NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Retak di Balik Dinding Kaca

Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah butik desainer mewah di kawasan elit Jakarta Selatan, Clarissa Narendra berdiri mematung di depan cermin besar dengan gaun pengantin satin putih yang belum selesai dijahit. Wajah cantiknya yang terdidik di London kini tampak mengeras, dipenuhi oleh rasa terhina dan amarah yang luar biasa.

Satu jam yang lalu, Aksa meninggalkannya di butik ini dengan alasan ada urusan darurat di kantor sub-holding. Namun, insting tajam Clarissa sebagai wanita yang ambisius tahu bahwa pria itu sedang berbohong. Aksa tidak menatapnya dengan binar bisnis ataupun gairah; tatapan pria itu padanya sejak tadi pagi begitu dingin dan penuh penolakan setelah kejadian di kamarnya semalam.

Clarissa mengambil ponselnya di atas meja kecil, lalu menghubungi seseorang dengan nada suara yang rendah dan penuh selidik.

"Halo? Cari tahu ke mana perginya mobil Aksa Wardhana setelah meninggalkan butik sejam yang lalu. Dan pastikan kau memeriksa apakah wanita bernama Valerian itu ada bersamanya atau tidak," perintah Clarissa tegas, lalu menutup teleponnya dengan kasar.

Clarissa menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyuman licik yang berbahaya. "Kau pikir kau bisa menolakku begitu saja setelah apa yang terjadi semalam, Aksa? Aku adalah Clarissa Narendra, dan tidak akan ada satu hal pun di dunia ini yang tidak bisa kudapatkan, termasuk dirimu. Jika ada wanita lain yang mencoba menghalangi jalan pertunangan kita, aku sendiri yang akan menghancurkannya hingga tidak tersisa."

Damian melepaskan tatapannya dari Valerian, berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah yang angkuh dan menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran. Ia tidak memedulikan istrinya yang masih gemetar di dekat dinding kaca, melainkan langsung menyambar beberapa dokumen dengan kasar.

"Duduk kembali ke sofamu, Valerian. Berhenti menangis dan merusak pemandangan di kantor ini," ucap Damian tanpa menoleh, suaranya kembali dingin seolah air mata istrinya tidak lebih dari sekadar gangguan kecil pada harinya.

Valerian melangkah dengan sisa tenaganya, kembali duduk di sofa sudut ruangan. Ia melirik sekilas ke arah pintu penghubung walk-in restroom tempat Aksa bersembunyi. Jantungnya masih berdegup kencang oleh ketakutan, namun di balik itu semua, perkataan kejam Damian barusan seolah menjadi penegas bahwa pernikahannya memang telah lama mati. Kontras dengan Aksa, pria di kamar sebelah yang selalu memperlakukannya bagai wanita istimewa dan memujanya dengan gairah yang posesif, Damian hanya menganggapnya sebagai pajangan pemenuh ego.

Di dalam kamar mandi, Aksa menyandarkan punggungnya pada pintu kayu, mendengarkan setiap kalimat merendahkan yang dilontarkan kakaknya kepada Valerian. Setiap isakan lirih Valerian yang sampai ke telinganya bagai minyak yang disiram ke dalam api amarah di dadanya. Sisi protektifnya meronta, menuntutnya untuk keluar dan menghajar Damian saat itu juga. Namun, Aksa menahan diri. Ia tahu, bertindak gegabah sekarang hanya akan menjerumuskan Valerian ke dalam bahaya yang lebih besar.

Aksa mengambil ponselnya dari saku celana, mengetik sebuah pesan singkat dengan mata yang berkilat berbahaya, lalu mengirimkannya kepada Valerian.

Di sudut sofa, ponsel Valerian yang berada di dalam tas jinjingnya bergetar pelan. Dengan sangat hati-hati, memastikan Damian sedang fokus pada layar komputernya, Valerian merogoh ponselnya di bawah lipatan jubah tidurnya.

From: Aksa

Aku mendengar semuanya. Jangan dengarkan bajingan itu, Valerian. Demi Tuhan, aku bersumpah akan menyeretmu keluar dari sangkar ini dan membuatnya berlutut menyesali setiap kata yang ia ucapkan padamu. Tunggu aku di rumah nanti malam.

Membaca pesan itu, dada Valerian berdesir hebat. Rasa hangat yang akrab kembali menjalar di hatinya, perlahan mengusir rasa dingin yang ditanamkan oleh suaminya. Gairah dan janji posesif Aksa adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih bisa bertahan berdiri di dalam rumah megah yang terasa seperti neraka tersebut.

Waktu berlalu dengan sangat lambat hingga jam kantor berakhir. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil mewah milik Damian, keheningan yang mencekik kembali menyelimuti mereka. Damian sibuk dengan tabletnya, sementara Valerian hanya menatap keluar jendela, menatap rintik hujan yang kembali membasahi jalanan kota Jakarta.

Begitu mobil mereka memasuki gerbang kediaman Wardhana, suasana rumah sudah tampak sepi. Tuan Bagian dan Nyonya Zen sedang menghadiri jamuan makan malam privat dengan kolega bisnis mereka, sementara Dania dikabarkan menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah.

Namun, kedamaian semu itu pecah ketika Valerian melangkah masuk ke aula utama dan mendapati sebuah mobil sedan mewah yang sangat ia kenali terparkir di halaman samping. Mobil milik keluarga Narendra.

