mira seorang istri dari pandu, mira hanya seorang ibu rumah tangga dulu nya ia bekerja di salah satu perusahaan menjadi staf biasa . tetapi setelah menikah dengan pandu, ia di larang untuk bekerja.
***
pandu dan mira masih tinggal bersama kedua orang tua pandu dan adik nya. ibu nya melarang pandu untuk pergi dari rumah nya, gaji pandu juga kebanyakan ibunya yang ngatur. mira selalu bersabar dengan sikap pandu dan keluarganya. namun saat mira tahu pandu mengkhianatinya dengan tetangga barunya yang berstatus janda. Mira tak lagi memperdulikan pandu, ia juga tidak lagi meminta uang dan mira juga tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isy_yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Pagi itu matahari bersinar cerah, seolah ikut menyambut hari baru dalam hidup Mira.
Mira berdiri di depan pagar rumah baru yang ia beli kemarin sambil tersenyum.
"Alhamdulillah...akhirnya aku bisa beli rumah impian ku dari hasil kerja keras ku" gumam mira pelan ia masih tidak percaya dengan apa yang ia miliki
Perjuangan yang selama ini ia jalani akhirnya membuahkan hasil. Dari tidak diberi nafkah yang layak, suami berselingkuh , mencoba menulis novel, dan membuka usaha bersama tika.
Mira mampu berdiri di kakinya sendiri, bekerja tanpa kenal lelah, menabung, dan mengatur keuangan dengan sangat hati-hati hingga akhirnya bisa membeli rumah impiannya.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah mira. Tika turun dari mobil sambil membawa kardus. sedangkan mira tadi berangkat menggunakan motornya.
"Wihhh. jangan di pandang terus buk. rumahnya gak kira lari" goda tika
"resek lu. gua kan lagi mandangin hasil jerih payah nabung gua" ucap mira tertawa
"iya iya yang sudah punya rumah impiannya. udah yuk masuk, panas nih" seru tika
"oiya jangan lupa bawa dus yang masih didalam mobil" ucap tika. mira menggangukkan kepalanya.
Mira dan Tika masuk ke halaman rumah tersebut.
"gua pasti betah ini kalau main ke rumah lu. adem banget apalagi kalau sore, wih pasti adem" ucap tika
"betul, banget mangkanya gua jatuh hati sama nih rumah" sahut mira menganggukkan kepalanya
Meski barang-barang Mira tidak terlalu banyak, proses pindahan tetap membutuhkan tenaga. Mira menggunakan mobil bak sewaan keci untuk mengangkut barang nya yang besar.
Sebagian besar barang hanyalah lemari sederhana, meja makan kecil, kasur, dan beberapa peralatan rumah tangga.
Suasana pindahan terasa hangat dan menyenangkan. Tidak ada keributan, tidak ada tekanan. Hanya dua sahabat yang saling membantu dengan tulus.
Menjelang siang, hampir semua barang sudah masuk ke dalam rumah. Mira duduk di teras sambil mengusap keringat.
Tika menyusul mira di teras dan menyerahkan sebotol air mineral.
"Nih, air dingin" ucap tika
"Makasih bestie." balas mira
Mira minum beberapa teguk lalu memandang halaman rumahnya. Angin berhembus dengan lembut.
Pohon kecil di sudut halaman bergoyang perlahan. Rasa sejuk langsung menyelimuti hati Mira.
"Nyaman banget ya, kayaknya gua akan sering nginep di rumah lu" kata Tika.
"yakin lu. terus suami lu gimana, kalau lu sering nginep sini" goda mira
"ya juga ya, suami gua kan bucin banget sama gua. tidur tanpa gua kayak seperti sop tanpa garam" ujar tika
"lebay lu" cibir mira tertawa
"yeay... emang bener kok, suami gua gak bisa jauh jauh dari permaisuri nya" ucap tika
"terserah lu lah tik" kata mira
****
Di saat Mira menikmati kebahagiaan sederhana di rumah barunya, suasana berbeda justru terjadi di rumah Bu Denok.
Wanita itu sedang menyapu ruang tamu dengan wajah kusut. Sejak pagi ia sudah membersihkan rumah seorang diri, mengepel, menyapu, mencuci piring, merapikan kamar. Semuanya dilakukan sendiri tanpa bantuan.
Sementara itu Tari duduk santai di sofa, Kakinya disilangkan sambil tangannya sibuk memegang ponsel.
Sesekali ia tersenyum sendiri sambil memperhatikan foto-foto desain kuku yang sedang dilihatnya.
Bu Denok melirik ke arah menantu barunya, darahnya langsung mendidih.
"Tari!" teriak bu denok
Tari menoleh sekilas.
"Iya, Bu?" jawab tari ogah ogah
"Kamu nggak lihat ibu beresen rumah dari pagi?" bentak bu denok
Tari kembali melihat ponselnya.
"Lihat kok." jawab tari santai
"Kalau lihat kenapa nggak bantu?" omel bu denok
Tari menghela napas. "Nanti aja lah, Bu." ucap tari
"Nanti, nanti, nanti!" bentak bu denok dengan wajah merahnya.
"Aku tuh lagi cari inspirasi nail art. kalau soal bersihin rumah kan bisa nanti" kesak tari
Bu Denok hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kurang ajar kamu ya tari. ibu bersihin rumah dari pagi , kamu malah mikirin kuku?" teriak bu denok
Tari mendecak. "udahlah bu jangan crewet"
Bu Denok membanting sapu ke lantai.
"mantu sialan kamu " maki bu denok. Wajahnya memerah menahan marah.
Dulu, saat Pandu berselingkuh dengan tari, Bu Denok adalah orang yang paling mendukung hubungan mereka.
Ia selalu menganggap Tari lebih baik. Lebih cantik walaupun tari status janda waktu itu. Namun sekarang kenyataan berbicara lain, tari tidak sesuai ekspetasi bu denok, pemalas, suka minta uang.
Sedangkan waktu mira, mira bisa di atur. gaji pandu ia yang ngatur, pekerjaan rumah mira yang selesaikan tanpa bantuan darinya.
Bu denok melihat ke arah tari yang fokus kembali ke handphone nya
"Benar benar bikin darah tinggi." gumam bu denok
Tari tidak menanggapi ia malah fokus ke handphone nya.
"tuh kan kalau capek ngomelnya pergi sendiri" batin tari melirik ke arah bu denok
bu denok pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"kalau kayak gini, lebih baik punya mantu mira yang bisa di suruh dan di setir, bukan kayak ini. " omel bu denok di dapur
Di luar pandu baru pulang dari kantor. ia melihat istrinya duduk di ruang tamu.
"sayang, ambilin aku minum dong" suruh pandu saat sudah duduk di sebelah istrinya.
"ya tinggal ambil di dapur mas. jangan males ah" kesal tari
"aku baru dateng kerja loh sayang, lagi pula kamu kan istriku sekarang ke sapa lagi aku minta tolong" ucap pandu
"halah jangan manja deh mas. kalau kamu haus tinggal ambil di dapur aku lagi males jalan" ketua tari
pandu menghela nafas pelan, dulu mira setiap ia pulang kerja selalu menawarkan minum, ia diperlakukan seperti raja oleh mira sedangkan dengan tari hanya meminta ambil minum, ia bilang malas jalan.
"kok aku kayak nyesel ya pisah sama mira" batin pandu sendu
Memang penyesalan ada di belakang.
Bersambung
...****************...
Hay para kawand kawand jangan lupa di like dan komen ya, biar tambah semangat nulis nya. hehehe. terimakasih sudah membaca
maaf agak telat up nya, lagi sakit gigi 😬🥴