganteng banget kalau senyum...?'
Lalu buru-buru buang muka dengan berdehem pelan.
"Jangan senyum mulu."
Leon menyengrit polos.
"Kenapa?"
"Ganggu." Ketus Azura, berusaha menetralkan wajahnya agar tidak ikut tersenyum.
"Benarkah?" Leon malah dengan sengaja tersenyum lebar tepat di depan wajah Azura.
Azura buru-buru membuang pandangan.
'Bahaya...'
'Kalau dia senyum terus begini... bisa-bisa gue lupa kalau dia nyebelin.' batinnya bimbang.
Leon yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti langkah Azura dengan senyum kecil.
Di dalam benaknya hanya ada satu hal.
"Aku harus membeli siomay lagi."
Gumamnya pelan.
Azura langsung menoleh.
"Lo ngomong apa?"
"Ah..Tidak."
"Dasar aneh."
Mereka kembali berjalan berdampingan menuju kamar Leon.
Sepertinya, siomay akan menjadi makanan favoritnya, dan dia harus minta resep agar setelah dia kembali dia masih bisa memakannya.
Bersambung...
main2 ke krya lu juga ya kalen🙏
klo nnti smpai rmh joddy mnta ajarin pke hp buat komunikasi, ajarin google map juga sama belajar mengenal dunia modern biar cpt adaptasi , untung leon bsa beladiri