Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Aragon kembali ke perusahaan legal miliknya saat malam telah larut. Gedung pencakar langit itu nyaris kosong, menyisakan lorong-lorong sunyi dengan cahaya lampu putih yang redup dan dingin. Para karyawan sudah lama pulang, meninggalkan suasana hening yang justru membuat tempat itu terasa semakin menekan.
Langkah sepatu kulit Aragon menggema pelan di lantai marmer saat ia memasuki lift khusus miliknya. Kedua tangannya berada di dalam saku celana, sementara wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi. Aura ketenangan yang menyelimuti dirinya terasa begitu mengintimidasi, seolah dunia di sekitarnya tidak pantas mengusik keberadaannya.
Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi sikap dingin pria itu.
Lift bergerak naik menembus puluhan lantai dengan cepat. Di sepanjang perjalanan, Aragon hanya berdiri diam sambil menatap pantulan dirinya pada dinding lift yang mengilap. Tatapan matanya tajam dan gelap, menyimpan tekanan yang mampu membuat siapa pun kehilangan keberanian hanya dalam sekali pandang.
Denting pelan terdengar saat pintu lift terbuka.
Seorang pria telah berdiri menunggu tepat di depan pintu ruangan utama. Tubuhnya tinggi dan tegap, wajahnya tampan dan berkarisma, namun semua itu masih terlihat biasa jika dibandingkan dengan sosok Aragon yang nyaris sempurna.
Pria itu segera menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk penghormatan.
“Selamat malam, Tuan.”
Dengan gerakan cepat dan penuh hormat, ia membukakan pintu ruangan.
Para pengawal berhenti dan berjaga di luar pintu dengan sikap tegap.
Aragon melangkah masuk tanpa mengatakan apa pun. Ruangan itu luas dan mewah, dipenuhi nuansa hitam serta abu yang mendominasi setiap sudutnya. Dinding kaca menjulang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan kota yang dipenuhi cahaya malam.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar dari marmer hitam mahal, sementara di belakangnya terdapat kursi kebesaran berbahan kulit premium yang lebih menyerupai singgasana seorang penguasa daripada kursi direktur biasa.
Aragon duduk perlahan di sana, menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
Namun ketenangan itu justru terasa mengerikan.
“Aku benci rengekan tikus-tikus yang tidak tahu diri,” ucapnya dingin, suaranya rendah namun penuh tekanan.
“Mereka berani mengambil milikku, tapi tidak cukup berani untuk menanggung akibatnya.”
Atmosfer ruangan langsung berubah menyesakkan.
Pria di hadapannya menundukkan kepala lebih dalam.
“Maaf, Tuan. Pada akhirnya anda tetap harus turun tangan sendiri.”
Pria itu segera melangkah maju dan meletakkan sebuah iPad di atas meja tepat di hadapan Aragon.
“Saya sudah menemukannya.”
Aragon tidak langsung menyentuh benda itu. Ia hanya melirik sekilas layar iPad tersebut, tetapi hanya dengan satu tatapan singkat, otaknya sudah menangkap seluruh informasi yang terpampang di sana.
Nama.
Lokasi.
Riwayat transaksi.
Dan wajah orang yang selama ini bersembunyi.
Tatapan mata Aragon perlahan berubah semakin dingin, ia duduk menyandarkan punggung besarnya.
Tanpa berkata apa pun, Aragon berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati dinding kaca raksasa yang menghadap ke seluruh penjuru kota. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku celana.
Dari lantai tertinggi gedung itu, lampu-lampu kota terlihat kecil seperti kunang-kunang yang berkedip di tengah kegelapan malam.
Namun bagi Aragon, seluruh kota itu hanyalah wilayah kekuasaannya.
Aragon berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menjulang tinggi, menatap hamparan kota di bawah sana dengan sorot mata dingin tanpa emosi.
Gedung-gedung pencakar langit terlihat megah bagi orang lain, namun di matanya semua itu tidak lebih dari bangunan biasa. Tidak ada satu pun yang mampu menandingi ketinggian maupun kemewahan gedung miliknya.
