Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.
Langkah tegap Rafael bergema di koridor lantai dua yang sunyi. Semakin ia mendekati pintu kamar anak dan menantunya, semakin jelas suara hantaman benda tumpul dan rintihan pilu yang menyayat hati terdengar menembus celah pintu.
"Katakan! Siapa bajingan itu, Freya?! Berapa dia membayarmu?!" Suara bentakan Sean terdengar serak, dipenuhi kegilaan.
Brak!
Suara tongkat bisbol yang menghantam daging dan tulang kembali terdengar, disusul jeritan lemah Freya yang nyaris habis kehabisan napas. "Arghhh... am--pun, Sean... hiks..."
Aura membunuh di sekitar tubuh Rafael meledak seketika. Tanpa membuang waktu untuk mengetuk, pria matang itu mengangkat kaki kanannya dan menendang pintu kayu ek tebal itu dengan kekuatan penuh.
BRAKKK!
Pintu kamar itu jeblok terbuka, menghantam dinding dengan keras hingga engselnya hampir lepas.
Pemandangan di dalam kamar langsung membuat darah Rafael berdesir panas sampai ke ubun-ubun.
Di atas lantai marmer yang kini ternoda oleh bercak darah, Freya terbaring meringkuk dengan tangan terikat ke belakang. Pakaiannya robek berantakan, mengekspos luka cambukan ikat pinggang yang baru dan luka lama yang kembali menganga.
Di depannya, Sean berdiri dengan napas memburu, memegang tongkat bisbol logam yang siap diayunkan kembali.
"Sean!" suara bariton Rafael menggelegar, bergetar oleh amarah mutlak yang belum pernah diperlihatkannya seumur hidup.
Sean tersentak hebat. Ia menoleh dengan cepat, wajahnya yang tadi dipenuhi kegilaan mendadak berubah pucat pasi begitu melihat tatapan mata elang ayahnya yang berkilat mengerikan. "P-Papa..."
Rafael melangkah masuk. Gerakannya tenang, namun setiap langkahnya seolah membawa beban kematian. Ia tidak menatap Sean; matanya langsung tertuju pada tubuh ringkih Freya yang gemetar di lantai.
"P-Papa... to--long..." bisik Freya dengan kesadaran yang nyaris hilang. Sudut bibirnya berdarah, dan mata indahnya menatap Rafael dengan tatapan memohon yang teramat rapuh sebelum akhirnya kelopak mata itu terpejam sepenuhnya. Freya pingsan.
Melihat menantunya—wanita yang ia miliki dengan penuh kelembutan dan obsesi—kini hancur lebam di tangan putranya sendiri, pertahanan Rafael runtuh. Ia berbalik menatap Sean.
BUKKK!
Satu pukulan mentah dari kepalan tangan kokoh Rafael mendarat tepat di rahang Sean, membuat pria muda itu terlempar menghantam meja rias hingga cermin di atasnya pecah berkeping-keping. Tongkat bisbol di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai.
"Uhukk! Pa--Papa!" Sean memuntahkan darah, memegang rahangnya yang terasa bergeser. Ia menatap ayahnya dengan ketakutan yang teramat sangat. "Papa tidak tahu apa yang dilakukan jalang ini! Dia--dia sudah mengkhianatiku! Dia ditiduri pria lain di belakangku!"
Rafael berjalan mendekat, lalu mencengkeram kerah kemeja Sean dan mengangkat tubuh putranya hingga kakinya nyaris jinjit dari lantai. Tatapan Rafael begitu dingin, sedingin es di kutub.
"Kukira aku sudah memperingatkanmu di bawah tadi, Sean," bisik Rafael, suaranya sangat rendah namun justru ribuan kali lebih mengerikan daripada bentakan. "Aku bilang, sekali saja kau membuat Freya menangis atau menyakitinya, aku akan membuangmu."
"Tapi dia berselingkuh, Pa! Tubuhnya penuh tanda merah! Dia mengotori nama Ravindra!" bela Sean dengan histeris, tidak menyadari bahwa dalang di balik semua tanda itu sedang mencengkeram lehernya saat ini.
Rafael menyipitkan matanya. "Siapa pun pria itu, itu bukan urusanmu lagi. Mulai detik ini, hakmu atas Freya, atas rumah ini, dan atas seluruh aset Ravindra Corp... resmi dicabut."
"Pa! Tidak bisa begitu! Aku anak kandung Papa! Aku pewaris tunggal!" teriak Sean panik, air mata ketakutan mulai menetes dari matanya saat menyadari ancaman ayahnya bukan main-main.
"Pewaris?" Rafael mendengus sinis, lalu mengempaskan tubuh Sean ke lantai dengan kasar seperti melempar tumpukan sampah. "Seorang Ravindra tidak memelihara monster bodoh yang merusak asetnya sendiri. Keluar dari rumahku sekarang juga. Bawa pakaian yang melekat di tubuhmu, dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di kantor pusat maupun cabang."
"Papa! Tolong beri aku kesempatan, Pa! Aku bisa jelaskan!" Sean berlutut, mencoba menggapai kaki Rafael, namun Rafael menghindar dengan jijik.
"Bi Tina! Bi Sofi!" panggil Rafael dengan suara tegas.
Kedua pelayan yang sejak tadi mengintip dengan cemas di luar kamar segera masuk dengan tubuh gemetar. "Y-Ya, Tuan Besar?"
"Panggil keamanan. Seret Sean keluar dari mansion ini. Jika dia menolak, izinkan mereka menggunakan kekerasan," perintah Rafael tanpa belas kasihan. "Dan pastikan semua kartu kredit serta akses rekeningnya diblokir malam ini juga."
