"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
Bibi Yu berlari mendekat, namun yang dilihat justru di luar dugaan. Tangan Ailin mendarat sempurna di kepala sang putri, menarik bujur hingga ke paha atasnya.
"Kamu begitu pendek, masih kecil. Tentu saja disebut anak-anak." Ailin mengerutkan kening, berkata dengan suara serak yang diiringi sesenggukkan. Namun wanita itu tetap ingin berdebat, menurutnya pernyataan sang anak adalah salah. Salah harus dibenarkan, kalau tidak akan semakin sesat.
Sementara Lian mendongak untuk membalas tatapan sang ibu. "Mama jangan mengejek Lili. Walau tubuh Lili kecil, pikilan Lili sudah dewasa. Tidak sepelti kak Kean yang manja."
Melihat wajah Lian yang lucu menggemaskan, Ailin tak tahan untuk tertawa lagi di antara tangis.
"Baiklah, baiklah. Tapi sedewasa apa pun pikiranmu enggak memungkiri kalau kamu itu masih kecil, hem? Kamu masih butuh perlindungan orang dewasa seperti papa kamu?"
"Lalu Mama?" Lian menatap Ailin dengan kedua mata bulatnya.
"Mama enggak mau lindungin Lili?" lanjut anak itu membuat lidah Ailin terasa keluh. Ia bergeming sejenak sebelum mengangguk ragu.
"Tentu saja ... aku juga akan melindungimu."
"Yeay." Lian memeluk kedua kaki Ailin erat. Lagi-lagi wanita itu mematung, perasaan seperti ini benar-benar baru baginya.
Perlahan tangannya terangkat, lalu mengelus kepala sang putri lembut. Hingga Lian mendongak untuk menatapnya. "Mama."
"Hem." Ailin menjawab dengan tangan yang masih mengelus sayang sang putri.
"Apa kita sudah telmasuk dekat?"
"Hem, kita ini ibu dan anak. Tentu saja harus dekat."
"Kalau begitu coba Mama panggil aku Lili. Semua orang teldekat selalu memanggil Lili seperti itu."
"... Lili?"
"Mama."
"Lili."
"Mama."
"Lili."
"Mama."
Keduanya tertawa satu sama lain, sementara bibi Yu yang melihat tersenyum haru. Betapa indah pemandangan di depannya. Andai Ailin dari dulu bersikap seperti ini, kehidupan rumah tangga sang tuan pasti sangat bahagia.
...
Beberapa saat kemudian, Ailin telah berdiri kaku di depan kamar Juan. Di depannya berdiri Lian yang tengah berkacak pinggang. "Masuk, Mama!"
Ailin memegang kenop, ingin menekan namun urung. Wanita itu menggeleng cepat. "Enggak, wajahku masih bengkak. Malu sekali."
"Haish. Justlu bagus Mama. Lili juga kalau buat salah selalu minta maaf sambil menangis. Papa itu baik hati, lihat Lili nangis pasti langsung dipeluk dan dimaafkan."
"Benarkah?"
"He'em, nanti Mama nangis lagi saja! Papa pasti maafin."
"Tapi ...."
"PAPA, MAMA DATANG UNTUK MINTA MAAF." Anak itu berteriak, membuat kedua mata Ailin yang bengkak jadi membola.
Ceklek.
Belum sempat Ailin memprotes, pintu telah Lian buka. Gadis kecil itu mendorong sang ibu masuk, lalu menutup pintu lagi dengan keras.
"Eh." Ailin yang ditinggal itu mengangkat tangan di udara. Wanita itu menatap pintu yang kini rapat, bergeming sejenak sebelum memutar pandangan.
Namun siapa sangka saat berbalik, Juan telah berada di depannya, tidak jauh namun juga tidak dekat. Pria itu duduk di atas kursi rodanya dengan tatapan yang terlihat tidak biasa.
"Aku ...." Ailin mendadak tidak tahu ingin berkata apa.
"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Juan dengan nada dingin nan datar, membuat hati Ailin kembali terasa sesak. Ia yang baru redah menangis tanpa sadar menjatuhkan air mata lagi.
"Ma-af. Maafin a-ku, Kak." Wanita itu menunduk, menunjukkan wajah penuh penyesalan dengan air mata mengalir deras.
Sementara Juan menatap dengan rumit. Jujur saja ia tidak terbiasa, dulu bertengkar sesengit apa pun, Ailin tak pernah menangis. Wanita itu selalu pergi setelah membuat masalah. Setelah berlalu, ia akan bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Ailin yang berdiri di depannya sekarang benar-benar mirip dengan gadis muda berusia 17 tahun yang dulu ia kenal. Gadis yang menangis sesenggukan hanya karena tidak sengaja menumpahkan air di atas dokumen sahabat kakaknya.
"Maaf, maafkan aku. Aku benar-benar enggak bermaksud untuk mendorong Kakak." Ailin berkata lagi dengan suara serak. Tangisnya memang tidak bersuara, namun justru terlihat semakin pilu di mata Juan.
Pria itu bergeming beberapa saat dengan pikiran berkecamuk. Hingga akhirnya ia berdehem pelan. "Aku tahu kamu enggak sengaja. Jangan menangis lagi!" ucapnya dengan suara lebih lembut.
"Kakak... sudah maafin aku?"
"Hem."
"Benarkah?" Ailin menatap penuh harap pada Juan yang akhirnya mengangguk. Wanita itu mengusap air mata di pipinya. Lalu dengan pelan berkata, "Kalau begitu...."
"Kakak enggak mau peluk aku?"
.
.
.