NovelToon NovelToon
Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Reinata Ramadani

"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."

Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.

Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.

Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.

"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Aku Serendah Itu?

Alina perlahan mengerjapkan mata saat dering ponsel itu mengusik kesadarannya. Dengan sisa tenaga yang tak seberapa, ia berusaha menyeret tubuhnya ke bibir ranjang.

Sakit. Seluruh tubuhnya seolah terkoyak habis.

Tangannya yang gemetar kini mencengkeram selimut demi menutupi ketelanjaangannya. Tangan itu terulur—meraih ponsel yang tergeletak pasrah di antara pakaian yang berserakan di lantai yang dingin.

"Hallo."

"Mommy? Kenapa mommy belum kembali?"

Suara protes itu seketika membuat jantung Alina mencelos. Itu putrinya. Alina melirik pada jam dinding — pukul dua dini hari. Kenapa gadis kecil itu masih terjaga. Apa Marsha menunggu dirinya kembali? Seketika itu, rasa bersalah menghantam dada.

"Maaf sayang, tadi mommy harus bekerja lembur."

"Kapan mommy keshini. Macha lindu mommy belat-belat." adu gadis kecil itu. Suaranya terdengar begitu rapuh.

Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan pertahanan Alina. Air mata yang sejak tadi ia bendung itu pun luruh juga.

Dengan suara yang gemetar, ia berbisik, "Mommy pulang sekarang ya, Sayang...."

"Baiklah, Macha tundu mommy. Mommy tepat-tepat Shini ya. Ndak boleh lama-lama!!!"

"Iya, sayang."

Sambungan telepon itu terputus, menyisakan isak yang kini perlahan luruh.

Alina. Kuatlah demi putrimu.

Perempuan itu berusaha menyemangati diri.

"Siapa?"

Suara dingin itu mengejutkan Alina, memaksanya mendongak menatap pada pria yang kini menyeruak dari bilik kamar mandi dengan handuk yang melingkar pasrah di pinggangnya. Laki-laki itu baru saja selesai mandi tepat setelah mereka menyelesaikannya pukul dua dini hari.

"Bukan urusanmu." Jawab Alina ketus. Suaranya parau, setengah menahan tangis. Alina benar-benar kesal dan muak dengan sikap Leon yang menahannya terlalu lama hingga membuatnya terlambat pulang. Sedang Marsha disana sedang membutuhkan dirinya.

Ahhhh Sudahlah. Tidak ada gunanya lagi ia mengusuri laki-laki itu. Ia harus segera kembali malam itu juga.

Tanpa memperdulikan tatapan penuh intimidasi itu, Alina memunguti pakaiannya. Tangan yang tak lagi bertenaga itupun masih berusaha mencengkeram erat selimut itu untuk tetap membalut tubuh polosnya.

"Untuk apa kamu menutupinya? Bukankah semua orang telah melihatnya?" Cibir Leon.

"Apa aku serendah itu dimatamu, mas?" Ada binar kecewa disana. Leon yang ia kenal dulu bahkan tak pernah membentaknya, apalagi mencibirnya.

"Kenyataannya memang seperti itu, bukan? Bahkan kamu sampai melahirkan anak selingkuhanmu itu? Apa itu belum cukup menjadi bukti seberapa murahannya dirimu?"

Dada Alina bergemuruh hebat mendengar penghinaan itu. "Siapa tau itu anakmu!!!" Sentak Alina penuh kemarahan.

"Anakku?" Leon mendengus, menatap Alina dengan pandangan paling menjijikkan yang pernah ada.

"Anakku hanya terlahir dari rahim perempuan terhormat. Bukan dari rahim perempuan yang hobi menjajakan tubuhnya ke sembarang orang. Jikalau suatu saat kamu sampai hamil anakku karena malam ini, maka gugurkan saja, karena akupun tak akan pernah sudi mengakuinya."

Laki-laki itu melangkah lebar ke arah nakas. Ia ambil kartu itu lalu melemparkannya ke tubuh Alina.

"Ini bayaranmu malam ini." Ucapnya kemudian berlalu pergi.

Pertahanan Alina seketika runtuh. Isak tangisnya akhirnya luruh.

Sakit. Rasanya sangat menyakitkan saat laki-laki yang begitu ia cintai justru melontarkan makian sekejam itu untuknya.

Sembari menahan perih tubuhnya, Alina menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Ia harus segera membersihkan diri dan kembali menemui sang putri.

Ting.

Pintu lift terbuka, Alina segera melepaskan diri dan melaju menuju lobi. Disana, seorang stapam yang tengah berjaga menyapanya dengan heran.

