NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Gedung dua tingkat itu berdiri agak menjorok ke dalam, tersembunyi di balik barisan ruko kusam yang sudah tutup sejak petang. Cat dindingnya yang putih kini telah berubah menjadi kelabu berdebu dan sebagian mengelupas dimakan usia, menciptakan kesan bangunan yang menyimpan banyak rahasia kelam di dalamnya.

Di bagian teras, beberapa lampu bohlam kecil memancarkan cahaya kuning temaram yang memberi kesan muram sekaligus asing, seolah-olah tempat ini adalah sebuah zona abu-abu yang sengaja memisahkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kampus yang normal di luar sana.

Juan melangkah masuk dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Meskipun ia bukan pemuda yang benar-benar buta akan sisi gelap dunia, berdiri langsung di tengah tempat persinggahan pria hidung belang seperti ini memberikan sensasi yang jauh berbeda di dadanya.

Ada rasa canggung yang samar menjalar, namun rasa lelah yang luar biasa setelah pertempuran panas dengan Bu Hani siang tadi jauh lebih mendominasi setiap jengkal tubuhnya. Baginya, tempat ini terasa begitu kontras dengan ruang dosen yang bersih namun penuh gairah terlarang yang baru saja ia tinggalkan.

Begitu pintu kayu besar yang terasa berat itu terbuka, aroma campuran antara asap rokok, pengharum ruangan beraroma mawar murahan, dan bedak yang menyengat langsung menyergap indra penciumannya.

Pemandangan di dalamnya cukup sibuk, kontras dengan kesunyian di luar. Beberapa wanita tampak berlalu-lalang di dalam ruangan utama yang cukup luas namun minim pencahayaan.

Penampilan mereka sangat provokatif, khas wanita yang menjajakan jasa di aplikasi hijau, mengenakan celana pendek berbahan jins yang nyaris memperlihatkan pangkal paha dan atasan crop top ketat yang mencetak jelas lekuk tubuh serta tonjolan melon mereka yang seolah menantang mata setiap pria yang lewat.

Ada yang tertawa kecil sambil berbincang santai dengan sesama wanita, ada pula yang duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan tamu-tamu yang baru datang dengan sorot mata penuh perhitungan.

Mereka seolah sedang menaksir nilai rupiah dari setiap orang yang masuk lewat pintu kayu tersebut. Doni, yang berjalan di samping Juan, mendadak kehilangan keberaniannya. Langkahnya yang tadi mantap kini melambat secara signifikan.

Matanya menyapu seisi ruangan dengan gelisah, dan tanpa disadari, ia menelan ludah berkali-kali. Jakunnya tampak naik-turun dengan cepat, sebuah tanda kegugupan sekaligus gairah yang tidak luput dari pengamatan Juan.

Andre justru terlihat paling santai di antara mereka bertiga. Begitu masuk, ia tidak memedulikan tatapan para wanita di sana dan langsung mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan tinggi di atas layar, jelas tengah menghubungi sosok yang sudah ia janjikan sebelumnya melalui aplikasi.

Ekspresinya fokus, bahkan sesekali ia menyunggingkan senyum kecil yang penuh arti, seolah percakapan di ujung sana berjalan sangat lancar sesuai ekspektasinya.

“Mereka sudah menunggu di dalam,” gumam Andre pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kedua temannya.

Juan dan Doni mengikuti langkah Andre menuju deretan kursi kayu panjang yang terletak di sudut ruangan, area yang sedikit lebih gelap dan jauh dari jangkauan lampu utama.

Kursi itu tampak sudah sangat lama digunakan, permukaannya mengilap karena terlalu sering diduduki oleh para tamu yang menunggu giliran, dan beberapa bagian kayunya terlihat memiliki retak-retak halus yang menceritakan usia bangunan tersebut.

Juan duduk dan langsung menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa bayangan pergulatannya dengan Bu Hani yang masih sesekali melintas di benaknya seperti film pendek yang diputar ulang.

Kepalanya terasa sedikit berat, bukan karena kelelahan fisik semata, melainkan karena aliran energi dari liontin di lehernya yang terus bergejolak sejak ia mengunci target ketiganya tadi siang.

Doni duduk tepat di sebelahnya dengan posisi tubuh yang kaku, matanya masih melirik liar ke sana-kemari, memperhatikan lekukan tubuh setiap wanita yang lewat di depan mereka dengan napas yang mulai tidak beraturan.

“Gila juga suasananya, Wan. Gue baru pertama kali diajak Andre ke tempat sejelas ini,” bisik Doni dengan nada suara yang sedikit bergetar, mencoba menutupi rasa takutnya dengan rasa penasaran.

Juan hanya mengangguk pelan, mencoba tetap tenang di tengah atmosfer yang penuh godaan fisik tersebut. “Santai saja, Don. Jangan terlihat seperti orang bingung, nanti malah jadi incaran,” jawab Juan pendek namun berwibawa.

Tak lama kemudian, Andre berdiri dengan wajah yang mendadak berubah menjadi lebih hidup.

“Dia sudah datang,” ucap Andre pendek sambil mengarahkan pandangannya ke pintu samping yang tertutup tirai kain tipis.

Beberapa detik kemudian, seorang wanita melangkah keluar dari sana. Penampilannya sebenarnya cukup sederhana jika dibandingkan dengan wanita lain di ruangan itu, namun justru itulah yang membuatnya menarik perhatian.

Ia mengenakan celana pendek ketat dan tanktop yang menonjolkan bentuk melon miliknya dengan sangat jelas. Rambutnya tergerai rapi, menebarkan aroma sampo yang segar saat ia melangkah mendekat ke arah meja mereka.

