Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 diserang srigala
Aldo membuat tiga titik perapian, dan tentu saja itu atas saran Nadia. Asap mengepul ke udara, berharap orang-orang yang mencarinya dapat menemukan jejak mereka. Dengan langkah gontai, Aldo mendekat ke arah Nadia.
“Capek, ya?” tanya Nadia.
“Capek banget. Coba kalau dicium sama lu, pasti hilang capeknya.”
“Sini gue cium.” Nadia mengacungkan kayu yang sudah menyala di ujungnya.
“Nah, lu gitu, kan,” ketus Aldo, lalu mengedarkan pandangan. Entah kenapa, bulu kuduknya meremang.
Kemudian dia melangkah lebih dekat ke Nadia yang sedang membolak-balik ranting agar api tidak padam.
Belum sempat menarik napas lega, terdengar lolongan serigala.
“Waduh, kayaknya serigala, Nad,” ujar Aldo sambil mengedarkan pandangan dalam mode siaga.
“Serigala takut api, Al.” Nadia memegang kayu yang sudah terbakar lalu memberikannya kepada Aldo. Aldo menerimanya.
Dan sialnya, gerimis mulai turun. Lolongan serigala kembali terdengar. Mereka berdua merasakan kepanikan yang perlahan merayap. Aldo mengedarkan pandangan ke segala arah. Nadia, walaupun duduk, tetap dalam mode siaga sambil menggenggam kayu.
“Krak!”
Dari beberapa sudut pepohonan muncul beberapa ekor serigala.
“Aummmmm!”
Lolongan panjang terdengar memecah malam.
Aldo mendekat ke arah Nadia.
“Jangan jauh-jauh dari gue,” kata Aldo dengan serius.
Ada lima ekor serigala yang mendekat. Dalam sorot cahaya purnama, air liur menetes dari mulut mereka, membuat suasana semakin menegangkan.
Satu serigala menyerang. Aldo berhasil menghantam kepalanya dengan keras hingga hewan itu terhuyung. Nadia menusukkan kayu berbara ke perut serigala tersebut. Namun kawanan serigala semakin liar menyerang. Nadia yang belum bisa bangkit sepenuhnya kesulitan melawan mereka.
“Sret!”
Tangan Aldo terkena cakar serigala. Darah menetes dari lengannya.
“Sret!”
Seekor serigala kembali mencakar dada Aldo. Nadia memukul hewan itu hingga terpental dan jatuh dengan tubuh mengejang.
Aldo tersungkur di dekat Nadia. Napasnya tersengal. Darah mengalir dari dada dan tangannya.
“Nad, maafin gue. Gue nggak bisa jagain lu,” ucapnya pelan.
“Al, jangan ngomong sembarangan. Kita akan lewati ini bersama.”
“Nad... gue nggak kuat, Nad.”
Suara Aldo semakin pelan. Sementara itu, kawanan serigala terus mendekat.
“Aldo, bangun! Aldo!”
Nadia mengguncang tubuh Aldo. Tak terasa, air mata menetes dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya, Nadia menangis.
“Nad... gue beneran cinta sama elu,” ujar Aldo dengan napas tersengal.
“Al... kalau lu cinta gue, jangan tinggalin gue.”
“Aummmmm!”
Seekor serigala melolong, bersiap menerjang.
Nadia mengeratkan genggaman pada kayu di tangannya. Giginya bergemeretak. Sementara itu, Aldo sudah tak sadarkan diri sepenuhnya. Darah merembes membasahi paha Nadia. Kemarahan yang selama ini terpendam perlahan membuncah.
Satu serigala menyerang. Nadia memukul sekuat tenaga. Serigala itu langsung roboh dan mati. Pemandangan itu justru membuat serigala-serigala lain semakin beringas. Mereka menyerang secara bersamaan.
“Kalau harus mati, ya matilah!”
Mata Nadia menajam. Semua kenangan masa kecil hingga remaja, saat dirinya selalu diperlakukan tidak adil, bermunculan di benaknya. Kemarahan itu memberinya tenaga. Namun jumlah serigala seolah tidak ada habisnya. Hingga akhirnya, salah satu cakar mereka menyayat tangan Nadia, meninggalkan luka panjang dan dalam.
Nadia sudah berada di batas tenaganya. Pandangannya mulai buram. Namun dia tetap berdiri di depan tubuh Aldo. Dia tidak mau serigala-serigala itu mencabik-cabik tubuh Aldo, seseorang yang berhasil membuatnya meneteskan air mata.
Serigala-serigala itu semakin mendekat. Pandangan Nadia semakin kabur. Tenaganya benar-benar habis. Dia sudah tidak mampu melawan lagi.
