NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Mandat Menjadi Pengawal

Pagi harinya, suasana di lantai lima belas Gedung Graha Subroto terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Isu mengenai serangan berdarah di parkiran basement B2 sore kemarin sengaja diredam dengan sangat rapi oleh pihak manajemen agar tidak bocor ke telinga media, namun di kalangan internal, atmosfer darurat begitu terasa.

Mahesa melangkah keluar dari lift barang dengan pakaian seragam biru mudanya yang sengaja ditarik kedodoran ke depan. Di hidungnya, bertengger kacamata tanpa lensanya, melorot pasrah di ujung hidung. Postur tubuhnya yang tegap dipaksa merunduk lunglai, berjalan diseret seolah-olah ia masih sosok pemuda culun yang ketakutan setengah mati setelah mendengar kabar miring tentang penyerangan kemarin. Di dalam hatinya, ada rasa puas karena telah menyelamatkan Alena, meski ia harus tetap menjaga penyamarannya rapat-rapat.

Namun, langkah Mahesa terhenti tepat di depan ruangan divisi cleaning service ketika Pak Bagus, sang supervisor, menghadangnya dengan wajah yang tampak luar biasa pucat dan tegang.

"Mahesa! Sini kamu, buruan!" panggil Pak Bagus dengan nada suara yang berbisik panik, matanya melirik ke kiri dan ke kanan lorong.

Mahesa membetulkan letak bingkai kacamatanya yang melorot dengan jari tengah. "Eh, iya, Pak Bagus. Ada apa ya, Pak? Mahesa ada salah lap kaca lagi kah?" tanya Mahesa dengan nada suara yang sengaja dicemprengkan dan dibuat agak bergetar polos.

Pak Bagus langsung menarik lengan Mahesa dengan cepat. "Bukan! Kamu ditunggu sama Pak Subroto di ruangan kerjanya sekarang juga! Jangan banyak nanya, langsung naik lift eksekutif sana!" perintah Pak Bagus dengan penuh tekanan batin. "Inget ya, Sa, kalau ditanya apa-apa sama Bos Besar, jawab yang jujur. Jangan bikin posisi saya ikut terancam!"

"I... iya, Pak Bagus. Mahesa ke atas sekarang," jawab Mahesa, pura-pura panik luar biasa padahal batinnya tetap sedingin es akibat tempaan hawa murni Kitab Inti Jagat.

Pintu lift eksekutif berdenting terbuka di lantai paling atas. Mahesa melangkah menyusuri karpet tebal menuju pintu jati ganda ruang direksi utama. Begitu ia mengetuk dan melangkah masuk, ia mendapati Pak Subroto sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, didampingi oleh Kepala Keamanan gedung yang berdiri tegap di sampingnya. Sisa-sisa rekaman CCTV semalam masih menyala statis di layar monitor komputer meja.

Mahesa segera mengambil posisi membungkuk dalam, kepalanya menunduk menatap ubin kayu jati yang mengkilap. "Selamat pagi, Pak Subroto. Saya Mahesa dari divisi cleaning service, kata Pak Bagus saya dipanggil ke sini," ujar Mahesa, meniru intonasi suara pemuda penakut dengan sangat konsisten.

Pak Subroto tidak langsung menjawab. Pria paruh baya bertubuh tegap itu bangkit dari kursi kulitnya, melangkah perlahan mengitari meja kerja, lalu berdiri tepat di hadapan Mahesa. Sepasang mata rentanya yang sarat akan pengalaman hidup menatap tajam, menguliti setiap jengkal postur tubuh Mahesa yang sengaja dibikin merunduk. Dengan ketajaman insting seorang pebisnis ulung yang terbiasa membaca karakter manusia, Pak Subroto melihat ada keganjilan yang luar biasa, meski pemuda di depannya ini berpura-pura lemas, struktur pundaknya terlalu lebar dan pijakan kakinya di atas lantai terlampau kokoh untuk ukuran seorang OB biasa.

"Mahesa, kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini?" tanya Pak Subroto dengan nada suara yang berat, dalam, namun penuh dengan kelembekan emosional seorang ayah.

"Mmm... boten tahu, Pak. Apakah ini terkait insiden tumpahan kopi tempo hari? Atau... atau karena saya lembur ngepel di basement kemarin sore?" tanya Mahesa balik, sengaja memasang wajah seculun mungkin sembari memilin ujung seragamnya.

Pak Subroto tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh arti yang sarat akan ketenangan. Ia melangkah ke samping, lalu memutar layar monitor komputernya agar menghadap langsung ke arah Mahesa. Di sana, cuplikan video bayangan abu-abu bertudung jaket yang menumbangkan empat pembunuh bayaran dalam waktu empat detik sedang berputar berulang-ulang.