Seolah seluruh kota memang ditakdirkan berada di bawah kakinya.
“Hank…” panggil Aragon pelan.
Suara rendah itu langsung membuat pria yang berdiri di belakangnya mengangkat kepala.
Hank menatap punggung besar Aragon yang berdiri tegak dan kokoh di depan jendela. Hank bukan sekadar sekretaris pribadi. Ia adalah pengawal, tangan kanan, sekaligus orang paling dipercaya oleh Aragon.
Bagi Aragon, Hank ibarat tangan dan kaki yang bergerak atas perintahnya tanpa pernah gagal.
“Ya, Tuan,” jawab Hank menundukkan kepalanya.
Aragon tetap memandang ke arah kota tanpa berbalik sedikit pun.
“Aku memberinya waktu 48 jam,” ucapnya dingin. “Jika bahkan satu detik saja berlalu dan kecoa itu tidak membawa keponakannya ke hadapanku…” Ia berhenti sejenak. Tatapan matanya perlahan menajam, memantulkan cahaya kota yang dingin di balik pupil gelapnya.
“Kau bereskan dia.” Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat perintah tersebut terdengar lebih mengerikan daripada bentakan.
Hank segera membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda patuh.
“Baik, Tuan. Saya akan memastikan menyeret mereka ke hadapan anda.” Kata Hank.
Aragon tidak menjawab lagi. Ia hanya berdiri diam sambil menatap kota di bawah sana, seolah sedang menentukan nasib seseorang tanpa sedikit pun rasa belas kasihan.
*****
Empat puluh delapan jam pun hampir berlalu.
Aragon kini duduk tenang di kursi kebesarannya di mansion pribadi miliknya. Sebuah mansion megah yang menjulang bak istana para bangsawan, berdiri angkuh di atas lahan luas dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.
Tempat itu begitu mewah hingga tampak seperti bangunan yang hanya ada dalam negeri dongeng. Namun bagi Aragon, mansion semacam itu bukanlah sesuatu yang langka.
Karena ia memilikinya lebih dari satu.
Berbeda dengan kesan klasik ala istana kerajaan, mansion milik Aragon mengusung nuansa modern yang elegan dan dingin. Arsitekturnya tampak sederhana, tetapi justru memancarkan kemewahan yang mahal dan berkelas.
Hampir seluruh ruangan didominasi oleh material kayu premium yang dipoles mengilap, berpadu dengan dinding kaca besar yang menjulang tinggi. Warna abu-abu, hitam, dan silver mendominasi setiap sudut, menciptakan suasana tenang namun terasa begitu eksklusif.
Lampu-lampu gantung modern memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer bersih tanpa noda, sementara udara di dalam mansion itu terasa sunyi dan menekan.
Di tengah kemewahan tersebut, Aragon duduk bersandar dengan tenang sambil menyilangkan kaki. Wajah tampannya tetap dingin tanpa ekspresi, seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu menggoyahkan ketenangannya.
Namun orang-orang yang mengenalnya tahu. Semakin tenang Aragon terlihat, semakin berbahaya dirinya.
Saat itu, hujan masih terus turun selama berhari-hari, mengguyur seluruh Kota S tanpa henti. Langit dipenuhi awan kelabu yang pekat, membuat matahari dan bulan pun seolah enggan menampakkan keberadaannya, saat siang atau malam tiba.
Jalanan basah dan genangan air berada di seluruh penjuru kota S.
Ketika malam tiba. Air yang menggenang memantulkan cahaya lampu kota yang redup, sementara udara dingin menyelimuti setiap sudut dengan suasana suram yang menekan.
Cuaca buruk itu terasa seperti cerminan suasana hati sang penguasa.
Dingin.
Gelap.
Dan penuh pertanda buruk.
Aragon menatap layar iPad nya, lalu menggeser layar itu dengan ketenangan. Para pengawal berdiri tegap menjaga setiap sudut ruangan dengan senjata yang mereka sembunyikan.
Bersambung