Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Pelabuhan
Qin Zhao sampai di luar area pelabuhan yang ramai dipenuhi pasukan Kekaisaran Dazin.
Mereka terlihat sedang mengawasi masyarakat kota yang sebagian besar merupakan para pekerja bertubuh kekar.
Tidak nampak suasana perang yang terjadi di pelabuhan meskipun dipadati banyak prajurit.
Melihat semua itu, Qin Zhao tidak ingin menampakkan diri di tengah kesibukan mereka yang bahu membahu dalam membuat sebuah kapal besar.
Akan tetapi, ada sesuatu yang menjadi perhatian Qin Zhao dari aktivitas yang berlangsung di sana. Keberadaan sekelompok orang berpakaian mewah yang berdiri bersama para komandan. Mereka tampak seperti para bangsawan yang memiliki ikatan dengan Kekaisaran Dazin.
“Sepertinya mereka penghuni kediaman yang tidak dihancurkan pasukan. Dari klan mana mereka?” Qin Zhao mencurigainya.
Tiba-tiba saja tanah yang diinjaknya terasa bergetar, Qin Zhao menolehkan pandangan ke belakang dan memperhatikan ribuan pasukan Kekaisaran Qin mulai mendekati kota.
“Ribuan rakyat Kota Feiyun sudah menjadi bangkai, dan kalian baru datang.” Qin Zhao merasa geram melihatnya.
Gelapnya langit malam masih belum usai, kedatangan pasukan Kekaisaran Qin membuat Qin Zhao mengubah rencana.
“Sebelum kalian sampai di gerbang kota, aku akan terlebih dahulu menghabisi para jenderal dan komandan. Sisanya terserah kalian,” ucapnya kemudian.
Qin Zhao kemudian melesat dan menampakkan diri di depan para jenderal yang tengah berkumpul bersama para tetua klan.
“Selamat malam,” sapa Qin Zhao ramah, “maaf mengganggu waktu kalian, kedatanganku khusus mengambil nyawa kalian untuk menafkahi keempat anaknya Goziro.”
Ha, ha, ha!
Semua orang mentertawakannya seolah pria bertopeng yang di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang itu sedang membual.
Di balik topeng, seringai dingin terpancar dari sorot mata Qin Zhao yang masih begitu tenang, tetapi ekor matanya terus bergerak memindai tiap orang yang ditargetkannya.
“Puaskanlah kalian tertawa karena itu menjadi tawa terakhir kalian,” kata Qin Zhao yang kembali membuat mereka terpingkal mendengarnya.
“Kau cukup menghibur kami,” sela Jenderal Xuan di tengah derai tawa yang terus terdengar.
Slash!
Kepala Jenderal Xuan terpenggal dan tubuhnya menghilang seketika tanpa disadari oleh mereka yang masih terbahak.
“Tuan, terima kasih,” kata Goziro bersemangat lalu melemparkan tubuh Jenderal Xuan kepada keempat anaknya yang seketika berebut mendapatkan bagian terbesar dari tubuh sang jenderal.
“Nyonya, apa kau suka daging yang masih hidup?” tanya Qin Zhao.
“Tentu saja, Tuan, dan itu bagus untuk mengasah insting berburu anak-anak,” jawab Goziro antusias.
“Baiklah, tapi jangan biarkan anak-anakmu langsung memakannya.”
“Tenang saja, Tuan. Aku akan meminta anak-anak untuk menjadikan makanan mereka sebagai buruan.”
“Bagus!” Setelah itu Qin Zhao langsung menarik tubuh orang-orang yang masih tertawa ke alam dimensi.
Derai tawa yang masih mereka dengungkan tiba-tiba saja terhenti begitu mereka menyadari telah berpindah ke tempat yang jauh berbeda.
“Tempat apa ini? Di mana kita?” Seorang tetua klan tampak begitu panik dan kepanikannya itu menular kepada semua orang yang seketika terbelalak heran.
Tak jauh dari mereka, keempat anak Goziro datang menghampiri dengan membawa ceceran daging yang masih melekat di sela taring tajam yang masih dilumuri darah.
Salah satu dari mereka bahkan melemparkan kepala Jenderal Xuan yang telah habis setengahnya.
Sontak saja hal itu membuat mata semua orang kian membelalak.
“I … itu Jenderal Xuan,” kata salah seorang komandan mengenalinya walaupun bentuk kepala sang jenderal sudah tidak lagi utuh.
Beberapa orang melangkah mundur. Mereka saling melirik satu dengan yang lainnya hingga seorang tetua klan merentangkan tangan kanan, meminta mereka semua untuk tetap tenang.
“Monster di depan kita setidaknya berada di ranah Nascent Soul atau bahkan lebih tinggi. Menyerangnya hanya akan membuat kita mati sia-sia. Kita harus berpencar dan memastikan ada yang selamat di antara kita,” ujarnya kemudian.
Tanpa menunggu aba-aba, semua orang melarikan diri ke berbagai arah. Keempat monster menggeram gembira, tetapi mereka tidak langsung melakukan pengejaran, melainkan sengaja membiarkan para semut menciptakan titik perburuan.