"Kemarin sore, di jam yang sama saat kamu mengambil sif lembur di B2, kamera cadangan kita menangkap rekaman ini, Sa," tutur Pak Subroto sembari mengetuk layar monitor dengan ujung jarinya. "Pria bertudung ini menyelamatkan putri saya, Alena, dari penculikan berdarah. Dia bergerak secepat kilat, memiliki tenaga raksasa, dan yang paling menarik... postur tubuhnya dari belakang sangat identik dengan kamu saat ini."

Jantung Mahesa berdesir hebat, namun aliran hawa murni di bawah pusarnya langsung bergerak memutar lambat, menekan detak jantungnya agar tetap stabil secara medis. "Astaga... itu... itu hebat banget ya, Pak. Tapi... tapi saya beneran nggak tahu apa-apa, Pak. Waktu kejadian, saya cuma denger suara petasan kencang banget di dekat pilar 45, terus saya langsung sembunyi di dalam toilet lantai bawah karena ketakutan," bohong Mahesa dengan akting yang sangat totalitas, matanya membelalak kaget menatap monitor.

Kepala Keamanan di samping Pak Subroto melangkah maju, menatap Mahesa dengan pandangan penuh selidik. "Jangan bohong kamu, Mahesa! Data absensi sidik jari menunjukkan hanya kamu satu-satunya OB yang berada di radius zona itu saat penyerangan terjadi!" gertak Kepala Keamanan dengan tegas.

Pak Subroto mengangkat tangan kanannya ke udara, memberi isyarat agar Kepala Keamanan mundur dan tidak mengintimidasi lebih jauh. "Sudahlah, Doni. Tidak perlu ditekan begitu," potong Pak Subroto lembut, lalu kembali menatap Mahesa dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa haru yang mendalam.

"Mahesa... saya tidak peduli alasan apa yang membuat kamu menyembunyikan kemampuan luar biasa ini di balik pakaian pel usangmu. Apakah kamu seorang pewaris ilmu bela diri kuno tersembunyi, atau apa pun itu, saya menghormati privasimu," ucap Pak Subroto dengan suara yang bergetar emosional. Pria tua itu tiba-tiba membungkukkan badannya sedikit di depan Mahesa, sebuah gestur kehormatan tertinggi dari seorang triliuner kepada bawahannya. "Tapi yang saya tahu pasti, kamu telah menyelamatkan nyawa putri tunggal saya. Dan untuk itu, saya berutang nyawa kepadamu."

Mahesa tertegun, batin luhurnya terusik melihat ketulusan yang luar biasa dari sang bos besar. Ia perlahan menegakkan sedikit punggung tegapnya, tidak lagi membungkuk terlalu ekstrem. "Pak Subroto... Anda tidak perlu sampai begini," ujar Mahesa, kali ini sepercik suara berat aslinya yang bocor keluar tanpa sengaja.

Pak Subroto langsung menegakkan tubuhnya kembali, matanya berkilat gembira mendengar perubahan nada suara Mahesa yang berwibawa itu. "Saya memanggilmu ke sini bukan untuk menghukummu, Mahesa. Melainkan untuk memberikan sebuah mandat besar. Mulai detik ini juga, saya menaikkan jabatanmu. Kamu bukan lagi seorang office boy," tegas Pak Subroto, lalu mengambil sebuah map dokumen baru bersampul hitam dari atas mejanya. "Ini adalah surat kontrak baru sebagai Pengawal Pribadi (Bodyguard) utama untuk Alena. Gajimu akan saya naikkan dua puluh kali lipat dari gajimu sekarang, lengkap dengan fasilitas rumah dinas dan jaminan kesehatan penuh untuk Nenekmu di rumah."

Mendengar tawaran yang teramat sangat menggiurkan itu, Mahesa sempat dirunduk rasa ragu-ragu yang mendalam. Ia teringat akan tabiat Alena yang sangat manja, sombong, dan berwatak keras kepala yang kemarin siang baru saja menghina status sosialnya sebagai OB dengan kalimat yang sangat kejam.

"Maaf, Pak Subroto... tapi saya rasa saya harus menolak mandat ini," jawab Mahesa ragu, membetulkan letak kacamatanya dengan helaan napas berat. "Nona Alena tampaknya sangat tidak menyukai kehadiran saya. Kemarin siang di koridor, beliau memarahi saya habis-habisan dan menganggap penampilan saya mengotori pandangan matanya. Saya khawatir jika saya menjadi pengawalnya, hal itu justru akan memicu keributan baru yang mengganggu kenyamanan Nona Alena."

Pak Subroto mengembuskan napas panjang, menepuk pundak Mahesa yang sekeras papan jati dengan sentuhan seorang ayah yang bijak. "Saya tahu betul bagaimana tabiat buruk putri saya, Mahesa. Dia manja, sombong, dan egois karena sejak kecil kehilangan sosok ibu dan selalu saya manjakan dengan uang. Tapi di balik semua topeng keangkuhannya itu, Alena sebenarnya hanyalah seorang gadis rapuh yang saat ini sedang menjadi target pembunuhan berdarah dari rival bisnis saya, Wijaya Group," jelas Pak Subroto dengan kelembutan emosional yang menyentuh lubuk hati Mahesa.

