Naomi seorang gadis remaja meninggal karna penyakit ganas yang menggerogoti nya, begitu banyak orang yang terluka akan kepergiannya.
Namun alih-alih dirinya pergi ke alam baka, Naomi malah mendapati dirinya hidup kembali, di jaman berbeda, di era yang berbeda juga.
Disini Naomi mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya, meski sulit Naomi tatap berusaha untuk hidup lebih baik di jaman ini beserta keluarga kecil yang baru di dapatkan nya.
Yuk kita simak sama-sama seperti apa kehidupan Naomi du Dunia yang berbeda ini🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal pun Percuma
"PENGAWAL!!! HUKUM SEMUA ORANG DUA PULUH PUKULAN KARENA SUDAH BERANI MERUMORKAN AKU DAN JUGA AURELIA, DAN UNTUK NENEK LAIBAY DAN LAIMES..... " Sang Bupati menjeda ucapannya hingga terdiam cukup lama.
Tentunya hal tersebut membuat Nenek Laibay dan Bibi Laimes di landa kegelisahan parah. "BERIKAN MEREKA LIMAPULUH PUKULAN, DAN MEREKA HARUS DI PUKUL FI HADAPAN SEMUA WARGA! AGAR KELAK TAK ADA LAGI YANG BERANI MENYEBAR RUMOR TAK BERMUTU SEPERTI INI" keputusan telah di ambil, kini semua orang penyebar rumor itu hanya bisa meraung marah pada Bibi Ma, dan pastinya Bibi Ma pun berbalik menyalahkan Laimes.
"Tidak, aku tidak mau.. Tuan Bupati.. mohon ampuni saya, ini.. ini bukan kesalahan saya.. saya.. saha hanya terkena hasutan."
DUK
DUK
DUK
Bibi Ma membentur-bentur kepada nya ke tanah tandus tepat di hadapan dang Bupati.
"Aurelia.. tolong Bibi, Bibi tau Bibi salah, tapi ini.. ini bukan kesalahan Bibi" begitupun pada Aurelia, Bibi Ma bersujud dan memohon meminta maaf.
"Aurelia maaf kan Bibi juga... " Raung seorang Bibi yang tadi menarik anaknya serta mengatai Aurelia seorang penyihir.
"Nak maafkan Bibi, kita dari desa yang sama.. kita tetangga"
"Nak Bibi memiliki anak bayi, dia masih membutuhkan asi banyak! Tolong ampuni Bibi. "
"Tuan, ampuni hamba Tuan... "
"Tolong jangan hukum kami, kami mengaku kami salah.. "
"Laimes sialan! Kau adalah pembawa sial, kau penyebab hukuman bagi kami, kau harus bertanggung jawab!"
"Laimes... tunggu saja, aku akn menuntut balas pada mu"
Teriakan meminta maaf, serta raungan marah pada Bibi Laimes saling bersahutan tidak karuan.
Para warga desa Datar kini menyesal atas tindakan mereka, dan yang pelung mereka selalu adalah percaya pada kabar burung tak jelas itu.
Dengan sengaja mereka malah melepas bebas kabar tersebut tanpa mencari tau kebenaran nya.
Mereka juga menyesali kebodohan mereka! Karena setelah mereka berpikir di sela rasa takut nya. Aurelia adalah orang baik bukan lah seorang "penyihir" seperti apa yang di katakan rumor tersebut.
"Ya dewa.. kami mengaku kami salah! Kami bodoh karena terlalu mempercayai kabar yang tidak benar itu"
Kini menyesal pun percuma! Kareng Sang Bupati sudah terlanjur marah, dan sudah terlanjur mengambil keputusan.
Aurelia juga tidak mau melepas mereka begitu saja, karena menurut Aurelia sesekali mereka harus di beri hukuman. Agar kedeoan nya mereka tak sembarang lagi mempercayai hal yang tidak pasti.
Dengan tatapan dingin menusuk Sang Bupati tidak membuang waktu. "Pengawal... Segera lakukan sekarang juga hukuman itu" Perintah nya dingin tanpa mau di bantah.
"Aaahhhhh... tolong... tolong... jangan.... " Kembali kebisingan terjadi karena raungan ampunan dari para warga.
Namun itu tidak ada gunanya! Kini mereka hanya bisa menerima hukuman tersebut dalam penyesalan.
BUK.. " Aaaarrrrrggggghhhh.. "
BUK... " Aaaarrrrrggggghhhh.. "
BUK.. " Aaaarrrrrggggghhhh.. "
Setiap pukulan terjatuh, setiap itu juga raungan tertahan terdengar. Satu-persatu orang-orang penyebar rumor itu mendapatkan hukuman nya.
Dan saat menuju tengah malam barulah datang giliran Bibi Laimes dan Nenek Laibay.
Wajah kedua nya kini berwarna pucat pasi, mereka seakan tidak hidup, tubuh mereka bergetar, dan mereka berjalan kaku karena ketakutan luar biasa.
