Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pernikahan
Keesokan harinya...
Malik mengunjungi rumah besar keluarga Furhet, sesuai perintah Aston, pria itu membawa berkas perjanjian pernikahan antara Daley Jamiko dengan Lisa Furhet.
Namun sesampainya di rumah tersebut, Juanda sedang bekerja. Jadi hanya Amel dan Lisa saja yang kebetulan ada di rumah, sedangkan Lania tidak diperbolehkan keluar kamarnya sama sekali.
"Jadi... anda adalah asisten kakek Aston?" tanya Amel.
Malik menganggukkan kepalanya, "pak Presdir memerintahkan untuk membawa berkas ini."
Malik pun memberikan berkas perjanjian itu pada Amel. Wanita itu langsung mengambilnya dan membaca dengan teliti. Ia menyunggingkan senyumnya pada Lisa.
"Jika sudah sesuai keinginan anda, maka tanda tangani berkasnya. Maksudku nona Lisa, karena ini perjanjian akan berlaku antara tuan muda Ley dan nona Lisa," kata Malik.
Lisa menarik sudut bibirnya, "tapi apa ini perlu mah, aku menyukai Ley apa adanya, untuk apa perjanjian seperti ini. Aku tidak ingin dianggap penggila harta."
"Akting yang bagus nak, kau memang putriku yang sangat berbakat," pikir Amel.
"Sebenarnya mama juga tidak ingin seperti ini, tapi ini juga demi masa depanmu nak. Mama tidak ingin kau menderita nantinya," jawab Amel.
"Dua wanita ini seperti ular berkepala dua, aku bisa melihat wajah licik keduanya. Pak Presdir, apakah benar-benar harus menyerahkan saham begitu banyak pada mereka. Bagaimana jika mereka berniat jahat pada tuan muda Ley? aku harus melindungi keluarga Jamiko dari orang-orang licik seperti mereka," pikir Malik.
"Ehm... apakah kakek Aston keberatan dengan permintaan kami? aku tidak ingin ada penyesalan di belakang, sebenarnya bukan maksudku untuk meminta jaminan sebanyak ini, tapi aku juga hanya seorang ibu yang ingin melindungi putriku," ucap Amel.
"Maaf nyonya Furhet, aku hanya datang untuk meminta tanda tangan, untuk urusan pribadinya, aku sama sekali tidak tahu. Jika kalian sudah membacanya, silahkan segera tanda tangani berkasnya. Aku masih banyak pekerjaan di perusahaan," jawab Malik.
"Baiklah, ayo nak... tanda tangani berkasnya," pinta Amel.
"Tapi mah... aku tidak ingin melakukan ini. Apa kata Daley nanti jika aku menandatangani perjanjian sebelum menikahinya," kata Lisa.
Amel menggertakkan giginya, ia merasa akting Lisa mulai berlebihan. Matanya menatap tajam Lisa seolah-olah berkata 'hentikan sandiwaramu sebelum mereka berubah pikiran, cepat tanda tangani berkasnya'. Lisa yang mengerti tatapan ibunya langsung kembali bersandiwara.
"Tapi baiklah, mungkin ini hanya sekedar jaminan saja. Tolong sampaikan pada kakek dan Daley, bahwa ini hanya perjanjian di atas kertas saja, tapi hatiku tidak menginginkannya," ucap Lisa.
Malik menaikkan sebelah alisnya, ingin sekali ia menyiram wajah mereka dengan air di depannya. Sungguh menjijikkan melihat sandiwara keduanya.
Lisa pun langsung menandatangani dua berkas perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Daley dan Aston. Kedua berkas tersebut sama-sama dibubuhi materai, masing-masing berkas di simpan oleh kedua pihak.
Setelah selesai, Malik pun beranjak dari tempat duduknya.
"Pak Presdir dan tuan muda sudah berangkat ke Amerika, tolong sampaikan salam pada tuan Furhet dari mereka," kata Malik.
Amel dan Lisa sama-sama terkejut.
"Mereka sudah ke Amerika?" tanya Amel.
Malik menganggukkan kepalanya, "kepergian mereka terburu-buru jadi tidak sempat berpamitan. Nona Lisa, sesuai perjanjian pernikahan tersebut, selama tuan muda belum kembali, anda tidak diperkenankan terlibat dengan hubungan apapun. Jika anda melanggarnya..."
"Aku sudah mengerti," sergah Lisa.
Malik menghela nafasnya, "baiklah, aku harap kalian tetap sabar menunggu kepulangan tuan muda Ley. Sembuh atau tidak kakinya, kalian tidak bisa mundur lagi. Aku permisi..."
Malik pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan mereka begitu saja.
"Ciiiih... brengsek... baru asisten saja sudah berani mengancamku," celetuk Lisa.
"Tenanglah sayang, jangan perdulikan ucapan pria itu. Setidaknya kita akan semakin kaya dengan adanya saham di perusahaan keluarga Jamiko," kata Amel seraya tertawa dengan keras.
Lisa ikut tertawa, "dan aku tidak perlu terlibat dengan pria cacat itu karena ada Lania yang akan menggantikannya."
"Bagaimana jika Daley bisa sembuh?" tanya Amel.
"Tetap saja aku tidak mau terlibat dengan pria sepertinya. Sama sekali bukan tipeku mah."