Andre berdiri dan menyambutnya dengan senyum lebar yang terlihat sangat akrab. Keduanya bertukar beberapa kata singkat yang suaranya tenggelam oleh musik pelan dari speaker tua di sudut ruangan.

Setelah transaksi singkat itu selesai, Andre menoleh ke arah teman-temannya sambil memberikan seringai yang menggoda.

“Gue ke dalam dulu ya, Bro. Mungkin bakal agak lama, jangan sampai lumutan nungguin gue,” ucap Andre sebelum akhirnya menghilang di balik lorong sempit yang remang-remang.

Doni menatap kepergian Andre dengan tatapan iri yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menghela napas panjang dan kembali menyandarkan tubuhnya dengan lemas.

“Andre memang beda kelas kalau soal begini. Dia selalu tahu ke mana harus mencari hiburan.” Juan hanya tersenyum tipis.

Suasana di sekitar mereka kembali hening, hanya ada suara percakapan rendah dari tamu lain dan tawa kecil wanita yang muncul sesekali. Juan mengeluarkan ponselnya, berusaha mencari kesibukan agar tidak terlihat seperti pria yang sedang lapar mata.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dua orang wanita muda dengan riasan wajah yang cukup tebal tiba-tiba menghampiri mereka.

Salah satu dari mereka, yang mengenakan pakaian paling minim, langsung mengambil posisi duduk di hadapan Doni, sementara rekannya yang memiliki sorot mata lebih tenang memilih duduk berhadapan dengan Juan.

“Halo, Kak,” sapa wanita di depan Doni dengan suara yang dibuat selembut mungkin. “Lagi nunggu teman atau lagi cari teman buat nemenin nih?”

Doni tersentak kecil, ia sempat salah tingkah sebelum akhirnya mencoba tersenyum kaku. “Eh, iya… lagi nunggu teman yang di dalam.”

Sementara itu, wanita di depan Juan ikut tersenyum, menatap Juan dengan penuh selidik. “Kok malah sibuk sama ponsel? Memangnya ada yang lebih menarik di sana daripada kami di sini?”

Juan mengangkat pandangannya. Ia menatap wanita itu sekilas. Wajahnya cukup cantik dengan riasan tipis, penampilannya tidak seagresif wanita lain, namun tetap memancarkan aura penggoda yang kuat.

“Lagi capek saja,” jawab Juan singkat. Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar cukup renyah di telinga. “Capek itu obatnya cuma satu, Kak. Ditemani dengan servis yang pas, pasti langsung segar lagi.”

Di sisi lain, Doni tampak mulai goyah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya melirik ke arah Juan dengan raut wajah memelas. “Juan… sebenarnya gue tertarik, cuma lu tahu sendiri kan kondisi dompet gue?” bisik Doni pelan.

Juan paham betul posisi Doni. Sahabatnya itu memang tidak memiliki uang lebih, apalagi Andre tidak memberi tahu sejak awal soal biaya tempat ini.

Juan menghela napas, ia tidak tega melihat sahabatnya hanya menjadi penonton. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, lalu menarik tiga lembar uang seratus ribuan. Ia menyerahkannya di bawah meja ke arah Doni. Doni menatap lembaran uang itu dengan mata membelalak.

“Serius, Wan? Ini banyak banget!”

“Ambil saja. Tapi ingat, gunakan seperlunya,” bisik Juan tegas.

Wajah Doni seketika berubah cerah. Ia kemudian mulai melakukan negosiasi singkat dengan wanita di hadapannya. Setelah kesepakatan tercapai, Doni bangkit dengan semangat yang meledak-ledak. Sebelum melangkah, ia menoleh ke arah Juan.

“Makasih banyak ya, Wan. Lu memang sahabat paling baik sedunia. Gue duluan!”

Kini tinggal Juan yang duduk di kursi kayu panjang itu bersama satu wanita lainnya. Wanita itu memperhatikan Juan selama beberapa saat, mencoba membaca isi pikiran pria yang tampak begitu tenang di tengah suasana panas ini.

“Teman kamu sangat beruntung punya sahabat seperti kamu,” katanya dengan nada yang kini terdengar lebih tulus. Juan hanya mengangguk pelan. “Dia cuma lagi butuh melepas penat saja.”

Wanita itu menyandarkan punggungnya, menatap ke arah keramaian di ruang utama. “Lalu kamu sendiri? Nggak merasa kesepian duduk sendirian di sini?”

Juan menatap lurus ke arah lorong remang tempat kedua sahabatnya menghilang. “Aku sedang ingin menikmati ketenangan saja untuk saat ini.”

Wanita itu terdiam sejenak. Ia menyunggingkan senyum tipis yang terlihat lebih manusiawi daripada sekadar senyum komersial.

“Jarang sekali ada pria yang datang ke sini tapi tidak terburu-buru melakukan sesuatu,” gumamnya pelan. “Biasanya, mereka datang dengan napas yang memburu dan langsung ingin menyeret kami ke kamar tanpa banyak bicara.”

Juan melirik ke arahnya. “Mungkin karena aku bukan kebanyakan pria yang kamu maksud.”

Wanita itu tertawa lagi, kali ini tanpa nada menggoda. Ia tetap duduk di sana, menunggu dengan sabar, seolah memberikan ruang bagi Juan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, Juan merasakan liontin di lehernya kembali memberikan getaran halus, sebuah pertanda bahwa malam ini mungkin belum akan berakhir begitu saja untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!