BRUKK... "Aurelia.. to-toling maafkan Nenek, kita ini adalah keluarga Nak... " ujar Nenek Laibay melelahkan memohon ampunan Aurelia.
BRUKKK... "Ya itu benar Aurelia, kata Ibu benar.. kita ini adalah keluar, keluarga harus saling memaafkan kan!" Sambung Bibi Laimes tanpa malu.
Aurelia menatap mereka dingin, jika dulu ia akan menatap dengan sorot ketakutan. Kini sorot mata itu sudah menghilang.
"Keluarga! Saya ingatkan kembali kepada kalian berdua" Aurelia merogoh saku di baju sederhana nya, di ambil nya sepucuk surat pemisahan resmi dari kabupaten yang bersegelkan emas tanda dari kabupaten.
"Kalian pasti masih ingat dengan surat ini! Dan kalian juga pasti masih ingat! Kalian dan saya sudah memutuskan hubungan secara hukum. Jadi.. Kita bukan lah keluarga"
DUAAARRRR
Satu kenyataan pasti sebagai pukulan telak untuk Nenek Laibay dan Bibi Laimes.
BRUKK
Lemas! Tubuh mereka kini benar-benar lemas seperti jeli, mereka kini tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima hukuman tersebut.
``Anak kurang ajar itu, kenapa dia tidak menapakan diri?``Disela rasa takutnya bathin Nenek Laibay bergumam akan Lailab.
Matanya juga ia edarkan untuk mencari keberadaan anaknya tersebut, sayangnya Lailab tak terlihat walaupun hanya bayangannya saja.
Malam itu! Fi suasana pertengahan malam yang mulai dingin, jeritan kesakitan Nenek Laibay dan Bibi Laimes terpengaruh begitu memilukan.
Sayangnya! Satu orang pun tidak ada yang perduli karena semuanya sama merasakan sakit serupa.
Hanya dua orang saja yang selamat dari bencana amukan Sang Bupati, yaitu Kakek He dan Nenek He.
…………………………………………
PYAARRRR
PRAAANK
PYARRRR
Jika di desa Datar semua orang tengah mendapatkan hukuman massal.
Lain hal dengan Lailab. Kini ia berada di klan gelap tengah mengamuk tidak karuan.
Tentu saja Lailab tau kejadian di Desa Datar, termasuk hukuman apa untuk ibu beserta saudaranya.
Sayang nya Lailab adalah orang serakah tak berperasaan. Baginya selagi buka dirinya sendiri yang mendapatkan hukuman itu, ia sama sekali tidak perduli.
Terserah akan ibu dan saudarinya, ia benar-benar tidak perduli sama sekali.
TAP
TAP
BRUG
BUGGH.. tiba-tiba pukulan keras menghantam Lailab, terlihat pria setengah abad kini tengah menatapnya nya langsung penuh amarah.
"Apa hanya ini yang bisa kau lakukan Laibay? Apa kau tak memiliki otak? Dengan kau mengamuk tidak jelas seperti ini apa akan membuat semuanya berubah?" Tanya nya pada Lailab dengan marah.
Lailab hanya bisa menunduk penuh kemarahan! aini bukan tujuan nya. Ini tidak berjalan seperti apa yang di rencanakan oleh mereka.
Kenapa? Kenapa semua rencana mereka gagal hanya dalam sekejap? Dulu saat mereka memiliki rencana, mereka selalu berhasil.
Tapi kini... semuanya selalu gagal hanya karena seorang anak ingusan yang jika terkena angin saja akan terbawa terbang.
"Seharusnya sekarang kau memikirkan jalan keluarnya! Dan sebaik kau memikirkan untuk tidak terlihat untuk beberapa hari ke depan"
"Kau pasti tau apa efek dari kegagalan ini! Si Bupati sialan itu.. dia, dia pasti mulai menggali lagi tentang kita. Dan aku tau.. dia pasti mengetahui sesuatu tentang anak itu, maka dari itu dia melindungi nya" Tetua Bay melepaskan tangan nya.
Ya pria setengah abad itu adalah tetua Bay Raingsek! Tetua klan gelap, orang terkejam di kerajaan Kedamaian.
"Lalu apa yang harus kita lalukan?" Tanya Lailab, ia kini tidak mau mengambil resiko lagi.
Apalagi setelah mendengar penuturan tetua Bay! Jika nanti mereka pasti akan di cari, dan kejahatan mereka akan di buka kembali.
Tentu Lailab tidak mau itu terjadi, karena untuk mencapai dirinya hingga seperti sekarang.
Ia harus bekerja keras, hingga ia pun membunuh siapapun yang menghalangi jalan nya! Termasuk kedua orang tua Aurelia.
"Sebaiknya kita harus segera menuju ke....
untuk orang tuh hukum pukulan dan penjara🤣🤣🤣