"Baiklah, keputusan kita untuk menjadikan Lania sebagai Lisa tidak perlu dipertimbangkan lagi. Tapi nak, kau harus tetap hati-hati dengan segala tindakanmu di luar. Ingatlah, di dalam perjanjian itu ada untung dan ruginya."
"Ck... menyebalkan sekali. Harusnya mama juga memberi peringatan pada Lania."
"Kau benar juga. Lania... turunlah... kemari kau...!!!" teriak Amel.
"Iya nyonya, sebentar..." jawab Lania.
"Cepatlah..." teriak Amel lagi.
Lania segera menuruni anak tangga, gadis itu langsung mendekati Amel dan Lisa.
"Bacalah..." ujar Amel seraya memberikan berkas perjanjian pernikahan itu pada Lania.
"Pahami isinya, jangan bodoh," celetuk Lisa.
"Iya nona," jawab Lania.
Lania mulai membaca dan memahami isinya, tentu saja kecerdasan Lania justru diatas Lisa. Gadis itupun menganggukkan kepalanya seraya mengembalikan berkasnya pada Amel.
"Kau sudah mengerti?" tanya Amel.
Lania menganggukkan kepalanya.
"Kau harus ingat, jangan pernah macam-macam di luar. Saat pergi kuliah sebagai Lania, kau tetap harus menyembunyikan wajahmu agar tidak salah dikenali. Awas saja jika kau merusak rencana kami," ancam Lisa.
Lania hanya bisa mengangguk.
"Satu hal lagi, belajarlah meniru tanda tanganku. Jangan sampai kau salah Lania," imbuh Lisa.
"Aku sudah bisa melakukannya, bukankah aku sering menghadiri acara tanda tangan fans-mu," jawab Lania.
"Jika aku bicara, kau cukup jawab iya saja," bentak Lisa.
Lania menelan saliva-nya seraya menganggukkan kepalanya lagi.
"Sudah-sudah... mama rasa Lania sudah sangat mengerti Lisa. Berhentilah marah-marah, nanti wajahmu berkerut," ujar Amel.
"Dasar anak haram sialan, sejak kau datang ke rumah ini, aku justru terlihat semakin tua," gerutu Lisa, "mah... aku pergi syuting dulu, sepertinya Anne sudah datang," imbuhnya.
Amel menganggukkan kepalanya, Lisa pun berpamitan pada ibunya sambil mencium pipi Amel. Lalu ia menatap Lania lagi dengan tajam.
"Awas kau jika membuat ulah," ancam Lisa seraya meninggalkan mereka.
Amel menghela nafas panjang lalu menatap Lania.
"Duduklah," perintah Amel.
Sontak Lania duduk di lantai.
"Duduk di sofa," kata Amel lagi.
Lania terkejut sambil menatap wajah ibu tirinya. Ini pertama kalinya Amel menyuruhnya duduk setara dengannya saat tak ada ayahnya.
"Tunggu apalagi, apa kau mau aku berubah pikiran?" celetuk Amel.
Sontak Lania berdiri lalu duduk di sofa tepat di depan Amel.
"Aku ingin berbicara serius denganmu Lania. Sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu Lisa, maka semuanya harus berjalan dengan lancar. Saat ini Daley dan kakeknya sudah pergi ke Amerika. Entah itu satu tahun, tiga tahun atau bahkan lima tahun lamanya Daley ada di luar negeri. Selama itu, jangan pernah terlibat dengan hubungan apapun. Sejak perjanjian pernikahan ini ditandatangani, kau sudah terikat oleh keluarga mereka. Dan selama itu juga, kau harus meniru semua gaya dan sikap Lisa. Buang jauh-jauh Lania yang ada pada dirimu, mulai sekarang dan seterusnya, nama Lania dan orangnya sudah tiada. Hanya ada Lisa asli dan palsu di rumah ini. Kau harus membuatku bahkan tidak bisa membedakan antara Lisa dan Lania lagi, apa kau mengerti?" ujar Amel.
"Aku harus berubah menjadi Lisa?"
"Tentu saja. Bukankah kau sudah setuju sebelumnya?"
"Tapi... aku kira..."
"Jika kau tetap menjadi Lania, bagaimana bisa menipu mereka. Apa kau masih ingat ucapan kakek Aston? pria tua itu mengatakan, ia lebih suka Lisa yang sekarang daripada sebelumnya. Tentu saja, karena ia bertemu dengan dua orang yang berbeda. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi sampai mereka menyadari bahwa kau bukanlah Lisa."
Lania meneteskan air matanya, ia bahkan sudah tidak berhak hidup sebagai dirinya sendiri.
"Apa kau berubah pikiran? kau ingin aku dan Lisa mati bersama-sama?" tanya Amel.
"Tentu saja tidak nyonya, aku tidak ingin kalian meninggalkan papa Juan."
"Jadi?"
"Aku akan mengikuti semua keinginan kalian," jawab Lania sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagus... mulai hari ini dan seterusnya, aku akan membuang semua milik Lania. Mulailah menjadi Lisa. Kau mengerti?"
Lania kembali mengangguk.
"Kembalilah ke kamarmu," perintah Amel.
"Bolehkah aku ke kampus?"
"Tidak hari ini, kembali ke kamarmu sekarang."
Lania kembali meneteskan air matanya, gadis itu segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Amel menuju kamarnya.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