Clarissa Narendra ternyata belum pulang. Wanita itu sedang duduk di ruang tamu lantai satu, ditemani oleh kepala pelayan rumah yang menyuguhkannya teh hangat. Begitu mendengar langkah kaki Damian dan Valerian, Clarissa langsung berdiri dengan senyuman anggun yang mematikan, seolah-olah ia adalah nyonya rumah di kediaman tersebut.

Selamat malam, Kak Damian, Kak Vale," sapa Clarissa dengan nada suara yang teramat manis, namun sepasang matanya berkilat penuh selidik saat menatap Valerian.

Damian mengernyitkan dahi melihat kehadiran wanita yang seharusnya pergi bersama adiknya hari ini. "Clarissa? Kenapa kau masih di sini? Di mana Aksa?" tanya Damian tegas.

Clarissa terkekeh pelan, sebuah tawa yang sarat akan maksud tersembunyi. "Aksa bilang dia ada urusan darurat di kantor sub-holding tadi siang dan meninggalkanku di butik, Kak. Tapi, saat aku mencoba menghubunginya barusan, asisten pribadinya bilang Aksa sama sekali tidak datang ke kantor sub-holding hari ini. Mobilnya justru terlihat terparkir di sekitar area gedung kantor utama Wardhana Group sejak siang tadi."

Deg.

Damian langsung menoleh tajam ke arah Valerian, sepasang netra elangnya menyipit pekat penuh dengan kilat amarah yang meledak-ledak. "Di sekitar kantor utama, katamu?" bisik Damian, suaranya merendah berbahaya, sarat akan tuntutan yang menembus langsung ke bola mata istrinya.

Clarissa melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka dengan senyuman kemenangan yang kian melebar di wajah cantiknya. "Benar, Kak Damian. Aku hanya penasaran... urusan darurat apa yang membuat Aksa harus berbohong padaku dan diam-diam mendatangi gedung kantor utama tempat Kak Vale berada seharian penuh?"

Damian tidak mengalihkan pandangannya dari Valerian. Rahangnya mengeras begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. "Valerian," suara bariton Damian merendah, bergetar oleh amarah yang ditahan sekuat tenaga di depan Clarissa. "Kau dengar apa yang dikatakan Clarissa baru saja? Apakah kau tahu sesuatu tentang keberadaan adiku di gedung kantor utama siang tadi?"

Valerian mengepalkan tangannya di balik tas jinjingnya hingga kuku-kukunya memutih. Seluruh tubuhnya sedingin es, dan jantungnya berdegup gila di dalam rongga dada.

A-aku tidak tahu, Damian," bisik Valerian, mencoba sekuat tenaga menstabilkan suaranya yang bergetar hebat. "Kau tahu sendiri sejak pagi hingga jam kantor berakhir, kau mengurungku di dalam ruangan kerjamu. Bagaimana mungkin aku bisa tahu jika Aksa berada di sekitar gedung?"

Clarissa menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sinis melihat pembelaan diri Valerian yang tampak begitu rapuh di matanya. "Oh ya, Kak Vale? Tapi bukankah aneh jika Aksa mendadak mengirimkan paket dokumen rahasia yang ternyata palsu hanya untuk memancing Kak Damian keluar dari ruangan? Sebagai sesama wanita, aku hanya merasa... ada seseorang yang sedang mencoba mengulur waktu di dalam ruangan itu saat Kak Damian tidak ada."

"Cukup, Clarissa!"

Sebuah suara bariton yang hangat namun sarat akan penekanan yang teramat dingin tiba-tiba memotong kalimat Clarissa dari arah lantai dua.

Semua mata di aula utama seketika mendongak ke atas. Aksa sedang berdiri di puncak tangga dengan setelan kasual hitamnya.

"Kau terlalu banyak berasumsi untuk seseorang yang berstatus sebagai tamu di rumah ini, Clarissa Narendra," desis Aksa parau begitu ia menghentikan langkahnya tepat di antara Valerian dan Clarissa, secara tidak langsung pasang badan untuk melindungi kakak iparnya dari intimidasi.

Aksa menoleh ke arah Damian, menatap lurus ke dalam sepasang netra elang kakaknya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Aku memang mendatangi gedung kantor utama siang tadi, Kak Damian. Aku datang untuk menemui jajaran direksi audit karena aku tahu kau sedang sibuk mengurus berkas proyek sub-holding milikku. Mengenai paket dokumen palsu itu? Itu hanyalah kesalahan komunikasi dari kurir baruku. Jangan biarkan kecemburuan yang tidak berdasar dari calon tunanganku ini merusak pikiranmu."

Meskipun Aksa mencoba membelokkan alibi itu dengan alasan bisnis, Damian tidak sebodoh itu untuk mempercayainya begitu saja. Ia melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Valerian dengan kasar di depan Aksa dan Clarissa.

"Urusan ini belum selesai, Aksa," ucap Damian dengan suara parau yang penuh racun seraya menatap tajam adiknya. "Dan kau, Valerian... ikut aku ke kamar sekarang juga!"

Damian menarik paksa tangan Valerian untuk melangkah menaiki tangga menuju kamar utama, meninggalkan Aksa yang berdiri kaku dengan kepalan tinju yang kian mengeras rapat dalam amarah.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!