Dia siap menjadi santapan kawanan buas itu.
Namun tiba-tiba terdengar deru angin kencang, disusul sorot cahaya yang menyilaukan dan letusan senjata api.
Nadia melihat cahaya samar.
Lalu semuanya menjadi gelap.
Dia tak sadarkan diri.
Kawanan serigala menjauh setelah mendengar beberapa kali letusan senjata. Sebuah helikopter berputar-putar di atas lokasi Nadia dan Aldo. Tidak ada tempat untuk mendarat karena rimbunnya pepohonan. Beberapa anggota tim penyelamat turun menggunakan tali, sementara sebagian lainnya melepaskan tembakan untuk mengusir kawanan serigala yang masih berkeliaran di sekitar mereka.
Berikut versi yang sudah diperbaiki ejaan, tanda baca, huruf kapital, serta deskripsi dibuat lebih luwes, natural, dan emosional tanpa mengubah isi cerita maupun dialog secara signifikan.
Nadia mengerjapkan matanya perlahan. Cahaya putih memenuhi pandangannya. Aroma antiseptik yang khas langsung menyergap indra penciumannya.
“Al... di mana lu?” gumam Nadia lirih.
“Nak, kamu sudah sadar?”
Terdengar suara seorang perempuan asing.
Nadia menoleh. Di samping tempat tidurnya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh.
“Saya di mana?” tanya Nadia.
“Kamu di rumah sakit, Nak,” jawab wanita itu lembut.
“Aldo di mana?” tanya Nadia cepat. “Dia selamat, kan?”
“Aldo belum sadar, Nak.”
Wanita itu menggenggam tangan Nadia, lalu mengarahkan pandangannya ke brankar di sebelah.
Nadia menoleh.
Di sana terbaring Aldo. Lelaki yang berhasil membuatnya menangis untuk pertama kalinya. Tubuhnya dipenuhi perban. Tangan dan dadanya terlilit perban putih hingga tampak seperti mumi.
“Sudah berapa lama dia nggak sadarkan diri?” tanya Nadia.
“Tiga hari, Nak,” jawab wanita itu.
Nadia menarik napas lega.
Dia ingin bertanya siapa wanita yang berada di hadapannya, tetapi tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dari arah pintu.
“Hai, Manis. Sudah sadar? Kamu jagoan.”
Nadia langsung mengenali suara itu.
Ya, itu Andika, ayahnya Aldo.
“Eh, Om...”
“Ini istri saya,” ujar Andika sambil memegang pundak wanita di sampingnya. “Istri satu-satunya yang paling cantik.”
“Alah, di depan anak-anak saja ngakunya satu-satunya,” ketus Maharani.
“Astaga, mana berani aku selingkuh, Sayang.”
“Oh, jadi kamu nggak selingkuh karena takut sama aku, bukan karena kamu setia padaku, ya?” ucap Maharani dingin.
“Aih... kamu ini. Selalu saja aku yang salah.”
“Tuh, kan. Selalu saja memosisikan diri sebagai orang yang tertekan. Kamu ini playing victim.”
Nadia memperhatikan mereka berdebat.
Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.
Sebenarnya, dia ingin sekali melihat kedua orang tuanya akrab seperti itu. Berdebat tentang hal-hal sepele, lalu kembali bercanda beberapa saat kemudian.
Berbeda dengan Rani dan Rangga.
Setiap hari yang Nadia lihat hanyalah pertengkaran. Dan sumber dari semua pertengkaran itu adalah dirinya.
Semua karena Nadia adalah anak hasil perselingkuhan ayahnya.
“Nad... Nad... di mana lu...?”
Terdengar gumaman lemah dari brankar Aldo.
Maharani segera menggenggam tangan Nadia, lalu berkata lembut,
“Sayang, Mamah lihat Al dulu, ya.”
“Iya. Cantik, Om tinggal dulu, ya,” ujar Andika.
Nadia mengangguk sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, dia merasa dihargai.
Dulu, saat sakit, dia selalu menahannya sendiri. Tidak ada yang benar-benar peduli.
Mungkin kalau tidak ada Johan, kepala pelayan yang sering mengurusnya ketika sakit, dia sudah mati sejak lama.
Pikiran itu membuat dada Nadia terasa sesak.
Namun kali ini berbeda.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang-orang yang benar-benar mengkhawatirkannya.
karna rani yg suruh org membunuh nadia
pasti yulia yg keponakkan johan
julia sdh kerja sama dgn johan menjebak nadia 🤭
dania yg ank rani 🤭