Pak Subroto menatap sepasang mata jernih Mahesa di balik bingkai kacamata kosong dengan tatapan memohon yang teramat sangat dalam. "Pengawal biasa dari agensi luar tidak akan mampu membendung kelicikan pembunuh bayaran profesional yang disewa lawan. Hanya kamu, Mahesa... hanya orang dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa seperti kamu yang bisa saya percayai sepenuhnya untuk menjaga nyawa putri saya di bawah bayangan. Saya mohon... tolong bimbing dan lindungi Alena demi saya," pinta Pak Subroto dengan tulus, matanya tampak berkaca-kaca menanti jawaban.

Melihat air mata dan ketulusan seorang ayah yang begitu rapuh di hadapannya, benteng keraguan di dalam hati Mahesa runtuh seketika. Jiwa ksatria yang diwariskan oleh Kitab Inti Jagat di dalam raganya bergetar hebat, menuntutnya untuk mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan pertolongan nyata. Tanggung jawab ini harus ia ambil, bukan demi uang atau jabatan, melainkan demi membalas kepercayaan luhur sang bos besar serta memastikan tidak ada darah yang tumpah di lingkungan tempatnya bernaung.

Mahesa perlahan melepas kacamata kosong bertangkai hitamnya, menyimpannya ke dalam saku celana. Ia menegakkan seluruh punggungnya secara penuh, menampilkan postur tubuhnya yang sangat tegap, dan sarat akan aura maskulin yang kuat. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Pak Subroto dengan pancaran keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan.

"Baik, Pak Subroto. Saya menerima mandat ini," ujar Mahesa dengan suara berat, dalam, dan penuh dengan wibawa seorang pendekar sejati. "Saya akan menjadi pengawal pribadi Nona Alena dan memastikan tidak akan ada satu pun peluru atau bahaya yang bisa menyentuh putri Anda selama saya masih bernapas di gedung ini."

Pak Subroto langsung mengembuskan napas lega yang teramat sangat panjang, menjabat tangan kekar Mahesa dengan remasan yang sangat erat. "Terima kasih banyak, Mahesa. Kamu benar-benar harapan terakhir keluarga saya," ucap Pak Subroto dengan wajah yang kembali memancarkan rona kebahagiaan yang cerah.

Di dalam ruangan direksi yang luas itu, lembaran takdir baru telah resmi dibuka secara profesional dan emosional. Mahesa si office boy culun kini telah resmi menanggalkan kain pelnya, bersiap mengenakan setelan jas baru untuk melangkah masuk ke dalam kehidupan Alena sebagai sang pelindung tak terlihat, siap menyongsong badai konflik berdarah yang kian mendekat pada hari esok dengan segenap keyakinan luhur yang bersemayam di dalam tubuh barunya.

1
anggita
ikut dukung like👍aja.
Dewa Naga 🐲🐉
pandai Mahesa bermain kata..kata...👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap..seru...👍👍👍
Dewa Naga 🐲🐉
seru...
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp....👍
Agus Susilo
💪💪💪💪
Agus Susilo
makin terkenal musuh makin banyak dan kuat Thor MC nya harusnya dibekali ilmu beladiri serta kekuatan magis untuk pengobatan kronis dan jaga diri dari musuh yg mengancam
Gege
kaaan...kaaan... ketebak Thor jalan ceritamu..🤣🤭..ulur teroos sampai ratusan episode Thor..💪
Gege
ceritanya menghibur mirip sinetron ikan terbang
Gege
aku ga kepancing Thor sama narasimu.. paling juga Alena mabok di club trus terjadilah adegan dewasa tanpa disengaja.. trus ada plot wanita lain menyukai Mahesa dan Alena cemburu.. tarik teruus sampe episode berjilid Thor..🤣🤣🤭
Gege
yaah gaji OB 4jt All in, dikalikan 20 baru 80jt Thor.. pikir ditawari gaji 200jt gitu si Sasa Mahesa...🤭🤣
Paksu82: sisanya buat author boskyu... 🤭🤭🙏
total 1 replies
Gege
apakah MC bakalan dapat gaji ratusan juta? yoooklah gass updatenya 10k kata thor
Paksu82: di bayar pakai cinta boskyu...🤭🙏
total 1 replies
Gege
pikir Mahesa mau jadi tukang pijet dengan keahlian kita warisan kuno, eeeh malah mau jadi tukang kawal a.k.a bodyguard...🤭🤣
Paksu82: 🤭 idenya tadinya dari film jetli boskyu, kemren lihat filemnya jadi aja keluar ide ini, semoga suka boskyu...
total 1 replies
Gege
bahas padi ada pepatah Thor dijaman sekarang. ilmunya seperti padi tapi berasnya import...🤣
Paksu82: beras lokal mahal boskyu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Hentri Gunawan
lanjut kn thor
Gege
Yoo gass lagi Thor..ide ceritanya keren ini... bikin enteng saja, yang penting ngalir Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!