"Papa! Jangan, Pa! Aku mohon!" jerit Sean frustrasi saat dua satpam berbadan besar masuk dan langsung memegangi kedua lengannya, menyeretnya keluar dari kamar. Suara teriakan dan makian Sean perlahan menjauh dan menghilang di koridor bawah.
Setelah situasi menjadi sunyi, Rafael membuang napas berat. Kemarahannya mereda, digantikan oleh rasa perih yang asing di dadanya saat melihat sosok Freya yang masih tergeletak tak berdaya di lantai.
Rafael berlutut di samping Freya. Dengan jemari yang mendadak gemetar, ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya dan memotong tali kain yang mengikat pergelangan tangan Freya yang sudah membiru.
"Maafkan aku... aku terlambat," bisik Rafael parau, sebuah penyesalan yang tulus keluar dari bibir pria kejam itu.
Ia mengangkat tubuh ringkih Freya ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah barang pecah belah yang paling berharga. Rafael melangkah keluar kamar, mengabaikan noda darah Freya yang kini mengotori kemeja putihnya.
*
Rafael membawa tubuh pingsan Freya menuruni tangga dengan langkah lebar. Aura ketegangan menyelimuti seluruh mansion.
"Bi Sofi, ambilkan pakaian ganti yang layak untuk Freya sekarang!" perintah Rafael tajam begitu melihat Bi Sofi berdiri gemetar di koridor bawah. "Kita harus membawanya ke rumah sakit."
"B-baik, Tuan Besar," jawab Bi Sofi sigap.
Rafael meletakkan Freya di sofa ruang tengah dengan sangat hati-hati. Bi Sofi bergegas kembali membawa sehelai gaun katun longgar dan kain bersih.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang berlinang melihat kondisi majikan mudanya, pelayan paruh baya itu membersihkan sisa darah di wajah Freya dan mengganti pakaiannya yang robek sekadarnya demi kesopanan.
"Sudah, Tuan," ucap Bi Sofi dengan suara tertahan.
Tanpa membuang waktu, Rafael kembali merengkuh tubuh Freya ke dalam gendongannya. Ia berjalan cepat menuju pelataran di mana mobil sedannya sudah siap dengan pintu belakang yang terbuka.
"Jalan ke rumah sakit pusat. Sekarang!" titah Rafael kepada sopir pribadinya begitu ia berhasil mendudukkan Freya di kursi belakang, menyandarkan kepala wanita itu di dadanya.
Mobil melaju membelah keheningan malam yang pekat. Sepanjang perjalanan, Freya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Napasnya pendek dan tersengal-sengal, sementara suhu tubuhnya mulai meningkat drastis akibat demam dan peradangan dari luka-lukanya.
Rafael memeluk tubuh ringkih itu dengan erat, menempelkan telapak tangan besarnya ke dahi Freya yang panas. Rasa cemas dan bersalah yang asing menjalar di dadanya.
"Bertahanlah, Freya," bisik Rafael rendah di dekat telinga wanita itu. "Jangan pejamkan matamu terlalu lama."
Namun, Freya tetap bergeming. Denyut nadinya terasa sangat lemah di bawah sentuhan jemari Rafael. Siksaan fisik yang bertubi-tubi dari Sean, ditambah hantaman mental atas kematian mendadak ayahnya, telah menguras habis sisa pertahanan tubuh wanita itu hingga berada di titik paling kritis.
*
Sesampainya di rumah sakit, Rafael langsung menerobos pintu kaca IGD sembari menggendong Freya. Beberapa perawat dan dokter jaga yang mengenali sosok Tuan Besar Ravindra bergegas mendekat dengan brankar.
"Dokter, tangani dia sekarang juga!" perintah Rafael, suaranya berat penuh penekanan.
Freya segera dibaringkan di atas brankar dan didorong cepat ke dalam ruang tindakan utama. Dokter jaga langsung memeriksa tanda-tanda vital Freya yang kian melemah. Monitor di samping ranjang berbunyi dengan ritme cepat dan tidak beraturan.
"Tekanan darahnya drop! Pasang jalur infus ganda dan siapkan tabung oksigen!" seru dokter itu memimpin tim medis.
Rafael berdiri diam di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerak-gerik tim medis yang berusaha menstabilkan napas Freya yang tersengal. Wajah wanita itu kian pucat pasi bagai kertas.
Setelah beberapa menit pemeriksaan awal dan pemindaian cepat menggunakan mesin rontgen portabel, dokter utama menghampiri Rafael dengan raut wajah yang amat serius.
"Tuan Ravindra, kondisi Nyonya Freya sangat kritis," ujar dokter itu pelan namun tegas. "Selain luka memar dan pendarahan luar, hasil pemindaian menunjukkan ada bagian tulang belakangnya yang patah akibat hantaman benda tumpul yang sangat keras."
Rahang Rafael mengeras seketika. "Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya."
"Cedera pada tulang belakang ini sangat berbahaya dan bisa menekan saraf-saraf vitalnya. Nyonya Freya harus segera menjalani operasi darurat malam ini juga untuk memperbaiki struktur tulangnya dan mencegah kelumpuhan total atau komplikasi yang lebih fatal," jelas dokter itu, menyerahkan selembar dokumen. "Kami butuh tanda tangan Anda sebagai persetujuan tindakan operasi."
Tanpa ragu, Rafael menyambar pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. "Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun, Dokter. Nyawanya ada di tanganmu."
"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan."
*
*
*