"Eh, kok baru keluar, neng?"

Alina gelagapan. "Iya pak. Tadi ambil barang yang ketinggalan."

Di jam segini?

Alina sadar itu terdengar tidak masuk akal, tapi ia pun tak ada ide lain.

"Saya duluan, pak." Serunya kemudian. lalu berlalu pergi dengan setengah berlari.

☆☆☆☆☆☆☆☆

Sesampainya di rumah sakit, Marsha masih terjaga. Gadis kecil itu terlihat duduk di atas ranjang pasien dengan tangan bersedekap di dada, wajahnya tampak ditekuk kesal.

"Mommyh, kenapa lama shekali ndak pulang-pulang?"

Alina mendekat. Mengabaikan rasa sakit yang menyengat seluruh tubuhnya, ia memaksakan sebuah senyum hangat. "Maaf, sayang. Tadi mommy harus bekerja lembur. Sebagai bentuk permintaan maaf mommy, bagaimana kalau nanti mommy belikan mainan buat Marsha?."

Membuat Marsha seketika itu berbinar. "Mommy cius?"

"Iya, sayang."

"Yeay... ashik ashik... maacih mommyh. Macha shayang mommy banak-banak... ."

"Marsha mau apa hadiahnya?"

Gadis kecil itu terlihat berpikir sejenak. "Macha mau teman buat Caca, mommyh." Seru gadis kecil itu sembari meraih boneka kelinci yang ia taruh di atas ranjangnya. Itu adalah Caca - Boneka yang beberapa waktu lalu di berikan sosok penyelamat Marsha yang sampai saat ini pun tak Alina ketahui siapa sosoknya.

"Baiklah. Kita belikan teman untuk caca."

"Maacih mommy. Muach..." seru Marsha menghamburkan kecupannya.

"Marsha sayang sekali sama Caca ya?" Tanya Alina, heran dengan sang putri yang selalu harus ditemani boneka kelinci itu kemanapun berada.

"Iya mommy. Kan ini kashih daddy. Hihihi... .:

Dada Alina kembali berdenyut nyeri saat gadis kecil itu lagi-lagi memanggil daddy pada sosok asing. Begitu rindukah gadis kecil itu pada sosok sang ayah?

Alina menarik nafas dalam. Berusaha mengenyahkan semua hal yang membuatnya akan terisak.

"Baiklah. Sekarang waktunya tidur. Sudah malam."

Alina ikut naik ke atas ranjang rumah sakit yang sempit, ia peluk putri kecilnya itu dengan penuh sayang.

"Semoga dengan uang ini kamu bisa sembuh, Sayang."

☆☆☆☆☆☆☆

Anyeong Chingu

Happy reading

Saranghaja 💕💕💕

1
Nar Sih
sabar alina ,pssti ada keajaiban untuk marsha ,smoga leon trrbuka hati nya dan sgra menolong putri nya
Nia Rahmadini
kak boleh update nya double hehehe
Nar Sih
semoga dgn cerita dri umi hanah kmu bisa sadar akan slh mu leon ,dan sgra cri tau keadaan 4th lalu saat kmu tk sadar stlh kecelakaan itu
Sunarti Narti
Alhamdulillah akhirnya kebenaran segera terungkap, semoga kamu ga menyesal Leon
Nar Sih
semoga kali ini leon tebuka hti nya sadar akan kesalahan nya ,dan bnr,,bisa bantu marsha biar sembuh lgi ,dobel up lgi ya kak rei🙏🥰🥰
May Satibi Satibi
jangan lama" kak update nya ini novel favorit aku bulan ini
apiii
di tunggu up selanjutnya thor❤️
apiii
astagaa bacanya sambil tahan napas tegang bangt baca setiap kalimat ngena bngt🥹
apiii
parah banget jadi bapak🥹
apiii
thor singkat bangt🥲
Nia Rahmadini
kapan sih update lagi kak
apiii
akhirnya up lgi 🥲🥰
Nar Sih
dobel up yaa kakk 🙏👍
Nia Rahmadini
update lagi kak naangung cerita
apiii
makin penasarannn tapi harus nungguin part selanjutnya🥲
Nia Rahmadini
update kak lagi, cerita nya bagus banget.
Yuni Afiatun
suka setiap karya nya,,
tapi tunggu up nya harus bersabar
yulithong
hrs sabar menunggu ini🤔
Sun Rise
ok
Nar Sih
semoga kali ini sgra terungkap semua nya yg sbnr nya dan leon sadar dgn salah nya ,semagat ya alin juga semagatt untuk kak reinata moga up nya lancar💪💪🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!