Dalam kepanikan yang melanda, beberapa komandan malah berlarian ke arah Goziro yang dalam penglihatan mereka merupakan sebuah gunung berbatu.
“Ada celah di bawah gunung. Cepat kita bersembunyi di sana!” teriak seorang komandan berhidung bengkok.
Ibarat sedang lapar ada yang menyuapi, Goziro sedikit melebarkan rahangnya agar dapat dimasuki mereka semua.
"Meski terasa lengket dan basah, gua ini cukup aman untuk kita tempati," gumam si komandan berhidung bengkok.
Tiga orang rekan yang mengikutinya masuk ke dalam gua langsung mengangguk setuju tanpa tahu di mana mereka sebenarnya.
"Aroma gua ini benar-benar busuk," keluh salah satu komandan yang hidungnya kembang kempis menahan bau bangkai dan lendir yang menyengat tajam.
"Selama nyawa kita aman, bau busuk ini hanyalah harga kecil yang harus dibayar," sahut rekannya mencoba menenangkan.
Keberadaan empat manusia yang terus bergerak di dalam mulut membuat lidah Goziro merasa geli dan sulit menahan diri supaya tidak bergerak.
Namun, bagian lainnya secara alami berkontraksi. Rahangnya mengeras dan asap panas keluar dari kerongkongannya.
Suasana mendadak tegang saat salah seorang di antara mereka menyadari kejanggalan. "Apakah kalian merasa celah dinding yang kita masuki semakin rapat?" ucapnya dengan pandangan yang terus memperhatikan rongga dinding yang bergerak perlahan.
“I … ini rahang monster!” teriak si pria berhidung bengkok setelah melihat bagian runcing dari taring monster terkuak.
Hap!
Goziro langsung menutup rapat rahangnya lalu mengunyah keempat komandan dengan sangat brutal.
Sementara itu, keempat anak Goziro tampak sedang asyik mempermainkan tubuh buruannya. Mereka tidak langsung melahap makanan seperti ibunya, melainkan terus melemparkan tubuh buruannya sampai tidak lagi terdengar suara jeritan. Baru setelah itu mereka mengunyahnya dengan lahap.
***
Kembali ke pelabuhan.
Hanya beberapa waktu dari ketika Qin Zhao memasukkan para jenderal beserta komandan dan segelintir orang dari sebuah klan ke alam dimensi, kekacauan mulai pecah di antara para pasukan Dazin.
Mereka kehilangan komando dari jajaran petinggi militer Kekaisaran Dazin yang akhirnya mengacaukan semua lini. Beberapa komandan yang tersisa pun tidak bisa mengendalikan situasi yang semakin memburuk.
Beberapa kelompok pasukan mulai saling serang untuk mengamankan kapal yang sudah hampir selesai dibuat. Kapasitas kapal yang terbatas membuat mereka mati-matian untuk mengamankan jatah. Sementara beberapa kelompok lainnya berpencar mencari keberadaan para jenderal.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ke mana para jenderal? Di mana para komandan?” teriak seorang prajurit Dazin dibuat bingung oleh kekacauan yang terjadi.
Kekacauan yang terjadi itu pun telah sampai kepada pasukan Kekaisaran Qin yang terus merangsek memasuki gerbang kota.
“Percepat langkah!” teriak seorang komandan begitu mendapat laporan dari tim pengintai tentang situasi di pelabuhan.
Layaknya mesin pembunuh yang terkalibrasi dengan sempurna, ribuan pasukan Kekaisaran Qin melaju cepat dari jantung Kota Feiyun ke arah pelabuhan.
Sontak saja kedatangan pasukan Kekaisaran Qin membuat panik ribuan pasukan Dazin yang mulai mendorong kapal untuk segera berlayar.
“Tim Penahan pasang formasi!” teriak seorang komandan Qin. Ia mengangkat pedang memberi instruksi dari garis depan.
Ratusan pemanah bergerak menembus barisan depan lalu menyusun posisi tembak dan bersiap untuk melepaskan anak panah.
Pedang dari sang komandan akhirnya terayun memberikan isyarat kepada para pemanah untuk melepaskan tembakan.
Wuzz!
Ratusan anak panah melesat sempurna ke atas langit lalu menukik tajam ke arah kapal yang baru saja lepas landas.
Sret, sret, sret!
Para pasukan yang berada di lambung kapal berusaha menghadang anak panah dengan mengorbankan tubuh pasukan yang lemah. Taktik mereka cukup baik untuk menyelamatkan diri, tetapi pasukan kekaisaran Qin tidak tinggal diam.
Tembakan berikutnya merupakan panah api dan tiga kali lebih banyak dari kapasitas anak panah pertama.
Sang komandan kembali mengayunkan pedang untuk memberi isyarat.
Ribuan anak panah pun meluncur deras ke udara hingga menukik tajam ke lambung kapal dan membakarnya.
Ratusan prajurit Dazin berlompatan ke laut untuk menyelamatkan diri, tetapi lagi-lagi ribuan anak panah menerjangnya hingga tidak ada lagi seorang pun prajurit yang bergerak di permukaan laut.
Sementara pasukan Dazin yang berada di daratan banyak yang memilih menyerah menjadi tawanan perang.